Cuti Kuliah: Ketentuan dan Serba-Serbinya

Seperti halnya bekerja, kuliah juga bisa cuti. Tentu bukan cuti 1-2 minggu buat travelling trus masuk lagi. Tapi cuti selama 1 semester penuh (atau bahkan lebih). Konsekuensinya, waktu kuliah umumnya jadi lebih panjang. Jadi gimana sih, cuti dalam kuliah dan apa pengaruhnya terhadap perkuliahan? Trus, sebaiknya ngambil cuti nggak, ya? Simak dulu deh, penjelasan berikut ini, sebelum kamu memutuskan.

Syarat dan Ketentuan Cuti Akademik

Cuti akademik adalah masa tidak mengambil kuliah dan tidak mengikuti kegiatan akademik resmi sepanjang semester. Yup, cuti tersebut direncanakan dan diajukan kepada pihak kampus sejak jauh hari. Tapi ada juga sih, cuti tanpa perencanaan, karena situasi dan kondisi yang mendesak.

Cuti juga harus sesuai dengan ketentuan yang diberikan kampus. Nah, syarat tiap kampus bisa berbeda, namun umumnya, ketentuan yang berlaku adalah:

1. Ada batas waktu pengajuan cuti. Nggak bisa dadakan macam mau bikin surprise party, gaes. Biasanya sih, diajukan paling lambat sebulan sebelum proses administrasi semester baru.  

2. Biasanya, minimal sudah kuliah 2 semester, sebelum bisa mengajukan cuti. Artinya,  maba yang baru mau masuk kuliah atau baru kuliah satu semester belum bisa cuti.

3. Di sebagian kampus, tetap ada biaya yang dibayarkan mahasiswa, meskipun sama sekali nggak ngampus (cuti) di semester tersebut. Tentunya, biayanya nggak full. Tapi di kampus seperti Universitas Gadjah Mada, selama cuti mahasiswa dibebaskan dari SPP kuliah.

4. Masa cuti dibatasi. Ada yang maksimal total 2 semester seperti di Universitas Indonesia, ada yang sampai 2 tahun. Cuti tersebut bisa diambil terpisah maupun berturut-turut. Ya, cuti tentu ada batasannya, karena nggak mungkin juga kalau masa cuti menyaingi masa kuliah.

5. Otomatis, saat cuti akan ada mata kuliah yang tertunda. Setelah masuk kembali, mahasiswa harus mengejar dengan mengambil SKS yang cukup dan menuntaskan mata kuliah wajib. Jika terlalu nyantai, maka kelulusan terancam makin tertunda.

6. Cuti baru bisa dilakukan setelah mendapat persetujuan pihak kampus (rektor/dekan). Tentunya, kampus akan mengevaluasi persyaratan yang kamu penuhi serta alasanmu mengajukan cuti.

7. Di sebagian kampus, syarat untuk mendapat predikat cum laude adalah lulus tepat waktu. Jika karena cuti, masa kuliahmu jadi lebih panjang, biasanya nggak bisa dapat predikat cum laude, meskipun nilai kamu tinggi.

Pengen tahu cara dan syarat cum laude? Klik di sini.

8. Jika ingin kembali kuliah di semester berikut, kamu harus melapor terlebih dahulu.

Gimana dong, kalau tetap cuti tapi ternyata nggak memenuhi syarat dan ketentuannya?

Kamu akan dianggap kuliah tapi nggak mengambil SKS. Jika "cuti" a.k.a berhenti di tengah semester, bisa dianggap nggak lulus semua mata kuliah dan nilainya E atau tidak lengkap/tidak tuntas. Ini akan mempengaruhi IPK-mu.

Bisa juga cutinya disetujui, tapi harus membayar denda berupa biaya semester secara penuh.

Dari kondisi kesehatan hingga gap year

Ada berbagai alasan seseorang mengambil cuti, di antaranya:

1. Permasalahan seputar kesehatan, yang membuat seseorang butuh istirahat dalam waktu lama. Misalnya, masa penyembuhan dari masalah kesehatan berat, kehamilan, patah tulang, harus bed rest dalam jangka waktu lama, depresi dan lainnya.

Biasanya sih, kalau sakit/masalah kesehatan terjadi di pertengahan semester/dadakan termasuk cuti yang tidak direncanakan. Yup, umumnya ada kebijakan  dari kampus yang mengatur cuti tersebut.

2. Pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Misalnya kamu dapat kesempatan mengikuti kelas dari universitas top di Jepang atau Amerika Serikat. MASAK IYA MAU NOLAK, YEKAN? Nah, berarti cutinya bermanfaat untuk memperkaya ilmu dan pengalaman akademis kamu.

3. Selain short course atau pertukaran mahasiswa, bisa juga ada kesempatan penelitian, kompetisi, magang, dan lainnya yang sebenarnya masih nyambung dengan akademik kamu.

4. Alasan lain adalah kerja. Urusan pekerjaan ini memang nggak berhubungan dengan akademik, tapi berhubungan sama penghasilan tentunya. Misalnya kamu dapat kesempatan bisnis, rekaman album, bikin tur, sinetron stripping, atau pekerjaan lainnya. Tapi asal tau aja kalau Andien lulus kuliah tepat waktu dan Vidi Aldiano bahkan lulus 3.5 tahun, walau mereka juga bekerja.

Tapi bisa juga mahasiswa bekerja karena keharusan alias nggak punya biaya kuliah. Maka ia cuti  demi mengumpulkan uang.

5. Pengen ikutan program volunteer yang butuh fokus penuh atau berlokasi di luar kota.

6. Butuh refreshing dan mencari inspirasi, karena udah jenuh banget sama kehidupan kampus. Biasanya kasus yang begini terjadi menjelang skripsi.

7. Alasan personal, seperti ingin mencari ketenangan diri, mengenal diri lebih baik lagi, menikah, masalah keluarga, dan lainnya.

8. Merasa salah jurusan, namun masih ingin meyakinkan diri, sekaligus mencari jurusan lain. Jadi cuti selain untuk evaluasi kecocokan dengan jurusan yang dijalani, juga untuk belajar menghadapi tes masuk ke jurusan lain.

9. Saat mengambil dua jurusan kuliah bersamaan, dan ketika salah satunya sangat sibuk, maka kuliah yang lain cuti dulu.

10. Fokus di UKM atau kegiatan kemahasiswaan. Meskipun ini agak jarang terjadi, ya. Misalnya, kamu butuh persiapan ekstra untuk bikin pagelaran besar di kampus, atau tur ke berbagai negara/daerah dengan tim debat atau tim seni.

Berbagai kesibukan mengambil gap year lainnya, bisa kamu lihat di artikel ini.

Hati-hati perangkap cuti

Mengambil cuti boleh-boleh saja, apalagi jika dalam situasi yang butuh cuti seperti pemulihan sakit atau kesempatan pertukaran mahasiswa.

Namun, kamu yang mengambil cuti juga harus waspada. Hati-hati, jangan sampai keasyikan cuti sampai nggak mood balik ngampus dan kuliahnya keteteran.

Ini bukan mengada-ada, lho. Nggak sedikit kasus mahasiswa yang cutinya bablas alias jadi nggak balik-balik kuliah dan akhirnya drop out. Ada juga yang nggak memperhitungkan waktu cuti sehingga kuliah jadi berantakan, melewati batas waktu, dan gagal lulus. Nah, kamu harus waspada sama perangkap cuti seperti ini. Kamu harus cuti dengan bertanggung jawab. Maksudnya, tahu aturan cuti dan konsekuensinya, serta paham kewajibanmu sebagai mahasiswa.

Kalau memang minim faedah dan nggak ada keperluan, sebaiknya tidak cuti. Ngapain juga selama 6 bulan liburan, kalau kamu nggak ngapa-ngapain? Mantengin Netflix, ngumpulin rekor nonton drakor, gila-gilaan main game? Ngapain amat! Jangan juga cuti tanpa planning yang jelas. Setidaknya punya tujuan, deh. Jangan baper dikit, patah hati dikit, di unfol di IG, langsung pengen cuti. #eaaaa

Mendingan kuliah yang bener, dapetin banyak ilmu, asah hard skills dan soft skills di kampus, cepat lulus dengan hasil memuaskan, trus keliling dunia. Setuju?   

(sumber gambar: arbotnetworks.com)


Youthmanual telah mengumpulkan ribuan informasi seputar profesi, program studi, kampus unggulan, serta panduan persiapan kuliah yang komprehensif dalam laman Eksplorasi. Baca selengkapnya di sini

LATEST COMMENT
Yulika Aprianiii | 9 jam yang lalu

Saya jurusan IPS dari 5 hal di atas kemungkinan saya bisa masuk hi tapi masih takut gk bisa caranya agar lebih muda di terima di universitas gimna caranya

5 Tanda Bahwa Jurusan Hubungan Internasional Cocok Buat Kamu
Fatimah Ibtisam | 16 jam yang lalu

Bukan, Asesmen Nasional bukan untuk mengukur prestasi individu siswa, tetapi semacam penelitian untuk mengetahui capaian pendidikan di sekolah dan daerah. Yang ikutan hanya sebagian murid yang dipilih secara acak sebagai responden.

Info Lengkap Asesmen Nasional 2021, Bukan Sekadar Pengganti UN
Fatimah Ibtisam | 16 jam yang lalu

Setahu kami, kelas 12 ujian sekolah (UAS) seperti biasa. Tidak ada Ujian Nasional.

Info Lengkap Asesmen Nasional 2021, Bukan Sekadar Pengganti UN
Lysta Ayu Pratama | 18 jam yang lalu

Aku barusan lihat yt katanya kls 12 ngga ada UN sama AKM, tapi tetap ada Ujian Sekolah

Info Lengkap Asesmen Nasional 2021, Bukan Sekadar Pengganti UN
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1