Menu

Apa, Sih, Faedahnya Belajar Seni, Atau Masuk Jurusan Seni?

Pasti semua setuju, deh, bahwa ada beberapa pertanyaan yang serem banget untuk ditanyakan ke orangtua. Misalnya, “Mah, Pah, boleh beliin aku mobil nggak?”.

Saya juga yakin, pertanyaan yang satu ini juga nggak kalah menyeramkan, “Mah, Pah, aku boleh kuliah Seni nggak?” Dhuar!

Hihihi. Miris memang, tapi pada faktanya, ada banyaaaak sekali orangtua yang menganggap bahwa bidang Seni adalah bidang yang suram masa depannya. Mereka nggak paham, apa faedahnya belajar Seni? Trus, kalau kita kuliah Seni, nanti kerjanya ngapain??

Saya sendiri adalah penggemar Seni, khususnya lukisan klasik. Walaupun bukan lulusan jurusan Seni, saya suka belajar sendiri tentang Seni, baca berbagai buku sejarah seni, dan datang ke berbagai museum dan pameran.

Rasanya saya ingin sekali membantu dedek-dedek yang berminat di bidang Seni. Maksudnya, membantu mereka ngobrol ke orangtua masing-masing, bahwa Seni nggak seabstrak dan senyeleneh itu, kok!

Tetapi saya sendiri pun susah menjelaskan dengan konkrit, apa faedah Seni sebenarnya.

Untungnya, saya menemukan sebuah video di Youtube yang menarik banget. Video ini adalah buah pemikiran Alain de Botton, seorang penulis dan presenter asal Inggris yang suka membahas hal-hal filosofis yang—menurut saya—smart banget.

Alain de Botton

Nah, video ini membahas tentang pertanyaan yang “menghantui” banyak orang: apa, sih, faedahnya seni?

Berikut penjelasan Alain de Botton.

1. Seni membuat kita terus optimis dan punya harapan

Widih, judulnya aja udah puitis, ya! Tapi masuk akal, kok.

Jadi, pada faktanya, karya-karya seni paling populer dan legendaris sepanjang masa adalah karya-karya seni yang menunjukkan hal-hal “cantik”, ekspresi orang-orang bahagia, bebungaan, langit biru, dan pemandangan musim semi.

Oat and Poppy Field, oleh Claude Monet

A Sunday Afternoon on the Island of La Grande Jette, oleh George Suerat

Contohnya, nih, toko suvenir di Metropolitan Museum of Art di New York City menjual kartu pos bergambar lukisan The Water Lily Pond karya Claude Monet (tahun 1899), dan kartu pos ini adalah kartu pos paling laris di Metropolitan Museum of Art, sepanjang masa!

The Water Lily Pond, oleh Claude Monet

Artinya? Ya, secara insting, manusia memang suka dengan hal-hal cantik, termasuk karya seni.

Dulu, para pengamat sosial khawatir, “Kok orang cuma peduli sama hal-hal cantik, sih?” Kalau untuk kasus zaman sekarang, mungkin mereka berpikirnya begini, “Kok orang cuma pada peduli sama selebgram yang kece-kece? Sama akun medsos yang estetis-estetis?”

Kemudian, para pengamat sosial tersebut berpikir, “Apakah orang-orang pengen kabur dari realita? Pengen melupakan bahwa dunia, tuh, sebenarnya seperti apa? Nggak seindah lukisan, sob! Dunia ini penuh perang, kemiskinan, kelaparan, dan kejahatan!”

Tapi menurut Alain de Botton, kekhawatiran tersebut lebay. Kita memang butuh dekat dengan hal-hal cantik, kok. Bukan karena kita ingin “lari dari kenyataan” bahwa dunia ini penuh dengan hal-hal buruk, tetapi karena hal-hal buruk di dunia sangat membebankan umat manusia. Coba aja rutin baca headline koran setiap hari. Setelah seminggu, pasti kamu akan depresi. Masalah di negara dan dunia kok banyak banget, yak?!

Dan memang, manusia sangat berpotensi untuk jatuh ke rasa depresi seperti itu.

Itulah kenapa hal-hal cantik menjadi penting, dan “hal-hal cantik” ini termasuk seni, dalam bentuk apapun. Hal-hal cantik bisa menjadi memicu rasa optimisme dan harapan, yang sangat kita butuhkan di dunia yang kacau ini.

2. Seni membuat kita merasa “punya teman”

Nggak semua karya seni itu “cantik”. Tetapi karya seni yang dark, gloomy, dan “depresi” pun banyak yang suka. Kenapa?

Begini penjelasannya.

Pernah nggak, sih, kamu merasa bete, kesel, marah, stres, ingin teriak, tapi harus berpura-pura hepi atau baik-baik saja? Pasti pernah. Dan banyak sekali orang yang seperti itu.

Pada kenyataannya, banyak orang menyimpan rasa depresi dalam hatinya. Seperti, misalnya, pasangan menikah yang sebenarnya nggak bahagia. Atau mahasiswa yang salah jurusan, tapi harus terus menjalani kuliahnya. Atau anak yang harus memendam duka, karena ortunya bercerai.

But life must goes on. Walaupun hati sedih, hidup harus jalan terus, dan mereka pun harus pura-pura baik-baik aja. Bahkan memaksakan diri untuk “lupa” dengan sakit hatinya.

Nah, ada banyak karya seni yang menunjukkan bahwa rasa sakit hati, tuh, normal banget.

Ada sejumlah karya seni yang sangat terkenal bukan karena mereka indah, tetapi jurstru karena karya-karya seni tersebut mengekspresikan rasa sedih, marah, dan kesepian yang dialami manusia.

Wanderer in the Storm, oleh Julius von Leypold

One: Number 31, oleh Jackson Pollock

Old Man in Sorrow, oleh Vincent Van Gogh

Judith Beheading Holofernes, oleh Caravaggio

Ibaratnya gini, deh. Kalau kamu lagi putus cinta, mungkin kamu suka mengambil kutipan karya sastra atau image fotografi yang galau-galau, trus di-post di medsos. Itu adalah contoh nyata, bahwa kutipan atau image yang kamu post tersebut mewakili perasaan sedih kamu.

Nah, banyak juga karya seni yang begitu. Di museum luar negeri, saya sering melihat pengunjung berkaca-kaca atau menangis ketika melihat karya seni tertentu. Mungkin karena karya seni tersebut “mengeluarkan” perasaan sedih orang tersebut, yang sebenarnya dia kubur.

Seni bisa ikutan bersedih bersama—atau untuk—kita.

“Wah, kalau gitu, karya seni yang bikin sedih malah bakal bikin kita depresi, dong?”

Nggak juga. Kalau misalnya kamu lagi sedih, trus mendengarkan lagu galau, gimana perasaan kamu? Kalau saya, sih, jadi merasa punya “teman” berbagai galau. Saya juga jadi merasa bahwa perasaan sedih itu wajar banget untuk dialami. Namanya juga manusia, ya.

Intinya, seni bisa membuat kita jujur terhadap diri kita sendiri. Medsos dan internet mungkin penuh dengan meme-meme lucu, OOTD keren, komik-komik kocak. Namun sepintar apapun kita mengalihkan perhatian ke hal-hal tersebut, kalau lagi sedih, ya sedih aja. Nah, karya seni yang bagus bakal bisa memancing perasaan kita yang terdalam tersebut, dan mengingatkan kita untuk nggak terus-terusan “pakai topeng”.

3. Seni bisa menyeimbangkan jiwa kita

Pada dasarnya, setiap manusia punya “ketidakseimbangan” dalam dirinya. Ada orang yang terlalu intelektual, terlalu emosional, terlalu maskulin, terlalu feminie, terlalu tenang, atau terlalu heboh.

Nah, biasanya, kita tertarik kepada seni yang menyeimbangkan diri kita, karena jadi mengkompensasikan kekurangan kita.

Misalnya gini. Kalau kamu orangnya meledak-ledak, mungkin kamu jadi tertarik sama karya seni yang hawanya “tenang”, karena kamu memang butuh ketenangan. Kalau kamu merasa hidup kamu keras dan kurang kasih sayang, mungkin kamu jadi sama tertarik sama karya seni yang penuh kelembutan dan menunjukkan cinta dalam keluarga.

Atau, kalau kamu merasa kehidupan sehari-hari kamu garing dan membosankan, mungkin kamu jadi tertarik pada karya seni yang seru, nyeleneh, atau menggambarkan petualangan.

Karya seni nggak cuma bisa “menyeimbangkan” orang-orang secara individu, lho, tetapi juga satu negara!

Contohnya, pada abad 19, Inggris ‘kan mengalami Revolusi Industri besar-besaran, tuh. Dimana-mana pabrik dibangun dengan brutal. Efeknya, polusi meningkat dan banyak orang dipecat, karena peran mereka digantikan oleh mesin.

Akibatnya, pada periode tersebut, masyarakat Inggris nge-fans banget sama karya-karya seni era pra-Raphaelites yang bergaya fantasi, imajinatif, cantik. Masyarakat Inggris “gerah” dengan pemandangan pabrik kelabu dimana-mana, dan mereka perlu "kabur" ke dunia khayal sejenak, lewat lukisan, untuk “menyeimbangkan” jiwa mereka.

Hylas and The Nymphs, oleh John William Waterhouse

Ophelia, oleh Sir John Everett Millais

Seru, ya? Jadi ternyata, selera seni seseorang atau suatu masyarakat bisa jadi petunjuk, kira-kira dia atau mereka lagi merasa “kurang” apa dalam batinnya? Syedap!

Intinya, seni punya kekuatan untuk membuat kita lebih seimbang dan waras.

4. Seni membuat kita menghargai hal-hal kecil yang tampak sepele

Setiap hari, media—mulai dari TV, radio, medsos, sampai iklan di billboard jalanan—selalu mencekoki kita tentang hal-hal yang glamor dan mewah.

Kalau menurut media, hal-hal glamor, mewah, dan pantas jadi pusat perhatian adalah, misalnya, selebriti, Kardashian, Hollywood, dunia hiburan, pejabat-pejabat penting, dan sebagainya. Betul nggak?

Tetapi apakah harus selalu begitu?

Sejak dulu, para seniman—lewat karya seni mereka—berusaha memberitahu kita bahwa, hei, hal-hal yang perlu kamu perhatikan bukan cuma selebriti dan hal-hal yang serba komersil, lho!

Pelukis Albert Durer bisa membuat RUMPUT tampak glamor. John Constable bisa membuat LANGIT tampak glamor. Van Gogh bisa membuat JERUK tampak glamor. Michael Duchant bisa membuat toilet menjadi objek yang diperhatikan!

Albert Durer

John Constable

 

Vincent Van Gogh

Michael Duchant

Seniman-seniman ini seolah ingin berkata, ada banyak hal-hal sepele di sekitar kita yang sebenarnya tampak menarik atau bermakna dalam, KALAU kita mau berpikir kreatif dan melihatnya dari perspektif lain. Dunia nggak melulu berpusat pada Hollywood dan pesta selebriti, lho.

Kalau kita terbiasa memperhatikan hal-hal kecil dan memandang sesuatu dari perspektif lain, menurut saya, lama-lama sikap empati dan kreativitas kita akan sangat terasah. Ingat, kreatif itu BUKAN berarti jago membuat karya seni, lho. Kreatif bisa berarti jago memecahkan masalah atau mencari jalan keluar.

5. Seni adalah propaganda positif untuk kemanusiaan

Kamu tahu propaganda? Propaganda adalah sebuah ajakan tersembunyi agar kamu membela atau memihak sesuatu.

Nah, kesimpulannya, seni memang bisa dilihat sebagai propaganda, untuk memotivasi dan memberikan kamu energi untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan kata lain, seni bisa jadi propaganda positif.

Baca aja poin-poin di atas. Seni bisa bikin kamu:

-    Punya harapan dan pandangan optimis
-    Nggak menutup-nutupi perasaan sedih
-    Menyeimbangkan jiwa
-    Memperhatikan hal-hal kecil, dan membuat kamu jadi kritis

Jadi, kalau kamu datang ke pameran atau galeri seni, museum seni, atau sekedar memandang lukisan bersejarah di buku, jangan merasa “tegang” atau kebosanan. Rilekin aja, sob! Serilek saat kamu lihat-lihat feed Instagram, atau menikmati musik.

Sabar, jangan selalu ingin cepat paham maksud dari karya seni yang kamu pandang. Nikmati apapun yang bisa kamu nikmati—entah itu hanya bentuknya, atau hanya warnanya.

***

Nah, coba share artikel ini ke orangtua kamu. Mungkin ortu kamu nggak akan langsung memandang positif jurusan kuliah Seni, tetapi siapa tahu mereka jadi lebih terbuka dan mau mengenal Seni dengan lebih dalam.

Semoga suatu hari, mereka pun akan terbuka untuk mendukung kamu terjun ke bidang Seni. Uhuy!

(sumber gambar: caravaggio.org, metmuseum.org, artexpertswebsite.com, galleryintell.com, macleans.ca, theartnewspaper.com, vangoghgallery.com, viewfromaburrow.com, tumblr.com, pinterest.com, praraphaelitegallery.com, netloid.com, toperfect.com, nationalgallery.co.uk)

LATEST COMMENT
Khusnul Khotimah Hamzah | 5 hari yang lalu

Temen²ku juga kayak gitu. Malahan mereka udah janjian dari awal, nanti pas presentasi gak usah ada yang berpendapat macam². Padahal kan kita mau diskusi itu berjalan supaya semuanya paham :(

6 Sifat yang Harus Kamu Hindari Agar Kamu Dapat Meraih Kesuksesan
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©