Hal-Hal Nggak Enak yang Sering Dirasakan Anak SMK. Kamu Merasakan Ini Juga, Nggak?

Waku saya duduk di bangku SMK, label “anak tiri” udah mendarah daging banget deh buat saya dan teman-teman. Label tersebut sebetulnya nggak pernah langsung diberikan oleh orang lain kepada kami, sih. Sebutan “anak tiri” tersebut justru datang dari kami para siswa/i SMK sendiri. Kenapa? Soalnya setiap kali kami nogkrong sama kawan lama atau keluarga, kening mereka bakal langsung bekerut heran ketika kami menjawab SMK adalah pilihan untuk melanjutkan pendidikan tingkat atas. Ternyata, anggapan ini terus menerus menghantui kami. Sehingga, kami jadi merasa “anak tiri” dengan sendirinya.

Berikut hal-hal nggak enak yang sering dirasakan oleh siswa/i SMK. Mungkin, nggak semua merasakan hal ini dan merasa jadi “anak tiri”. Tapi nggak sedikit juga yang menganggap hal ini memang terjadi ketika mereka menjadi siswa/i SMK.

1. Sering dikira nggak lulus masuk SMA idaman dan nggak mau kuliah

Like it or not, anak SMK seringkali dipandang sebelah mata. Ciyan, ya? Anak SMK malah selalu ditanya, “Kenapa masuk SMK, sih? Nggak mau kuliah, ya?” Dan yang paling menyakitkan, kalau anak SMK sering dikira masuk SMK karena nggak lolos masuk SMA idaman. SMK dianggap pacar pelarian, karena cintanya kadung ditolak SMA idaman.

Duh, siapa sih yang nggak mau kuliah? Anak muda yang peduli sama pendidikan pasti mau melanjutkan kuliah ke universitas. Masalahnya, banyak siswa/i di Indonesia yang ragu-ragu apakah mereka akan punya biaya atau nggak untuk kuliah nanti. Karena itu, SMK menjadi jalan keluar yang paling tepat. Soalnya, SMK memang mempersiapkan lukusannya buat langsung turun ke dunia kerja.

Selain itu, SMK dan SMA mempunyai kurikulum yang jauh berbeda. Karenanya, memilih menjadi pelajar SMK merupakan hal yang dilakukan dengan penuh kesadaran sejak awal. Menurut Widdy Puspa, salah satu alumni SMK jurusan Sekretaris, Widdy dan hampir semua teman sekelasnya memilih SMK karena mereka memang nggak berminat masuk SMA.

"Buat aku dan beberapa teman yang sudah tahu ingin berkarir di bidang apa, SMK menjadi pilihan karena sudah jelas kurikulum pembelajarannya. Memang, sih, peran orang tua penting banget untuk membantu kita tahu apa yang akan kita pelajari ketika masuk SMK atau SMA. Jadi kita tahu bahwa memilih jurusan SMK sesuai minat itu penting banget".

2. Nggak banyak waktu untuk gaul

Kalian pasti udah tahu bahwa mata pelajaran di SMK bukan cuma normatif dan adaptif, tapi lebih banyak mata pelajaran produktif atau praktek yang sangat menguras waktu.

Karena mata pelajaran produktif ini banyak, otomatis siswa/i SMK nggak punya banyak waktu untuk nongkrong sepulang sekolah. Setiap praktek, siswa/i SMK wajib menyelesaikannya hari itu juga. Karena mata pelajaran ini nggak bisa dibawa pulang alias dijadikan PR. Nggak mungkin, dong, kamu lagi manggang roti trus memangangnya dilanjutkan di rumah karena waktunya habis. We need to be at school until it’s done.

Selain itu, anak-anak organisasi yang mengikuti OSIS atau ekskul lainnya, lebih banyak disarankan untuk membuat acara sekolah yang berhubungan dengan kompetensi alias jurusan yang ada di SMK. Misalnya, instead of bikin acara musik, siswa/i SMK lebih didukung untuk bikin lomba peragaan busana atau merakit mesin.

3. Sulit masuk Perguruan Tinggi Negeri

Viensa Andjani, seorang alumni SMK jurusan Analis Kimia pernah mencoba menembus SNMPTN untuk masuk PTN idamannya. Sayangnya, quota penerimaan PTN untuk siswa/i SMK oleh universitas negeri kecil sekali. Sehingga, meskipun nilai Viensa semasa SMK gemilang banget, ngga mudah baginya berkuliah ke PTN setelah lulus SMK.

Bukan cuma Viensa, Youthmanual pernah membaca curhatan siswi SMK jurusan Perawat Kesehatan yang ingin kuliah Kedokteran di salah satu PTN. Katanya, jalur SNMPTN Kedokteran hanya diperuntukkan bagi anak SMA jurusan IPA. Ikut jalur SBMPTN juga kecil kemungkinannya, karena soal-soal SBMPTN banyak diambil dari materi pembelajaran SMA.

Padahal, siswi SMK tersebut sengaja mengambil SMK jurusan jurusan Perawat Kesehatan supaya bisa in line sama jurusan kuliah kedokteran yang ingin dia ambil. Intinya, lulusan SMK kok seperti dipersulit untuk masuk PTN, ya?

Kalau udah kayak gini, apa yang bisa dilakukan sama pemerintah untuk siswa/i SMK yang tertarik masuk SMK tapi tertarik untuk kuliah juga? #TanyaPakJokowi #LaluMintaSepeda

4. Bingung mau kerja setelah lulus SMK

Meskipun hakikatnya lulusan SMK dipersiapkan untuk langsung bekerja, nyatanya bekerja setelah lulus SMK nggak semudah membalikkan telor dadar di atas penggorengan, gaes. Teman-teman SMK yang sebetulnya punya skills cukup, masih terbentur masalah ijasah pas-pasan. Kami seringkali disebut “cuma lulusan SMK’. Padahal, harusnya industri siap membuka tangan selebar-lebarnya untuk para lulusan SMK.

Hal ini juga menjadi kekhawatiran banyak pihak, lho. Pasalnya, pemerintah pemerintah juga mendorong pemerintah provinsi untuk menaikkan jumlah SMK dalam lima tahun mendatang. Di DKI Jakarta aja, jumlah pelajar SMK sudah jauh lebih banyak daripada pelajar SMA. Kalau program kapasitas SMK ingin dinaikkan dua kali lipat, bisa-bisa jumlah pelajar SMA hanya setengah dari anak SMK.

Harusnya, bukan jumlahnya yang ditambah, tapi kualitasnya yang semakin dimantapkan. Sehingga, kurikulum SMK sejalan dengan kebutuhan dunia kerja dan nggak ada lagi krisis percaya diri bagi para lulusan SMK. Ya nggak, sob?

 

(Sumber gambar: indianexpress.com, telegraph.co.uk, pinterest.com, softwaresekolah.co.id)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
syakila putri | 13 hari yang lalu

terimakasih atas informasinya. kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut https://unair.ac.id/

Bedah Peluang, Daya Tampung, serta Biaya Kuliah Jurusan Kedokteran dan Kedokteran Gigi Terbaik di Perguruan Tinggi Negeri
Muhamad Rifki Taufik | 24 hari yang lalu

4 Langkah menulis naskah film yang sangat bagus untuk mengembangkan skill penulisan saya. Terima kasih untuk ilmu yang bermanfaat.

4 Langkah Menulis Naskah Film yang Baik Bagi Pemula
Al havis Fadilla rizal | 2 bulan yang lalu

Open pp/endorse @alfadrii.malik followers 6k minat dm aja bayar seikhlasnya geratis juga gpp

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Deca Caa | 3 bulan yang lalu

open pp/endorse @aaalysaaaa 11,6 followers dm ya bayar seiklasnyaa

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Deca Caa | 3 bulan yang lalu

open pp/endorse @aaalysaaaa 1,6 followers dm ya, bayar seiklasnyaa

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2024 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1