Kurikulum Darurat Pandemi 2020: Lebih Simpel, Makin Fokus

Pemerintah akhirnya mengevaluasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi. Ada beberapa perubahan dan penyesuaian, termasuk disusunnya Kurikulum Darurat Pandemi untuk tahun ajaran 2020-2021. Seperti apa, tuh?

Apa Itu Kurikulum Darurat Pandemi?

Kurikulum Darurat Pandemi merupakan kurikulum yang disusun untuk situasi pandemi Covid-19 di Indonesia  dan berlaku selama setahun atau sepanjang tahun ajaran 2020-2021.

Sebenarnya, ini bukan sesuatu yang baru, melainkan kurikulum 2013 versi lebih “slim” dengan adanya perampingan/pengurangan materi. Menurut Mendikbud Nadiem Makarim, materi Kurikulum Darurat disusun agar lebih fokus pada subjek yang esensial. Jadi, materi yang dipelajari nggak kebanyakan jenisnya, namun mendalam.

Solusi Berbagai Isu PJJ

Kurikulum Darurat merupakan solusi atas kondisi yang membatasi dan menghambat kegiatan belajar mengajar di masa pademi. Seperti yang kita tahu ada banyak masalah yang dihadapi selama PJJ beberapa bulan terakhir antara lain:

a. Pembelajaran kurang efektif.

b. Guru merasa terbebani dengan banyaknya materi.

c. Ortu pun merasakan beban PJJ, di saat banyak kewajiban lain yang harus dikerjakan.

d. Siswa jenuh.

e. Ketidakmerataan fasilitas, terutama berkaitan dengan belajar online.

Harapannya, dengan materi yang lebih fokus dan terarah dalam Kurikulum Darurat, kegiatan belajar dan mengajar menjadi lebih efektif serta dapat meminimalisir permasalahan di atas.

Nggak Wajib

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang telah mengeluarkan Kurikulum Darurat Pandemi, namun ini BUKAN KURIKULUM WAJIB yang harus diterapkan semua sekolah. Kurikulum ini merupakan opsi yang bisa dipilih sekolah. Jadi semua keputusan dikembalikan pada pihak sekolah. Pilihannya adalah:

a. Kurikulum penuh, tanpa dikurangi. Ini bisa diterapkan sekolah yang merasa bisa menjalani kurikulum tersebut.

b. Kurikulum Darurat Pandemi yang telah diringkaskan oleh kemdikbud.

c. Pihak sekolah meringkas kurikulum secara mandiri, dan menentukan hal apa saja yang akan dipelajari tahun ini.

Apa Dampaknya Bagi Siswa?

Well, keputusan pemilihan kurikulum memang di tangan sekolah, bukan berdasarkan preferensi kamu, gaes. Tapi percaya aja bahwa tiap sekolah akan melakukan yang terbaik. Soalnya, kemampuan dan karakter tiap sekolah kan berbeda.

Dengan keleluasaan sekolah memilih dan mengurangi kurikulum yang dipakai, diharapkan dampaknya akan baik untuk kegiatan belajar mengajar.

Sementara itu, yang bisa kamu lakukan sebagai siswa adalah:

1. Patuhi peraturan kesehatan dan pembelajaran yang berlaku.

Kadang memang malas juga untuk terus di rumah, pakai masker (jika harus ke luar rumah), atau tetap pakai seragam saat sekolah dari rumah. Tapi, ada maksud dibalik segala keribetan aturan tersebut.

Misalnya, protokol kesehatan dan kebijakan untuk di rumah aja bertujuan untuk menjaga dirimu dan orang lain dengan meminimalisir risiko penyebaran COVID-19.

Sementara tujuan aturan seperti memakai seragam saat video conference/video call adalah agar siswa semangat belajar dan supaya nggak terdistraksi dengan pakaian yang dikenakan siswa lain.

2. Berpartisipasi dalam diskusi dan memberi masukan.

Segala aturan dan prosedur pembelajaran jarak jauh biasanya akan didiskusikan dan dievaluasi. Nah, kamu bisa menyuarkan masukanmu.

Misalnya, soal aturan seragam. Jika kamu merasa hal tersebut kurang efektif, nggak nyaman, dan nambahin cucian, kamu bisa mendiskusikannya. Atau, bisa jadi kamu punya usulan tentang proses belajar, aturan kerja kelompok, dan lainnya.

Aktif berikan masukan, namun jangan memaksakan pendapatmu.

3. Manfaatkan fasilitas yang diberikan sesuai kebutuhan.

Ada sekolah yang meminjamkan laptop pada siswa, ada yang memberikan buku dan ebook, adapula yang memberikan pulsa. Beberapa aplikasi belajar juga menyediakan fasilitasnya secara gratis. Nah, cari tahu informasinya dan manfaatkan sesuai kebutuhanmu.

4. Jangan hanya belajar online.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) identik dengan sekolah online, sehingga kita terlalu tergantung pada gadget serta koneksi internet. Padahal ada banyak aktivitas belajar yang bisa dilakukan secara luring (luar jaringan) alias offline.

Manfaatkan buku, materi yang diberikan melalui televisi/radio, dan lainnya. Selain menghemat biaya dan pemakaian gadget, kamu juga jadi nggak jenuh di depan layar.

5. Pahami informasi yang tepat.

Misalnya, “Kata pemerintah, kita sudah boleh sekolah tatap muka. Kok sekolah ini masih belajar dari rumah. Curang!”

Gaes, kamu harus paham, bahwa  yang diperbolehkan pemerintah adalah sekolah di zona kuning dan hijau. Info zona tersebut resmi dari BNBP. Itu pun dengan sejumlah syarat dan ketentuan ketat, di antaranya:

a. Persetujuan Pemda

b. Kesiapan sekolah

c. Persetujuan orang tua

d. Daerah aman (tidak berubah ke zona oranye atau merah)

Jika nggak terpenuhi salah satunya, tidak dilakukan belajar tatap muka di sekolah. Jikalau sekolah dibuka pun, belum sepenuhnya normal, karena kuota kelas hanya boleh terisi separuhnya (masuk berdasarkan shift), tidak boleh ada kegiatan ekstra, dan lainnya.

Jadi, cari informasi yang benar dan pahami.

Tetap semangat, ya!

(Sumber gambar: bongkarn thanyakij from Pexels)

 

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1