Menu

Belajar Bisnis dari Lego dan Play-Doh

Lego dan Play-Doh, siapa sih, yang nggak tau mainan populer ini? Tapi soal bisnis, keduanya nggak main-main. Mereka sukses membangun usaha besar selama lebih dari setengah abad dan terus bergerak maju. Kisah mereka bisa banget jadi inspirasi kamu, terutama yang ingin jadi entrepreneur. Mari belajar dari Lego dan Play-Doh!

Awalnya

Lego

Ole Kirk Christiansen adalah seorang tukang kayu asal Denmark yang juga pembuat mainan anak-anak. Ketika itu, di tahun 1947, kebanyakan mainan terbuat dari kayu, namun Christiansen mendatangkan mesin cetak plastik dan mencoba membuat mainan dari plastik. Mainan ini berupa bongkahan dengan tonjolan dan lekukan yang mudah dilepas-pasang satu sama lain, serta dibuat bervariasi bentuk. 

Mainan ini dinamakan Lego, yang artinya play well. Dengan Lego, seorang anak nggak cuma bermain, tetapi bisa berkarya sesuai imajinasinya. Bisa dibilang Lego merupakan pioner mainan berbentuk seperti ini. Makanya pada tahun 1958, Christiansen mematenkan bentuk tonjolan dan lekukan a la Lego. Kalau melihat mainan plastik berwarna-warni yang sekilas mirip, kita pasti akan menyebutnya “Lego”, yekan?

Play-Doh

Mungkin nggak ada yang menyangka kalau Play-Doh berawal dari pabrik yang nyaris bangkrut di tahun 1950-an. Awalnya, mereka menghasilkan Magic Wallpaper Cleaner, produk pembersih noda wallpaper. Nah, adonan pembersih noda ini kenyal dan mudah dibentuk.

Akibat perkembangan teknologi pemanas ruangan, wallpaper nggak lagi bermasalah dan masyarakat pun jadi nggak butuh produk pembersih noda.

Suatu hari Joe McVicker, anak dari pemilik pabrik, mengirimkan adonan Magic Wallpaper Cleaner (yang bebas bahan kimia berbahaya) kepada iparnya yang guru TK. Soalnya si guru TK curhat mengenai bagaimana sulitnya anak TK bermain dengan tanah liat. Joe punya ide agar anak-anak tersebut bermain dengan Magic Wallpaper Cleaner yang kenyal, tidak kotor, dan mudah dibentuk. Ternyata anak-anak menggemari produk ini.

Langsung deh, Joe mengembangkan adonan pembersih menjadi mainan buat anak-anak yang dipatenkan pada tahun 1956. Berkat Play-Doh Joe pun menjadi miliarder muda di usia 27 tahun. So, kalau produk kamu nggak relevan, berubah dan lakukan revolusi seperti Play-Doh!

Perkembangan

Lego

Dari Denmark, Lego kemudian digemari di Eropa kemudian ke seluruh dunia. Mereka pun mengembangkan variasi tema set Lego, dengan tambahan detail seperti jendela, roda, dan lainnya. Sebelumnya, mainan Lego hanya polos. Masalahnya, jika hanya polos, seorang anak hanya perlu satu Lego, dan nggak bakalan membeli lagi. Dengan adanya variasi tema, satu anak bisa membeli beberapa variasi set Lego.

Masyarakat nggak hanya antusias membeli mainannya aja, pabrik pembuatan Lego pun ramai dikunjungi. Ini memberikan ide untuk membuka taman bermain pertama mereka pada tahun 1963.

play doh

Play-Doh

Mainan ini mulai go international di tahun 1964, dan penjualannya pun terus meningkat. Dari segi produk, Play-Doh semakin menarik karena nggak hanya menjual adonan kenyal, namun juga aneka bentuk cetakan serta pernak-pernik pendukungnya, seperti mesin pembuat spaghetti, panggangan burger, hingga tema binatang laut.

Tantangan 

Lego

* Produk Lego mudah ditiru, walaupun memiliki paten. Beidewei, patennya pun akan expired setelah 100 tahun.

* Video game membuat minat anak-anak terhadap mainan, termasuk Lego menurun. Begitu juga dengan mainan-mainan baru lainnya, seperti Pokemon.

* Perkembangan teknologi semakin canggih, semua serba digitalized, sehingga Lego  kelihatan kuno.

* Menjelang tahun 2000,  mulai terjadi penurunan keuntungan, bahkan kabarnya Lego sempat merugi dan melakukan PHK.

Play-Doh

* Seiring dengan kesuksesannya, banyak yang mencoba meniru Play-Doh

Apa yang mereka lakukan?

Lego

*  Bekerja sama dengan industri hiburan modern, seperti Star Wars, Jurrasic Park, Harry Potter dan membuat Lego seri spesial dengan tema film tersebut. Sekali lagi Lego berhasil mengeluarkan produk yang menarik dan hype. Peminatnya pun meluas, dari anak-anak hingga orang dewasa.

* Merilis kembali Duplo, salah satu anak brand Lego yang mengeluarkan produk bongkahan besar untuk balita.  Yup, potensi Duplo sangat besar lho, mengingat balita membutuhkan mainan yang aman serta mendorong kreativitas dan umumnya menghindari video game.

* Dari segi perkembangan teknologi, Lego bekerja sama dengan Microsoft untuk mengembangkan video game Lego dan film Lego.

* Mendirikan Lego Learning Institute yang melakukan penelitian dan pengembangan seputar permainan dan pembelajaran.

* Nggak melupakan rumus klasik: quality control.

* Menjual sebagian besar saham taman hiburan Legoland, sehingga The Lego Group hanya menguasai 30 persen saja. Ini supaya mereka bisa lebih fokus mengurus dan mengembangkan produk mainan. Yup, dalam berbisnis, memang kadang harus memilih prioritas.

lego

Play-Doh

* Hasbro, perusahaan Play-Doh melindungi nama brand  mereka secara hukum agar nggak ditiru serta menjaga resep rahasia adonannya.

* Terus berkomitmen mengeluarkan produk yang berkualitas dan aman untuk anak.

Zaman Now

Lego

Walau banyak tantangan dan kompetitor, Lego tetap digemari. Mereka terus mengeluarkan inovasi dan varian produk, sambil tetap mempertahankan produk yang klasik. Tahun 2015 lalu Lego mendapat predikat World’s Most Powerful Brand dari Brand Finance. Saat ini, terdapat 7 taman bermain Legoland serta 8 Legoland Discovery Centre di berbagai belahan dunia. 

Play-Doh

Mainan ini sangat populer di kalangan anak-anak di berbagai negara. Di tahun 2003 Toy Industry Association memasukan Play-Doh dalam list bergengsi, Daftar Mainan Abad Ini. Di tahun 2018, Play-Doh bakalan kembali membuka pabrik mereka di Amerika Serikat.

(sumber gambar: shop.lego.com, youtube)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©