10 Kesalahan Saat Melamar Kerja

Dari zaman masih kuliah, jadi fresh graduate, sampai sekarang saya mengalami lika-liku melamar kerja. Nah, pengalaman tersebut memberikan saya pelajaran, terutama ketika awal mencari kerja. Dan inilah kesalahan yang saya lakukan dan alami saat melamar pekerjaan. Jangan sampai terulang di kamu ya.

1. Salah menuliskan nama perusahaan.

Dalam surat lamaran, ada beberapa kali kita menyebutkan perusahaan yang dilamar. Pertama di bagian alamat pengiriman/surat menyurat atau alamat email, dalam body email, serta dalam surat lamaran.

Kebayang nggak sih, kalau lamaran ditujukan pada perusahaan X. Tapi di surat lamaran tertulis Kepada yth. Manajer HRD perusahaan O. Nah, kan! Jadi sebelum mengirimkan surat atau menekan send, cek dulu segala sesuatunya.

2. Nggak ngerti job desk pekerjaan yang dilamar.

Saking semangatnya mencari kerja, saya langsung melamar dan berhasil dipanggil interview. Ketika wawancara baru ketahuan bahwa saya kurang mengerti job desk posisi yang dilamar. Singkat cerita, gagal diterima, deh!

3. Nulis CV kepanjangan

Semuaaa mau ditulis di CV supaya kelihatan penuh dan aktif. Itu CV atau draf biografi, sih? Ternyata banyak hal yang nggak relevan untuk dimasukkan di CV. Isi CV seharusnya adalah pengalaman dan kemampuan yang masih berhubungan dengan bidang yang dilamar dana masih relatif baru. Dengan kata lain nggak perlu lah mencantumkan pengalaman organisasi zaman SMA, apalagi pas SD.

O iya, sesuaikaan juga CV dengan pekerjaan yang ingin dilamar. Misalnya, kamu pengen magang sebagai barista atau kasir, tentu CV-nya berbeda dengan ketika melamar sebagai PNS.

4. Datang terlambat

Mesti ekstra persiapan supaya nggak ketelatan. Prinsipnya, lebih baik datqng lebih awal. Namun, kalau sampai telat karena berbagai hal, segera kabari pihak perusahaan. Supaya waktu mereka nggak terbuang menunggu kamu.

Saya pernah datang lebih awal dalam wawancara kerja. Ternyata pelamar sebelum saya terlambat, dan akhirnya saya dipersilahkan wawancara duluan. Nah, terlihat bahwa si user alias calon atasan gusar banget sama pelamar yang datang telat.  

5. Ghosting.

Sekali waktu, saya berhalangan mengikuti tes karena suatu hal yang mendesak. Namun saya nggak mengabari. Besoknya, pihak perusahaan menghubungi dan saya pun menjelaskan alasannya. Nah, seharusnya ketika berhalangan saya langsung memberitahukan perusahaan. Bisa saja kan, diatur ulang jadwal tes/wawancaranya. Ghosting alias menghilang begitu aja dan nggak hadir merupakan hal yang nggak beretika. Jangan diulangi, ya.   

6. Nggak siap menghadapi tes praktik kerja.

Beberapa perusahaan melakukan tes praktik kerja. Ada yang diberitahukan sebelumnya. Adapula tes kerja dadakan. Nah, kamu harus siap menghadapinya. Dengan tahu keahlian yang dibutuhkan, posisi yang kamu lamar, dan mengasah skill, kamu akan bisa menghadapi tes kerja tersebut.

Ketika masih kuliah, saya melamar magang di satu perusahaan. Diberitahukaan bahwa akan ad tes kerja dengan program excel. Karena nggak familiar, saya berusaha mempelajari dalam waktu singkat. Sayangnya ketika itu, saya belum menguasai. Alhasil, saya pun kesulitan saat tes kerja. Belajar dan berlatih adalah kunci menghadapi tes praktik kerja yang membutuhkan keahlian khusus.

Kunci lainnya adalah ketenangan. Seringkali si pelamar punya kemampuan, tapi praktiknya kacau karena nggak bisa mengendalikan rasa gugup. 

7. Belum tahu jenjang karier perusahaan yang dilamar.

Zaman baru lulus kuliah saya pernah diketawain ketika wawancara kerja. Saat itu saya menyebutkan bahwa posisi yang diinginkan adalah produser. Padahal untuk jadi seorang produser harus punya pengalaman bertahun-tahun. Makanya, penting bagi freshgrad untuk tahu jenjang karier.

8. Tidak memilih dengan jelas.

“Saya siap ditempakan di posisi apa pun.”, “Saya berminat bekerja di perusahaan ini untuk posisi yang tersedia.” Pernyataan seperti ini di surat lamaran atau ketika wawancara kerja nggak tepat ya, gaes.

Pertama, bikin perusahaan bingung, posisi apa yang sebenarnya kamu lamar. Kedua, perusahaan jadi nggak yakin apakah kamu benar-benar berminat bekerja. Ketiga, perusahaan ragu kamu punya pengetahuan yang cukup mengenai pekerjaan tersebut. Keempat, gimana seandainya kamu diterima di bagian Teknologi Informasi atau malah jadi sekuriti, padahal [endidikan kamu Akuntansi? Nha, jadi bingung sendiri, kan.

Dari pengalaman saya, surat lamaran yang menyebutkan berminat di posisi apapun sepertinya nggak bikin perusahaan tertarik.

9. Telat mengumpulkan.

Ketika masih kuliah tingkat akhir, saya dapat kesempatan ikut seleksi di perusahaan multinasional. Saya lolos tes, dan lanjut ke seleksi berikutnya. Ketika itu, seleksi dilakukan via email dengan menjawab sejumlah pertanyaan. Karena overthinking, akhirnya saya melewati batas waktu pengumpulan. Tetap mengumpulkan sih, tapi saya gagal di seleksi tersebut.

Yup, melewati deadline atau nggak mengumpulkan tugas yang diberikan saat seleksi kerja kemungkinan besar membuat kamu gagal memperoleh pekerjaaan.

10. Belum mengerti memilih pekerjaan.

Saya tahu rasanya pengen mendapatkan pekerjaan. Namun bukan berarti kamu bisa bekerja apa saja. Bisa jadi ada pekerjaan yang bikin kamu nggak nyaman, job desk-nya nggak sesuai untukmu, atau suasana tempat kerjanya nggak nyaman.

Kamu nggak harus bekerja di tempat yang menerima kamu, jika kamu merasa nggak cocok. Daripada dipaksain mendingan kamu berusaha cari yang lain.

Saya pernah diterima bekerja di bagian pemasaran, padahal sebenarnya saya ingin bekerja di bagian kreatif dan konten. Tambahan lagi, saya kurang cocok dengan produknya. Saya sebenarnya ragu, namun memaksakan diri karena ketika itu belum memiliki pengalaman kerja. Akhirnya hanya bertahan beberapa hari, kemudian mengundurkan diri.

Hal kayak begini bisa dihindari dengan memilih pekerjaan yang tepat. Saat wawancara, kamu pun bisa berdiskusi dengan pihak perusahaan untuk tahu apakah bekerja di sana merupakan hal yang tepat untukmu.

Di sisi lain, kecocokan dalam bekerja memang nggak bisa instan. Kadang kamu memang harus mencoba terlebih dahulu.

(Sumber gambar: Pixabay)

LATEST COMMENT
pipi | 1 jam yang lalu

Hai min! aku mau cerita. Dari beberapa poin di atas aku merasakan hal yang sama. Jujur, dulu aku termasuk orang yang ambis untuk masuk jurusan di rumpun kesehatan. Dari kelas 9 aku sudah memiliki plan untuk kuliah di jurusan gizi, tetapi seiring berjalannya waktu, aku memilih untuk mengambil jurusan…

Kamu Salah Ambil Jurusan Kuliah? Cek 15 Tanda Mahasiswa Salah Jurusan!
Yoga Sinaga | 12 jam yang lalu

keren! coba baca juga http://news.unair.ac.id/2021/02/10/tips-etika-berkomunikasi-digital/

20 Panduan dan Etika Mengirim Email Untuk Keperluan Akademis, Organisasi, Atau Kerja
Fatimah Ibtisam | 3 hari yang lalu

Hai Safiqah, untuk lebih jelasnya kamu bisa mengecek perguruan tinggi yang dituju. Secara umum, jika lewat jalur SBMPTN bisa saja.

Kenal Lebih Dekat dengan Program Studi Ilmu Perpustakaan, Yuk!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1