Menu

Perubahan Dunia Kerja Zaman Old VS Zaman Now dan Bagaimana Generasi Muda Menghadapi Tantangan Dunia Kerja

Pernah nggak, sih, kamu membayangkan gimana suasana kerja di kantor waktu internet belum ditemukan? Masa-masa mencari informasi lewat buku, berkomunikasi tanpa email, bahkan mungkin waktu itu kita harus menandai iklan di koran buat nyari pekerjaan.

Zaman sekarang, kita bisa merencanakan pekerjaan dengan lebih menarik, mendiskusikannya panjang lebar (bahkan dengan siapapun dan di manapun!) sampe ngantuk dan mendapat kemudahan dalam mengeksekusi langkah-langkah untuk mengerjakannya.

Nah, apa aja sih yang berubah dari dulu sampai sekarang dan kemungkinannya di masa depan? Terus kira-kira siap nggak kita menghadapi tantangannya?

Simak infografik dan pembahasan berikut ini yuk, gaes!

1. Mencari pekerjaan

Di Inggris sekitar tahun 1910-1973, pekerjaan didapatkan dari hasil pertukaran pekerja. Lembaga yang mengaturnya dinamakan Jobcenters. Kebanyakan pekerjaan yang diatur adalah pekerjaan kasar yang menggunakan fisik. Misalnya, pertukaran buruh bangunan, pertukaran buruh tani dan lain sebagainya.

Trus sekitar tahun 1990, para pencari kerja mulai memasang iklan di koran lokal. Sementara untuk pekerjaan yang lebih mudah, mereka memasangnya di jendela toko/kantor atau di tempat umum. Penyebaran beritanyapun lebih banyak dari mulut ke mulut.

Sejak tahun 1995, careerbuilders (kayak jobsdb atau jobstreet) mulai hadir. Mereka jadi jembatan antara perusahaan dan calon karyawan. Tapi, pengiriman dokumen lamaran kerja masih melalui kertas. Mengirim lamaranpun masih lewat pos atau... titipin satpam? #hufffttt

Sekarang ini, mencari pekerjaan bisa lewat aplikasi online. Para pewawancara  "kenalan" lewat telepon atau skype sama calon karyawan sebelum mereka melakukan interview langsung. Untuk pekerja di industri kreatif, perusahaan bakal mempekerjakan orang-orang yang udah terkenal (atau followersnya banyak, hehehe) supaya lebih mudah memperkenalkan brand mereka. Selain itu, tentu aja perusahaan bisa screening calon karyawan mereka lewat social media.

Di masa depan: 

Internet telah mengubah cara orang mengumumkan lowongan pekerjaan dan mencari pekerjaan. Mungkin aja di masa depan, kita cuma tinggal upload portfolio di media sosial dan mencantumkan kontak. Pengguna Linkedin aja udah mencapai 225 juta orang di seluruh dunia dalam 10 tahun sejak peluncurannya. Perusahaan dan karyawan jadi terhubung sendirinya sesuai kebutuhan. 

Tantangan:

Karena sekarang hampir semua pekerjaan melibatkan internet, mau nggak mau kita musti savvy dalam penggunaan teknologi. Termasuk cepat dalam menanggapi segala jenis pertanyaan atau pekerjaan yang ditawarkan.

Menurut data dari creativecommons.org, kebutuhan perusahaan terhadap temporary worker alias pekerja sementara terus meningkat. Sejak tahun 1997 hingga 2007 aja, peningkatannya hampir 5%. Ini artinya, jenis pekerjaan terus dibagi dalam jangka waktu yang pendek (per project) dan pergantian karyawan akan terjadi sangat cepat.

2. Jabatan dan tugas

Sejak tahun 1980, seiring dengan meningkatnya penggunaan komputer, munculah jabatan IT officer. Semakin ke sini, jabatan dan tugas dalam sebuah perusahaan terus meluas. Misalnya, ada account manager, sustainability officer, copy writer, social media marketing dan lain sebagainya. 

Internet juga memudahkan pemimpin untuk membagi tugasnya. Sehingga, masing-masing departemen dalam sebuah perusahaan biasanya mempunyai pimpinan lagi. Budaya bekerja juga penuh dengan keterbukaan dan lebih menghargai saran dari setiap karyawan. Nggak kayak dulu, sekarang kita bisa berdebat sama bos untuk sebuah ide!

Di masa depan: 

Meskipun jabatan dan tugas dalam sebuah perusahaan semakin meluas, tapi pekerjaan yang nggak membutuhkan daya imajinasi dan bersifat repetitif bakal tergantikan sama robot. Tentu aja ini dilakukan supaya perusahaan bisa lebih efisien.

Menurut beberapa situs karir si Amerika, di masa depan 50% pekerjaan yang masih membutuhkan manusia juga bakal ditangani oleh freelancers.

Tantangan:

Penguasaan soft skills harus lebih terarah, gaes. Kamu juga wajib memiliki 21st century skills dibanding cuma kemampuan untuk bekerja aja. Di masa depan, bekerja bukan lagi sekedar datang ke kantor jam delapan pagi dan pulang jam lima sore. Kalau kamu nggak efisien dan membawa dampak inovatif buat perusahaan, kamu bakal BHAY.

3. Tempat bekerja

Co-working space terus menjamur di kota-kota besar. Seiring dengan meningkatnya start up yang diisi anak muda, kebutuhan kantor dan karyawannya juga jadi bergeser.

Zaman sekarang, karyawan lebih suka kantor yang desainnya nggak kaku, menyediakan makan siang dan kopi gratis. Selain itu, internet cepat dan asuransi yang nggak biasa jadi pertimbangan. Di Amerika, malah lagi hits banget perusahaan yang menyediakan asuransi perceraian. Soalnya, jam kerja karyawannya kadang bisa gila-gilaan. Bekerja sesuai passion bikin kita jadi keasikan dan lupa waktu. Akibatnya, personal relationship dipertaruhkan.

Di masa depan:

Kantor dibuat senyaman mungkin kayak rumah kedua. Sehingga, para anak muda nggak merasa mereka lagi bekerja. Mereka juga diizinkan untuk bekerja dari masa saja. Profesionalitas menjadi "pengikat" antara perusahaan dan karyawan.

Tantangan:

Manajemen waktu dan dan disiplin terhadap diri sendiri jadi amat penting, gaes. Pekerjaan kamu dituntut lebih dinamis dan kece. Kalau kamu nggak pandai mengelola komunikasi dan hubungan yang baik, kamu bisa gampang stress karena masalah pekerjaan, lho.

***

Selain tiga hal yang saya sebutkan di atas, cara berkomunikasi, berkolaborasi dan seni memimpin juga bergeser. Misalnya aja, we mostly use email (even whatsapp!) untuk ngomonging kerjaan. Rapat? Virtual aja, deh!

Oh iya, kalau zaman dulu marak kompetisi, sekarang justru heboh kolaborasi. Kompetisi dilakukan secara terang-terangan dan sportif. Bagus, sih, tapi buat perusahaan yang stateginya nggak kuat, siap-siap aja jalan di tempat.

Gimana? Seru, ya, ngomongin evolusi dunia kerja dan tantangannya di masa depan. Yuk, persipakan diri sebaik mungkin supaya kita bisa lebih siap ketika nanti turun ke dunia kerja!

 

(Sumber gambar: ft.com, dailyinfographic.com, thebalance.com)

LATEST COMMENT
Miltato | 15 jam yang lalu

apa bisa anak ipa masuk ke ilmu komunikasi?

Q & A Tanya Youthmanual: Bedah Jurusan Ilmu Komunikasi
Nanda Abdullatif | 17 jam yang lalu

Setauku sttn bayar, tapi lebih murah dari ptn dan banyak beasiswa yang tawarkan

Ini Dia 7 Perguruan Tinggi Kedinasan Yang Nggak Kalah Kece Dari Perguruan Tinggi Negeri!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©