Menu

Dasar-Dasar Membuat Esai Untuk Anak Kuliahan

Ini cerita jaman dulu, ketika saya masih jadi mahasiswi ngegemesin yang baru aja masuk kuliah.

Di minggu pertama kuliah, saya dikasih tugas membuat paper—kita sebut esai aja, ya—dari seorang dosen. Sang dosen memberikan topik besar “Kekerasan di Sekolah”, trus kami dibebaskan untuk mengerucutkan topik tersebut.

FYI, ini pertama kalinya saya dapet tugas membuat esai sebagai seorang mahasiswi. Sialnya, kami nggak diberi tau “cara menulis esai” sama sekali oleh sang dosen. Mungkin do'i mau ngetes kemampuan nulis kami dulu, ya.

Saya—yang baru aja nonton film dokumenter Bowling for Columbine—langsung memutuskan mengangkat kasus-kasus penembakan di sekolah-sekolah Amerika.

Saya meng-copy-paste banyak sekali referensi serta kutipan dari Internet. Hasilnya adalah esai sebanyak 10 halaman. Ini esai apa buku telpon?!

Meskipun begitu, saya bangga banget, lho, dengan “hasil karya” saya ini. Berasa kerennya luar biasa.

Maka ketika sudah waktunya dikumpulkan, saya menyerahkan esai tebal tersebut dengan bangga. Eh, nggak disangka, sang dosen nggak baca karya saya sama sekali, tapi langsung menuliskan huruf F besar di halaman pertama.

What?!

Saking syoknya, saya hanya bisa bengong. Yang bikin tambah syok, teman saya mendapatkan nilai A, padahal panjang esainya cuma selembar. Dunia tidak adil!!! Dil… dil… dil… *ceritanya gema*

Sekarang saya sadar, kesalahan utama saya waktu itu adalah pola pikir saya yang masih “primitif”. Saya kira, kalau sebuah esai semakin panjang, artinya semakin baik, terlepas dari isinya yang asal copy-paste, nggak terstruktur dan nggak punya pesan yang jelas. I deserved that F!

Supaya kalian nggak mengulangi kesalahan saya, saya mau bagi-bagi tips cara menulis esai dasar di perkuliahan.

***

Pertama, jangan mem-plagiat, apalagi copy-paste mentah-mentah, trus mengakuinya sebagai hasil pikiran kamu sendiri. Tau nggak, hampir semua institusi pendidikan (dan editor media) sekarang punya software pendeteksi plagiarism, lho. Kalau ketauan, akibatnya fatal!

Kedua, kalau dosen kamu nggak ngasih instruksi topik spesifik—atau kalau topik esai kamu bisa agak bebas—buatlah esai tentang hal yang sangat kamu pahami. Mau nulis soal sistem pemerintahan di film Star Wars? Boleeeh. Atau tulis tentang hal-hal yang dekat di hati, misalnya tentang tradisi Hari Raya keluarga kamu.

Sebaliknya, kalau dosen menugaskan kamu membuat esai dengan topik dan instruksi spesifik, ikutin! Kalau kamu disuruh menulis esai berdasarkan teori tertentu, nurut! Yang paling penting, pahami betul materi, teori, serta instruksi dosen. Kalau nggak ngerti, langsung tanya.

Ketiga, semakin panjang sebuah esai, bukan berarti esai tersebut semakin baik. Ini adalah pemikiran kuno era Orde Baru yang harus disingkirkan jauh-jauh. Yang penting kualitas, mz! Mbk!

Keempat, buat kerangka esaimu dengan rapih. Sebuah esai seenggaknya harus terdiri dari Introduction (termasuk Thesis), Body (termasuk Argument dan Examples) dan Conclusion.

Sini, saya jelasin satu-satu.

Introduction adalah pembuka esai. Usahakan panjangnya tidak lebih dari satu paragraf. Di paragraf Introduction ini, kamu harus menyampaikan sebuah Thesis, serta latar belakang kenapa kamu mengangkat Thesis ini.

Thesis adalah sebuah poin utama yang menjadi fondasi dari keseluruhan esaimu. Kalau sebuah esai adalah tubuh manusia, Thesis adalah jantungnya. Makanya, setiap esai harus punya Thesis yang berbentuk kalimat pernyataan.

Beberapa hal yang perlu diingat untuk membuat pernyataan Thesis:

  • Jangan terlalu luas. Jangan bilang “Kerja Ahok dalam mengatasi pemukiman liar sudah baik.” Tapi kerucutkanlah: “Tindakan Ahok menggusur Kampung Pulo adalah salah satu keputusan terbaik beliau sebagai perwakilan gubernur DKI Jakarta, karena keputusan tersebut blablabla…”
  • Harus bisa didebat. Secara garis besar, Thesis harus berupa opini, bukan fakta.
  • Harus memihak. Jangan takut membuat pernyataan yang memihak, ya. Kalau kamu mau bikin Thesis yang menyatakan kenapa merokok JANGAN dilarang, bikinlah! Asalkan…
  • Thesis harus bisa didukung oleh isi esai kamu. Jangan asal ngomong.

Kelar di Introduction, kita masuk ke bagian Body (yang bukanlah sebuah Wonderland :p).

Ada dua elemen penting dalam Body esai, yaitu Argument dan Examples.

Argument adalah pernyataan-pernyataan yang mendukung Thesis.

Misalnya, Thesis kamu adalah tentang Ahok tadi, maka tulis alasan-alasan kenapa keputusan beliau menggusur paksa Kampung Pulo adalah keputusan yang tepat. Pokoknya, Argument harus bisa mendukung Thesis mati-matian!

Nah, selain didukung dengan Argument, Thesis juga harus didukung oleh Examples atau contoh. Kalau Thesis kamu adalah “Lagu-lagu The Beatles adalah akar dari semua musik rock legendaris,”, maka sertakan contoh lagu-lagu rock yang kerangka dasarnya berdasarkan lagu-lagu The Beatles.

Lalu, sebagai penutup, buatlah Conclusion.

Conclusion adalah kesimpulan dari seluruh isi esai. Kesimpulan jangan sekedar ngulang Thesis. Kesimpulan juga nggak boleh berupa pernyataan yang benar-benar baru, atau nggak nyambung dengan hal-hal yang sudah kamu jabarkan di Body esai.

Bentuk kesimpulan bisa macam-macam. Misalnya, berupa prediksi masa depan. Contoh, kembali ke Thesis Ahok tadi, kamu bisa buat kesimpulan berupa prediksi, seperti, “Dengan demikian, apabila Ahok menjadi gubernur Jakarta, masalah banjir dan kependudukan liar ibukota akan berkurang secara signifikan.”

Kesimpulan juga bisa berupa saran. Contoh, kalau Thesis kamu membahas tentang penanganan demam berdarah, kesimpulan kamu bisa berupa saran, seperti, “Maka, di tengah peningkatan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti ini, kita wajib menyebarkan kesadaran penanganan demam berdarah kepada warga sekitar dengan cara kerja bakti atau penyuluhan.”

Nah, saya juga sempet ngobrol dengan Harumi Manik Ayu Yamin M.Hum, seorang Dosen Program Studi Inggris FIB UI. Dari kacamata dosen, apa, sih, tips-tips untuk menulis esai yang baik?

Kalau penasaran, stay tuned for part 2!

(sumber gambar: The Open University, Imgur, Deviantart)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©