Menu

Serba-Serbi Pertukaran Pelajar—Cerita Seru Dari Para Alumni Pelajar Pertukaran

Punya cita-cita ikut pertukaran pelajar? Simak dulu, dong, pengalaman Dina Puspita Sari (mahasiswi Teknik Fisika ITB), Jonathan Buranda (mahasiswa Akunting Universitas Padjajaran), dan Anissa Bella Sunoto (mahasiswi Hubungan Internasional President University), yang sempat sempat mengalami serunya tinggal di negeri orang sebagai exchanged students. Apa, sih, pahit-manisnya ikut pertukaran pelajar?

Hey, guys! Ceritain, dong, dulu ikut program pertukaran pelajar apa, dan dikirim ke negara mana?

Dina (D) : Hello, guys! Dulu aku ikut program Youth Exchange and Study (YES) selama satu tahun, 2013-2014, di North Carolina, Amerika Serikat.

Jonathan (J): Hai! Dulu aku sempat ikut program KIZUNA ke Jepang, tahun 2013.

Bella (B): Kalau aku ikut Year Program AFS ke Filipina selama satu tahun, dari 2013-2014.

Share, dong, pengalaman kalian yang paling berkesan selama exchange!

D: Buatku, pengalaman yang berkesan adalah tinggal bersama orang tua host yang seumuran dengan kakek-nenek aku. Lucunya, sebelum berangkat, aku memang berharap dapat host pasangan tua, karena di Indonesia, aku cukup jauh dari kakek-nenek. Eh, Alhamdulillah kesampaian! Tinggal dengan host parents aku tersebut adalah salah satu hal yang paling berkesan dari pengalaman exchange aku.

Dina Puspita Sari Pertukaran Pelajar

Dina bersama kedua orang tua angkatnya

B: Pengalaman menggali diri sendiri. Sebelum berangkat, ekspektasi aku ikut pertukaran adalah mempelajari budaya lain dan cari teman baru dari berbagai negara. Tapi ternyata, selama pertukaran, aku lebih banyak belajar tentang diri sendiri. Memang, keluar dari zona nyaman bikin kita jadi mengenal diri sendiri lebih jauh, dan pemahaman terhadap diri ini kerasa berguna banget untuk hidupku, sampai sekarang.

Nah, apa tantangan yang menurut kalian cukup berat semasa exchange?

D: Merasa overwhelmed dengan hal-hal baru di sana.

Dari kecil, aku sudah terbiasa mandiri, sih, karena punya dua adik kecil yang butuh perhatian ekstra. Saat SMA pun, aku juga tinggal sendiri. Nah, saat exchange aku juga dituntut untuk sigap bantu-bantu beragam pekerjaan rumah, karena host parents-ku sudah cukup tua. Selain itu, aku juga harus bantu teman siswa pertukaran dari Kyrgyzstan, yang tinggal serumah sama aku, menghadapi culture shock-nya. Kadang aku merasa overwhelmed dengan hal-hal tersebut, tapi pada akhirnya, pengalaman itu jadi bikin aku merasa jadi sosok yang lebih bisa diandalkan.

J: Untukku, sih, tantangannya ada di bahasa, karena kebanyakan orang Jepang kurang fasih berbahasa Inggris, sementara kemampuan bahasa Jepangku minimal banget. Jadi dalam beberapa situasi, aku benar-benar mengandalkan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.

Trus, sama seperti Dina, selama exchange, aku tinggal serumah dengan siswa pertukaran lain dari Australia. Awalnya, aku merasa agak canggung karena perbedaan kultur kami. Tapi mungkin karena merasa senasib-sepenanggungan, lama-lama kami jadi dekat juga.

B: Waktu di Filipina, aku punya temen yang orang tuanya Islamophobia, sampai mereka melarang anaknya temenan sama aku yang Muslim. Aku sangat, sangat penasaran sama alasan mereka. Walaupun awalnya sulit, tapi akhirnya aku dapat kesempatan untuk menjelaskan tentang kerukunan beragama di Indonesia kepada mereka, sampai akhirnya mereka lebih mengerti tentang Islam. Pada akhirnya, aku jadi berteman dekat dengan seluruh keluarganya sampai sekarang!

Anissa Bella Sunoto AFS Filippina

Bella menjadi satu-satunya siswa yang berjilbab di sekolahnya di Filipina

Wah, terus gimana cara kalian menghadapi tantangan itu?

D: Kalau lagi merasa overwhelmed, aku akan menenangkan diri, trus berusaha memahami keadaan dengan menulis, karena menulis bisa sangat membantu aku mencari titik terang. Ini juga salah satu hal yang aku pelajari selama menjalani pertukaran pelajar.

J: Untuk kendala bahasa yang aku alami, sih, untungnya di sana kami ditemani tour guide yang fasih berbahasa Inggris, hehehe. Palingan kalau perlu beli sesuatu di toko, aku harus bisa berbahasa Jepang sederhana.

Kalau di rumah, kebetulan hostmom aku guru bahasa inggris, jadi berkomunikasi dengan beliau nggak terlalu sulit. Sayangnya, hostdad aku nggak bisa bahasa Inggris sama sekali, jadi kalau lagi ngobrol, aku coba baca gerak tangan dan tubuhnya, supaya tahu apa inti pembicaraannya, hahaha.

Dengar-dengar Dina banyak ditanya pertanyaan aneh-aneh, ya, selama exchange? Pernah ditanya apa aja?

D : Banyak! Mulai dari, “So Indonesia is in Bali…?”, “You’re not from Vietnam?”, “How do you eat this hot stuff?” pas aku bawa sambal terasi ke rumah host, sampai, “Do you live in the jungle?” yang sebenarnya nggak salah-salah juga, sih, karena dulu aku besar di pedalaman Kalimantan, hahaha!

Menurut kamu,  sejauh apa pengaruh pengalaman exchange terhadap hidup kalian sekarang ini?

D: Pengaruhnya besar bangeeet... Sebelum exchange, aku orang yang cenderung pilih-piih teman. Berhubung aku dari daerah, aku jadi agak segan berteman dengan anak-anak dari kota. Tanpa sadar, aku punya stereotip tertentu terhadap teman-teman sebayaku yang dari kota.

Dina Puspita Sari Pertukaran Pelajar

Dina bersama teman-teman sekolahnya di North Carolina, Amerika Serikat

Setelah exchange, I learnt that setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan aku seharusnya bisa belajar dari siapapun. Alhasil, aku berusaha untuk lebih terbuka dan mau bergaul dengan siapa saja, tanpa punya prejudice di awal. Dengan sikap ini, pada akhirnya aku jadi dapat banyak teman dekat baru. Hal ini mungkin nggak akan terjadi if I was still the old Dina.

J: Bisa dibilang, pengaruh exhange buatku cukup besar. Yang pasti, aku jadi belajar banyak tentang beradaptasi di lingkungan baru. Selain itu, aku juga jadi lebih open minded dan berani berinteraksi dengan orang asing, berhubung selama exchange, aku dituntut untuk bergaul dengan orang-orang dari berbagai negara, terutama negara-negara ASEAN, Australia, India, dan New Zealand.

Aku pun bangga karena bisa terpilih ikut program ini, sehingga aku termotivasi untuk berkontribusi dengan total selama masa pertukaran.

B: Sejak exchange, aku jadi selalu sadar untuk melihat segala sesuatu nggak hanya dari sudut pandang diri sendiri, tapi juga sudut pandang orang lain. Dengan begitu, aku merasa orang-orang di sekelilingku jadi lebih respect ke aku, sehingga aku pun jadi lebih percaya diri.

Ketika kalian pulang ke Indonesia, apa hal yang berubah dari cara pandang kalian terhadap Indonesia?

D: Pandanganku jadi lebih positif. Luar negeri, tuh, nggak sepenuhnya bagus, kok. Dimanapun, pasti ada plus dan minusnya juga . Aku rasa, berkat exchange, aku belajar menghargai apapun yang ada di sekitarku. Kalau ada hal-hal yang nggak sreg, instead of whining atau mengeluh, aku berusaha untuk memberi kritik membangun atau merealisasikan sendiri perubahan yang aku inginkan.

J: Aku jadi lebih tahu perbedaan kultur Indonesia dengan Jepang. Yang paling kontras adalah masalah waktu. Orang Indonesia terkenal dengan budaya ngaretnya, sementara orang Jepang sangat teratur dan tepat waktu. Sampai-sampai waktu kedatangan kereta api dalam kota ataupun Shinkansen di Jepang benar-benar sesuai jadwal yang tertulis, sampai ke menit-menitnya! Menurutku, orang Indonesia harus banget merubah kebiasaan ngaret tersebut.

Jonathan Buranda KIZUNA

Jonathan (jaket hijau) bersama teman-temannya saat menjalani program KIZUNA

Selain itu, hal lain yang perlu kita tingkatkan adalah masalah kerapihan dan ketertiban. Di Jepang, infrastruktur dan fasilitas umum dijaga dengan sangat baik, either kondisi maupun fungsiya. Semoga masyarakat Indonesia juga semakin punya kesadaran dalam menjaga fasilitas publik.

Terakhir, buat para peserta pertukaran pelajar yang akan berangkat, apa tips dan trik yang bisa kamu share untuk mereka? Terutama dalam hal beradaptasi di negara baru.

D: Expect less and get ready to be surprised all the time! Sebelum berangkat, daripada sibuk ngerencanain mau explore anu itu di sana, lebih baik fokus ke pembelajaran pribadi diri kamu sendiri. Kalau dapat kesempatan jalan-jalan, itu bonus. Yang penting adalah, you learn and grow as you live there, tapi tentunya nggak lupa untuk bersenang-senang juga

J: Selama di negara baru, sering-sering konsultasi dengan orang tua tentang pilihan teman-teman di sana, agar kamu nggak terjebak pergaulan yang salah. Trus, untuk bekal pengetahuan, jangan lupa baca-baca berita-berita terbaru, supaya kamu punya basic knowledge kalau diajak orang ngobrol. Pelajari juga budaya Indonesia, supaya kamu bisa mengenalkan Indonesia ke orang asing di sana.

Tapi yang paling penting, banyak berdoa dan minta restu ortu. Itu kunci utama keberhasilan!

B:  Pertama, jangan kepengen buru-buru bisa fit in right away alias diterima oleh lingkungan kamu. Pelan-pelan aja. Selalu ingat bahwa tujuan utama kamu di sana adalah untuk belajar tentang budaya host country kamu, termasuk lingkungan secara fisik maupun lingkungan sosial.

Trus, kalau lagi homesick, coba bayangkan bahwa you’re already at "home". Walaupun susah, coba hilangkan label antara home country dan host country kamu, ya.

Thank you so much for your time, ya, gaes! Semoga cerita-cerita kalian bisa jadi inspirasi untuk pembaca YouthManual

***

Kalau kamu jadi semakin tertarik ikut program pertukaran pelajar, langsung aja daftarkan diri di salah satu organisasi yang menyediakan program pertukaran pelajar di Indonesia. Jangan lupa baca tips dan trik menembus proses seleksinya di sini. Good luck, ya!

(sumber foto: buildingbridgesthroughexchange.com, dokumentasi pribadi)

LATEST COMMENT
Khusnul Khotimah Hamzah | 3 hari yang lalu

Temen²ku juga kayak gitu. Malahan mereka udah janjian dari awal, nanti pas presentasi gak usah ada yang berpendapat macam². Padahal kan kita mau diskusi itu berjalan supaya semuanya paham :(

6 Sifat yang Harus Kamu Hindari Agar Kamu Dapat Meraih Kesuksesan
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©