Menu

Membahas Masalah Kejiwaan di Film Joker

Film Joker (2019) yang dibintangi Joaquin Phoenix lagi rame banget dibahas. Sesuai judulnya, film ini mengangkat kisah penjahat legendaris di seri Batman yaitu Joker. Yang menarik, kisahnya nggak hitam putih, di mana sosok Joker digambarkan sangat rumit, menderita penyakit kejiwaan, dan mengalami trauma.    

Isu kesehatan mental/kejiwaan sendiri mulai banyak terdengar, dan kita makin paham bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kita juga perlu peduli dengan masalah serta penyakit mental yang dimiliki orang lain, ataupun diri sendiri. Salah satu cara memulai kepedulian tersebut adalah dengan memiliki pengetahuan seputar kesehatan mental. Kali ini Rencanamu akan membahas mengenai beberapa masalah dan penyakit kejiwaan yang diangkat dalam film Joker.

1. Pseudobulbar

Dalam film, salah satu kondisi yang dimiliki tokoh Arthur (yang namanya kemudian menjadi Joker) adalah dia bisa tiba-tiba tertawa keras tanpa bisa dikendalikan. Tertawanya pun bukan saat lagi happy atau  merasa sesuatu yang lucu, tetapi saat ia merasa tertekan, marah, atau ketakutan. Parahnya lagi, ia nggak bisa menghentikan  atau menahan tawa tersebut, meskipun ingin melakukannya.

Makanya, ke mana-mana si Arthur membawa semacam kartu berisi penjelasan mengenai kondisi dirinya tersebut. Jadi ketika ia tidak bisa mengontrol tawa di depan umum, hingga orang lain merasa bingung/risih, Arthur bisa menunjukkan kartu tersebut.

Di dalam film nggak disebutkan nama kondisi yang dialami Arthur. Tetapi dalam dunia kesehatan, gejala demikian disebut Pseudobulbar Affect atau PBA. PBA adalah tangisan, tawa, atau amarah yang tiba-tiba muncul tanpa dapat dikendalikan. Nah, PBA ini berkaitan dengan masalah pada syaraf seseorang.

Anyway, kartu yang dibawa tokoh Arthur untuk menjelaskan kondisi dirinya tersebut memang banyak digunakan orang dengan berbagai kondisi khusus, mulai dari autistik, alzheimer, hingga tuli.    

2. Delusional

Spoiler dikit, nih. Di film, ibunda dari Arthur/Joker pernah didiagnosa delusional atau mengalami gangguan delusi. Cukup sering mendengar orang menggunakan istilah delusional untuk hal yang kurang tepat. Atau malah tertukar antara delusi dan halusinasi.

Delusional adalah meyakini hal yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan kenyataan. Bahkan ketika terbukti bahwa yang ia yakini adalah tidak nyata, ia tetap kekeuh dengan keyakinan tersebut. Ada beberapa tipe umum delusional, yakni:

* Grandiose (Sesuatu yang besar/grande)
Orang yang mengalami delusi tipe ini meyakini bahwa dirinya sangat hebat, punya kemampuan yang spesial, telah melakukan sesuatu yang sangat besar, atau memiliki kedekatan dengan tokoh besar. Penderitanya bukan membual atau mengkhayal, tapi dia meyakini bahwa apa yang ia bayangkan/pikirkan adalah benar dan nyata. Padahal semua itu nggak benar.

* Erotomania
Ini berkaitan dengan perasaan cinta. Ia merasa sangat dekat dan dicintai oleh seseorang, dan biasanya orang tersebut adalah sosok beken atau terpandang. Penderita delusi tipe ini suka stalking bahkan nekad mendekati objek delusinya tersebut. Sering kejadian nih, sama selebritis, di mana penggemar yang delusional percaya bahwa ia adalah cinta sejati sang idola.

* Persecutory
Berkebalikan dengan erotomania, penderita delusi ini merasa memiliki stalker yang mengancam dirinya. Ia pun menjadi sangat gelisah dan selalu ketakutan.

* Cemburu

Kecemburuan pada pasangan yang sangat berlebihan dan tanpa bukti. Namun penderitanya yakin bahwa pasangannya berselingkuh.

3. Narsistik

Narsistik? Bukankah narsis adalah istilah untuk orang yang suka membanggakan diri sendiri? Tidak sesimpel itu, Fulgoso!

Dalam film Joker, si tokoh ibu juga pernah didiagnosa mengalami gejala narsistik. Narsistik merupakan gangguan kepribadian di mana seseorang merasa dirinya harus diperlakukan secara istimewa dan diberikan perhatian yang sangat besar, serta kepentingannya harus diutamakan. Jika tidak demikian, ia akan sangat terpukul.

Ia kurang memiliki rasa empati pada orang lain.  Orang seperti ini bisa kelihatan superpede untuk menutupi perasaannya yang rapuh dan mudah down.

Mitos Fakta Masalah Kejiwaan

1. Masalah terkait kejiwaan itu beraneka macam jenis dan tingkatannya. Pemicunya bisa beragam, seperti pengalaman traumatis, gaya hidup, faktor keturunan, dan hal yang berhubungan dengan syaraf atau penyakit lain (misalnya tumor pada otak).

2. Jika mengalami masalah mental dan kejiwaan, bukan berarti seseorang jadi nggak bisa diandalkan. Ia tetap bisa kok, menjalani berbagai profesi dan peran dalam masyarakat, bahkan menjadi pimpinan. Asalkan dia bisa menghadapinya. Cara menghadapi masalah kejiwaan bisa dengan konsultasi kepada ahli, melakukan terapi, atau minum obat. Sekali lagi, tergantung tipe masalah kejiwaan yang ia alami.

3. Walaupun di film Joker digambarkan bahwa tokoh penjahat mengalami masalah kejiwaan, namun bukan berarti orang dengan gangguan kepribadian atau penyakit mental akan berbuat jahat. Ini seperti anggapan bahwa orang yang broken home alias orang tuanya bercerai akan menjadi berandalan dan terjebak dalam pergaulan negatif. Hal demikian merupakan stigma yang nggak tepat.

Tentunya, ada penjahat yang memiliki penyakit kejiwaan. Namun banyak juga yang tidak. Sebaliknya, banyak orang yang memiliki penyakit kejiwaan, tapi nggak pernah menjahati orang lain.

4. Namun, orang dengan penyakit/masalah kejiwaan yang sangat berat bila tidak ditolong, dikhawatirkan akan berbahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Prinsipnya mirip sih, sama penyakit fisik.

5. Jangan melakukan analisis penyakit kejiwaan pada diri sendiri (atau orang lain). Misalnya, “Gue baru sadar kalau gue bipolar.” Atau, “Kamu itu skizofrenia”. You’re not an expert! Hal demikian hanya bisa dinyatakan oleh ahli kejiwaan atau psikiater/psikolog dengan melakukan serangkaian pemeriksaan.    

(foto: Warner Bros)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©