8 Industri di Indonesia yang Mulai Terancam Punah

Oleh Dewa Made Rai

Masih ingat dengan demo supir taksi di Jakarta melawan jasa transportasi online dua minggu lalu? Pasti kamu nggak lupa, dong, dengan kehebohan demo tersebut yang sampai bikin tol dalam kota macet parah, serta menelan korban luka-luka?

Yah, begitulah dinamikanya transisi industri. Kadang transisinya smooth, kadang bisa menghasilkan bentrokan. Namun memang, beberapa tahun belakangan ini, banyak industri yang mulai terganggu dengan kehadiran berbagai solusi digital, karena yang tadinya serba offline, sekarang mulai serba online.

Bahkan solusi digital ini bisa bikin beberapa industri besar punah, lho, gaes! Berikut beberapa industri yang diperkirakan bakal mati karena invasi perusahaan startup digital.

1. Industri Media Cetak

Sekarang ini, hampir semua media sudah go online, berhubung rata-rata orang lebih rutin membaca berita lewat Internet atau gadget. Akibatnya, penjualan media cetak—terutama majalah—sudah nggak sejaya 5-10 tahun lalu.

Dulu, nih, saking jayanya media cetak, penerbit surat kabar sering memberikan reward ke penjualnya, mulai dari beasiswa sekolah untuk anak mereka sampe sepeda motor. Namun sekarang malah banyak media cetak yang gulung tikar. Jangan-jangan percetakan media nanti jadi nyambi tempat percetakan banner dan stiker!

Gara-garanya apa, sih? Banyak. Beberapa diantaranya karena faktor biaya cetak, tren pengiklan, sampai perilaku konsumen zaman sekarang yang lebih nempel dengan gadget-nya masing-masing.

Menurut jaringan Future Exploration Network, negara-negara yang korannya diperkirakan akan punah duluan adalah Amerika Serikat (punah tahun 2017), Inggris, Islandia (punah tahun 2019), Kanada, Norway (punah tahun 2020), Finlandia, Singapura, Greenland (punah tahun 2021) Australia dan Hongkong (punah tahun 2022).

Menurut riset ini, sih, koran Indonesia diperkirakan baru akan punah tahun 2040. Tapi siapa yang bisa jamin?

koran industri punah

Dulu: koran, majalah, tabloid

Sekarang: Kindle, aplikasi kumpulan berita dan artikel, situs portal berita, majalah dan koran digital

2. Industri Telpon Kabel

Sejak handphone semakin murah dan semakin luas beredar, industri telpon kabel memang jadi sepi peminat. Bahkan lama-lama, biaya pasang telpon kabel menjadi lebih mahal daripada beli handphone + SIM Card + pulsa.

Ditambah, sekarang smartphone semakin canggih dan murah. Telpon kabel tambah terlupakan, deh! Sekarang banyak, lho, rumah yang nggak punya telpon kabel. Bagi yang masih punya pun, kayaknya alat tersebut sudah cuma jadi pajangan di ruang TV, ya nggak?

Menurut Menkominfo, dalam tiga tahun terakhir, akses rumah di Indonesia terhadap telpon kabel memang menurun drastis. Pada ahun 2013, sebanyak 8,3% rumah di Indonesia punya telpon kabel. Tahun 2014, hanya 5,8%. Tapi di tahun 2015, cuma 4,5% rumah di Indonesia yang punya telpon kabel.

kominfo data telpon kabel

Dulu: telpon rumah, faximile

Sekarang: smartphone, tablet, phablet

3. Industri Kartu Kredit

Familiar dengan T-Cash, PayPal, atau Apple Pay? Itulah tiga contoh produk digital yang nantinya akan menggantikan fungsi kartu kredit, karena mereka memberikan fleksibilitas dan kemudahan transaksi yang menarik. Apalagi digital payment bisa langsung dilakukan dari smartphone, tanpa harus punya kartu fisik. Praktis banget ‘kan?.

Dulu: kartu kredit berbentuk kartu plastik

Sekarang: T-Cash, Apple Pay, PayPal, Dompetku, XL-Tunai

4. Industri Televisi

Tahun 2016 ini, semakin sedikit orang yang rutin nontonin saluran TV konvensional, karena mereka pada beralih ke Youtube dan TV-on-demand seperti Netflix, Amazon, dan Hulu Plus. Tentunya, thanks to pertumbuhan Internet yang sangat signifikan.

Berdasrkan data dari frameyourtv.co.uk, di awal tahun 2012, pelanggan Netflix di seluruh dunia ada 26.5 juta subscriber. Namun di tahun 2015, pelanggannya sudah mencapai angka 61.4 juta!

netflix youthmanual

Kenapa, sih, orang-orang jadi leboh suka streaming di TV-on-demand?

Pertama, karena TV-on-demand bisa diakses dari berbagai macam platform, mulai dari PlayStation 3, Xbox 360, tablet, sampai komputer, tentunya.

Kedua, karena TV-on-demand menyediakan serial-serial seru per season, bukan per episode. Jadi kamu bisa binge watching, alias nonton sekian episode berturut-turut. Bahkan kalau kamu mau langsung menghabiskan satu season sekaligus pun silahkan! Nggak perlu mungguin per satu episode tiap minggu kayak zaman dulu lagi, deh.

Dulu: TV konvensional via gelombang UHF, Indovision, Kabelvision, Telkomvision

Sekarang: Netflix, Vidio.com, Iflix.com, Youtube, Amazon, Hulu Plus

5. Industri Supermarket

For the longest time, salah satu tempat yang ruameee banget kalau weekend adalah… hypermart! Parkirannya penuh, gedungnya ramai, bahkan transaksi di 15 loket kasirnya nggak pernah berhenti. Kalau kata Laura Narbutaite, Senior Vice President Product di HappyFresh, pengeluaran terbesar orang Indonesia memanglah untuk groceries alias bahan-bahan makanan. Pantesan supermarket atau hypermart nggak pernah sepi, ya!

Namun makin kesini, orang makin nggak punya waktu untuk berlama-lama di hypermart. Mereka ingin berbelanja dengan lebih cepat dan praktis. Solusinya? Lagi-lagi aplikasi. Sudah tahu ‘kan, sekarang ini semakin banyak aplikasi untuk berbelanja groceries? Tinggal klik, maka kurir akan membeli pesanan kamu di supermarket, trus mengantarnya ke rumah. Jika tren ini terus berkembang, bisa-bisa lima tahun lagi supermarket cuma akan berbentuk gudang, dan semua pembeliannya dilakukan oleh kurir.

Dulu: Carrefour, Superindo, Giant, Hypermart

Sekarang: HappyFresh, Go-Mart, Sukamart, Seroyamart                                            

6. Industri Angkutan Umum

uber taxi youthmanual

Lima tahun lagi, di perkotaan, kamu bakal makin jarang mendengar teriakan “Kiri, bang!” dan akan lebih sering mendengar “Abang Go-Jek gue udah dateng, nih. Duluan, ya!”

Karena jasa transportasi online semakin berkembang, jasa transportasi konvensional pun akan semakin ditinggalkan. Lagian siapa, sih, yang betah berlama-lama di dalam angkutan umum yang ngetemnya sampe 30 menit di setiap lampu merah? Capek nggak, sih, harus tergantung kepada angkot yang nggak bisa diandalkan? Nah, semua kegelisahan tersebut dijawab oleh para startup transportasi.

Kalau angkutan umum konvensional nggak bisa memperbaiki efisiensi waktu, kecepatan, dan kenyaman kendaraan mereka, bisa-bisa mereka terlibas dengan angkutan berbasis online. Maka nggak mungkin kalau ke depannya, angkot dan kopaja bisa tutup trayek.

Dulu: angkot, Metromini, Kopaja, bemo, taksi

Sekarang: Gojek, Grabbike, Uber

7. Industri Media Penyimpanan

Pada tahun 2006, kalau kita punya flashdisk dengan kapasitas 512MB, rasanya sudah banggaaa banget. Tapi tahun 2016 ini, flashdisk sebesar 128GB pun rasanya nggak terlalu menggiurkan. Kenapa?

Karena media penyimpanan secara online—seperti Dropbox, Google Drive, dan One Drive—sekarang sudah menjamur. Orang pun mulai lebih memilih media-media penyimpanan cloud dibandingkan physical storage, terutama mereka yang tinggal di perkotaan dan punya akses Internet bagus. Apalagi kalau nanti Internet banyak masuk desa, ya.

Dulu: flashdisk, harddisk, CDR, floppy disk

Sekarang: Google Drive, One Drive, Dropbox

8. Industri Perbankan

Sejak tahun 80an, bekerja di bank adalah impian hampir semua Sarjana di Indonesia. Soalnya, selain gajinya lumayan, fasilitas serta tunjangannya juga oke, sih. Namun, pada tahun 2016 ini, kehadiran berbagai fintech alias finance technology jadi mengusik hal ini.

Zaman sekarang, orang gampang banget bertransaksi lewat e-banking, mobile banking, bahkan mengajukan permohonan kredit lewat aplikasi smartphone. Pergeseran dari perbankan konvensional ke finance technology belum masif, sih, tapi kalau bank nggak bergerak secepat startup, bisa jadi pada tahun 2020, bank jadi kalah pamor.

Dulu: teller di bank, pengajuan kredit secara manual

Sekarang: segala urusan teller via aplikasi ataupun online, pengajuan kredit melalui apps

(sumber gambar: inhabitat.com, fortune.com, wnyc.org, tribecafilm.com, peskimo-illustration.tumblr.com

LATEST COMMENT
Fatimah Ibtisam | 1 hari yang lalu

Hai Muhammad Hafidz, yang bisa mendaftar adalah lulusan jurusan IPA dan SMK dengan kejuruan yang sejalan. Untuk mengetahui dengan pasti, kamu bisa menanyakan pada BINUS UNIVERSITY.

Bedah Faculty of Engineering BINUS UNVERSITY
ALEX ALZAM, S.Kom, M.Kom | 2 hari yang lalu

- Universitas Amikom Yogyakarta - Universitas Gadjah mada - UPN VETERAN - UII

Serba-Serbi Jurusan Cyber Security: Dari Mata Kuliah Hingga Prospek Karier
Navi | 2 hari yang lalu

Halo kak, kalau anak IPA lintas jurusan ke sastra inggris atau ilmu komunikasi nilai yang dilihat yg mana aja ya? Soalnya saya ga punya nilai sosiologi, ekonomi, dan geografi. Terima kasih.

Lintas Jurusan pada SNMPTN, Bolehkah?
Muhammad Hafidz | 2 hari yang lalu

Jadi lulusan Multimedia seperti saya ga bisa daftar jurusan Computer Engineering?

Bedah Faculty of Engineering BINUS UNVERSITY
Elza Aulia | 5 hari yang lalu

Semoga ya Allah saya menjadi pilot dan bisa membanggakan orang tua saya aminnnn

Bagaimana Cara Menjadi Seorang Pilot? Begini Tahapan Lengkapnya!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1