10 Kesalahan dan Penyesalan saat Tesis

Pernah nggak kamu mengerjakan sesuatu sampai terbawa mimpi, bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya? Saya pernah mengalaminya, dan mimpi tersebut disebabkan penyesalan yang terpendam *tsaaah. Ya, mimpinya adalah soal mengerjakan tesis, karya ilmiah mahasiswa di akhir masa studi S2. Saya ingin mengungkapkan 10 kesalahan plus penyesalan saya selama mengerjakan tesis, supaya kalian yang lagi skripsi ataupun berniat mengambil S2 nggak mengulangi hal yang sama.

Apa kaitannya sama skripsi? Walau dari segi tujuan dan kedalaman penulisan berbeda, skripsi dan tesis memiliki persamaan. Keduanya sama-sama merupakan karya ilmiah terbesar mahasiswa yang dikerjakan di akhir masa studi (skripsi saat S1, tesis saat S2) dan menentukan kelulusan. Keduanya dihasilkan dari penelitian dan riset serta berbagai landasan teori. Kemudian, hasil akhirnya sama-sama disidangkan di depan para dosen. Baik skripsi maupun tesis juga berpotensi menjadi cobaan hidup. Ehehe. Makanya, kesalahan dalam mengerjakan tesis ini bisa jadi pelajaran buat kamu yang akan menyusun skripsi.

Jadi, penyesalan dan kesalahan saya saat mengerjakan tesis adalah:

1. Nggak mengerjakan skripsi.

Ketika di S1 dulu, prodi yang saya ambil memberikan pilihan: mengambil skripsi atau tanpa skripsi dan menggantinya dengan mata kuliah pilihan. Saya sama sekali nggak menyesal mengambil matkul pilihan yang seru itu. Tapi, alangkah lebih baik jika saya juga tetap mengerjakan skripsi.

Apa kaitan skripsi dengan pengerjaan tesis?

Karena nggak pernah bikin skripsi, saya jadi clueless ketika menggarap tesis. Mulai dari nol, tanpa pengalaman. So, bagi kalian yang malas ambil skripsi di S1, coba dipikir-pikir lagi, ya.

2. Terlambat memikirkan ide tesis.

Idealnya, skripsi atau tesis mengangkat hal yang berkaitan dengan studimu. Nah, hal idenya bisa kamu dapatkan dari perkuliahan, sebelum masa seminar/pratesis/praskripsi. Semua hal menarik dan bikin penasaran dalam perkuliahan bisa dikembangkan menjadi ide tesis/skripsi.

Sayangnya, dulu saya baru mikirin ide tesis ketika mulai perkuliahan praskripsi dan diminta mengumpulkan topik. Seandainya saja saya selangkah lebih maju, kemungkinan besar saya bisa mempersiapkan topik tesis dengan lebih baik

3. Hobi: Menunda.

Sejak seminar pratesis, udah kelihatan kecenderungan saya untuk menunda segala sesuatunya. Awalnya sih, efeknya nggak terlalu terasa, karena hanya menunda satu laporan bacaan. Namun makin lama PR pengerjaan tesis pun makin bertumpuk. Apalagi saat saya memiliki kesibukan lain.

Puncaknya, tesis saya mesti “kejar tayang” dalam waktu seminggu. Rasanya deg-degan sepanjang waktu. Saya pun mengumpulkan tesis saat “injury time” alias mepet dengan batas waktu. Nyaris saja kelulusan saya tertunda bila melewati deadline. Bisa ditebak, hasil karya yang terburu-buru tersebut nggak memuaskan. Hiks!

 4. Kurang membaca.

Salah satu masalah dalam tesis tersebut adalah kurang banyak studi pustakanya (bacaan). Harusnya, sejak awal saya meluangkan waktu untuk mencari bahan bacaan yang sesuai dengan tesis dan membacanya.

Selain buku, adapula jurnal ilmiah, dan tesis lain yang bisa memperkaya sebuah tesis. Kuncinya adalah disiplin dan istiqomah membaca. Dan bacaan ini penting banget dalam sebuah tesis, terutama untuk membangun landasan teori dan melakukan analisa.

Dalam kasus saya, bacaan saya kurang memadai. Dampaknya penggarapan tesis jadi kurang mendalam. Yup, sebaik apapun penelitian yang dilakukan, hasilnya akan kurang tanpa riset pustaka yang tepat.

5. Minim diskusi.

Diskusi selama pengerjaan tesis atau skripsi akan sangat membantu. Secara formal, diskusi dilakukan dengan dosen pembimbing. Selain itu, bisa juga mengajak teman, senior, atau orang yang mengerti mengenai subjek penelitian untuk membahas soal tesismu.

6. Tanpa perencanaan.

Lagi-lagi masalah manajemen waktu dan kesibukan. Akan sangat membantu jika saya memiliki planner alias catatan yang berisi hal yang akan dikerjakan dan dibaca setiap harinya. Dengan catatan tersebut, pengerjaan tesis pun jadi makin terarah.

Sebaliknya, tanpa perencanaan yang jelas, pengerjaan tesis saya jadi molor dan kurang efektif.

7. Membuat perubahan di detik terakhir.

Di penghujung pengerjaan, saya melakukan imporovisasi pada karya tulis. "Cuma" menambah kata dalam judul, sih. Sayangnya perubahan tersebut nggak didukung oleh kerangka teori yang pas dalam tulisan. Bisa ditebak, akhirnya saya dicecar oleh dosen penguji.

Nggak perlu lah bikin perubahan yang signifikan di detik terakhir. Soalnya itu bisa merombak segala sesuatunya.

8. Grogi ketika sidang.

Rasa gugup dan deg-degan ketika sidang berlangsung merupakan hal yang wajar. Yang penting adalah mengontrol perasaan tersebut sehingga kamu bisa presentasi dan menjawab pertanyaan dengan baik.

Saat terlalu grogi, jawaban yang sebenarnya bisa nggak keluar. Tiba-tiba blank. Wadidawww!

9. Kurang mendalami ilmu metode penelitian.

Ilmu penelitian dan riset cukup kompleks. Nah, saya cenderung mengambil yang mudah dan dasar. Padahal kalau mendalami soal penelitian, tentu saya akan lebih baik untuk tesis. Selain itu, ilmu riset ini akan menjadi salah satu skill yang bermanfaat.

10. Memandang skripsi dari segi nilai dan syarat kelulusan.

Ketika itu, motivasi saya mengerjakan tesis adalah supaya lulus dan mendapatkan nilai terbaik (A) karena SKS-nya besar. Keinginan tersebut wajar, cuma nggak pas untuk menjadi motivasi utama.

Tesis lebih besar daripada itu.

Tesis adalah karyamu, buah pemikiranmu dari hasil studimu. Tesis dapat membuatmu meraih prestasi lebih besar, misalnya dilombakan, diikutsertakan dalam seminar, atau masuk dalam jurnal ilmiah bergengsi.

Lebih jauh lagi, tesis merupakan sumbangsih kamu untuk ilmu pengetahuan. Tesis yang baik bisa memperkaya ilmu, menjadi solusi sebuah masalah, serta membantu mahasiswa lain.

Tapi apa guna tesis atau skripsi untuk dunia kerja? Daftar kerja kan, nggak butuh skripsi?

Eits tunggu dulu. Banyak manfaat yang bisa kamu dapatkan dari menggarap tesis. Di antaranya ilmu dan kenalan ke banyak pihak yang bisa jadi networking-mu di dunia kerja. Atau mininal meningkatkan soft skill kamu dalam manajemen waktu dan memecahkan masalah. Yakan?

***

Semoga penyesalan saya ini bisa jadi pelajaran buat kalian, ya.

(sumber gambar: pixabay,com)

LATEST COMMENT
Fatimah Ibtisam | 1 jam yang lalu

Hai Claudya, untuk UTBK 2020 hanya ada TPS. Ini berlaku untuk semua pilihan prodi.

Tes Potensi Skolastik UTBK 2020: Tanpa Ujian Saintek, Soshum, dan Campuran, Apakah anak IPS bisa masuk Kedokteran?
Fatimah Ibtisam | 1 jam yang lalu

Cek link di dalam artikel, Rizky. Semoga berhasil!

Kuliah S1 Gratis dengan Beasiswa dari Telkom University x Rencanamu, Begini Caranya!
Fatimah Ibtisam | 1 jam yang lalu

IPA leluasa memilih prodi Saintek maupun Soshum. Namun supaya lebih pasti, cek syarat jurusan SMTA di prodi yang kamu minati tersebut.

Lintas Jurusan SBMPTN 2020: IPS Sulit Ambil Saintek, IPA Bebas Pilih Prodi
Fatimah Ibtisam | 1 jam yang lalu

Anak IPA lebih leluasa mengambil jurusan rumpun Soshum termasuk prodi Hukum. Contohnya di prodi Hukum Universitas Indonesia. Biar lebih yakin, cek prodi Hukum di PTN yang kamu tuju, ya.

Lintas Jurusan SBMPTN 2020: IPS Sulit Ambil Saintek, IPA Bebas Pilih Prodi
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 Rencanamu ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1