Benar Nggak, Sih, Cuma Anak Orang Kaya yang Bisa Kuliah Sesuai Passion?

Pada suatu hari, saya ngobrol sama seorang teman.

Saya dan teman saya ini kayak bumi dan langit. Saya cewek, dia cowok. Saya dramatis, dia praktis. Saya suka hal-hal yang berbau “otak kanan” seperti seni, budaya, filsafat dan psikologi manusia, dia suka hal-hal yang berbau “otak kiri” seperti matematika, sains, dan bisnis. Bagi saya, satu tambah satu bisa jadi tiga, tergantung perspektif. Bagi dia, satu tambah satu ya cuma bisa jadi dua.

Untungnya saya manusia, dia juga manusia. Bukan bekantan. Hihihi.

Kita sebut aja namanya Wahyu.

Perbedaan kami juga termasuk dalam hal pemilihan jurusan kuliah dan karir.

Saya suka banget—dan memang dulu kuliah di—jurusan-jurusan kuliah liberal arts seperti Sastra, Sejarah Seni, Filsafat, dan Psikologi. Sementara dari kecil, Wahyu cuma bercita-cita kuliah Teknik atau Kedokteran, dan nggak pernah mau membuka diri untuk jurusan lain. Cari tahu soal jurusan lain aja nggak pernah.

youthmanual liberal arts

Pada suatu hari, saya bilang sama Wahyu bahwa saya kesal, karena hare geneee jurusan-jurusan kuliah liberal arts masih aja dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Saya juga sebel karena profesi di bidang-bidang tersebut pun sama aja, kurang dianggap. Minimal belum selevel dengan profesi-profesi di industri migas, pertambangan, atau kedokteran. Padahal zaman gini, lho, zamannya ekonomi kreatif.

Saya berkoar-koar soal ini kepada Wahyu dengan pedas, lebih pedas dari cabe rawit.

Wahyu hanya menanggapi dengan santai,

“Ya iyalah jurusan-jurusan kuliah liberal arts kesayangan elo itu dipandang sebelah mata. Ilmu dan profesi dari jurusan liberal arts ‘kan nggak berguna secara langsung untuk masyarakat dunia ketiga gini. Nggak seperti ilmu kedokteran, teknik, atau hukum, misalnya. Jadi penghasilannya juga nggak seberapa. Bahkan menurut gue, Ekonomi Kreatif tetap nggak akan semenghasilkan Ekonomi Industri, misalnya. Seenggaknya di Indonesia.”

Ih! Ih! Ih!

Gue menjawab, “Fine, fine. Tapi ‘kan nggak semua orang suka dan bisa ilmu eksakta. Gue sampai sekarang masih refleks mau muntah, lho, kalau ngeliat soal-soal Matematika. Traumanya luar biasa, walau udah berusaha  gue pahami pas jaman sekolah.

Sebaliknya, gue merasa sangat natural dalam hal seni dan sastra. Apakah berarti gue nggak punya tempat di masyarakat?” tutur saya.

Saya melanjutkan, “Sistem pendidikan Indonesia ‘kan nggak adil. Kurang menghargai multiple intelligence dan kreatifitas. Umumnya cuma menghargai siswa yang jagoan eksakta. Tes terstandarnya juga menekankan pada hitungan dan hapalan, bukan pemahaman.

Kalau sebuah sekolah terdiri dari murid ikan, ular, dan monyet, trus ujian sekolahnya adalah manjat pohon, itu ‘kan curang! Karena cuma bakal si monyet yang lulus ujian.

youthmanual liberal arts

Sama kayak di Indonesia. Walau kita sama-sama belajar keras, cuma elo yang jago Matematika yang bakal lulus ujian dengan gemilang. Gue nggak. Karena gue bisanya bikin puisi.

Wajar, dong, kalau gue—sebagai mahasiswa jurusan underdog—sering defensif, soalnya sejak SD sampai sekarang, minat, bakat serta ilmu gue selalu dipandang sebelah mata!”

Wahyu menanggapi, “Ya, terima aja, La. Soalnya memang cuma monyet yang akan survive lama di dunia, karena cuma monyet yang bisa ngambil buah di pohon untuk dimakan. Memang eksakta yang menggerakkan dunia.”

Mau ngamuk nggak, sih?! Tapi sebelum saya nimpuk Wahyu pake sandal jepit, ia menambahkan sesuatu yang bikin saya bengong,

“Untung elo perempuan, La, bukan calon tulang punggung keluarga. Plus, elo anak orang berkecukupan. Jadi elo bebas ngambil jurusan kuliah sesuai passion elo, walau profesinya nanti kurang menghasilkan.

Gue laki-laki, bukan anak orang kaya, sehingga nantinya harus cari penghasilan yang pasti-pasti aja untuk keluarga. Gue nggak pernah tau passion gue apaan. Gue hanya harus bertahan hidup.”

***

Ada sebuah fakta menarik dari The Atlantic, yang dibahas oleh The Young Turks di video di bawah ini.

Faktanya adalah profesi-profesi yang “berguna” secara langsung kepada masyarakat (dan tentunya bergaji besar)—seperti dokter dan insinyur—banyak dijalani oleh orang-orang yang berlatar belakang keluarga kelas menengah ke bawah, alias lower-income families.

Bagi anak-anak muda yang berasal dari lower-income families, tekanan untuk menjadi sukses secara finansial jauh lebih besar. Mana sempat mikirin pesyen-pesyen-an? Fokus mereka hanya bertahan hidup, salah satunya dengan cara memilih jurusan kuliah dan karir yang berpenghasilan stabil, misalnya jadi dokter, insinyur, atau mungkin manajer toko.

Kebanyakan dari mereka nggak berani mimpi mengejar passion, apalagi kalau passion mereka datang dari bidang-bidang yang “kurang menghasilkan” seperti seni.

jurusan kuliah youthmanual

Sebuah opini dari forum ini. Ouch, masa siiih...?

Sementara, profesi-profesi seperti musisi dan seniman banyak dijalani oleh mereka-mereka yang berasal dari kelas menengah atas. Meski penghasilan seniman nggak stabil, toh mereka punya safety net dari keluarga. Jadi kalau passion-nya di seni, ya jalanin aja. Nantinya jadi seniman miskin? Ya udah, lah, masih ada keluarga yang bisa bantu.

Dan harus diakui, walaupun banyak perempuan yang sekarang sudah jadi tokoh-tokoh hebat di dunia, pada umumnya, masyarakat nggak mengharapkan anak perempuan jadi tulang punggung keluarga. Yah, kalau bisa jadi lady boss syukur, kalau enggak juga nggak apa-apa. No pressure.

Hasilnya, anak perempuan juga bisa lebih bebas memilih jurusan dan profesi yang ia sukai, terlepas dari penghasilannya.

Intinya, walaupun jaman sekarang banyak orang berkoar-koar “kejarlah passion-mu!” nggak semua orang punya privilege untuk melakukan hal tersebut, termasuk dalam hal memilih jurusan kuliah.

***

Menurut kamu, ini hal yang wajar aja, atau patut disayangkan? Kalau disayangkan, apa solusinya?

(sumber gambar: Genheration, Ingenious Press, Campus Philly

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1