Oral Test di Perkuliahan: 5 Kunci Menghadapi Ujian Lisan

Oral Test atau ujian lisan merupakan salah satu bentuk “kreatif” UAS dan UTS di bangku kuliah. Ya, bisa saja dosen memilih oral test sebagai bentuk ujian yang menentukan nilai bahkan kelulusan suatu mata kuliah.

Sisi plus oral test di antaranya adalah lebih efisien. Bagi mahasiswa biasanya ujian lisan berlangsung cepat, sekitar 10 menit atau paling lama setengah jam. Ini jauuuh lebih cepat dibandingkan tes tertulis yang bisa memakan waktu hingga 2 jam atau take home test/esai yang pengerjaannya mencapai 2 minggu. Selain itu, dosen juga lebih cepat dalam memberikan penilaian. Dengan oral test, mahasiswa dan dosen juga punya kesempatan berdiskusi.  

Ini kunci oral test di UTS atau UAS lancar jaya!

1. Penguasaan materi kuliah

Inilah kunci pertama sekaligus mendasar dalam tiap tes, terutama saat ujian lisan. Kamu harus memahami materi kuliah yang akan diujikan. Jangan sampai ada yang terlongkap materinya, nanti pemahamannya nggak untuh. Trus, kamu juga perlu tahu tujuan pembelajaran materi tersebut (bisa dicek dalam silabus mata kuliah), karena hal ini akan memengaruhi pertanyaan serta jawabanmu.

Misalnya, tujuan materinya adalah agar mahasiswa menguasai kemampuan membuat program X. Nah, pastikan kamu tahu banget bagaimana program X dan cara membuatnya.

2. Hafalan yang diperlukan

Paham > Hafal, tentu kita sepakat akan hal ini, bukan? Namun mengetahui dan hafal teori, sejarah, dan informasi terkait juga nggak kalah penting. Nggak mungkin dong, kita hanya menyebutkan konsepnya tanpa kejelasan latar belakang teori yang digunakan serta informasi faktual lainnya.

Apalagi kalau soal ujiannya meminta kita menyebutkan data spesifik. Tentu kamu perlu hafalan.

Nah, tiap mata kuliah porsi hafalannya berbeda-beda. Ada yang berat di hafalan, adapula yang hafalannya dikit namun analisanya lebih kompleks.

3. Pemahaman soal

Yang perlu kamu perhatikan adalah:

* Dengarkan baik-baik soal yang diberikan

* Simpulkan maksud pertanyaan dan jawaban yang diinginkan. Misalnya, “Menurut Anda, apakah langkah terbaik yang bisa diambil dari ketiga alternatif tadi? Bagaimana potensi dampak serta peluangnya?”

Berarti kamu dimina untuk:

a. Memilih salah satu di antara 3 pilihan dan mengemukakan alasan mengapa mengambil pilihan tersebut.

b.Menjelaskan potensi dampak

c. Menjelaskan  potensi peluang   

4. Penyampaian jawaban

Cara kamu menyampaikan jawaban juga penting banget. Jika poin 1 hingga 3 sudah matang, namun eksekusi alias cara menjawabnya kacau, hasilnya pun jadi nggak oke. Prinsipnya adalah:

a. Sampaikan jawaban dengan teratur, sesuai pertanyaan yang diberikan.

b. Nggak perlu terburu-buru ketika berbicara.

c. Kendalikan rasa gugup atau terlalu bersemangat. Yes, biasanya ini yang dirasakan, gaes.

d. Jelaskan poinmu secara lengkap. Tapi jangan muter-muter

e. Sertakan teori/pemikiran/argumen pendukung yang berkaitan dengan materi yang dipelajari.

f. Perkuat jawabanmu dengan memberikan contoh

g. Kemukakan kembali poin yang ingin kamu highlight atau poin terpenting dari jawabanmu, bila diperlukan. Tapi biasanya cukup sekali ya, biar nggak berulang-ulang.

h. Perhatikan gestur.

5. Kecepatan berpikir dan merespon

Tidak seperti tes tertulis, pada oral test kamu dituntut  untuk berpikir cepat dan merespon dengan tepat saat berhadapan dengan kendala.

Masalah yang mungkin muncul

a. Kurang memahami pertanyaan.

b. Tiba-tiba blank, karena gugup.

c. Ada poin/detil yang kamu lupa.

d. Dosen mendebat argumenmu dan mencecar jawabanmu.

Sedangkan hal yang bisa kamu lakukan adalah:

* Mencoba untuk menenangkan diri dengan mengatur nafas.

* Meminta tolong dosen untuk mengulangi pertanyaan, atau bagian yang kamu rasa kurang jelas.

* Menjawab dengan part yang kamu kuasai terlebih dahulu. Saat mulai berbicara dengan tenang, biasanya kamu akan segera ingat.

* Jika ada poin/istilah yang terlupa, alternatifnya kamu bisa menjelaskannya dengan kata lain, memberikan contoh, atau meminta waktu untuk mengingat hal yang kamu lupa.

* Atau bisa juga kamu berterus terang hal yang kamu lupa/kurang pasti/tidak ketahui. Misalnya, “Maaf Bu/Pak saya tidak mengetahui pasti tahunnya, namun kejadian tersebut berlangsung setelah Revolusi Prancis.”

* Jika dosen mencecar dengan pertanyaan jangan panik. Anggap aja dosen tertarik untuk mengetahui jawabanmu lebih lanjut.

* Kamu boleh mempertahankan argumen dan mengemukakan alasan saat berdiskusi dengan dosen. Namun dengarkan serta hargai tanggapan dan masukan si dosen. Jangan hanya fokus pada poin kamu aja, ya. Siapa tahu kritik dan masukkan si dosen justru memperkaya jawabanmu.

* Gimana jika kamu menyadari bahwa ada yang salah dari penjelasanmu? Pura pura nggak tau, mempertahankan diri, atau mengoreksi? Kalau kamu yakin salah, segera koreksi.

Tentu ini berbeda dengan “kurang pede” sama pendapatmu. Jika kurang pede, tambahkan argumen pendukung serta contoh, ya.

(Sumber gambar: Photo by Oleg Magni from Pexels)

 

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1