Menu

Dunia Kuliah

Panduan ini akan mengajak kamu untuk menyelami dunia kuliah mulai dari berkenalan dengan berbagai istilah yang ada di dalam dunia perkuliahan, serba-serbi merantau dan kost, kegiatan dan organisasi kemahasiswaan, hingga panduan lengkap akademik perkuliahan.

Semasa sekolah, kamu mengenal sosok guru yang berperan sebagai pembimbing dan pengajar kamu di sekolah—baik dari segi akademik maupun non-akademik. Di perkuliahan, kamu juga akan bertemu dengan sosok yang sama namun dengan nama yang berbeda, yaitu: dosen.

Meskipun judulnya sama-sama pengajar, guru dan dosen tidaklah memiliki job desc yang sama, lho, gaes. Dengan esensi yang sama, tugas dan kewajiban dosen di perkuliahan dan guru di sekolah ternyata nggak sama, yang bikin kamu wajib mampu beradaptasi untuk bisa keep up dengan cara belajar a la anak kuliahan.

So, apa aja bedanya antara guru dan dosen?

Guru Dosen
Mengajar sambil mendidik Mengajar sambil mengembangkan ilmu pengetahuan lewat penelitian
Minimum mengantongi gelar Sarjana (S1) Minimum mengantongi gelar Magister (S2)
Jam kerja mengikuti jam belajar siswa, jadi gampang dicari untuk diajak diskusi mendadak Jam kerja nggak menentu, jadi agak susah dicari untuk ajak diskusi mendadak
Selalu ngabsenin muridnya satu-satu sebelum kelas dimulai Kadang nggak peduli mahasiswanya masuk kelas atau nggak
Rajin mengingatkan siswanya mengenai PR, jadwal ujian, dan informasi penting lainnya setiap pertemuan Cuma memberikan informasi penting mengenai tugas dan jadwal ujian di pertemuan pertama dan silabus
Aktif menjelaskan mata pelajaran dengan bantuan papan tulis dan Lembar Kerja Siswa (LKS) Mendorong mahasiswanya untuk belajar mandiri dan saling berdiskusi baik di dalam dan luar kelas


Selama berkuliah pun, dosen yang akan kamu temui akan banyak macamnya. Kalau di sekolah kamu hanya mengenal wali kelas dan guru mata pelajaran, dosen yang akan kamu temui (dan terlibat) dalam masa-masa kuliah adalah…

  • Dosen mata kuliah. Sama halnya seperti guru mata pelajaran, dosen mata kuliah adalah dosen yang mengajar di kelas sesuai keahlian masing-masing. Satu dosen bisa mengajar satu atau lebih mata kuliah yang masih dalam rumpun keahlian mereka.

  • Dosen pembimbing akademik (PA). Beliau adalah dosen yang memberikan pertimbangan, persetujuan, dan bimbingan pada mahasiswa untuk urusan akademik. Kalau di sekolah, perannya mirip seperti wali kelas.

  • Dosen Pembimbing Proyek. Ketika kamu sedang menggarap sebuah proyek wajib (seperti skripsi/tugas akhir) atau kegiatan intrakurikuler (magang/KKN), kamu akan didampingi oleh satu atau dua dosen dengan keahlian yang relevan selama proyek kamu berlangsung.

Nggak cuma Pembimbing Akademik, kamu juga harus menjalin hubungan baik dengan semua dosen yang ada di lingkungan kampus—baik yang terlibat langsung denganmu atau yang tidak sama sekali.

Selain bikin masa-masa perkuliahanmu jauh lebih mudah, berelasi dan berjejaring dengan dosen juga akan membantu kamu di masa depan, seperti rekomendasi untuk melanjutkan S2 atau mendaftar beasiswa. Intinya, lebih baik kalau kamu nggak cari masalah sama dosen selama kuliah, deh. Avoid the bad blood!

 

Kesalahan Kecil yang Dilakukan Mahasiswa Baru yang Bisa Bikin Dosen Bete

Hal paling terakhir yang paling kamu ingin lakukan di hari-hari pertama sebagai mahasiswa baru adalah bikin dosen kamu bete.

Meskipun katanya kuliah jauh lebih selow dan nggak se-strict sekolah, nggak semua dosen sesantai bayangan kamu. Bikin dosen bad mood di hari-hari pertama kuliah, tuh, bahaya banget, gaes. Konsekuensinya banyak. Dosennya bisa menegur kamu, sampai nggak mau ngajar lagi di kelas kamu selama satu semester!

Kalau udah begitu, bukan cuma kamu yang menanggung rugi, tetapi juga teman-teman sekelas kamu yang nggak salah apa-apa. Jadi, ada baiknya kamu nggak melakukan kesalahan-kesalahan kecil berikut ini, agar nggak memicu ke-bete-an dosen kamu.

1. Datang terlambat, lalu masuk kelas tanpa izin

Ini, nih, penyakit klasik maba, mulai dari tahun dinosaurus sampai sekarang: terlambat masuk kelas! Entah gara-gara nyasar pas lagi nyari ruang kelas, gara-gara telat bangun, atau gara-gara malas-malasan aja. Maklum, lah, namanya juga baru mulai kuliah setelah libur panjang.

Meskipun biasanya dosen nggak (terlalu) mempermasalahkan keterlambatan mahasiswanya, kamu HARUS meminta izin kepada mereka ketika kamu mau masuk kelas dalam keadaan terlambat. Jangan nyelonong masuk begitu aja! Masa’ dosen lagi asik cuap-cuap di depan kelas, tiba-tiba kamu interupsi nggak pakai permisi? Dosen bisa banget merasa tersinggung dan bete gara-gara ini.

Mungkin ada dosen yang membiarkan mahasiswanya nyelonong masuk kelas tanpa izin. Dari luar, dosen tersebut mungkin kelihatan cuek, tapi diam-diam mereka bakal "nandain" mahasiswa itu sebagai mahasiswa yang nggak beretika. Wah, nilai bisa-bisa terancam, tuh.

2. Mengenakan pakaian yang terlalu “santai” di mata dosen

Kebanyakan kampus memang nggak punya peraturan dresscode yang ketat, sehingga kamu bisa mengenakan pakaian apapun, asalkan sopan. Nah, tapi ada aja dosen yang punya aturan dresscode sendiri. Trus, kalau aturan tersebut nggak dipatuhi, beliau nggak bakal mau ngajar kamu. Alias kamunya diusir dari kelas!

It is important to "test the water" beforehand. Di minggu pertama kuliah, hindari memakai sesuatu yang terlalu “santai” dan bikin dosen cepet sensi seperti kaos (belel), leggings, dan sandal/sepatu sandal. Kalau ada teman kamu yang mengenakan pakaian tersebut tapi nggak ditegur dosen, artinya pakaian tersebut nggak dilarang oleh sang dosen.

Biar lebih aman lagi, kamu juga bisa menanyakan langsung do’s and dont’s pakaian ngampus kepada dosen tersebut, sebelum perkuliahan dimulai.

3. Ketahuan titip absen

Ini, sih, namanya kamu minta mati muda! Jangan sekali-kali minta titip absen atau nitipin absen teman kamu di minggu pertama kuliah. Kalau ternyata dosennya lagi iseng ngabsenin kalian satu per satu di akhir sesi kuliah, apes banget, deh, kamu.

Kalaupun ketahuan, masih untung kalau beliau cuma sekedar bete, dan mencoret absen kamu dan teman kamu pada hari itu aja. Kalau nama kamu dan teman kamu (yang nitip absen) langsung dicoret untuk seluruh semester dan langsung dikasih nilai E? Wassalam.

4. Mengerjakan sesuatu yang nggak ada hubungannya dengan perkuliahan

Kalau dosen kamu lagi asyik menerangkan pengantar mata kuliah, jangan coba-coba melakukan hal lain selain menyimak beliau dengan baik dan benar, ya. Apapun urusan kamu yang nggak ada hubungannya dengan perkuliahan (termasuk menggunakan handphone), urungkan dulu sampai dosen kamu membubarkan kelas.

Nggak peduli sepenting dan se-urgent apapun urusan kamu, it can wait. Kalau sampai ketahuan, nggak cuma kamu yang bakal dipulangkan lebih awal, tetapi bisa-bisa seluruh kelas. Hiii, jangan sampai, deh.

 

Do’s & Don’ts: Cara Membuat Dosen Terkesan

Tanpa bermaksud cari muka, berusaha bikin dosen terkesan itu sesungguhnya adalah hal yang penting.

Kenapa? Karena bisa membuka jalan buat masa depan kamu! Dosen biasanya memberikan apresiasi ke mahasiswa yang beliau anggap oke. Salah satu apresiasinya bisa berupa tambahan nilai, atau membuka pintu ke berbagai peluang emas seperti beasiswa atau lowongan kerja. Lumayan bingits, ‘kan?

Nilai ujian yang perfect nggak cukup untuk membuat sang dosen terkesan, gaes. Jadi musti ngapain dong? Rajin bawain makan siang? Duduk paling depan tiap kuliah? Atau sering ngasih oleh-oleh kali, ya?

Dari pada tebak-tebak buah manggis yang kulitnya kini ada ekstraknya, mendingan langsung tanya ke para dosen: mahasiswa yang seperti apa sih, yang bisa bikin kalian terkesan? Dan apa yang nggak boleh kamu lakukan agar dosen nggak sampai memberi kamu cap mahasiswa yang menyebalkan.

Do: baca materi perkuliahan sebelum kelas dimulai. Kamu bisa gunakan silabus yang dibagikan dosen di hari pertama perkuliahan sebagai patokan materi apa yang harus kamu baca tiap minggunya. Jangan harap dosen akan “menyuapi” kamu dengan materi-materi perkuliah ketika kelas berlangsung. Ingat, dosen bukanlah guru.

Don’t: datang ke kelas bak kertas kosong. Nanti kalau di kelas ada sesi diskusi atau kuis mendadak, kamu mau jawab apa, hayo~

Do: kerjakan tugas sebaik mungkin dan kumpulkan tepat waktu. Pastikan kalau tugas-tugas yang diberikan oleh dosen dikerjakan sesuai standar, dan dikumpulkan dalam format dan waktu yang sudah disepakati. Nggak susah, ‘kan, memahami instruksi sesimpel ini?

Don’t: sok banyak acara. Kalau instruksinya tugas dikumpulkan dalam bentuk hardcopy di hari Kamis terus kamu masih nanya ke dosen “kalau dikumpul hari Jum’at soalnya saya kamis nggak ke kampus karena ada kegiatan organisasi di luar kota”, kamu berharap dosenmu jawab apa? Karena kamu yang butuh nilai dosenmu, effort dikit, lah, mengerjakan tugas sebelum tenggat waktu agar bisa dititip ke teman untuk dikumpulkan.

Do: kerjakan tugas secara mandiri. Tugas yang dikerjakan dengan kemauan dan usaha sendiri itu kelihatan bedanya dengan yang hasil contekan, lho.

Don’t: menjiplak dan memplagiat karya orang lain. Just don’t.

Do: aktif bertanya. Jika sebelum masuk kelas kamu sudah sempat membaca materi kuliah, dijamin akan timbul beribu pertanyaan ketika sesi diskusi atau tanya jawab dimulai. Dosen akan sangat terkesan dengan kamu yang punya rasa ingin tahu yang besar—baik di dalam dan luar kelas.

Don’t: asbun alias asal bunyi. Bertanya tentunya sangat dianjurkan, tapi jangan sampai kamu nanya hal yang nggak perlu apalagi di luar konteks materi perkuliahan. Misalnya, nanya “Pak/Bu, bahasa Inggrisnya blablabla tuh apa, sih?”, padahal tinggal buka Google atau kamus, jawabannya sudah bisa kamu temukan.

Do: berikan alasan yang jelas jika berhalangan masuk kelas. Apalagi kalau kamu punya dosen yang care sama mahasiswanya, bisa jadi izinmu yang disampaikan dengan baik dan jelas nggak dihitung sebagai bolos. Siapa tahu~

Don’t: titip absen. Percayalah, suatu saat kebiasaan titip absen ini akan berdampak buruk untuk kamu. Apalagi kamu yang punya dosen iseng yang suka tiba-tiba ngabsenin mahasiswanya di akhir perkuliahan.

Do: berikan 100 persen. Dosen seneng banget sama mahasiswa yang selalu menunjukkan usaha terbaiknya alias nggak setengah-setengah, entah itu dalam kelas, presentasi, atau ujian. Niscaya usaha yang maksimal akan membuahkan hasil (baca: nilai) yang maksimal. Ahay.

Don’t: selalu memasrahkan diri pada yang Maha Kuasa tanpa memperlihatkan usaha. Kalau kamu memang belum menguasai suatu kemampuan atau materi kuliah, belajarlah dengan lebih giat. Jangan sampai ketika ujian kamu malah curhat di kertas ujian dan nulis-nulis seperti, “Saya sudah berusaha Pak/Bu, semoga saya lulus. Tapi kalo nggak lulus nggak apa-apa… Tapi semoga bisa lulus”. Yha.

Do: tunjukkan prestasi, baik di dalam maupun luar kelas. Tentu bakalan beda banget dong efeknya antara dikenal sebagai mahasiswa yang buruk atau yang baik dari segi prestasi. Kamu bisa ikutan lomba nulis paper atau aktif jadi mahasiswa berprestasi.

Don’t: minta special treatment. Paham, kok, kalau kamu mahasiswa bertabur prestasi dan punya jam terbang tinggi. Alih-alih minta keringanan untuk bolos 5 pertemuan atau nunda-nunda ngumpulin tugas, belajarlah untuk mengatur waktu dan menyusun prioritas dari semua kegiatan-kegiatanmu.

Do: be creative and humble. Mahasiswa kebanggaan dosen adalah mahasiswa yang nggak sekedar punya ilmu, tapi tahu harus berbuat apa dengan ilmunya tersebut. Yang lebih penting lagi, walaupun berilmu, mahasiswa sebaiknya rendah hati, punya etika dalam bersikap, dan bisa menempatkan diri saat berhadapan dengan siapapun.

Don't: bergaul dengan dosen layaknya bergaul dengan teman sebaya. Nggak peduli apakah kamu seangkatan atau seumuran dengan si dosen (kamu sebenernya mahasiswa S1 apa S2?), kalau di lingkungan kampus, harus tetap menghargai dosen sebagai seorang pengajar.

Do: hargai saran dan kritikan dari dosen. Meskipun terkadang kedengaran “menusuk”, saran dan kritikan dosen adalah cara beliau menunjukkan rasa sayangnya pada kamu agar kamu bisa menjadi mahasiswa yang lebih baik. Dosen’s love is a tough love!

Don’t: baper ketika dikritik dosen. Please, deh, kamu bukan anak TK yang meskipun membuat kesalahan masih tetap mendapatkan pujian.

Do: hormati batasan kalian sebagai mahasiswa dan dosen. Mengakrabkan diri dengan dosen itu boleh aja, tapi jangan sampai menghilangkan respect kamu terhadap beliau dalam konteks profesional.

Don’t: berjejaring dengan dosen tanpa etika. Termasuk dalam berdiskusi di luar kelas, menghubungi dosen lewat chat, serta berteman dengan dosen di media sosial.

 

Manfaat Punya Dosen “Killer” dan Perfeksionis

Nggak hanya gebetan, dosen pun ada tipe-tipenya. Dan yang biasanya bisa bikin pusing kepala, lutut lemas, dan jantung berdegup kencang adalah dosen “killer” dan perfeksionis.

Sesungguhnya, di muka bumi ini nggak ada dosen yang mematikan (emang ular?). Yang ada hanyalah dosen yang jauh lebih berwibawa dan disiplin dibanding yang lain. Asal kamu bisa menjaga mood beliau dengan nggak melakukan hal-hal terlarang yang bikin kamu jadi mahasiswa yang disebelin, dosen “killer” tidaklah sehoror yang kamu bayangkan.

Trus, kamu harus bisa bedakan dulu nih, dosen yang galak karena jaga imej dan ingin ditakuti mahasiswa, sama dosen yang galak karena disiplin, tapi saat mengajar sangat open-minded dan membuka wawasan. Tentunya, dosen killer dan perfeksionis yang dimaksud adalah yang kedua.

Kenapa sih, beliau nggak lebih santai, 'nrimo, dan asik? Tipikal dosen gaul gitu, lah. Jangan protes dulu gaes, sebelum kamu mengetahui berbagai keuntungan punya dosen “killer”.

1. “Memaksa” kamu buat disiplin.

Masuk kelas jam 7 pagi, nggak ada toleransi bagi yang terlambat semenit pun. Tugas dikumpulkan paling lambat tanggal 20.00 jam 11.00. Lewat dari waktu yang ditentukan, tidak akan dinilai. Bagi yang tidak membuat format presentasi sesuai kesepakatan, tidak presentasi.

Sadis? Banget.

Gimana pun juga kekerasan dosen ini bakal membuat kamu disiplin dan nggak meremehkan, terutama dalam urusan waktu dan aturan. Percaya deh, hal ini bakal berguna banget buat kehidupanmu.

Bayangkan aja, banyak kesempatan yang bakal hilang jika kamu terlambat, juga kalau kamu bikin kesalahan kecil hanya gara-gara nggak membaca atau memperhatikan instruksi atau “aturan main” beliau dengan benar.

Dengan punya dosen super disiplin, mau nggak mau kamu akan jadi disiplin. Dan semoga aja sikap disiplin tersebut bakal terus terjaga.  

2. Bikin kamu nggak lembek

Di dunia kerja dewasa ini, nggak sedikit fresh graduate dan anak magang yang ngambek, lantas berhenti bekerja saat punya bos yang agak keras atau mendapat kritik.

Gaes, atasan dan rekan kerja bukan babysitter atau ibu guru yang harus “ngemong” dan puk-puk kamu. Memang nggak semuanya strick dan galak, sih. Tapi kamu harus terbiasa dan lebih tough menghadapi berbagai tipe orang dan menerima kritikan. Dunia yang sesungguhnya itu sungguh kejam!

3. Bring the best in you

Dosen yang punya standar tinggi bisa membuat mahasiswanya lebih berusaha keras. Kamu dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan segala sesuatunya dan lebih memperhatikan detail, sehingga bisa menghasilkan yang terbaik.

Apalagi dosen tipe ini biasanya menilai semua aspek dalam pekerjaan muridnya, seperti konsep, penyampaian, format penulisan, hingga ejaan. Yes, sedetil itu!

Saat ujian, dosen ini juga nggak hanya melihat sejauh mana yang kamu tahu dan hapal, tapi lebih kepada yang kamu mengerti. Bagi dia, nggak cukup hanya sekadar menjawab dengan teori textbook. Tapi harus disertai argumen kamu dan contoh yang relevan. Demanding abis, ya?

Dengan tekanan dan standar yang diberikan, kamu pun jadi terpacu buat memberikan hasil terbaikmu.

4. Mendapatkan kepuasan luar biasa

Dosen “killer” bin perfeksionis tentunya nggak gampang memberi nilai. Jadi saat kamu lulus, dan dapat nilai bagus, rasanya senang luar biasa, karena kamu berhasil menjalani kehidupan perkuliahan yang jauh lebih keras dari mahasiswa-mahasiswa lain. Asedap.

 

Cara-Cara Mengontak Dosen Dengan Baik, Sopan, dan Nggak Menyebalkan

Mau nggak mau, suka nggak suka, mahasiswa pasti butuh dosen. Mahasiswa juga pasti sering butuh ketemuan sama dosen, entah untuk bimbingan, asistensi, atau untuk minta belas kasihan atas nilai yang pas-pasan.

Yha.

Soal problema mahasiswa ngeluh tentang betapa susahnya ngontak dosen itu sudah biasa. Yang nggak kamu tahu, di sisi lain, dosen juga cukup eneg diteror mahasiswa yang punya perlu sama mereka. Jangan lupa, satu dosen bisa diteror puluhan mahasiswa, lho. Dosen juga manusia, dan juga punya sejuta urusan lain selain ngeladenin kamu-kamu.

Supaya kamu nggak dicap sebagai mahasiswa rese dan nggak sopan, pahami dulu aturan dalam hal mengontak dosen. Kalau kamu sopan, biasanya dosen akan dengan senang hati membalas kontak kamu, atau mempermudah jalan kamu ketemuan sama mereka. Mutual respect, gitcu.

Simak, yuk!

1. Kenali sifat dosen. Sebelum ngontak dosen, coba ingat-ingat lagi, deh, sifat dosen kamu kayak apa? Ada, lho, dosen yang nggak suka dikirimin pesan singkat. Maunya dikirimin merpati pos langsung ditelpon aja. Ada dosen yang sebaliknya, yaitu kalau ditelpon nggak diangkat-angkat, tapi pasti membalas pesan singkat. Dosen kamu termasuk yang mana?

Pertimbangkan juga keperluan kamu. Kalau keperluan kamu dengan sang dosen mendesak buanget, mungkin bisa langsung ditelpon. Kalau keperluannya nggak mendesak, ya di-SMS aja, trus sabar-sabarin, deh, nunggu balasannya.

2. Kalau kamu memutuskan untuk menelpon sang dosen, ada baiknya tawarkan dulu lewat pesan singkat. Misalnya, “Selamat pagi, Pak Dosen. Saya Fulan Bin Fulana dari kelas Pengantar ABC, angkatan 20XX. Kalau ada waktu, kapan saya bisa hubungi Bapak lewat telpon? Terima kasih atas waktunya, Pak." Hal ini juga mencerminkan keseriusan kamu dalam menghubungi sang dosen. Jadi kamu nggak kelihatan cuma modal SMS atau chat doang.

3. Perhatikan waktu! Ini penting banget, gaes: kontak dosen kamu—lewat telpon ataupun pesan singkat—saat jam dan hari kerja aja! Yaitu hari Senin sampai Jumat, antara jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Mungkin bagi kamu, menghubungi dosen kapan pun dirasa nggak masalah, apalagi ketika KAMU lagi kepepet perlu sesuatu dari beliau. Tapi bagi dosen, dihubungi mahasiswa (yang lagi ada maunya) di luar hari dan jam kerja itu ngeselin, apalagi kalau ternyata kamu mengganggu jam istirahat atau family time mereka. Bisa-bisa kamu diingat sebagai mahasiswa yang “gengges”.

4. Perhatikan tata cara penulisan pesan singkat. Kalau kamu mau mengirimkan pesan singkat ke dosen (SMS, Whatsapp, Line, DM Instagram, dsb), perhatikan tata caranya! Berikut adalah cara-cara mengirimkan pesan singkat yang baik dan benar ke dosen. Bukan cuma supaya kamu dianggap mahasiswa sopan, tapi juga supaya pesan kamu cepat dibalas.

  • Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

    • Jangan pakai tulisan 4L4y

    • Jangan pakai singkatan, walaupun kamu pede dosennya bakal ngerti (kyk, org, syp, jg, w, lom). Pusing!

    • Nggak usah pakai emoji-emoji sok asik, kecuali kalau kamu memang beneran akrab sama dosennya, atau kalau menurut kamu dosennya cukup “asik” untuk diajak ber-emoji ria.

  • Awali pesan kamu dengan salam
    Bisa dengan ucapan salam “selamat pagi / siang / sore” atau “Assalamu’alaikum” bagi yang Muslim. Jangan disingkat-singkat jadi “aslmkm”, “mekum”, “askum”, apalagi “ass”, ya. Jorok, ih! Lagian hakikatnya ‘kan salam adalah doa.

  • Tulis identitas
    Seorang dosen ‘kan mahasiswanya banyak banget, dan beliau nggak mungkin menyimpan—apalagi mengingat!—semua nomor handphone mahasiswanya. Menuh-menuhin memori hape aja! Maka dari itu, dalam pesan singkat kamu, kamu perlu banget menuliskan identitas dengan jelas, yaitu nama lengkap, kelas, jurusan, angkatan. Misalnya, “Selamat siang, Bu Dosen. Saya Fulan bin Fulana, dari kelas XX jurusan XX angkatan XX….”

  • Tulis keperluan kamu dengan jelas dan singkat
    Pesan yang kita kirimkan kepada dosen sebaiknya singkat, nggak bertele-tele, tapi tetap jelas dan sopan, misalnya, “Hari ini saya mau menghadap untuk bimbingan. Apakah bapak/ibu ada waktu?”
    Asal tahu aja, dalam sehari, seorang dosen bisa nerima banyaaaak banget pesan singkat dari para mahasiswanya. Waktu beliau bisa habis kalau harus baca pesan yang panjang-panjang satu per satu.

  • Akhiri dengan ucapan terima kasih
    Ya udah lah, yaaa… Nggak perlu dijelasin atau diingatkan lagi, kenapa kamu harus tulis kata “terimakasih” di akhir pesan.  Wajib!

Kesimpulannya, contoh pesan yang baik kira-kira begini:

“Selamat pagi, Bu Dosen. Saya Fulan Bin Fulana dari kelas Pengantar Komunikasi Umum, angkatan XXX. Maaf Bu, apakah besok Ibu ada waktu untuk bimbingan skripsi? Terima kasih.”

Simpel tapi efektif!

5. Jangan maksa cepat dibalas. Mengirim pesan singkat ke dosen itu kudu sabar. Karena sibuk, mereka kadang nggak bisa langsung membalas pesan-pesan yang masuk. Cuma dibaca aja. Mereka itu dosen, bukan pemilik online shop yang bisa janji fast response!

6. Kalau dosen sedang mutlak nggak bisa diganggu, misalnya karena lagi ada masalah keluarga atau sedang sakit, segera sudahi pembicaraan dengan kalimat seperti, "Oh, baik Pak. Maaf sudah mengganggu." The end. Lebih baik kalau disertai ucapan “semoga cepat sembuh” dan sejenisnya.

7. Kalau kamu janjian sama dosen, jangan neror! Jangan dikit-dikit nanya lewat pesan singkat, “Sudah dimana, Pak?” walaupun beliau agak ngaret dari waktu janjian.

Gaes, kamu itu mahasiswa, maka terimalah kodrat kamu sebagai mahasiswa. Ada aturan nggak tertulis bahwa salah satu resiko jadi mahasiswa adalah nungguin dosen, baik untuk asistensi maupun sekedar kelas biasa. Kuliah itu perjuangan, gaes. Jadi latihlah kesabaran dengan berkomunikasi dengan dosen, ya. Hihihi.

 

Do’s and Don’ts: Berjejaring dengan Dosen Di Media Sosial

Media sosial bisa menghubungkan kita nyaris dengan siapa aja. Mulai dari teman TK, teman SD, mantan pacar, calon pacar, orangtua, selebgram, seleb terkenal, seleb kurang terkenal, hingga para dosen. Jangan-jangan di masa depan kita bisa follow-follow-an sama makhluk planet. Asal bukan makhluk astral, ya. Serem ugha.

Untuk urusan pertemanan dengan dosen atau guru di medsos, memang agak-agak menggelitik gimanaaa, gitu. Masalahnya, akun pribadi ‘kan cenderung santai, sementara hubungan pelajar-pengajar itu formal.

Di sisi lain, ada pengajar yang menggunakan medsos sebagai sarana menyampaikan informasi, seperti mengingatkan tugas, ujian, dan skripsi. Wadidaw!

Secara umum, posting di medsos itu ada etikanya, lho. Apalagi yang berkaitan sama dosen/guru. Sebelum berjejaring dengan dosen di media sosial, perhatikan dulu hal-hal yang yang sebaiknya dan tidak sebaiknya kamu lakukan berikut ini.

Do: jadikan sumber info. Cek update akun dosen kamu secara berkala, agar tau apakah ada info terbaru seputar kelas. Siapa tahu ada informasi penting yang nggak sempet kamu simak langsung dari beliau, gitchu.

Don’t: konsultasi di timeline. Heboh tanya detail tugas, dari mulai alternatif tema, format font-spasi, de el el de es be. Ini medsos, gaes, bukan ruang dosen.

Do: curi ilmu dari posting-an beliau. Terutama kalau sang dosen membagikan tautan ke konten yang menarik dan inspiratif.

Don’t: memuji berlebihan di (setiap) posting-an sang dosen atau nge-like semua posting-an, bahkan yang konteksnya pun nggak kamu pahami. Apapun maksud dan tujuanmu, ini bisa dianggap sebagai carmuk alias cari muka. Kalau emang nggak pada waktu dan tempatnya, usahakan untuk nggak sok akrab gitu, lah.

Do: memberi ucapan selamat di momen besar. Misalnya saat beliau ulang tahun, menikah, punya anak, merayakan hari besar, dan sebagainya. Tone ucapannya netral aja, ya, nggak usah lebay dan basa-basi.

Don’t: menyampaikan izin (dan hal penting/formal lainnya). Nggak etis, ah, kalau nggak disampaikan secara langsung dan personal.

Do: jawab pertanyaan atau berikan feedback yang jujur. Kalau guru atau dosennya minta pendapat murid atau mahasiswanya di medsos, mbok ya dijawab dengan senang hati.

Don’t: kelepasan update status kalau sedang bolos kelas, berkeluh kesah karena kelas sang dosen nggak asik, ngedumel soal tugasnya yang nyusahin, dan lain-lain. Bahaya!

Do: Personal Message (PM). Bila ada pertanyaan seputar posting-an dosen yang berkaitan dengan kelas, bisa ditanyakan lebih lanjut lewat PM. Ingat, nggak usah nyampah di timeline orang, hihihi.

Don’t: gosipin dosen, pejabat kampus, atau bahkan kampusmu sendiri. Maksudnya gosip disini adalah ngomongin hal-hal negatif, ya. Pasti pengajar yang temenan sama kamu bakal risih saat tau koleganya diomongin.

Dengan mengikuti aturan main di atas, mudah-mudahan pertemanan kamu dengan dosen dan guru di medsos bisa jadi manfaat, bukan bikin situasi gawat.

Lagipula, jika memang nggak diundang sama sang dosen untuk masuk ke dalam lingkaran jejaringnya di media sosial, nggak usah, lah maksa pengen temenan di dunia maya. Lebih-lebih jika kamu menggunakan media sosial untuk sesuatu yang sangat privat. Biarkan beliau (dan juga kamu) menikmati medsos tanpa tercampuri urusan kampus. Yekan?


Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©