Berteman dengan Siapa Saja VS Pilah-Pilih dalam Berteman?

Dulu saya beranggapan bahwa kita harus berteman dengan siapa saja. Saya pun nggak sepakat jika harus membatasi diri dengan teman yang dianggap kurang baik. Sebab menurut saya, yang terpenting adalah diri kita nggak terpengaruh dengan hal yang negatif. Seiring bertambahnya pengalaman dan usia (uhuk!), pandangan saya soal pertemanan pun agak berubah.

Mengapa berubah?

Saya percaya bahwa tiap orang punya sisi baik. Saya juga percaya bahwa diri seseorang belum tentu seperti yang terlihat dari luar. Mungkin ada seseorang yang punya imej nggak baik, tapi sebenarnya dia orang yang tulus.

Saya percaya hal tersebut dari dulu hingga sekarang.

Tapi saya juga percaya bahwa kita mesti lebih aware dengan siapa menghabiskan waktu, di mana, dan ngapain. Jika ada indikasi hal yang negatif atau meragukan, mendingan tinggalkan.

Kenapa?

Ada beberapa alasan kuat untuk lebih selektif memilih teman.

1. Karena kamu bisa terseret jika melakukan hal negatif/kriminal

Karena bisa saja kamu ada di situ, saat teman-temanmu catcalling alias godain cewek/orang yang lewat, melakukan tindakan bully, tawuran, atau mengutil barang di gerai. Kamu di sana, nggak ada niat ngapa-ngapain, tapi malah jadi terseret.

KECUALI

Kalau kamu langsung speak up dan bertindak mencegah hal tersebut. Sayangnya, hal ini seringkali di luar kendalimu. Malah, bisa jadi awalnya kamu nggak menyadari apa yang mereka lakukan. Jika diingatkan pun, belum tentu juga mereka bakalan berhenti. Ya, ‘kan?

Gimana kalau tindakan temanmu menjadi di luar batas, melanggar norma, bahkan melanggar hukum. Trus, kamu bisa digolongkan dalam aksesori kecurangan/kejahatan. Waduh, gawat!

Banyak banget kasus kejahatan, pelecehan, penggunaan narkoba, hingga tawuran yang dilakukan segerombolan orang. Mungkin banget adalah salah satu dari mereka nggak berniat demikian, hanya terjebak di situasi yang salah, dan berakhir fatal.

2.  Karena ada pengaruhnya

Kita adalah manusia dengan pemikiran dan pengetahuan yang terus berkembang. Bisa jadi kita adalah pribadi yang kuat dan nggak gampang dipengaruhi. Tapi sedikit banyak, teman dan sahabat akan membawa dampak bagi diri kita. 

Hal tersebut sejalan dengan ungkapan lama, berteman dengan penjual minyak wangi akan harum semerbak, sementara berteman dengan tukang minyak akan membuatmu ikutan berbau minyak.

3. Karena ada teman toxic yang hanya merugikanmu

Teman yang selalu membuatmu merasa rendah diri dan insecure karena perilakunya terhadapmu. Teman yang sering menertawakanmu hingga membuatmu salah tingkah, teman yang selalu mengecilkan pencapaian kamu dan hobi mengungkit kekurangan/kegagalanmu, teman yang nggak pengen melihat kamu maju, teman yang kebanyakan drama, dan lain sebagainya.

Jika berteman dengan dia memunculkan semua efek negatif dan bikin kamu capek lahir dan batin, lebih baik kamu mencari hal lain. Lebih selektif dalam memilih teman yang dapat saling mendukung, dan bukan menjatuhkan.

4. Karena mungkin ada orang yang berniat nggak baik padamu.

Alasan lain kenapa perlu waspada terhadap teman adalah karena ada teman yang kesannya baik dan dekat, tapi sebenarnya ia ingin menyakiti dan merugikanmu. Kamu wajib peduli dengan temanmu, namun kamu nggak boleh terlalu percaya tanpa kewaspadaan.

Misalnya begini. Jika teman berhutang, catat. Jika ia transfer uang, minta buktinya. Jangan 100 persen percaya dan memasrahkan semua.

Kisah lain adalah tentang anak muda yang dilecehkan sahabatnya sendiri. Ia kelewat percaya bahwa temannya tersebut nggak akan berbuat yang macam-macam. Ternyata, temannya itu malah memafaatkan dirinya. Dan masih banyak kasus lainnya.

***

Berbuat baik lah dengan siapa saja.

Ramah lah dengan semua orang.

Tolong lah orang yang bisa kamu bantu.

Jangan memilih teman dari parasnya, kekayaannya, atau kepopulerannya.

Tapi wajib bagimu untuk memilih teman yang tepat, apalagi sahabat.

Jika teman mulai menunjukkan tanda-tanda yang membahayakan. Tinggalkan. Carikan bantuan.

Jangan lengah.

Jangan berprasangka, namun perlu tetap waspada.  

(Sumber gambar: Pizabay)

LATEST COMMENT
pipi | 3 jam yang lalu

Hai min! aku mau cerita. Dari beberapa poin di atas aku merasakan hal yang sama. Jujur, dulu aku termasuk orang yang ambis untuk masuk jurusan di rumpun kesehatan. Dari kelas 9 aku sudah memiliki plan untuk kuliah di jurusan gizi, tetapi seiring berjalannya waktu, aku memilih untuk mengambil jurusan…

Kamu Salah Ambil Jurusan Kuliah? Cek 15 Tanda Mahasiswa Salah Jurusan!
Yoga Sinaga | 14 jam yang lalu

keren! coba baca juga http://news.unair.ac.id/2021/02/10/tips-etika-berkomunikasi-digital/

20 Panduan dan Etika Mengirim Email Untuk Keperluan Akademis, Organisasi, Atau Kerja
Fatimah Ibtisam | 3 hari yang lalu

Hai Safiqah, untuk lebih jelasnya kamu bisa mengecek perguruan tinggi yang dituju. Secara umum, jika lewat jalur SBMPTN bisa saja.

Kenal Lebih Dekat dengan Program Studi Ilmu Perpustakaan, Yuk!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1