Menu

Nadiem Makarim Mendikbud Dikti. Mau Dibawa ke Mana Pendidikan Indonesia, UN, Serta SBMPTN?

Banyak harapan, prediksi, dan pertanyaan seputar kebijakan pendidikan Indonesia 2019-2024, terutama setelah Nadiem Makarim diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Pendidikan Tinggi. Tidak hanya itu, perubahan besar  pun terjadi, di mana Dikti (Pendidikan Tinggi), yang mengurusi soal seleksi perguruan tinggi, Bidikmisi, akreditasi, serta kemahasiswaan kini bergabung dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Kemdikbud). Sebagai pelajar dan mahasiswa kamu perlu tahu, mau dibawa ke mana pendidikan Indonesia?

Dikti Gabung Dikbud (Lagi)

Yup, dalam lima tahun terakhir, Pendidikan Tinggi merupakan bagian dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan perguruan tinggi, SNMPTN, SBMPTN, akreditasi kampus dan prodi, Bidikmisi, dan kemahasiswaan berada di bawah Menristekdikti.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya mengurus soal pendidikan hingga SMA. Nah, di tahun 2019-2024 cakupan kementerian ini pun bertambah hingga perguruan tinggi dan namanya menjadi Mendikbud Dikti. Oya, penyatuan Dikti ke dalam Dikbud sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sebab pernah dilakukan sebelumnya.

Dengan masuknya Pendidikan Tinggi, tugas Kemendikbud Dikti 2019-2024 akan lebih luas dan makin kompleks. Tantangan ini disadari Nadiem Makarim saat memberi keterangan pada wartawan. Namun Nadiem menyebutkan bahwa penggabungan ini merupakan hal yang baik, karena semua strategi (pendidikan) akan terpadu.   

Mulai sekarang, kepo-kepo mengenai Bidikmisi, akreditasi kampus, program studi baru, SNMPTN, SBMPTN, dan Ujian Mandiri bisa dilihat di media sosial Kemendikbud Dikti. Selain itu, bisa juga langsung ke laman SNMPTN, SBMPTN, LTMPT, situs masing-masing perguruan tinggi, dan, ehm, dari Rencanamu.com, dong! 

Nggak pernah merasakan Ujian Nasional SMA

Berusia 35 tahun, Nadiem menteri termuda satu-satunya menteri milenial. Ini membuatnya lebih relate alias nyambung dengan pelajar dan mahasiswa.

Bayangkan aja, beberapa tahun silam beliau masih kuliah. Ya, kuliahnya S2 di Harvard Business School, sih. Di sisi lain, Nadiem Makarim ini menempuh pendidikan setingkat SMA di Singapura dengan kurikulum internasional. Kemudian ia mendaftar ke beberapa universitas top di Amerika dan akhirnya berhasil menembus Brown. Jadi bisa dibilang Nadiem banyak mengalami pendidikan internasional, dan nggak merasakan UN di SMA. Hehehe.

Mungkin saja pengalaman beliau menjalani pendidikan di dalam negeri dan luar negeri akan memberi masukan dan wawasan dalam menjalani tugas sebagai Mendikbud Dikti.

Tanpa Program 100 Hari

Saat berbicara pada acara serah terima jabatan, Nadiem Makarim mengaku nggak punya program 100 hari. Justru ia akan memanfaatkan waktu 100 hari untuk mempelajari segala sesuatunya. “Saya di sini akan menjadi murid,” ungkap Nadiem dengan mantap. Makanya, kemungkinan besar, nggak ada perubahan aturan signifikan di awal Nadiem menjabat. 

Jadi nggak ada juga yha, yang namanya bagi-bagi voucher Go Food atau bebas biaya naik Gojek ke sekolah. Hihihi…. Yup, semenjang Nadiem dilantik, banyak banget jokes kocak beredar. Yang jelas, Nadiem sendiri sudah mengundurkan diri dari posisi CEO Gojek untuk mengabdi pada negara.

Gimana Nasib UN, UTBK, SNMPTN, dan SBMPTN Mendatang?

Kalau dari sinyal yang diberikan Nadiem, sepertinya rencana 2020 berjalan seperti yang telah dijadwalkan. Nggak ada perubahan signifikan untuk tahun depan. Apalagi, sebenarnya memang beberapa hal baru diubah.  Nah, coba kita bedah satu per satu.

* Ujian Nasional: Jadwal Ujian Nasional 2020, khususnya tingkat SMA/SMK sudah keluar. Walau sempat ada wacana meniadakan UN, namun sejauh ini UN terus berjalan. Sudah beberapa tahun ke belakang UN nggak lagi jadi acuan kelulusan. Namun, UN menjadi modal untuk mendaftar ke SMP/SMA negeri. UN juga nggak terkait dengan SBMPTN dan SNMPTN, namun ada beberapa seleksi mandiri yang juga menjadikan hasil UN SMA salah satu pertimbangan.

* SNMPTN: Tahun lalu, kuota jalur SNMPTN berkurang hingga 20 persen. Dan pesertanya adalah:

1. Sekolah Akreditasi A = 40 persen terbaik

2. Sekolah Areditasi B = 25 persen terbaik

3. Sekolah Akreditasi C dan lainnya = 5 persen terbauk.

Nah, sebelumnya sempat ada perbedaan pendapat antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Ristek DIkti mengenai hal ini. Menurut Kemdikbud soal akreditasi sekolah dan kesempatan ikut SNMPTN perlu dipertimbangkan kembali, mengingat sekarang sekolah memakai sistem zonasi.

Nah, setelah Dikti bergabung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mudah mudahan akan   mendapatkan keputusan yang jelas, ya.

*SBMPTN: Mulai tahun 2019 lalu sistem seleksi dan penerimaan PTN dirombak, terutama SBMPTN. Pemerintah membuat LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri), lembaga profesional yang mengurusi SNMPTN dan SBMPTN.

Nah, untuk SBMPTN sendiri, LTMPT mengadakan UNBK atau Ujian Tulis Berbasis Komputer. Jadwal UNBK bisa dipilih oleh peserta. Setelahnya peserta akan mengetahui skor hasil UNBK mereka. Dari situ baru mereka mendaftar SBMPTN dan memilih prodi plus kampusnya.

Dikti sudah membuat sistem dan lembaga pelaksana tes yang jelas. Sepertinya belum ada perubahan yang besar pada SNMPTN/SBMPTN 2020. LTMPT pun sudah bekerja dari sekarang. Namun kamu tetap perlu update informasinya. Kami di Rencanamu.com akan terus memberitakan perkembangannya.  

Tantangan ke Depan

Ada banyak sekali tantangan pendidikan ke depan, termasuk target yang ingin dicapai pemerintah. Inilah beberapa di antaranya:

1. Pemerataan akses dan kualitas pendidikan

Presiden Joko Widodo memberi pernyataan bahwa diharapkan dengan perkembangan teknologi, manajemen pelajar dan guru akan lebih mudah sehingga akses dan kualitas merata di seluruh Indonesia.

"Kita diberi peluang, telah ada yang namanya teknologi, yang namanya aplikasi sistem, yang bisa mempermudah, bisa membuat lompatan, loncatan, sehingga hal-hal yang dulu dirasa tidak mungkin, sekarang menjadi mungkin. Oleh sebab itu kenapa dipilih Mas Nadiem Makarim," jelas Presiden.

Nadiem pun memberi keterangan yang senada, “Peran teknologi akan sangat besar dalam kualitas, efisiensi, dan administrasi dalam sistem pendidikan."

2. Kesiapan lulusan SMK dan perguruan tinggi untuk masuk dunia kerja di masa depan.

“Saya akan mencoba menyambung apa yang ada di dalam institusi dengan apa yang dibutuhkan di dunia kerja,” ungkap Nadiem.

3. Pengembangan program studi yang seusai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan di masa depan.

Selama periode pemerintahan yang pertama, Presiden Jokowi mendorong munculnya program studi baru yang inovatif. Namun masih sedikit sekali prodi baru yang muncul.

4. Pengembangan Sumber Daya Manusia menjadi prioritas pemerintah di 5 tahun ke depan. Dan faktor penting yang menentukan kualitas SDM adalah pendidikan dan para guru.

5. Pendidikan berbasis kompetensi dan karakter, merupakan pendekatan yang ingin diterapkan Nadiem.

Bakal Ada Gebrakan Baru

Walau kemungkinan nggak ada perubahan besar di awal,  namun ke depannya kita bisa mengharapkan munculnya banyak gebrakan dan inovasi baru pendidikan Indonesia. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Nadiem pada wartawan.

“Seperti arahan Pak Presiden, kita tidak bisa begini begini saja. Kita harus mendobrak, kita harus berinovasi. Makanya, saya diberikan amanat ini (ditunjuk sebagai menteri).”

Nadiem juga menyebutkan bahwa sudah ada beberapa terobosan yang baik di bidang pendidikan, dan hal tersebut akan ia lanjutkan dan tingkatkan. Namun secara umum Nadiem menyoroti tidak ada perubahan besar dalam bidang pendidikan pada 20-30 tahun terkahir. Bener juga sih, ya?

 Wih, makin nggak sabar menunggu inovasi dan gebrakan terbaru di bidang pendidikan.

(sumber gambar: Wahyu Putro/Antara Foto, Pexels)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©