Sebelum Protes Terhadap Wacana Sekolah Seharian, Simak Dulu Sisi Plus-Minusnya di Sini

Netizen lagi heboh, karena Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru menggagas agar SD dan SMP di Indonesia, baik negeri maupun swasta, menggunakan sistem "full-day school", alias sekolah seharian.

Sejauh ini, mayoritas netizen menolak gagasan Pak Muhadjir. Berbagai makian dan kekhawatiran memenuhi media sosial, menentang ide ini.

Apalagi katanya Wapres Jusuf Kalla sudah menyetujui ide ini. Makin heboh, deh.

Wahai rakyat Indonesia yang budiman, calm down! Tenang.

Ini baru gagasan, lho. Ga-ga-san. Belum tentu jadi juga, karena proses mewujudkan wacana, tuh, susah lho. Harus penuh pertimbangan dan lolos banyak tahapan dahulu.

Mengubah sistem jalanan 3-in-1 ke sistem ERP aja uji cobanya lama banget, apalagi mengubah sistem pendidikan se-Indonesia!

Jadi jangan heboh dulu, ya.

Saya sendiri netral soal isu ini, karena infonya masih terlalu sedikit dan gagasannya masih terlalu mentah. Namun dengan “minim”nya informasi yang ada sejauh ini, berikut sisi plus dan minus full-day school yang bisa terjadi:

Sisi Minus:

1. Ide Pak Muhadjir adalah memulangkan para siswa dari sekolah jam lima sore, agar bisa pulang berbarengan dengan orangtua mereka dari kantor.

Masalahnya, di kota besar—khususnya Jakarta—rata-rata orang kantoran nggak pulang jam lima sore, tetapi jauh lebih larut. Akibatnya, tujuan Pak Muhadjir ini bisa jadi percuma, ya.

Lagipula, kalau anak-anak sekolahan dipulangkan berbarengan dengan orang kantoran, nggak kebayang jalanan macetnya seperti apa! Apalagi di Jakarta, biangnya macet. Kasihan sekali anak-anak yang masih SD.

2. Memanjangkan durasi sekolah perlu biaya besar, lho. Yang pasti, gaji guru harus dinaikkan. Trus, kalau perpanjangan jam sekolah ini mau diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler rutin, sekolah juga harus menyediakan perlengkapan dan tenaga pengajarnya.

Belum lagi kalau mau ada fasilitas tambahan, seperti misalnya makan siang gratis atau... ruang tidur siang, mungkin? (I wish!)

Dana APBN buat pendidikan Indonesia memang besar, tapi yakin sebagian besar dana itu bisa dialokasikan untuk full-day school ini? Kebutuhan pendidikan Indonesia yang lain masih segudang, lho!

3. Kalau pelaksanaannya nggak tepat, anak-anak sekolah jadi bisa stress dan kecapekan karena terlalu lama di sekolah.

Bukan hanya anak-anak sekolah, guru-guru pun bisa kecapekan. Selain mengajar, mereka ‘kan juga harus menyiapkan materi pelajaran, menilai hasil tugas dan ujian, dan sebagainya.

4. Seandainya lingkungan sebuah sekolah nggak kondusif bagi seorang murid—misalnya, murid itu selalu di-bully—kebayang nggak, betapa tersiksanya dia kalau durasi sekolah malah diperpanjang?

Sisi Plus

1. Yang saya tangkap, tujuan utama Pak Muhadjir mengajukan ide full-day school ini bukan supaya nilai akademis siswa Indonesia meloncat tinggi, tetapi supaya anak-anak nggak berkeliaran liar selepas jam sekolah, terutama anak-anak yang orangtuanya bekerja.

Sejujurnya, kalau melihat bocah-bocah SD-SMP pada berkeliaran nggak jelas sore hari di jalanan, saya setuju sama hal ini.

Kamu-kamu yang tinggal di kota besar dan berasal dari keluarga berada, sih, bisa mengisi waktu luang dengan ikut berbagai les atau kegiatan yang positif. Tapi Indonesia ‘kan nggak cuma terdiri dari kota besar.

Gimana dengan anak-anak muda di daerah sepi, yang lingkungannya jarang sekali punya wadah kegiatan yang asyik dan seru? Di luar pulau Jawa yang dinamis, kebanyakan anak-anak muda terjerat narkoba, judi, serta geng motor karena “bosan” dan “nggak ada kerjaan,” lho.

Ketika beberapa kali travelling ke luar Pulau Jawa, saya memang sering melihat anak-anak muda yang mencari pelarian kebosanan dengan balapan motor drag, pacaran di flyover, atau terlibat kelompok ekstrim. Nggak selalu karena mereka bengal, ya, tapi karena… mau ngapain lagi?

Gimana juga dengan anak-anak dari lingkungan miskin yang nggak mampu les anu-itu, atau punya keluarga—apalagi “mbak”—yang bisa mengawasi mereka sepulang sekolah?

Jadi, apa nggak lebih baik mereka berada di lingkungan sekolah aja? Entah di sekolah mereka bakal belajar atau nggak, seenggaknya mereka bersama-sama teman dan guru mereka. Kalau ada apa-apa pun, orangtua lebih gampang melacak mereka.

Dengan kata lain, sekolah berperan jadi semacam daycare untuk para siswa yang nggak bisa diawasi orangtuanya.

2. Setahu saya, definisi full-day school Pak Muhadjir adalah bersekolah sampai jam lima sore. Bukan dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam, misalnya.

Praktek bersekolah 8-9 jam ini sudah lama dilakukan oleh SMP-SMA swasta di kota-kota besar. Misalnya, sekolah Al-Falah di Ciracas dan Labschool di Jakarta. Bahkan murid-murid SMP-SMA Lab School Jakarta sudah bersekolah dari jam 7.30 pagi sampai jam 3.30 sore sejak tahun 1990an.

Jadi—suka nggak suka—praktek ini terbukti sudah lama bisa dilakukan di Indonesia.

Murid-murid SMA Labschool Rawamangun, Jakarta, salah satu pionir sekolah 8-9 jam sehari, lima kali seminggu.

3. Ketika berita ini keluar, netizen khawatir anak-anak sekolah bakal stres dan kecapekan. Padahal Pak Muhadjir belum bilang, lho, para murid bakal ngapain aja selama 8-9 jam di sekolah. Siapa tahu bukan belajar terus-terusan?

Saya sempat riset kecil-kecilan tentang praktek sekolah 8-9 jam, dan saya menemukan beberapa sekolah di negara barat yang mempraktekkan hal ini.

Hasilnya gimana? Hasil akademiknya, jujur aja, nggak merata. Ada sekolah yang nilai akademik anak-anaknya melonjak, ada yang stagnan aja.

Tapi toh tujuan utama Pak Muhadjir menerapkan full-day school ‘kan bukan (hanya) untuk mendongkrak nilai akademis anak-anak, namun supaya mereka tertampung di sekolah, ketimbang nongkrong nggak jelas di luar.

Trus, apakah para murid di sekolah berdurasi 8-9 jam di luar negeri itu kecapekan dan stres?

Kebetulan saya nggak menemukan contoh kasus demikian, tetapi saya menemukan beberapa contoh sekolah yang sukses menerapkan sekolah berdurasi 8-9 jam, yaitu Kuss Middle School di Massachusets, Amerika Serikat dan Monkton Coombe School dekat Bath, Inggris. Murid-muridnya hepi, dan nggak merasa terbebani.

Kunci suksesnya apa? Manajemen waktu yang oke, sob!

Sebagai contoh, Monkton Coombe School selalu menempatkan mata pelajaran inti—Matematik, membaca, menulis—di pagi hari, ketika murid-murid masih segar. Mereka nggak men-drill murid-murid dengan pelajaran berat di sore hari.

Selain itu. kegiatan belajar-mengajar formal selesai sekitar jam 2 siang, kok. Selanjutnya, murid-murid mengikuti kegiatan enrichment seperti olahraga, seni, musik, atau diskusi buku.

Sore hari, murid-murid diberi kesempatan untuk mengerjakan PR masing-masing, dan berdiskusi dengan guru tentang PR mereka tersebut. Sehingga di rumah, mereka sudah bebas PR.

Kuss Middle School malah membuat seluruh kegiatan belajar mengajarnya—dari pagi sampai sore—dengan gaya yang seru. Misalnya, anak-anak belajar Matematika lewat kelas memasak. Menghitung takaran tepung dan gula harus pakai hitungan matematika, lho.

Kalau durasi sekolah di Indonesia memang mau diperpanjang, ada banyak ide untuk mengisi jam sekolah tanpa “menyiksa” murid, kok, seperti yang dilakukan Kuss Middle School dan Monkton Coombe School.

Siswa-siswa Kuss Middle School di kelas musik

4. Seandainya full-day school jadi diterapkan, Pak Muhadjir bilang, murid-murid hanya akan masuk sekolah dari Senin sampai Jumat.

Nah, dengan libur Sabtu-Minggu, anak-anak jadi bisa quality time lebih intens bareng keluarga. Mau weekend getaway pun bisa, karena waktunya jadi nggak nanggung!

***

Setelah melihat sisi plus-minus tersebut, kamu setuju nggak dengan sistem full-day school?

(sumber gambar: okezone.com, inddit.com, merdeka.com, majalahouch.com, seattletimes.com)

LATEST COMMENT
Yulika Aprianiii | 10 jam yang lalu

Saya jurusan IPS dari 5 hal di atas kemungkinan saya bisa masuk hi tapi masih takut gk bisa caranya agar lebih muda di terima di universitas gimna caranya

5 Tanda Bahwa Jurusan Hubungan Internasional Cocok Buat Kamu
Fatimah Ibtisam | 17 jam yang lalu

Bukan, Asesmen Nasional bukan untuk mengukur prestasi individu siswa, tetapi semacam penelitian untuk mengetahui capaian pendidikan di sekolah dan daerah. Yang ikutan hanya sebagian murid yang dipilih secara acak sebagai responden.

Info Lengkap Asesmen Nasional 2021, Bukan Sekadar Pengganti UN
Fatimah Ibtisam | 17 jam yang lalu

Setahu kami, kelas 12 ujian sekolah (UAS) seperti biasa. Tidak ada Ujian Nasional.

Info Lengkap Asesmen Nasional 2021, Bukan Sekadar Pengganti UN
Lysta Ayu Pratama | 19 jam yang lalu

Aku barusan lihat yt katanya kls 12 ngga ada UN sama AKM, tapi tetap ada Ujian Sekolah

Info Lengkap Asesmen Nasional 2021, Bukan Sekadar Pengganti UN
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1