Menu

Intel, Detektif, dan Serba-Serbi Keduanya

Karena saking sukanya nonton seri TV Detective Conan waktu kecil, saya sempat bercita-cita menjadi detektif. Dalam bayangan saya, kayaknya profesinya seru, gitu! Selalu berpindah-pindah lokasi, sambil memecahkan kasus pembunuhan yang rumit, seperti mengerjakan teka-teki ataupun puzzle

Kekaguman saya terhadap profesi detektif berlanjut sampai SMP, ketika saya mengenal tokoh-tokoh detektif fiktif Sherlock Holmes dan Poirot. Ditambah lagi dengan film-film Hollywood yang saya tonton, yang menunjukkan betapa kerennya profesi detektif.

Saya menyimpulkan, untuk menjadi detektif, kita harus punya  perpaduan antara kecerdasan dan ketangkasan Tapi apakah hanya itu? Ada lagi nggak, sih? Trus, gimana kalau kita pengen jadi private detective, bisa nggak?

Berikut serba-serbi menjadi detektif (dan mata-mata) yang perlu kamu tahu!

1. Tentang sebutan "intel" dan "detektif"

Mungkin kamu sering mendengar kata "intel" yang biasanya diartikan sebagai agen rahasia. Sebenarnya, intel dan detektif pekerjaannya sama, yaitu sama-sama mencari informasi untuk pemecahan suatu kasus. Hanya saja, penyebutan intel dikhususkan untuk detektif yang bekerja di institusi kepolisian. 

2. Untuk jadi detektif, kamu nggak cuma perlu suka tantangan, tetapi juga tahan tekanan

Tribun News pernah mewawancarai salah seorang mantan intelijen Polda Metro Jaya, AKBP Titik Velentina. Menurut Ibu Titik, bisa menikmati tantangan saja nggak cukup untuk menjadi detektif. Kenyataannya, pekerjaan detektif penuh tekanan. Menjadi detektif memang penuh tantangan, tetapi kalau kamu hanya terfokus pada tantangan dan nggak siap menghadapi tekanan, ya sama aja bohong!

3. Detektif perempuan? Ada, kok

Profesi detektif memang didominasi oleh laki-laki. Klisenya, sih, perempuan kebanyakan mendapatkan kendala dari persetujuan keluarganya, karena pekerjaan detektif nggak mengenal waktu, dan kadang taruhannya adalah nyawa.

Namun pada dasarnya, perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk jadi detektif. "Perempuan biasanya memiliki sifat tekun, yang merupakan salah satu modal penting bagi seorang intelijen." kata AKBP Titik Valentina. Selain kecerdasan, kreativitas, dan fisik yang tahan banting, ketekunan dan ketahanan menyelesaikan kasus yang rumit juga mutlak dimiliki seorang detektif.

4. Semua orang bisa jadi detektif

Di Indonesia, pekerjaan intelijen umumnya berasal dari lulusan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). STIN adalah perguruan tinggi kedinasan yang berada di bawah Badan Intelijen Negara (BIN). Akan tetapi, jalan menjadi detektif nggak harus melalui STIN, kok. 

Setelah lulus SMA, kamu bisa masuk Akademi Kepolisian (AKPOL). Tentu nantinya kamu akan diarahkan menjadi intel di kepolisian. Bahkan kalau kamu sudah lulus kuliah dari kampus non-intelijen/kepolisian tetapi ingin menjadi intel, bisa juga, kok! Setiap tahun, Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) membuka kesempatan untuk lulusan sarjana dari berbagai jurusan. Untuk lebih lengkapnya, silahkan cek di situs Polri ya, gaes.

5. Bagaimana dengan detektif swasta?

Kalau di luar negeri, profesi detektif swasta sudah umum. Tetapi di Indonesia, detektif swasta masih belum ada payung hukumnya, yang artinya masih ilegal. Kalau kata kriminolog Amrizal Siagian kepada merdeka.com, Indonesia belum membutuhkan detektif swasta, karena tingkat kebutuhannya masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain. 

Selama ini, pihak kepolisian lebih memilih menggunakan jasa informan dibandingkan detektif swasta. Informannya bisa siapa aja, gaes. Bahkan dalam kasus tertentu, preman atau anggota geng motor pun bisa jadi informan berharga. Setelah melalui berbagai pertimbangan, tentunya!

6. Di Indonesia ada detektif swasta, sih, tapi...

... bukan untuk urusan kriminalitas. Memang ada beberapa orang yang membuka jasa detektif swasta, tetapi jasa mereka lebih sering dipakai untuk urusan personal. Misalnya, ada seorang istri yang mau menggugat cerai suaminya karena dicurigai selingkuh, tetapi dia belum punya bukti-bukti kuat. Jadilah istri ini memakai jasa detektif swasta untuk mengintai suaminya, sekaligus mengumpulkan bukti-bukti. 

Gimana? Tertarik menjadi detektif?

(sumber gambar: w-dog.net, thomasanthonyzampetti.wordpress.com, tribunnews.com)

LATEST COMMENT
Khusnul Khotimah Hamzah | 4 hari yang lalu

Temen²ku juga kayak gitu. Malahan mereka udah janjian dari awal, nanti pas presentasi gak usah ada yang berpendapat macam². Padahal kan kita mau diskusi itu berjalan supaya semuanya paham :(

6 Sifat yang Harus Kamu Hindari Agar Kamu Dapat Meraih Kesuksesan
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©