Menu

Pro-Kontra: Kuliah di Dua Jurusan Secara Bersamaan

Saat duduk di bangku SMA, terutama kelas 11 dan 12, pemicu kegalauan—sekaligus pemicu jerawat, duuuh—kita biasanya akan bertambah satu: menentukan jurusan kuliah. Padahal urusan nentuin pasangan aja belum kelar!

Kalau kita naksir dua jurusan kuliah, harus gimana, dong?

Gimana kalau kuliah di dua jurusan aja?

Hah? Emangnya bisa?

Setau saya, nggak ada aturan yang menghalangi mahasiswa untuk ngambil dua jurusan kuliah di saat yang bersamaan, baik di kampus yang sama atau berbeda. Apakah jurusannya harus mirip-mirip? Nggak, kok. Ada mahasiswa yang berkuliah di jurusan Hubungan Masyarakat dan Sastra Belanda, Broadcasting dan Psikologi, dan sebagainya. Asal jangan jurusan Depok – Lebak Bulus ya, cyin.

Intinya, ada aja mahasiswa yang berkuliah di dua jurusan bersamaan, termasuk saya.

Tetapi biasanya, kalau kedua jurusan yang diambil berada di universitas yang sama, mahasiswa hanya bisa mengambil program S1 dan Vokasi, nggak bisa sama-sama S1, sehingga saya juga dulu berkuliah di jurusan S1 dan jurusan D3. Tetapi kadang tergantung kebijakan kampus masing-masing juga. Coba cek dengan kampusmu!

Oke, pertanyaan penting berikutnya—emangnya sanggup ngejalanin kuliah dobel begitu? Nggak mabok?

Seperti semua pilihan dalam hidup, memilih kuliah dobel tentu ada resikonya *caelah*, misalnya:

Capek!

Kalau berkuliah di dua jurusan, jatah di dalam kelas kita pastinya jadi dua kali lipat dari “normal”. Artinya, kita harus menyiapkan fisik untuk nongkrong lebih lama di dalam kelas serta menghadapi lebih banyak materi kuliah.

Yes, dulu saya harus mengambil seenggaknya total 254 SKS, sedangkan bagi mahasiswa yang berkuliah di satu jurusan, hanya 144 SKS. Kenyang!

Dinna Alatas, yang sempat berkuliah di S1 Sastra Belanda dan D3 FISIP Universitas Indonesia sekaligus membagi pengalamannya, “Gue kuliah dari jam setengah delapan pagi sampai setengah enam sore hampir setiap hari. Capek, ‘kan? Karena merasa nggak sanggup, setelah dua bulan kuliah, akhirnya gue lepasin D3-nya.”

Rasa capek juga dialami Laila Achmad, alumni S1 Sastra Inggris sekaligus D3 Penyiaran Universitas Indonesia. Solusinya, ia milih untuk absen bergaul di kampus. “Dulu saya lebih sering milih pulang cepet, nggak nongkrong, karena lebih kepengen tidur.  Apalagi dulu saya nggak boleh ngekos sama ortu,”

Saya pribadi nggak merasa terlalu capek, soalnya saya indekos dekat kampus. Tinggal koprol dua kali, ditambah kayang sedikit, udah sampe kosan, deh. Maka saat ada jeda antarkelas yang agak lama, saya bisa leyeh-leyeh dulu di kosan. Ditambah lagi, sewaktu SMA, sekolah dan les saya biasa makan waktu seharian, kok. Jadi saya sudah terbiasa “sekolah” seharian.

Jam Kuliah Bentrok

Awal semester—saat jadwal kuliah akan dibagikan—adalah masa saat saya harus berdoa lebih khusyuk, supaya jadwal kuliah kedua jurusan saya nggak ada yang bentrok!

Jadwal kuliah memang sangat mempengaruhi karir saya sebagai mahasiswa jurusan dobel. Kalau ada mata kuliah yang bentrok, I’m stuck.

Untungnya, saya jarang mengalami tabrakan mata kuliah, sebab kuliah S1 kebanyakan diadakan pagi dan siang hari, sedangkan kuliah D3 diadakan siang dan sore hari. Oke, aman. Tapi apakah jadwal kuliah bisa bentrok dengan jadwal tugas kelompok, kegiatan organisasi, acara jurusan, pacaran dan lainnya? Kalau itu, sih, SERING. Hahahaha!

Dobel Tugasnya, Dobel Ujiannya

Nah, ngomongin ujian, Laila langsung curhat, “Dulu saya sampe sering demam dan telat menstruasi saat musim ujian, hahaha. Bukan hanya karena capek fisik, sih, tetapi juga karena saya orangnya anxious dan gampang stres. Bawaannya tegang mulu!”

Kebalikan dari Laila, saya, sih, berusaha nggak dibawa stres. Nanti kalau nilai udah keluar, baru boleh stres *pait, pait, pait!*

Soal banyaknya tugas, memang nggak bisa dihindari, tapi bisa diatur, lah. Caranya dengan nggak menunda hal-hal yang musti dikerjakan, termasuk hal-hal kecil seperti fotokopi dan pinjam buku ke perpustakaan.

Efeknya berasa banget, lho! Saat saya me-manage tugas-tugas kelas dengan baik, hasilnya pun oke. Namun saat saya malas-malasan, ujung-ujungnya saya jadi kayak dikejar-kejar kamtib!

Nggak Bisa Minta Keringanan

Minta keringanan—keringanan deadline tugas, keringanan waktu ujian—ke dosen dengan alasan kuliah dobel? You die!

Pertama, karena keribetan kita bukan masalah dosen. Kuliah di dua jurusan adalah tanggung jawab kita sendiri. Kedua, kita nggak punya hak buat minta perlakuan istimewa ke dosen. Ketiga, ada dosen yang justru kurang suka mahasiswa yang “ngeduain” jurusan.

Kalau memang kepepet banget, bisa coba, sih, minta izin atau keringanan ke dosen. Dengan catatan, belum tentu diberikan juga.

Susah Fokus

Dinna memutuskan nge-drop salah satu jurusannya karena merasa bisa lebih fokus dengan kuliah di satu jurusan aja.

“Setelah akhirnya gue memutuskan kuliah di satu jurusan aja, gue jadi bisa lebih fokus. Nilai lumayan, kepilih jadi Mapres (Mahasiswa Berprestasi), dan dapat beasiswa summer course di Belgia. Gue juga bisa aktif di radio kampus. Kalau gue kuliah di dua jurusan, kayaknya gue nggak akan bisa mencapai semua itu, deh.”

Sementara Laila merasa kehilangan fokusnya sebagai mahasiswa karena berkuliah di dua jurusan.

“Yang paling  disesalkan adalah saya jadi nggak pernah nongkrong di kampus. Saya merasa nggak jadi mahasiswa yang seutuhnya,” ungkap Laila.

Hmm, jadi gimana, dong, kalau merasa kewalahan kuliah di dua jurusan? Drop salah satunya aja?

Tergantung masing-masing orang, tetapi saya pribadi sepakat dengan apa yang dibilang Laila, “Walaupun jadwal kuliah padat, saya menikmati kepadatannya. Dan rasanya sayang banget kalau salah satu kuliahnya dilepas. Bangga, lho, bisa mempertahankan double major ini.”

***

Nah, selain karena rasa bangga, ini lho, hal-hal yang bikin kuliah di dua jurusan sangat menyenangkan:

Serba Dobel

“[Dengan kuliah di dua jurusan] Wawasan jadi dobel, teman-teman dobel, koneksi dobel, pilihan makan di kantin dobel. Materi kuliah jadi dobel juga, sih. Trus, kalau lagi merasa nggak asik nongkrong di satu kampus, saya tinggal pindah ke kampus satunya lagi,” Laila bercerita.

Yup, kuliah di dua jurusan jelas bisa memberi kita lebih banyak pengetahuan, kenalan dan gebetan pilihan dalam berbagai hal.

Punya Dua Gelar

Lulus kuliah dengan hasil yang memuaskan tentunya bikin hati berbunga-bunga….

… nah, apalagi kalau lulusnya dengan dua gelar! Hepi dan bangganya kombo, sob!

Mendongkrak Karir

Selain mendapat ilmu dan wawasan, kuliah di dua jurusan juga melatih kita untuk hidup “ribet”. Lho? Iya, kita jadi terlatih menghadapi segala macam keribetan dan keriwehan, sehingga kita jadi lebih tough saat masuk ke dunia kerja.

Salah satu contoh "kakak" yang kuliah di dua jurusan.

Si maz ini ambil jurusan Hukum dan Hubungan Internasional. Kalau hubungan aku dan kamu, gimana? #eh!

Laila, misalnya, jadi nggak kaget saat menghadapi kejamnya dunia kerja, “Saya terbiasa “capek”. Jadi kalau lagi banyak kerjaan di kantor, saya nggak gampang ngeluh.”

 Selain itu, pengalaman meng-handle kuliah dobel membuat kita lebih bisa mengatur pekerjaan dan deadline yang bertumpuk.

Trus, meraih dua gelar, tuh, prestasi, lho! Dan prestasi tersebut bisa jadi bahan pertimbangan tersendiri bagi perusahaan. Selain prestasi dari sisi akademik, perusahaan juga pasti menilai kita punya berbagai macam soft skills yang oke, seperti kemampuan manajemen waktu serta menghadapi situasi hectic.

***

Saat memutuskan kuliah di dua jurusan, kita jadi terpaksa “mengorbankan” beberapa hal sekaligus mengambil risiko…

… tapi kalau menurut saya, semua itu worth it. Double major is double pleasure!

 

(sumber gambar: Petra, Griffith, Start It Up, Ecampus News)

LATEST COMMENT
Khusnul Khotimah Hamzah | 5 hari yang lalu

Temen²ku juga kayak gitu. Malahan mereka udah janjian dari awal, nanti pas presentasi gak usah ada yang berpendapat macam². Padahal kan kita mau diskusi itu berjalan supaya semuanya paham :(

6 Sifat yang Harus Kamu Hindari Agar Kamu Dapat Meraih Kesuksesan
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©