Menu

10 Etika Budaya Jepang yang Seru untuk Kamu Ketahui

Siapa yang sudah pernah pergi ke Jepang? Kalau saya, sih…

…. belum pernah sama sekali. Lah? :D

Meskipun begitu, saya sering banget mendengar cerita teman-teman yang pernah melancong ke Negeri Sakura tersebut. Menurut mereka, Jepang adalah negara maju yang sangat sibuk, tetapi tetap berpegang pada etika dan budaya. Hal ini membuat etika keseharian Jepang begitu unik.

Berikut adalah 10 etika budaya Jepang yang dikumpulkan dari berbagai sumber.  Berhubung Jepang kayaknya masih jadi destinasi liburan yang mainstream banget tahun 2016 ini, hal ini penting untuk kamu ketahui. Supaya kalau ikutan pergi ke Jepang, kamu nggak canggung, sob!

1. Etika saat mau masuk rumah

Orang Jepang selalu mencopot alas kakinya sebelum masuk rumah. Di Jepang, begitu kamu masuk ke sebuah rumah, kamu akan menemukan garis halus bernama genkan di dekat pintu, yang berfungsi sebagai tanda pembatas alas kaki. Kalau di musholla atau masjid sini, garis ini ibarat “batas suci”, deh. Ihiiiy. Pokoknya, jangan sampai kamu berjalan melewati genkan sambil masih pakai sepatu atau sendal. Copot dulu, hoi!

Japan 1 - Youthmanual

Genkan juga bisa berupa undakan atau bagian lantai yang berbeda. Di beberapa rumah, tuan rumah menyediakan sandal rumah yang diletakkan di genkan. Jadi begitu kamu melepas sepatu, kamu bisa langsung memakai sandal rumah. Sandal untuk di dalam rumah dan sandal untuk ke toilet juga berbeda lho, gaes! Nggak boleh dicampur-campur.

Kalau saya perhatikan, sih, kebiasaan mencopot alas kaki sebelum masuk rumah ini nggak hanya umum terjadi di Jepang, ya, tetapi juga di banyak negara di Asia, termasuk Indonesia.

2. Etika sebelum dan sesudah makan

Saat makan-makan bareng, orang Jepang biasanya mengatakan “Itadakimasu!” yang artinya, “Selamat makan!” sebagai bentuk kesopanan. Selain itu, nasi atau mie biasanya disuguhkan dalam mangguk yang lebih kecil dibandingkan mangkuk untuk lauk pauk utama. Trus, ketika kamu makan, etikanya adalah kamu harus memegang mangkuk nasi kamu dan mendekatkannya ke tubuh. Saat mau menyuap, dekatkanlah mangkuk ke wajah, sementara tangan kamu yang satu lagi menyuapkan nasi ke mulut. Jadi bukan wajah kamu yang mendekat ke mangkuk di meja, ya. Apalagi mendekat ke cewek kece di meja sebelah #eh.

Selain itu, sebelum mulai makan, beberapa restoran menyediakan Oshibori (handuk hangat) untuk membersihkan tangan kamu sebelum makan. Ingat, sob, Oshibori ini untuk membersihkan tangan, ya. Bukan buat ngelap wajah!

Setelah makan, kamu juga bisa mengucapkan “Gochisosamadeshita”, atau pujian terhadap enaknya makanan yang baru saja kamu makan.

3. Etika makan Sushi

Makanan Jepang yang satu ini memang nggak boleh dilewatkan saat kamu berkunjung ke sana.

Japan 2 - Youthmanual

Asal tahu aja, begini cara makan sushi yang tepat:

1. Angkat bagian ikan mentah, dan letakkan wasabi diantara ikan mentah dan nasi

2. Celup sushi bagian ikan ke shoyu atau saos

3. Santap sushi dengan bagian ikan menghadap ke lidah kamu, agar kamu bisa merasakan kesegaran ikan dan saus sushi tersebut. Nyam!

Oya, aslinya, makan sushi itu sebetulnya tanpa sumpit alias langsung pake tangan, lho!

4. Etika memberikan tip

Semua jasa pelayanan yang di Jepang—mulai dari sopir taksi sampai pelayan restoran—nggak ada yang menerima tip. Bagi mereka, pemberian tip adalah sebuah penghinaan. Mereka hanya mau menerima uang seharga yang sudah tercantum (di menu makanan, di argo taksi, dsb). Kalau kamu nekat memberikan tip, uang tip kamu itu akan segera dikembalikan.

5. Etika buang air

Kalau kamu sering baca atau dengar cerita tentang Jepang, kamu pasti tahu bahwa toilet di Jepang, tuh, super keren. Banyak fiturnya, sob! Mungkin fitur smartphone kamu aja kalah. Misalnya, semua alas duduk toilet Jepang bisa diatur suhunya, sesuai dengan yang kamu inginkan. Bisa dingin, bisa juga hangat. Jangan lupa, Jepang adalah negara empat musim. Jadi kalau kamu kebelet pipis malam-malam saat musim dingin di Jepang, kebayang nggak alas duduk toiletnya sedingin apa? Brrrrr!

Bilik toilet umum di Jepang juga dilengkapi dengan bermacam-macam suara untuk menyamarkan bunyi-bunyi memalukan ketika kamu buang air di toilet, hihihi. Maklum, deh, orang Jepang ‘kan umumnya pemalu dan cukup ja’im. Suara di toilet ini bervariasi, lho, sampai ada yang berbunyi kicauan burung segala. Selain itu, jangan heran kalau biasanya ada banyak tisu di dalam satu bilik toilet, berhubung orang Jepang sangat peduli dengan sanitasi dan higienitas.

6. Etika meminum sake

Ketika kamu memesan sake di sebuah restoran di Jepang, gelas-gelas sake kamu akan diletakkan di dalam sebuah masu (kotak kayu berbentuk persegi). Jangan kaget ketika para pelayan menuangkan sake dengan berlebihan, sampai sakenya tumpah-tumpah ke masu tersebut. Dan ketika kamu sudah menghabiskan sake di gelasmu, kamu juga harus meminum sake di masu tersebut. Hal ini dilakukan sebagai wujud kesopanan, agar kamu merasa disambut dengan baik di restoran tersebut.

Japan 3 - Youthmanual

7. Etika menyeruput makanan dari mangkuk

Bagi banyak budaya, termasuk di Indonesia, menyeruput kuah dengan berisik dan LANGSUNG dari mangkoknya, tuh, hal yang nggak sopan banget! Tetapi di Jepang, menyeruput makanan berkuah langsung dari mangkuknya—bahkan dengan ribut—justru merupakan bentuk pujian terhadap sang koki. Bagi orang Jepang, ketika kamu menyeruput habis makanan kamu, berarti menurut kamu makanannya enak banget, dan kamu sangat menikmatinya. Jadi kalau emang doyan, nggak usah malu ya, sob. Seruput deh sampai tandaaaasss!

8. Etika uang kembalian di kasir

Hampir setiap konter kasir di Jepang menyediakan “nampan” kecil sebagai tempat meletakkan uang kembalian. Jadi kalau kamu melakukan pembayaran dan ada kembaliannya, si mbak atau si mas kasir akan menghitung uang kembalian tersebut di depan kamu, sebelum meletakannya di nampan kecil tersebut.

Ketika kasir menghitung uang kembalian, sebaiknya kamu memperhatikannya juga, untuk menunjukkan bahwa kamu menghargainya. Namun ketika uangnya sudah ditaruh di nampan, kamu nggak perlu menghitung ulang uangnya, karena hal tersebut dianggap nggak sopan. Setelah mengambil uang kembalian, membungkuklah 15 derajat sambil bilang “arigatou” atau “terima kasih”.

9. Etika penggunaan masker

Di Jepang, kamu akan melihat banyaaaak banget orang menggunakan masker. Bukan, bukan karena mereka semua mau naik motor. Bukan juga karena mereka semuah bau mulut! Orang Jepang, tuh, paling nggak mau menularkan penyakit ke orang lain, padahal transportasi utama mereka adalah kereta bawah tanah yang seringkali penuh sesak. Maka warga Jepang yang sedang nggak enak badan—walaupun baru sekedar sakit tenggorokan kecil-kecilan—pasti menggunakan masker, supaya mereka nggak menularkan penyakitnya ke orang lain.

10. Eskalator

Setiap kota di Jepang punya peraturan yang berbeda untuk sisi berdiri di eskalator. Misalnya, di Osaka, kamu harus berdiri di sisi kanan eskalator, karena sisi kirinya merupakan jalur untuk orang-orang yang berjalan menaiki/menuruni eskalator karena terburu-buru. Nah, di Tokyo justru sebaliknya. Kamu harus berdiri di sisi kiri eskalator.

Japan 4 - Youthmanual

Sebetulnya, etika ini sudah banyak dipakai di negara lain. Coba, deh, terapkan kebiasaan ini di Indonesia. Jadi kalau lagi naik eskalator bareng pacar, jangan ngotot berdiri samping-sampingan dan menghalangi orang yang ingin berjalan, ya. Demi budaya tertib, sob!

(sumber foto: flickr.com, japan-guide.com, okashi.com, triplelights.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©