9 Mitos dan Kepercayaan Orang Tionghoa dan Keturunannya

Oleh Mariska Tracy

Waktu kecil, mungkin kamu sering dikasih tahu nyokap bahwa kalau makanan kamu nggak dihabiskan sampai piringnya bersih, gedenya kamu bakal jerawatan, dapat pacar jelek dan brewokan. Dan karena masih polos, kamu pun percaya aja dan jadi nurut sama nyokap untuk menghabiskan makanan kamu. Padahal, sih, mitos itu cuma akal-akalan emak-emak supaya anaknya nggak buang-buang makanan. Buktinya, pas udah gede, kamu tetap aja jadi jones. Jomblo ngenes!

Seumur hidup, saya sering mendengar berbagai mitos atau kepercayaan seperti itu, terutama kepercayaan orang-orang Cina (berhubung saya sendiri keturunan Tionghoa, ye). Dan biasanya, warga Indonesia keturunan Tionghoa yang masih totok pada taat, tuh, mengikuti semua kepercayaan yang diturunkan oleh orang tua dan nenek moyang mereka. Daripada kena sial?

Saya jabarin, ya, beberapa kepercayaan dalam budaya Cina yang pernah saya dengar, termasuk kepercayaan seputar Imlek alias Shincia, yang dirayakan hari ini. Mari!

1. Hindari Angka 4, Perbanyak Angka 8

Orang Cina sangat percaya bahwa angka 4 itu nggak bagus untuk kehidupan sehari-hari. Soalnya, pelafalan angka “empat” di dalam bahasa Mandarin (si) itu sama dengan pelafalan kata “mati”. Horor banget, ya!

Kalau kamu perhatikan, kebanyakan gedung bertingkat—termasuk mal—nggak memakai angka 4 untuk menunjukkan letak lantai keempat, karena takut bawa sial. Akhirnya mereka menggunakan angka 3A untuk menggantikan angka 4. Padahal pemilik mal atau gedungnya belum tentu orang Tionghoa, lho. Kayaknya, sih, kepercayaan ini sudah mengakar di pikiran warga Indonesia secara umum.

Ketika Steve Jobs meninggal dunia, karya terakhir do’i adalah iPhone 4S. Nah, menurut pemikiran orang-orang Tionghoa, hal tersebut dikarenakan iPhone seri itu ada angka 4-nya, sehingga membuat Om Steve nggak panjang umur. Makanya, saat beli nomor hape atau memilih pin BB, biasanya orang Tionghoa sangat menghindari angka 4. Mungkin supaya hapenya nggak cepat rusak atau mudah dicuri orang.

Sebenarnya saya pribadi nggak percaya sama beginian. Kalau si pemilik hape memang pada dasarnya ceroboh, hapenya pasti bakal cepat rusak atau hilang juga. Namun, secara nggak sadar, ujung-ujungnya saya terpengaruh juga. Setiap beli nomor hape, saya nggak mau beli yang ada angka 4-nya. Malah, kalau bisa, saya pilih nomor yang banyak angka 8-nya.

Kenapa? Soalnya angka 8 dipercaya bisa membawa keberuntungan. Filosofi ini tercipta berdasarkan bentuk angka 8 yang nggak punya ujung. Ketika kamu menulis angka 8, penulisannya mengalir begitu saja ‘kan, tanpa terputus. Nah, harapannya, sih, rezeki kamu juga bisa terus mengalir seperti angka 8.

2. Makan Onde Harus Sesuai Umur

Tradisi ini biasanya dilakukan setiap Hari Ibu Nasional, tanggal 22 Desember. Pada hari itu, ibu-ibu di keluarga Tionghoa pada bikin onde-onde, namun anak-anaknya nggak boleh makan sebanyak yang mereka mau. Mereka hanya boleh makan sejumlah umur mereka, ditambah satu. Jadi, kalau umur kamu 20, kamu cuma boleh makan 21 butir onde-onde. Katanya, sih, agar hoki dan umur kamu bertambah setahun.

Waktu terjadi kerusuhan Mei 1998 silam, keluarga saya melakukan tradisi pembuatan onde-onde ini, meskipun waktu itu bukan Hari Ibu. Alasannya karena keluarga saya, yang masih keturunan Tionghoa totok, (tentu saja) parno dengan tragedi tersebut. Dengan demikian, kami—para anak-anak—disuruh makan onde-onde sesuai jumlah umur kami plus satu, supaya kami terhindar dari kesialan dan bahaya. Duh, saya yang waktu itu masih berumur 12 tahun merasa kurang puas cuma boleh makan 13 onde-onde. Rasanya nanggung banget cuma makan segitu! *dijitak emak*

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini agak bergeser. Kebiasaan membuat onde-onde setiap Hari Ibu, sih, tetap ada. Tetapi kita bisa bebas makan berapapun onde-onde yang kita mau. Mau makan onde-onde sejumlah umur nenek kamu juga boleh! Asyik banget ‘kan?

3. Makan Mie Setiap Ulang Tahun

Katanya, sih, supaya umur kamu panjang kayak mie! Sampai sekarang, meskipun umur ada di tangan Tuhan, ulang tahun orang Cina rasanya belum lengkap kalau belum makan mie. Atau memang pada dasarnya saya doyan makan mie aja? Hehehe.

4. Nggak Bagus Meninggal di Hari Selasa atau Sabtu

Kepercayaan ini aneh juga, ya. Memangnya orang bisa menentukan dia bakal meninggal hari apa? Memang nggak bisa, sih. Namun bagi orang Cina, alangkah baiknya kalau nggak meninggal di hari Selasa atau Sabtu.

Dengar-dengar, kalau ada yang meninggal di kedua hari tersebut, roh orang yang meninggal bakal mengajak anggota keluarga lainnya untuk ikutan meninggal dalam waktu dekat. Serem banget, cuy!

Sebenarnya, sih, meninggal ‘kan takdir Tuhan, jadi seharusnya kepercayaan ini nggak benar. Cuma, berdasarkan hasil riset kecil-kecilan saya, memang ada beberapa orang yang mengalami hal tersebut. Kebetulan aja kali, ya?

5. Potong Rambut Sebelum Shincia Biar Buang Sial

Jika kamu sering sial, katanya, sih, kesialan kamu bisa dibuang dengan memotong rambut sebelum Shincia. Konon katanya, rambut yang terpotong adalah tanda hilangnya kesialan kamu. Pas dengar kepercayaan ini, saya langsung mempertimbangkan untuk botakin rambut sekalian, supaya kesialan saya terbuang, trus saya makin hoki!

6. Nggak Boleh Menyapu Rumah Saat Shincia

Katanya, hal ini bisa menyapu seluruh rezeki kamu. Nggak hanya itu, alat-alat pembersih rumah tangga seperti alat penyedot debu, kemoceng, kain pel dan sebagainya juga kudu dihindari. Wih, emak-emak pasti senang banget, ya, setiap Shincia. Jadi nggak perlu repot-repot bersihin rumah!

7. Kalau Belum Nikah, Saat Shincia Nggak Boleh Bagi-Bagi Angpao

Kalau kepercayaan sebelumnya menguntungkan emak-emak, maka kepercayaan yang satu ini sangat menguntungkan para jones (jomlo ngenes) maupun jojoba (jomlo-jomlo bahagia). Intinya, saat Shincia, yang berkewajiban memberi angpao kepada para kerabat hanyalah orang-orang yang sudah menikah. Sementara yang belum menikah justru berhak menerima angpao. Enak banget ‘kan?

Kalau begitu, Shincia bisa dibilang “hari besar”nya para jones keturunan Tionghoa, ya. Seenggaknya, setiap Shincia, mereka agak terhibur karena bisa jadi orang terkaya (sementara) di keluarga.

Katanya, sih, kalau kamu belum nikah terus ngasih angpao, kamu bisa tambah lama nge-jomlo dan makin susah nikah. Sementara kalau kamu belum menikah tapi tetap kepengen ngasih duit ke kerabat, katanya nggak usah pakai amplop atau bungkusan angpao. Langsung kasih duitnya aja!

8. Harus Damai Sama Keluarga Pas Shincia

Kamu juga nggak boleh berantem, mukul, atau berkata kasar kepada keluarga saat Shincia. Kenapa? Karena kalau kamu nggak akur dengan keluarga saat Shincia, kamu bisa nggak akur terus selama setahun! Sebaliknya, kalau kamu rukun dengan keluarga saat Shincia, hubungan kamu bakal terus adem ayem.

Tetapi pada kenyataannya, banyak orang Tionghoa yang damai dengan keluarganya saat Shincia, tapi beberapa bulan kemudian, mereka pada berantem juga. Ya iya, laaah… perihal akur nggak akur ‘kan tergantung dari sikap masing-masing!

9. Baju Merah = Seneng, Baju Putih = Duka

Pas Shincia, kamu pasti sering melihat orang-orang mengenakan baju warna merah! Hal ini karena dalam budaya Cina, warna merah melambangkan kebahagiaan. Sebaliknya, warna putih melambangkan duka.

Sehingga, kurang pantas kalau kamu mengenakan baju warna putih saat Shincia atau saat ke kondangan orang Tionghoa, karena baju putih justru lebih cocok dipakai di rumah duka. Saat ngasih angpao di rumah duka pun kamu nggak boleh menggunakan angpao merah, melainkan amplop putih biasa.

***

Begitulah sembilan kepercayaan dalam budaya Cina yang sering saya dengar. Buat kamu yang masih keturunan Tionghoa totok, mungkin kamu masih punya berjuta-juta kepercayaan lainnya. Boleh, lho, di-share di kolom komen!

Disadur dari www.mariskatracy.com

(sumber gambar: www.saveur.com, www.cruise.co.uk, english.astroawani.com, www.resepkuekeringku.com, www.dailytelegraph.com.au)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Robiatul Awaliyah | 13 menit yang lalu

Open pp/endorse mulai dari 10rb Bisa dm ke @robiatulawlyh

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Faris Nadhir | 6 hari yang lalu

Semoga cita²ku menjadi pilot terkabula yaa Allah amin

Bagaimana Cara Menjadi Seorang Pilot? Begini Tahapan Lengkapnya!
Zidna Ilmalana | 19 hari yang lalu

Emng knp llsn psntrn?

Serba-Serbi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB
Fatimah Ibtisam | 27 hari yang lalu

Hai Ilham, lmu Matematika juga dipakai dalam prodi Psikologi, khususnya yang berkaitan dengan statistika. Prodi Psikologi banyak melakukan riset, yang di antaranya menggunakan perhitungan statistik.

7 Mata Kuliah Paling Menantang di Program Studi Psikologi
Fatimah Ibtisam | 27 hari yang lalu

Hai Ronny, kamu bisa mendaftar FSRD ITB apabila kamu mengambil program IPA atau IPS.

Serba-Serbi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1