Sukarno, Hatta, Sutomo—Apa Yang Kamu Tahu Tentang Sisi Akademis Mereka?

Kepikiran nggak, sih, kalau kita bisa sekolah, kerja, dan berkarya di Indonesia, karena jasa tokoh-tokoh besar tertentu? Contoh yang paling legendaris adalah Sukarno, Hatta dan Sutomo. Mereka menempatkan perjuangan Indonesia di atas karir dan hidup mereka, sehingga pantas banget kalau mereka dianggap sebagai pahlawan negara.

Selain berstatus sebagai pahlawan, ternyata mereka juga hebat dalam bidang akademis dan profesional. “Senjata” para tokoh ini bukanlah pedang atau pistol, melainkan ilmu. Keren!

Yuk, kenali pahlawan negara kita dari sisi lain mereka!

Sukarno—Proklamator yang Jago Merancang Bangunan

  • Bukan cuma walikota Bandung aja yang lulusan teknik dan suka merancang bangunan, ternyata presiden pertama Republik Indonesia juga seorang anak teknik, lho! Jadi, salah besar kalau kamu kira Bung Karno berasal dari sekolah jurusan Politik.

  • Pada tahun 1921, Sukarno kuliah di Technische Hogeschool yang sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Ketika itu fakultasnya hanya satu, yaitu Teknik Sipil. Beliau memiliki ketertarikan khusus terhadap bidang arsitektur.
  • Sukarno terkenal sebagai pelajar cerdas dan punya memori yang top banget. Sepanjang hidupnya, ia disebut-sebut fasih berkomunikasi dalam bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Jepang, Sunda, Jawa dan Bali. Nggak jauh beda, lah, sama kita, yang fasih berbagai bahasa, seperti bahasa gaul, bahasa preman, bahasa kalbu, dan bahasa tubuh. Cucok, ya!

  • Semasa kuliah, Bung Karno membentuk kelompok belajar Algemeene Studieclub. Kelompok belajar ini kemudian berkembang menjadi organisasi politik, Partai Nasional Indonesia, yang turut memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
  • Walau aktif di pergerakan bangsa, Sukarno tetap menyelesaikan pendidikannya relatif tepat waktu, yaitu pada tahun 1926. Perlu dicontoh, nih, gaes! Kemudian, bersama seorang teman kuliahnya, Sukarno membuka usaha konsultan dan kontraktor bangunan bernama Sukarno & Anwari. Mereka sempat menggarap proyek rumah tinggal serta membantu seorang arsitek beken Belanda merenovasi Preanger Hotel.

  • Ketika sudah jadi presiden pun, Sukarno masih sempat terlibat dalam perancangan Monumen Proklamasi, Gedung Pola Jakarta, Tugu Muda, Semarang, Monumen Alun-Alun Malang, Monumen Pahlawan Surabaya, serta pembangunan kota Palangkaraya.

Bung Hatta—Wapres yang Juga Ahli Ekonomi

  • Tau nggak? Wakil presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, juga seorang ahli ekonomi, lho.
  • Hatta muda mengenyam pendidikan dasar dan menengah di sekolah Belanda, sambil belajar ngaji sepulang sekolah. Di waktu luang, Hatta remaja kerja part-time di kantor pos. Biasanya, sih, anak sekolahan nggak diterima kerja di situ, tetapi karena nilai Hatta bagus, jadi dibuat pengecualian.

  • Namun jangan kira Bung Hatta kerjaannya cuma belajar. Beliau juga jago sepak bola, lho, bahkan sempat jadi ketua klub sepak bola di sekolahnya. Wih, udah pinter, berprestasi, jago bola pula! Idola banget, ‘kan?
  • Di umur 16 tahun, di saat kamu lagi doyan-doyannya kepoin sosmed, Bung Hatta justru lagi doyan-doyannya kepoin urusan politik dan pergerakan Indonesia. Ia pun bergabung di Jong Sumatrenan Bond, sebuah organisasi pemuda Sumatera.
  • Kemudian Bung Hatta berkuliah di Belanda, tepatnya di Rotterdam School of Commerce, mengambil jurusan Ekonomi. Setelah lulus, ia pun meneruskan pendidikannya untuk mengambil gelar doktor. Sayang, thesis-nya nggak selesai…
  • … eits, bukan karena beliau merasa mentok, malas, atau disuruh ngulang terus sama dosen pembimbing, ya! *uhuk!* #curcol Tetapi karena ia merasa lebih terpanggil untuk memperjuangkan Indonesia. He chosed Indonesia over his degree.

  • Oya, selama kuliah di Belanda, Bung Hatta tetap aktif di pergerakan dengan bergabung di organisasi pelajar Perhimpunan Indonesia (PI). Beliau juga menjadi editor sebuah majalah yang menyuarakan perjuangan, Indonesia Merdeka.
  • Selama berada di Eropa, Bung Hatta rajin ikutan kongres internasional dengan membawa nama Indonesia. Ia sempat bertemu tokoh pergerakan dari berbagai negara seperti Jawaharlal Nehru dari India dan Hafiz Ramadan Bey dari Mesir.

  • Bersama rekan-rekan di Perhimpunan Indonesia, Bung Hatta “bergerilya” lewat jalur diplomasi dunia. Belanda sampai merasa terancam, sehingga mereka sempat dipenjara.
  • Setelah bebas, Bung Hatta bergabung dengan Sukarno untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

 Sutomo—Bukan Hanya Dokter, Tetapi Juga Tokoh Kebangkitan

  • Tokoh ini mendirikan organisasi pemuda pertama di Indonesia, Budi Utomo, ketika ia baru berusia… 20 tahun! Organisasi inilah yang mengawali gerakan kebangkitan bangsa.
  • Sutomo lahir di Jawa Timur pada 30 Juli 1888. Di usia yang sangat muda, sekitar 15-16 tahun, ia mengambil pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Jakarta.
  • Sewaktu kuliah Kedokteran, Sutomo, Cipto Mangunkusumo serta mahasiswa Stovia lainnya suka main ke ruang baca dekat kampus. Ruang baca itu milik seorang wartawan “bule”, namun berjiwa sangat Indonesia, bernama Ernest Douwes Dekker (Douwes Dekker berdarah Belanda-Indonesia). Di situ mereka banyak membaca tentang perjuangan pergerakan di berbagai negara.
  • Sutomo dan teman-teman sangat terinspirasi dan ingin mendorong pergerakan Indonesia. Bersama dr. Wahidin, Sutomo dan Cipto Mangunkusumo mendirikan Budi Utomo. Sutomo pun didaulat menjadi ketuanya.

  • Tujuan organisasi ini adalah memajukan pendidikan dan kebudayaan bangsa, supaya bisa lepas dari penjajahan.
  • Tahun 1911, dr. Sutomo lulus dan menjadi dokter pemerintah yang bertugas di berbagai daerah. Di situ, Sutomo makin merasakan penderitaan rakyat, karena ia banyak berinteraksi langsung dengan mereka. Maka ia seringkali membebaskan pasiennya dari segala biaya. Baik banget, ya?
  • Tahun 1919, dr. Sutomo pergi ke Belanda untuk memperdalam ilmu kedokterannya. Tapi geloranya untuk memperjuangkan kebebasan Indonesia nggak pernah padam. Sembari menuntut ilmu, Sutomo pun gabung dengan Perhimpunan Indonesia, seperti Bung Hatta kemudian.

  • Saat balik ke Indonesia, dr. Sutomo membentuk sebuah wadah untuk para intelektual Indonesia bernama Indonesische Studie Club (ISC) yang kemudian berubah nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Bersama organisasi ini, Sutomo menciptakan asrama pelajar, koperasi, bank kredit, sekolah tenun dan lain sebagainya. Semua fasilitas ini tentunya bermanfaat banget untuk perkembangan masyarakat Indonesia.
  • Selanjutnya, Budi Utomo dan PBI dilebur menjadi Partai Indonesia Raya. Partai ini juga berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan RI.

(sumber gambar: Sindo News, Geheugen Van Nederland, Java Post, Resolve ,Viva, Liputan 6, Top Holidays Bali, Biografiku, Slideshare,)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2023 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1