Lalu Muhammad Zohri dan 7 Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Sang Pelari

Melaju kencang di lintasan lari, Lalu Muhammad Zohri keluar sebagai juara dunia lari sprint 100 meter IAAF World Under 20 Championships yang berlangsung di Finlandia. “No Indonesian has done it before,” ujar komentator saat Zohri menaiki podium juara. Ya, inilah pertama kalinya atlet asal Indonesia menjadi juara dunia. Tentu saja masyarakat menyambut kemenangan ini dengan suka-cita. Prestasi ini pun menjadi pemantik semangat bangsa menjelang Asian Games 2018. Ada berbagai inspirasi dari perjalanan si pelari belia yang masih duduk di kelas 3 SMAN 2 Mataram ini. Baca, deh!

1. Setiap orang memiliki masalah, namun jangan biarkan kesulitan yang dialami membuatmu menyerah.

Ya, di usia sekitar 15 tahun, Zohri sudah ditinggal pergi sang bunda selamanya, disusul sang ayah yang wafat tahun 2017. Kini ia tinggal bersama kedua kakaknya. Kehidupan mereka amat sangat sederhana. Zohri tinggal di rumah petak berdinding kayu dengan ukuran 6 x 8 meter. Menurut keterangan sang kakak, kadang mereka menahan lapar  lantaran nggak ada makanan.

Situasi dan kondisi sulit nggak mematahkan semangat Zohri. Ya, dia memang nggak bisa ditemani ayah dan ibunya saat bertanding, ia juga nggak punya modal memadai yang mendukungnya untuk latihan, tapi yang jelas Zohri punya semangat yang tinggi.

2. Dream big.

Jangan percaya anggapan bahwa anak muda yang bisa sukses dan berprestasi hanya yang tinggal di kota besar. Tinggal di kota besar memang memberikan berabagai kemudahan dan akses. Misalnya, beragam pilihan sekolah, klub, dan tempat latihan yang bagus. Tapi banyak banget anak muda berbakat dari berbagai daerah dan mereka pun punya kesempatan untuk bersinar. Jika mereka memiliki tekad kuat untuk mewujudkan mimpinya.

Zohir adalah salah satu contohnya. Berawal dari kegiatan olahraga di sekolah, alumni SMP Negeri 1 Pemenang ini mengikuti Kejuaraan Daerah di NTB dan berhasi meraih medali. Pencapaian ini mengawali deretan prestasi Zohri. Awal 2018 lalu, Zohri diajak bergabung dengan tim pelatihan nasional. Dan 6 bulan setelahnya, ia meraih juara dunia IAAF World U20 di Finlandia. Fyi, selama 32 tahun event olahraga tersebut berlangsung, prestasi terbaik Indonesia hanya mencapai peringkat 8. Maka, Zohri membuat kejutan dengan keluar sebagai juara pertama.  Oya, sebelumnya ia pun meraih emas dalam kejuaraan Asia Pasifik Junior 2018 di Jepang.

lalu muhammad zohri

3. Jangan jadikan keterbatasan sebagai halangan.

Karena datang dari keluarga yang kurang mampu, Zohri pun nggak punya fasilitas yang memadai. Tapi ini nggak menyurutkan semangat kelahiran 1 Juli 2000 ini untuk berlatih. Menurut sang kakak, kadang Zohri berlatih tanpa alas kaki. Ia terus berlari. Langkahnya nggak terhenti karena keadaan yang nggak ideal.

Gimana gambaran latihan Zohri? Ketika SD dan belum menjadi pelari, Zohri udah terbiasa ke sekolah dengan berlari. Fyi, jarak rumah ke sekolahnya sekitar 2 kilometer. Setelah terjun di atletik, Zohri rutin berlatih setelah solat Subuh hingga sebelum masuk sekolah. Kemudian, ia kembali berlatih sore hari pukul 16.00 sampai 18.00.

4. Ingin menjadi lebih baik.

Menurut keterangan tim pelatih nasional, salah satu keistimewaan Zohri adalah motivasinya untuk menjadi lebih baik. Yup, ketika masuk pelatnas, ia sudah memiliki bakat dan kemampuan yang cukup baik, namun dari segi teknik masih harus diperbaiki. Dengan motivasi untuk menjadi lebih baik tersebut Zohri pun akhirnya tampil gemilang di ajang IAAF U-20, menjadi juara dunia, memperbaiki rekornya sendiri, serta memecahkan rekor nasional U-20. Jadi lah seperti Zohri, terus belajar dan berlatih untuk menjadi lebih baik. Jangan merasa, ‘Ah gue udah jago’, sehingga nggak terpacu untuk menjadi lebih baik.

5. It’s okay to be the underdog.

Pernah nggak sih, orang lain memandang remeh kemampuanmu? Atau mereka nggak tahu kelebihanmu? Nggak usah keburu kesel, apalagi down. Ada keuntungannya lho, menjadi underdog seperti halnya Zohri. Pertama, dia nggak mendapatkan beban untuk mencapai target tertentu. Trus, diremehkan justru bisa menjadi cambuk untuk membuktikan diri dengan prestasi. Nggak apa-apa kok, ketika menang nggak ada bendera merah putih di lintasan lari, yang penting ada garuda di dada Zohri. Caelah!

6. Hormati gurumu.

Yang menyemangati Zohri untuk menekuni atletik adalah guru olahraganya ketika SMP, Ibu Rosida. Awalnya, Zohri enggan karena lebih tertarik dengan sepak bola. Namun berkat dorongan sang guru akhirnya ia mengikuti kejuaraan atletik. Nggak melupakan jasa gurunya, sebelum berlaga di Finlandia Zohri menyempatkan diri meng-SMS bu Rosida. Assalamualaikum Bu. Bu, minta doanya. Saya mau pergi tanding ke Finlandia. Tanggal 10 saya main.”

7. Santun, rendah hati, dan sikap positif.

Berbagai pihak, seperti Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTB serta staf kedutaan besar menggambarkan Zohri sebagai sosok yang rendah hari dan sangat santun. Sementara Kikin Ruhidin, pelatih sprint timnas bercerita, "Dia (Zohri) adalah sosok relijius. Ia rajin solat dan memiliki work ethic yang amat baik.” Anyway, menurut Youthmanual, semua hal tersebut merupakan winning attitude alias sikap yang penting untuk dimiliki dan akan membawa seseorang pada kesuksesan.

Ketika kabar kemenangannya tersebar, Zohri dihubungi media. Ia pun berkomentar seperti yang dikutip dari Kompas, "Saya masih akan tetap menjadi saya yang dulu. Tidak akan ada yang mengubah selain berlatih keras dan doa yang selalu saya panjatkan untuk kedua orangtua saya."

***

Setelah meraih gelar juara dunia, nama Zohri menjadi viral dan dielu-elukan. Berbagai penghargaan atas prestasinya pun berdatangan, mulai dari bonus kemenangan berupa uang, bantuan untuk renovasi rumah, hadiah umrah, hingga beasiswa untuk kuliah dan tawaran bergabung dengan TNI. Di sisi lain, tentunya ekspektasi masyarakat akan prestasi Zohri juga meningkat, dan yang terdekat adalah harapan untuk menjadi juara Asian Games.

Nah, mudah-mudahan segala sorotan masyarakat dan netizen ini memberi dampak yang positif bagi Zohri. Semoga Zohri makin bersemangat, alih-alih terbebani. Semoga ia terus berprestasi di lapangan dan juga sukses menamatkan pendidikan SMA-nya. Dan juga semoga sang sprinter tetap menjadi Zohri yang termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi dan selalu rendah hati. Terus berlari Zohri!

(sumber gambar: iaaf.org/Roger Sedres, kumparan.com/Dokumentasi Kedutaan RI di Finlandia, @iaaforg)  

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Shannon Belinda | 3 jam yang lalu

Open endorsement @shannonbelindaa just dm for rate card thank you

Serba-Serbi dan Cara Seputar Meng-Endorse dan di-Endorse di Media Sosial
Agustin Lutfianty | 2 bulan yang lalu

Kunjungi website kami di https://walisongo.ac.id

World Suicide Prevention Day: Seberapa Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa?
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Karena merasa gk nyaman aja gitu tmn2 yg lain kok pada enak2 aja aku kok gk enak gitu Krn bidang kerjaan mereka cuma duduk aku berdiri teruss

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1