Lelah dengan Semua Aktivitas, Solusinya Adalah Menikah: Masa, Sih?

“Aduh, kayaknya aku capek sekolah deh. Rasanya pengen nikah aja”. “Gue capek kuliah, deh, tugasnya banyak banget, belom lagi kuis-kuisnya. Nikah enak kali, ya? Jadi Ibu Rumah Tangga, terus diam-diam di rumah saja, deh”. “Duh, adek capek bang, nikahin adek, dong”. “Aku capek kerja, nikah, aja, ah, biar ada yang nafkahin”.

semester yang rasanya pengen nikah

Hayo… Ngaku… Siapa yang pernah kepikiran atau pernah mengucap hal-hal seperti di atas? Duh, gaes, serius, deh, sebagai perempuan, ketika saya mendengar perempuan lain mengeluh seperti hal di atas, rasanya cringe banget! Jujur, nih, selama saya bersekolah, kuliah hingga kerja, banyak sekali, lho, teman-teman yang mengeluh demikian. Nggak hanya di lingkungan sekitar saya saja, bahkan di sosial media, ada pula gerakan-gerakan yang menyuarakan kalau kamu lelah bekerja atau apapun, ya, solusinya nikah saja. Duh.

Apakah kamu juga menganggap bahwa menikah merupakan suatu solusi untuk menyelesaikan permasalahan? Apakah kamu menganggap bahwa dengan menikah dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan tanggung jawabmu? Wah, kalau kamu menganggap demikian, kamu salah besar, gaes! Dengan menikah, sama saja seperti kamu sudah memiliki komitmen bahwa kamu berani untuk memikul tanggung jawab dan tentunya beban yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Misalnya, nih, ketika kamu masih merupakan seorang pelajar, tanggung jawabmu hanyalah belajar sebaik mungkin. Ketika kamu sudah bekerja, tanggung jawabmu ialah menyelesaikan semua tugasmu sebaik mungkin. Coba, deh, pikirkan kalau kamu menikah, tanggung jawab apa yang harus kamu pikul? Pastinya, tanggung jawabmu akan lebih besar dibandingkan ketika kamu masih sendiri. Misalnya seperti mengurus suami, mengurus rumah, mengurus orangtua dari kedua belah pihak, mengurus keuangan rumah tangga, mengurus belanjaan dapur, mengurus anak dan sebagainya.

tanggung jawab ketika sudah menikah

Begitu pun dengan beban yang akan kamu pikul. Ketika kamu memilih untuk menikah, beban yang akan kamu pikul pun semakin besar. Misalnya, nih, ketika kamu masih berkuliah atau bekerja, mungkin, bebanmu ialah uang transportasi, uang jajan dan pengeluaran pribadi lainnya. Namun, ketika kamu sudah menikah, bebanmu semakin besar, misalnya seperti biaya belanja, biaya pendidikan anak, biaya listrik, uang jajan anak dan masih banyak lagi.

Untuk mengangkat isu “kalau capek, ya, nikah, aja”, saya membuat polling kecil-kecilan di Instagram Story. Dari 93 voters, 92-nya setuju bahwa menikah itu harus dilakukan karena siap, bukan karena capek dengan kegiatan-kegiatan seperti sekolah, kuliah atau bekerja. Namun mirisnya, ada, lho, yang menjawab menikah karena memang sudah capek dengan kegiatannya. Well, walaupun hanya satu orang, tapi ternyata, masih ada, kan, orang yang berpikir bahwa menikah adalah suatu solusi untuk menyelesaikan rasa jenuh, lelah dan keputusasaan?

 Perlu kamu ketahui, menikah itu bukan hanya persoalan ena-ena saja, seperti senang berduaan dengan orang yang kamu sayang, seru-seruan bareng, ketawa-ketiwi bareng dan sebagainya. Dibalik cerita bahagia dari pernikahan, ada juga, lho, hal-hal yang perlu kamu perhatikan seperti maintain hubungan dengan keluarga, permasalahan-permasalahan rumah tangga, mengurus anak dan sebagainya.

Ketika saya membuat polling di Instagram Story, ada, lho, yang tiba-tiba curhat. Ia sudah menikah dan ia bilang bahwa setelah menikah banyak sekali cobaan-cobaan yang menerpa. Selain itu, ada pula salah satu teman saya yang mengatakan bahwa sebagai seorang bapak, ia pun harus lebih belajar untuk menjawab pertanyaan unexpected dari anak-anaknya. Salah satu pertanyaan yang pernah terlontar dari anak teman saya ialah “yah, kalau kucing pakai kalung berarti tandanya, kucingnya sudah ada yang punya, ya? Kalau orang pakai kalung, berarti orang itu ada yang punya juga, ya?”. Nah, lho…. Jujur saja, saya pun bingung kalau disuruh menjawab pertanyaan seperti itu.

Kalau menikah itu seharusnya dilakukan dalam keadaan siap, lalu, hal apa saja, sih, yang harus dipersiapkan? Yap, saya pun melakukan tanya jawab terkait hal ini di Instagram Story. Mostly, jawabannya ialah mental dan finansial. Kenapa mental dan finansial? Yap, ketika menikah, kamu akan menyatukan dua kepala, dua pikiran, dua ego, dua keluarga dan sebagainya. Nah, karena hal-hal yang serba berbeda, pasti akan menyebabkan pergesekan atau konflik. Kalau kamu belum memiliki mental yang kuat, lalu, bagaimana kamu akan mengatasi permasalahan ini? Pernikahan itu nggak sebecanda itu, lho, gaes.

Selain itu, kamu juga harus menyiapkan hal yang berhubungan dengan finansial. Menikah itu bukan hanya saat akad nikah, justru, menikah itu merupakan kehidupan baru bagimu. Di dalam kehidupan baru ini kamu akan melakukan segalanya  mulai dari nol, misalnya seperti membeli rumah untuk berdua, membesarkan anak, menyekolahkan anak dan sebagainya. Nah, untuk membeli rumah, membesarkan anak dan juga menyekolahkan anak, butuh banget kesiapan finansial karena uang yang dibutuhkan nggak sedikit, lho.

Masih menganggap bahwa menikah merupakan solusi untuk keluar dari rasa lelah dan tanggung jawabmu? Kalau kata dosen saya, hal seperti ini sama saja seperti kamu mencoba untuk keluar dari mulut harimau, namun, kamu malah masuk kembali ke mulut dinosaurus, hehe. Well, pada intinya, menikah bukanlah solusi untuk keluar dari tanggung jawab dan rasa lelahmu seperti apa yang ada di film-film princess Disney. Kalau kamu masih berpikir seperti itu, yuk, deh, diubah mindset-mu.

Ketika kamu lelah dengan semua tugas-tugasmu, quiz di kampus, UTS, UAS atau bahkan pekerjaan, solusinya cuma satu gaes, yaitu vakansi alias jalan-jalan a.k.a tamasya. Bukannya menikah, hehe.

Baca juga:

(Sumber gambar: separation.ca, detik.com, pinterest.com)

LATEST COMMENT
Helena Chirsty | 2 jam yang lalu

sekedar saran dan sepengetahuan saya dari teman sih, biasanya kalau udah kuliah ( preklinik ) baru ketahuan minat dan kemampuannya nya ke arahmana, baru nentuin mau ambil spesialis apa.soalnya kan mata kuliahnya beda - beda , ada patologi klinik , forensik , anatomi ,reproduksi, kardiovaskuler,…

Kamu Nggak Cocok Ambil Prodi Kedokteran dan Jadi Dokter, Kalau…
Septi Alma Kurnia | 4 jam yang lalu

Kapan tanggal pendaftaran tahun 2021

Serba-Serbi Informasi mengenai PMB Mandiri ISI Yogyakarta 2019
Septi Alma Kurnia | 4 jam yang lalu

Doain saya ya supaya bisa diterima di ISI yogyakarta aamiin, saya harap kalian yang membaca ini bisa ikut men -aamiin kan hehe,makasi.

SNMPTN 2021 Universitas Indonesia: Keketatan Persaingan Prodi UI di SNMPTN 2020 dan Lainnya
Septi Alma Kurnia | 4 jam yang lalu

Doain saya ya gais,semoga di terima di ISI yogyakarta,saya sangat terima kasih apabila kalian yang membaca kalimat ini dan mengaminkannya,sekian makasi.

21 Pola Pikir Pelajar yang Perlu Diubah
Desy Damayanti | 2 hari yang lalu

Terima kasih kak, artikelnya sangat membantu, sukses selalu.

Materi UTBK SBMPTN 2021: Ada TPS dan TKA
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1