Pro-Kontra: Buku Cetak vs Buku Digital

Oleh Fatimah Ibtisam & Dian Ismarani

Beberapa waktu lalu, kami bertanya kepada dua sosok yang profesinya akrab banget dengan dunia literatur, yaitu book buyer toko buku Aksara, Efiya Nur Fadila (Efi) dan penulis yang juga mantan editor di perusahaan penerbit Gagas Media Group, Windy Ariestanty.

The big question is…

“Buku digital ‘kan sedang marak, dan banyak yang bilang hal ini akan mempengaruhi—bahkan menggusur—buku cetak. Menurut kamu gimana?”

Menurut Efi, buku cetak akan tetap bertahan. Ibaratnya kayak tangga dan lift. Walaupun ada lift atau eskalator, kita tetap membangun dan menggunakan tangga, ‘kan?

Efi juga menjabarkan kelebihan-kelebihan buku cetak yang menurutnya nggak bisa digantikan buku digital.

1.Kepemilikan

Nggak seperti buku digital, buku cetak bisa ditekuk, dipeluk, dikipas-kipas, dicoret-coret, dan sebagainya. “Buku versi print bisa ditulisi nama kamu serta tanggal pembeliannya, bisa kamu highlight, dan bisa kamu lipat halamannya. You can even shed tears on some pages!” ungkap Efi.

Secara nggak sadar, hal ini bikin bonding antara pembaca dengan buku cetak jadi lebih kuat dibandingkan dengan buku digital.

2. Romantisme

“Ada beberapa atribut buku cetak yang nggak tergantikan oleh buku digital. Misalnya, sensasi gerakan jari saat membalik kertas atau bahkan kombinasi bau kertas, lem dan sedikit debu yang nggak tau kenapa terasa menenangkan,” begitulah romantisnya buku cetak versi Efi.

3. Bisa dipajang

Kata Efi, “Saya nggak rela kalau punya buku tapi nggak bisa dipajang di meja di kantor atau di rak buku rumah.”

Setuju! Karena punya wujud nyata, buku cetak memang bisa dipajang, juga difoto dan di-posting di media sosial. Bagi saya yang hobi baca, pamer buku adalah pamer yang paling nggak nyebelin, hehehe. Saya pernah nggak bosan, tuh, kalau ada teman yang sering memamerkan koleksi bukunya di medsos. Lumayan, lho, jadi memperbanyak referensi buku saya!

youthmanual buku

youthmanual

Hasil penelitian lembaga survei keluarga di Amerika Serikat dengan sampel anak-anak usia 6-17 tahun. Sejauh ini, ternyata mereka (terutama anak-anak yang usianya lebih muda), lebih memilih buku cetak dibandingkan digital.

4. Akses tanpa gadget

Buku digital memang praktis dibawa ke mana-mana di dalam gadget. Tapi gimana kalau batere gadget-nya habis atau datanya hilang? Di saat-saat seperti itu, buku versi cetak lah yang jadi andalan.

“Mungkin akan hadir era di mana akhirnya manusia sudah begitu wired sehingga mereka nggak lagi merasa perlu bersentuhan dengan objek (seperti buku). I don’t know what I’m going to do if that happens, but I know I hope to never witness it,” curhat Efi.

­***

Sementara itu, jawaban Mbak Windy Ariestanty agak beda tapi serupa. Mbak Windy juga sependapat dengan Efi bahwa kehadiran buku digital nggak mengancam buku cetak, TAPI bukan berarti “kasta” buku digital jadi lebih rendah dari buku cetak. Bagi Mbak Windy, kehadiran buku digital bukan masalah banget!

Berikut jawabannya,

“[Kehadiran buku digital] Nggak mengancam, dong.

Menurut saya, isu tentang buku cetak vs buku digital nggak tepat duduk perkaranya. Baik online publishing maupun offline publishing nggak ada yang salah, kok. ‘Kan ini cuma masalah perbedaan cara menyajikan teks.

Industri buku ‘kan berada dalam industri kreatif. Dan di industri kreatif, kompetisi itu pasti ada. Nggak bisa dihindari. Jadi agak aneh jika kita berada di indutri kreatif tapi malah takut berkompetisi (maksudnya, kompetisi antara buku cetak vs buku digital -red).

youthmanual buku

Berdasarkan data angka penjualan yang dirangkum PricewaterhouseCooper, penjualan buku digital di Amerika Serikat diprediksikan akan menyalip buku cetak pada tahun 2017

Cara membaca manusia itu berkembang. Dulu kita membaca buku dari batu, trus dari lempengan, trus dari lontar. Sampai akhirnya bangsa Cina menemukan kertas dan jadilah buku. Kalau sekarang muncul pilihan membaca dari tablet, nggak salah ‘kan? Yang penting minat baca masyarakat terus tumbuh, sehingga membaca dalam format apapun nggak masalah. Kita baru harus ‘ribut’ kalau minat baca orang nggak didukung.

Intinya, aktifitas membaca masyarakat nggak berubah, kok, hanya cara membacanya menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan teknologi.”

***

Tentunya, masing-masing buku cetak dan buku digital punya kelebihan dan kekurangan, ya. Nah, kalau menurut kamu sendiri gimana?

(sumber gambar: www.fastcompany.net, www.scholastic.com, www.statistica.com)

LATEST COMMENT
Ktrsh Drmwn | 9 jam yang lalu

kak apakah anak jurusan bahasa bisa masuk dkv?..

Tanya Youthmanual: Q & A Bedah Jurusan Desain Komunikasi Visual
gantar rizky | 1 hari yang lalu

Halo kak, kira-kira kampus yang menerima anak IPA lintas jurusan lewat SNMPTN untuk ke DKV atau salah satu prodi di FSRD dimana ya? Terimakasih.

Lintas Jurusan pada SNMPTN, Bolehkah?
Aiska Twinta | 1 hari yang lalu

Apakah saat sma mengambil jurusan bahasa, apakah bisa masuk HI?

Jurusan 101: Tanya Apapun Tentang Jurusan Hubungan Internasional Di Sini!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1