Serba-Serbi Mengenai Perawat Indonesia

Di tengah maraknya wabah virus corona. Tahukah kamu? Kalau tanggal 17 Maret yang lalu diperingati sebagai Hari Perawat Nasional. Tanggal tersebut bertepatan dengan terbentuknya Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan profesional yang memiliki undang-undangnya sendiri, gaes. Artinya, profesi ini berbeda dengan tenaga kesehatan lainnya. Perawat lebih mengedepankan ilmu caring, sebuah keilmuan yang berdiri sendiri.

Well, profesi Perawat terbilang profesi yang cukup dekat dengan masyarakat, tapi rasanya banyak fakta mengenai Perawat di Indonesia yang belum banyak diketahui orang-orang. Nah, inilah fakta-fakta tersebut:

1. Sebutan resmi profesi perawat di Indonesia

Gaes, kamu kalau ke rumah sakit dan ketemu Perawat pasti panggilnya suster. Selain Perawat, kadang kalau ketemu Bidan juga kamu panggilnya suster. Iya nggak ?

Padahal, nih, ya, Perawat dan Bidan adalah profesi yang berbeda. Selain itu, nggak semua perawat berjenis kelamin perempuan. Trs, gimana, dong, sama nasib Perawat laki-laki? Apakah dia juga dipanggil dengan sebutan suster? Well, panggilan akrab untuk Perawat laki-laki adalah bruder. Pasti kamu juga nggak tahu hal ini bukan? Hihihi.

Bebicara mengenai panggilan Perawat. Ternyata ada sebutan tersendiri untuk perawat Indonesia. Ya, sebutannya adalah Ners. Sebutan ini ditujukan untuk perawat-perawat profesi—baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini telah diatur dalam UU Keperawatan.

Ners merupakan serapan dari kata bahasa Inggris yaitu nurse yang berarti perawat. Mudah untuk diingat bukan? Nah, mulai sekarang kalau mau memanggil perawat biasakan untuk memanggil Ners, ya.

2. Program studi Ilmu Keperawatan di Indonesia ada sejak tahun 1985

Siapa yang sangka bahwa ternyata program studi Ilmu Keperawatan di Indonesia sudah ada sejak 35 tahun yang lalu. Indonesia tentu nggak mau tertinggal dengan negara lain, pada tahun tersebut negara-negara lain telah memiliki banyak perguruan tinggi yang membuka program studi Keperawatan. Sementara, di Indonesia satu pun belum ada.

Fyi, perguruan tinggi pertama yang membuka program studi Ilmu Keperawatan adalah Universitas Indonesia (UI). Pada saat itu program studi Ilmu Keperawatan (PSIK) masih berada dalam naungan Fakultas Kedokteran UI. Menurut data yang saya kutip dari laman profil nursing.ui, pada tahun 1995, barulah Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI berdiri sebagai fakultas tersendiri yang menaungi PSIK.

Pendirian program studi Ilmu Keperawatan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan yang profesional. Sebab, semakin tinggi pendidikan semakin profesional pula pelayanan yang diberikan karena ilmu yang diperoleh akan semakin banyak dan pola pikir untuk pengembangan ilmunya pun semakin maju.

3. Jenjang pendidikan program studi Ilmu Keperawatan di Indonesia mulai dari SMK hingga S3

Salah satu keunikan profesi Perawat di Indonesia adalah memiliki jenjang pendidikan yang sangat variatif sekali. Mulai dari SMK, DIII, DIV, S1, Ners, S2, Spesialis, hingga S3.

As you know, untuk menjadi Perawat nggak cukup dengan menempuh pendidikan jenjang SMK, DIII, dan S1 saja. Artinya, kalau kamu mau jadi Perawat sebaiknya, kamu melanjutkan pendidikan hingga Ners atau yang disingkat menjadi Ns.

Dan untuk berkuliah di program studi Keperawatan, kamu nggak harus melewati SMK atau DIII dulu, kok, gaes. Sebab, jenjang S1 program studi Keperawatan bisa langsung menerima lulusan SMA. Tapi, kalau kamu berasal dari SMK atau DIII Keperawatan dan ingin melanjutkan pendidikan hingga tahap Ns. Kamu bisa memilih berbagai institusi karena hampir di setiap provinsi bahkan setiap kota memilki institusi pendidikan tinggi S1 dan Ners Ilmu Keperawatan.

Pendidikan jenjang S2 juga cukup banyak—senggaknya hampir di setiap pulau telah menyelenggarakan jenjang pendidikan yang satu ini. Di antaranya adalah Universitas Andalas di Sumatera Barat, Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Universitas Hasanuddin di Makassar, dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk Program Doktor Keperawatan atau S3 baru ada dua universitas yang menyelenggarakannya yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga.

4. Meskipun sudah lulus Ners, Perawat nggak bisa langsung bekerja

Sama seperti profesi Dokter. Setelah menempuh pendidikan S1, Perawat yang ingin bekerja di tataran klinis wajib untuk melanjutkan ke jenjang Profesi Ners. Tapi, setelah lulus Ners, Perawat ternyata juga nggak bisa langsung bekerja di rumah sakit atau membuka praktik mandiri. Kenapa demikian?

Perawat diwajibkan untuk mengikuti Uji Kompetensi (UKOM) Ners. UKOM Ners ini bertujuan untuk standarisasi kualitas ners seluruh Indonesia. Singkatnya, UKOM ini sifatnya mirip dengan ujian nasional saat SD hingga SMA. Mengingat begitu banyaknya institusi di program studi Keperawatan S1 dan Ners, apabila nggak ada UKOM ini dikhawatirkan kualitas perawat yang bekerja di tataran klinis nggak bisa dijamin kualitasnya.

***

Itulah serba-serbi mengenai profesi Perawat di Indonesia. Perawat selalu berada di garda terdepan dalam memberi pelayanan kesehatan. Bahkan, saat ini berpuluh-puluh hingga ratusan perawat sedang berjuang untuk merawat pasien yang terinfeksi virus corona. Mereka  membutuhkan dukungan dan doa yang tiada henti dari semua pihak. Semoga kekuatan dan keselamatan selalu membersamai para Perawat Indonesia dimanapun mereka berada. Selamat Hari Perawat Nasional dan semangat merawat Indonesia ya, Ners!

 

Baca juga:

 

(Sumber gambar: noozhawk.com, healthcaresupport.com, accessnursing.ie, saskatoon.ctvnews.ca)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1