SKS dan KRS Itu Apa, Sih?

Sebagai mahasiswa, ada banyak istilah yang harus kita ketahui dalam perkuliahan. Misalnya, semester pendek, SKS, IPK, dan sebagainya. Zaman saya baru mulai kuliah dulu, saya langsung jadi mahasiswa tanpa paham istilah-istilah tersebut sama sekali. Maklum, akses internet masih susah.

Beruntunglah sekarang Internet makin lancar (dan beruntunglah sekarang ada ada Youthmanual), sehingga kamu lebih gampang mencari tahu berbagai istilah perkuliahan.

Kali ini, Youthmanual akan menjelaskan dua dari sekian banyak istilah yang paling umum—SKS dan KRS.

SKS itu apa, sih?

SKS adalah singkatan dari Satuan Kredit Semester. SKS sendiri adalah satuan “bobot” studi di setiap mata kuliah. Setiap mata kuliah memiliki jumlah SKS yang berbeda-beda. Satu mata kuliah biasanya “berbobot” 2-3 SKS. Biasanya, mata kuliah umum wajib (misalnya, Agama, Kewarganeraan) dan mata kuliah dengan praktikum bernilai tiga SKS.

Namun ada juga mata kuliah yang penting atau berat, sehingga mempunyai bobot empat SKS. Bahkan bobot skripsi, tuh, 6 SKS, lho.

Prinsipnya, semakin besar angka SKS-nya, semakin susah atau berat beban mata kuliah tersebut.

Sebagai syarat lulus, mahasiswa di jenjang Sarjana (S-1) biasanya harus menyelesaikan 144 SKS selama delapan semester. Setiap perguruan tinggi punya ketentuan total SKS yang berbeda-beda, sih, namun untuk program S1, ketentuannya biasanya seperti itu.

Dengan jumlah tersebut, rata-rata mahasiswa S1 perlu mengambil 24 SKS setiap semester, kalau mau lulus dalam delapan semester atau empat tahun.

Total SKS yang dapat diambil mahasiswa ditentukan oleh prestasinya sepanjang semester. Misalnya, kalau IPK kamu pada semester 1 bagus, maka kamu bisa mengambil mata kuliah-mata kuliah dengan SKS tinggi pada semester 2 (maksimal 24 SKS). Artinya, kemungkinan kamu untuk lulus lebih cepat pun semakin besar. Sementara kalau IPK kamu nggak bagus, kamu nggak bisa mengambil mata kuliah sampai 24 SKS.

Untuk angka pastinya, cek ketentuan di jurusan kamu, ya.

Kalau mau ambil kurang dari 24 SKS dalam satu semester gimana? Ya boleh aja, tapi masa studi kamu juga akan jadi lebih lama.

KRS itu apa, sih?

KRS adalah singkatan dari Kartu Rencana Studi. KRS ini sebenarnya sebuah “lembaran” yang berisi daftar mata kuliah yang diikuti oleh setiap mahasiswa dalam satu semester. Di KRS, tercantum data-data mahasiswa, seperti nama dan nomor mahasiswa, angkatan, fakultas, jurusan, mata kuliah apa saja yang diambil dalam semester tersebut, serta jumlah SKSnya.

Pada setiap awal semester baru, mahasiswa wajib mengisi KRS dengan mata kuliah wajib serta mata kuliah pilihan yang akan diambil. Kalau kamu galau mau mengambil mata kuliah apa, kamu bisa berkonsultasi dengan dosen pembimbing dulu, kok.

Tapi galau dan bingungnya jangan kelamaan, ya, sob. Prinsipnya, jangan berlama-lama menunda mengisi dan men-submit KRS, karena kalau terlalu lama, bisa jadi kamu nggak kebagian tempat di kelas yang kamu inginkan, lantaran sudah penuh.

KRS juga merupakan bukti bahwa mahasiswa yang bersangkutan masih aktif berkuliah. Bahkan, kartu ini menjadi syarat untuk mengikuti ujian di akhir semester nanti.

Saat ini, setiap kampus punya istilah masing-masing dalam menyebut KRS. Misalnya, di Universitas Indonesia, KRS disebut sebagai SIAK (Sistem Akademik). Sekarang ini, kebanyakan kampus menggunakan KRS online. Jadi, setiap semester baru, pengisian KRS dilakukan secara online.

Meskipun tampak praktis, mengisi KRS secara online juga butuh perjuangan. Soalnya, setiap awal semester, ribuan mahasiswa “berebutan” mengakses KRS online fakultas masing-masing, dalam waktu yang hampir bersamaan. Nggak heran kalau laman KRS online jadi susah banget diakses.

Wajar, sih, kalau pada rebutan. Soalnya seperti yang sudah ditulis di atas, kalau kamu berlama-lama mengisi KRS, bisa jadi kamu nggak kebagian tempat di kelas yang kamu inginkan, lantaran sudah penuh.

Untuk menghindari sulit akses KRS online, usahakan kamu sudah siap-siap di depan laptop atau komputer sebelum akses KRS resmi dibuka di tiap awal semester. Pastikan juga kamu terhubung dengan koneksi internet yang stabil, dan—ini paling penting, nih—sudah menentukan mata kuliah atau kelas mana aja yang akan kamu ambil. At least, sudah punya gambaran besarnya, deh.

Jangka waktu pengisian KRS online di setiap kampus berbeda-beda, tetapi biasanya nggak lebih dari seminggu. Kalau mahasiswa merasa salah ambil mata kuliah atau kelas, biasanya kampus memberi kesempatan untuk memberbaiki KRS online setelah minggu pertama perkuliahan.

***

Sekarang sudah paham ‘kan, tentang SKS dan KRS? Jangan lupa, ketentuan detil SKS dan KRS bisa berbeda-beda di setiap kampus. Jangan lupa konfirmasikan dengan kampus kamu masing-masing, ya!

(sumber gambar: lumerit.com, fmipa.unj.ac.id, ftuh-gowa.blogspot.com)

LATEST COMMENT
Sya Zikra P | 13 jam yang lalu

Misalnya dari SMK jurusan seni dapat snmptn dan ambil jurusan saintek apakah pasti tidak akan diterima?

Lulus SMK, Kuliah di Prodi Sejalan atau Lintas Jurusan?
Rizkiyanto | 1 hari yang lalu

Open PP/Endrose Tiktok @rizkiyanto25 Folower 83,5k bayar seikhlasnya No tlpon/wa 082116945166

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Marsya Ayu Rofiah Heryani | 4 hari yang lalu

Nerima kok, alumni ku ada yang keterima di UI tapi sayang ga diambil karna ga bisa bayar

Peluang SMK Lulus SNMPTN, SBMPTN atau Ujian Mandiri. Serba-Serbi yang Harus Jadi Catatan Sebelum Berjuang Masuk Perguruan Tinggi Negeri
Sarifah watami Putri | 6 hari yang lalu

Kalau fisika medis itu bagaimana ya kak? Apa ada jurusan yang cocok untuk yang suka biologi dan fisika?

25 Pilihan Jurusan Kuliah Terbaik Untuk Anak IPA
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1