Apa Serunya, Sih, Jadi Mahasiswa Rantau Di Luar Negeri? Simak Pengalaman Saya Berkuliah di Tiongkok!

Oleh Jane Reggievia Santoso

Setiap tahun, jumlah mahasiswa asing yang berangkat kuliah ke Tiongkok semakin banyak, termasuk mahasiswa dari Indonesia. Mungkin kamu juga berencana kuliah ke negeri bambu ini?

Saya sendiri adalah alumnus Jinan University, Guangzhou, yang lulus tahun 2013 lalu. Saya lulus dari jurusan Chinese Education, yang kurang lebih seperti Sastra Mandarin kalau di Indonesia, namun lebih fokus ke pendidikan bahasa Mandarin.

Banyak banget, lho, hal dan pengalaman seru yang saya alami selama kuliah di luar negeri

Berikut adalah sembilan hal yang bisa kamu pelajari dan lakukan, ketika kamu menjadi mahasiswa perantauan di luar, khususnya di Tiongkok!

1. Belajar mandiri

Poin ini nggak ekslusif untuk pelajar rantau ke Tiongkok, ya. Soalnya, bagi semua mahasiswa rantau di seluruh dunia, mandiri itu wajib!

Kemandirian bisa kamu praktekkan dengan kegiatan-kegiatan simpel, seperti bebenah kamar atau cuci baju sendiri, tanpa bantuan Mbak atau orangtua.

Sebelum merantau ke Tiongkok, saya jarang banget cuci baju sendiri di rumah. Tapi sewaktu kuliah di Tiongkok, saya harus cuci semua baju saya sendiri. Akhirnya saya jadi paham hal-hal sepele seperti baju putih itu nggak boleh disatukan dengan baju berwarna. Soalnya kemeja putih saya pernah sukses jadi ombre karena dicampur dengan baju berwarna lainnya, hiks!

Merantau juga membuat kamu jadi lebih mandiri dalam mengelola keuangan. Dulu, waktu masih SMA, saya diberi uang jajan per minggu. Nominalnya nggak seberapa, yang penting cukup buat beli satu-dua mangkok mie ayam di kantin kalau lagi nggak bawa bekal.

Beda banget saat saya kuliah di Tiongkok. Saya harus pegang uang dalam nominal yang besar, dan membaginya ke pos-pos tertentu. Misalnya, untuk belanja bulanan (belajar jadi IRT sejak dini, nih, hihihi), bayar pulsa hape, bayar tagihan listrik dan air, bayar tagihan internet, dll. Awalnya memang ribet, tapi lama-lama pasti terbiasa dan, tanpa sadar, kamu pun jadi belajar hidup hemat.

2. Bisa mengasah kemampuan berbahasa asing

Kalau tinggal di Tiongkok, mampu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin itu wajib. Beda dengan tinggal di Singapura atau Malaysia—yang juga punya banyak warga keturunan Tiongkok—karena di sana masyarakatnya masih bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris

Kasarnya, orang-orang Tiongkok nggak kenal bahasa lain kecuali bahasa mereka sendiri. Mulai dari pesan makanan di restoran, belanja di supermarket, sampai mengurus keperluan di bank, semuanya harus dilakukan dalam bahasa Mandarin.

Bahasa Mandarin memang agak sulit untuk dipelajari, but that’s why you went to China, right? Banyak teman saya yang tadinya nggak bisa bahasa Mandarin sama sekali, akhirnya menjadi fasih setelah kuliah di Tiongkok.

Selain belajar di kelas, terjun ke lapangan langsung untuk melatih bahasa Mandarin kamu juga penting banget, lho. Teman-teman kuliah saya dulu datang dari berbagai negara. Mau nggak mau, kami ngobrol dalam bahasa Mandarin. Nggak mungkin 'kan pakai bahasa planet?

Awalnya memang kami nggak terbiasa, tetapi karena sering latihan, lama-lama jadi bisa. Lagipula zaman sekarang bahasa Mandarin itu sama pentingnya dengan bahasa Inggris. Kalau kamu bisa berbahasa Mandarin dengan baik, kamu jadi punya nilai plus untuk melamar kerja nanti, lho!

Teman satu kelas dan satu angkatan yang datang dari berbagai negara

FYI, untuk menguji kemampuan bahasa Mandarin kamu, ada sebuah tes sejenis TOEFL/IELTS bernama HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi), yang artinya adalah Chinese Standard Exam.

Sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan bahasa Mandarin tertentu di Indonesia punya program HSK ini. Kalau kamu berminat, silahkan kunjungi situs ini atau Google langsung untuk informasi lainnya, ya!

3. Bisa sering ikut kegiatan di luar kampus yang seru-seru

Biasanya, kalau kamu kuliah di luar negeri, ada banyak aktifitas luar kampus yang seru untuk kamu ikuti.

Tahun 2010, Asian Games diadakan di kota Guang Zhou. Acara besar berskala internasional tersebut membutuhkan BANYAK banget sukarelawan untuk membantu kelancaran acara.

Nah, pihak acara kemudian bagi-bagi “jatah” kuota sukarelawan mahasiswa ke semua kampus. Mahasiswa asing juga boleh ikutan, lho. Malah justru mahasiswa asing yang paling dibutuhkan, karena peserta dan atlet Asian Games 'kan datang dari berbagai negara, sehingga kasarnya, kita jadi “perwakilan” negara masing-masing. Kece, yah!

Yang paling menyenangkan, pihak kampus saya memberikan tambahan SKS “cuma-cuma” bagi para mahasiswa yang berpartisipasi dalam event Asian Games ini. Jumlah SKS yang diberikan besar, lho. Lumayan, lah, buat saya yang semester itu nilainya kebetulan nggak begitu bagus #jujur.

Saya mendapat banyak pengalaman seru saat berpartisipasi di Asian Games 2010. Bahkan waktu itu saya sempat bertemu dan foto bareng Bapak Agum Gumelar, yang kebetulan datang.

Jadi kalau ada acara atau kegiatan di luar kampus yang menarik, coba berpartisipasi, deh! Asalkan nggak menganggu perkuliahan kamu, ya.

Bersama tim media di Asian Para Games 2010

4. Bergabung dalam komunitas/organisasi, baik di dalam atau di luar kampus

Seperti di universitas Indonesia pada umumnya, universitas di luar negeri juga punya banyak komunitas yang menarik. Kampus saya dulu punya organisasi seperti OSIS, serta organisasi perkumpulan mahasiswa Indonesia.

Saya sendiri bergabung dalam komunitas dalam sebuah gereja, dan saya belajar dan bertumbuh banyak di sana.

Penting, lho, menemukan komunitas yang cocok dengan diri kita. Anak rantau seringkali merasa kesepian. Daripada akhirnya melakukan hal-hal aneh, lebih baik bergabung dalam komunitas yang baik. Kamu pun jadi bisa saling sharing dengan teman-teman yang punya satu minat.

Trus, tentunya, gabung dengan komunitas akan melatih skill berorganisasi serta mengasah passion kamu. Percaya, deh, gabung dalam komunitas bisa menjadi salah satu momen terbaik kamu saat kuliah di luar negeri!

Acara international culture di kampus. Yang di tengah itu teman sekamar saya yang berasal dari Thailand

Bersama komunitas gereja saya di Guang Zhou

5. Belajar melawan homesick

Nah, ini dia drama standar yang sering harus dihadapi para mahasiswa rantau. Mahasiswa rantau dalam negeri aja bisa kangen rumah ampun-ampunan, apalagi yang ke luar negeri!

Saya sendiri berjuang melawan homesick selama tiga bulan pertama merantau. Apalagi sebelumnya, saya nggak pernah “meninggalkan rumah” sejauh dan selama waktu itu.

Sebulan pertama adalah masa yang paling berat. Hampir setiap hari, sebelum berangkat kuliah, saya nangis di kamar mandi. Drama banget, deh, pokoknya. Kalau dingat-ingat lagi, malu banget!

Bagi saya, cara mengatasi homesick yang paling ampuh adalah dengan menyibukkan diri. Saya ikut banyak kegiatan, jalan-jalan ke tempat baru, makan enak bareng teman, dan sebagainya. Cara tersebut manjur buat saya, supaya nggak homesick terus-terusan. Kalau kangen, saya chatting via MSN/YM—dulu masih hits, tuh!—dengan keluarga. Kadang-kadang Skype-an juga.

Intinya, jangan terlalu larut dengan perasaan homesick. Kangen itu pasti, tapi kita tetap harus aktif dan produktif dalam menjalani kegiatan sehari-hari.  

6. Rajin masuk kelas dan mencatat materi

Mungkin ada kalanya kamu pengeeen banget bolos kuliah. Apalagi saat musim dingin tiba. Hasrat pengen bolosnya semakin besar! Rasanya mager banget, dan pengennya selimutan aja di kamar.

Jujur *ehem* saya pun pernah bolos kuliah sekali dua kali. Tapi kalau nggak ada kepentingan yang terpaksa atau mendesak, saya tetap masuk kelas. Alasannya, pertama, ortu sudah biayain saya kuliah jauh-jauh. Saya nggak mau menyia-nyiakan itu! Kedua, karena saat kuliah di Tiongkok, mengejar ketinggalan materi kuliah, tuh, susah banget! Apalagi bahasa pengantar kuliah saya bahasa Mandarin, yang membutuhkan konsentrasi ekstra.

Saat di kelas pun, saya harus banget mencatat apa yang diterangkan oleh dosen saat itu. Walaupun biasanya dosen akan memberi materi dalam bentuk PowerPoint, namun poin-poin penting yang dijelaskan tetap harus saya catat.

Malas atau mager masuk kelas itu wajar. Kalau lagi mager, sediakan kopi untuk menemani kamu belajar di kelas. Kalau mahasiswa lokal, sih, lebih suka bawa tumbler berisi chinese tea.

Intinya, kalau nggak kepepet banget, tetap rajin masuk kelas, ya. Kalau keseringan bolos, ruginya di kita juga lho, sob!

7. Traveling ke kota lain

Selama empat tahun kuliah di Tiongkok, sebenarnya saya punya banyak kesempatan untuk travelling menjelajahi kota-kota di negara penuh sejarah dan budaya ini. Sayangnya, setiap liburan semester, saya memilih untuk pulang ke Indonesia (anaknya gampang kangen rumah, nih!).

Namun saya tetap menyarankan kamu yang kuliah di luar negeri untuk traveling ke kota-kota lain di negara rantauan kamu kalau lagi libur. Apalagi kalau kota-kotanya bisa ditempuh dengan kereta cepat, sehingga kamu nggak perlu beli tiket pesawat.

Selama kuliah di Tiongkok, saya baru pernah ke beberapa kota yang masih satu provinsi dengan Guang Zhou, Guangdong, salah satunya kota Shenzhen. Saya juga pernah ke Macau, Hong Kong, dan paling jauh ke Beijing. Sebelum kuliah, saya juga pernah pergi ke Changsha, di provinsi Hunan, mengunjungi “tempat tinggal” Avatar, yaitu Zhang Jia Jie.

Nah, buat kamu yang budget-nya terbatas tapi tetap ingin punya pengalaman yang berkualitas, Tiongkok punya sebuah event bernama Root-Seeking Summer/Winter Camp alias China Winter / Summer Camp

Pada dasarnya, event ini merupakan acara camp bagi para pelajar asing, di salah satu kota di Tiongkok. Event ini digelar setahun dua kali, saat musim panas (summer camp) dan musim dingin (winter camp).

Mahasiswa asing di beberapa kampus biasanya diberi jatah kuota untuk ikutan. Biasanya, mereka akan dinilai dari nilai IPK per semesternya. Kalau terpilih, kamu cukup membayar biaya pesawat PP, sementara pemerintah Tiongkok akan menanggung semua biaya lainnya, mulai dari hotel berbintang, makan sehari tiga kali sehari (makanannya enak-enak, lho!), tiket masuk tempat-tempat wisata, dan biaya kegiatan lainnya.

Selain jalan-jalan, kamu juga bakal belajar tentang seni kebudayaan Tiongkok seperti Wushu, kaligrafi, dan sebagainya. Oke banget, kan?

Tujuan camp ini adalah mengenalkan sejarah dan budaya setempat ke para mahasiswa asing. Kamu juga jadi bisa menjalin networking dan punya teman-teman baru dari berbagai negara. Seru banget, kan?

Saya ke Changsha dan Beijing pun berkat event ini.

Bagi pelajar yang tinggal di Indonesia, tetap bisa ikutan, lho! Coba kunjungi situs ini, atau tanya langsung ke beberapa lembaga pendidikan bahasa Mandarin di kota kamu, karena biasanya mereka juga mendapat jatah kuota.

So, kapan nih, Indonesia juga punya event kece seperti ini?

China Winter Camp 2007, Zhang Jia Jie, Hunan

8. Menjadi lebih nasionalis

Terkadang emang harus jauh dulu baru kangen, kan?

Kuliah di negeri orang tanpa sadar bikin kita jadi lebih nasionalis. Selama kuliah, saya dan teman-teman dari Indonesia lainnya suka berbagi cerita tentang tanah air ke teman-teman dari negara lainnya. Nggak sedikit dari mereka yang kagum, karena menganggap Indonesia itu negara yang kaya budaya dan punya banyak holiday destination—yang pastinya bukan Bali aja, ya—yang patut untuk dikunjungi. Saat bercerita soal Indonesia, saya pun merasa bangga.

Momen lain yang bikin kita jadi lebih nasionalis adalah saat mengikuti upacara bendera memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Saya, sih, nggak pernah ikutan, karena tanggal 17 Agustus selalu bertepatan dengan hari libur semester, jadi saya pulang ke Indonesia.

Teman-teman yang pernah mengikuti upacara, bahkan menjadi petugas upacara pun bilang, upacara di negeri orang rasanya lain! Saat mengumandangkan lagu Indonesia Raya, rasanya terharu. 

9. Menikmati masa-masa menjadi mahasiswa

Dulu saya kira, masa sekolah adalah masa yang paling enak. Ternyata masa-masa menjadi mahasiswa juga nggak kalah enaknya, lho, termasuk  jadi mahasiswa rantau. .

Mulai dari menambah teman dari berbagai belahan dunia, belajar hal-hal baru, nyobain kuliner mancanegara, jalan-jalan ke tempat baru, punya gebetan kece dari negara lain *ehem*, semuanya bakal jadi momen yang nggak terlupakan.

Momen yang “kurang enak” pun juga bakal mewarnai masa-masa kamu menjadi mahasiswa. Skripsi yang harus kelar (skripsinya pakai bahasa Mandarin pula, mantap!), dosen yang ngeselin, deadline tugas, dan sebagainya. Walaupun kurang menyenangkan, tapi pasti tetap tak terlupakan 'kan?

So, silakan menikmati masa-masa kamu menjadi mahasiswa (rantau di luar negeri), ya! It’s a privilage!

(sumber gambar: qz.com, dokumentasi pribadi)

LATEST COMMENT
Fatimah Ibtisam | 18 jam yang lalu

Hai Muhammad Hafidz, yang bisa mendaftar adalah lulusan jurusan IPA dan SMK dengan kejuruan yang sejalan. Untuk mengetahui dengan pasti, kamu bisa menanyakan pada BINUS UNIVERSITY.

Bedah Faculty of Engineering BINUS UNVERSITY
ALEX ALZAM, S.Kom, M.Kom | 1 hari yang lalu

- Universitas Amikom Yogyakarta - Universitas Gadjah mada - UPN VETERAN - UII

Serba-Serbi Jurusan Cyber Security: Dari Mata Kuliah Hingga Prospek Karier
Navi | 2 hari yang lalu

Halo kak, kalau anak IPA lintas jurusan ke sastra inggris atau ilmu komunikasi nilai yang dilihat yg mana aja ya? Soalnya saya ga punya nilai sosiologi, ekonomi, dan geografi. Terima kasih.

Lintas Jurusan pada SNMPTN, Bolehkah?
Muhammad Hafidz | 2 hari yang lalu

Jadi lulusan Multimedia seperti saya ga bisa daftar jurusan Computer Engineering?

Bedah Faculty of Engineering BINUS UNVERSITY
Elza Aulia | 5 hari yang lalu

Semoga ya Allah saya menjadi pilot dan bisa membanggakan orang tua saya aminnnn

Bagaimana Cara Menjadi Seorang Pilot? Begini Tahapan Lengkapnya!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1