5 Ciri-Ciri Kalau Kamu Seorang Pemikir yang Berlebihan

"Aduh, semalem aku nggak bisa tidur gara-gara ujian kemarin aku nggak bisa ngerjain", "deg-degan deh, besok aku ada tes. Malem ini pasti aku nggak bisa tidur", "eh, tadi aku salah ya ngomong gitu ke si A? A bakalan sakit hati nggak, ya? Haduh, jadi kepikiran si A", "Eh, aku kepikiran jawabanku yang salah di soal nomer satu deh, kalau jawaban aku banyak yang salah gimana, ya? Jangan-jangan nanti aku remedial lagi gara-gara nilaiku ngak bagus".

Hmm... Hayo siapa disini yang suka berpikir terlalu jauh? Well, berpikir jauh ke depan seperti merencanakan ini dan itu di kehidupanmu, memang bagus, gaes. Dengan berpikir tentang masa depan dan memberikan solusi atau rencana untuk amsa depanmu, itu namanya visioner. Akan tetapi, yang saya maksud disini bukanlah berpikir jauh ke depan, ya, gaes, melainkan kamu memikirkan hal-hal yang belum terjadi terjadi secara jauh dan berlebihan.

Bukannya membuat rencana ke depan, yang ada kamu malah menumbuhkan rasa insecure atau rasa cemas terhadap sesuatu yang padahal belum tentu terjadi. Nah, biasanya, nih, kegiatan ini disebut sebagai "overthinking" dan pelakunya pun disebut sebagai "overthinker" alias pemikir yang berlebihan.

Overthinking ini bisa dialami oleh semua orang tanpa memandang umur, lho. Nah, loh, jangan-jangan kamu pun seorang overthinker, lagi? Hmm... Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, cari tahu dulu, yuk, ciri-ciri dari seseorang yang overthinker.

1. Banyak berpikir daripada bertindak

terlalu banyak berpikir

"Haduh... Kalau aku bikin kayak gini salah nggak, ya?" , "kalau aku bertindak kayak gini, salah, nggak, ya?", "kalau aku ngomong gini, ada yang tersinggung, nggak, ya?" dan masih banyak lagi kalau aku begini kalau aku begitu  lainnya alias terlalu banyak berpikir.

Nah, kalau kamu adalah seorang overthinker, pasti kamu akan merasa relate dengan contoh di atas. Dalam melakukan sesuatu, pasti kamu butuh berpikir yang lama untuk merealisasikannya. Bahkan, terkadang kamu membutuhkan pendapat orang lain untuk merealisasikan apa yang ingin kamu lakukan. Well, di beberapa saat, pendapat orang lain memang dibutuhkan, gaes, akan tetapi kalau kamu setiap saat meminta pendapat orang lain atas apa yang ingin kamu lakukan, bukannya nggak praktis, ya, gaes?

Dengan kamu sering meminta pendapat kepada orang lain atas apa yang ingin kamu lakukan, yang ada kamu semakin nggak pasti dengan apa yang ingin kamu lakukan. Kenapa seperti itu? Karena setiap orang pastinya memiliki pandangannya masing-masing. Lagi pula, kalau kamu sering meminta pendapat orang lain, saya yakin, orang tersebut akan merasa risih. Pekerjaanmu pun menjadi lama terselesaikan.

Daripada kamu merasa takut salah, takut pekerjaanmu nggak sesuai ekspektasi orang banyaka atau dirimu sendiri, menurut saya, lakukan semuanya sebaik mungkin dan semampumu. Kalau pun kamu melakukan kesalahan, jangan takut, gaes, dari kesalahan itu kamu kan bisa belajar.

2. Banyak bertanya

"Eh, kalau ngerjain ini tuh, bener, kan, harus begini?", "eh, bener, kan, aku harus ke akademik dulu kalau mau sidang? Bener kan?", "eh, gue mau make sure nih, tugas bahasa Inggris gue udah bener, kan?"

Hmm... Banyak bertanya untuk meminimalisir kesalahan itu memang bagus, gaes. Dengan cara tersebut, kamu pastinya akan menemukan sedikit kesalahan dalam pekerjaanmu. Akan tetapi, kalau kamu keseringan bertanya dan nggak belajar dari yang sudah-sudah, yang ada, orang yang kamu tanyai akan merasa jenuh, dong. gaes. Nggak mau, kan, gaes, dikeselin sama orang-orang terdekatmu?

Maka dari itu, gaes, kurangi bertanya-tanya suatu hal hanya untuk memastikan hal yang kamu overthinking-kan salah, ya, gaes. Bertanyalah jika kamu memang merasa kamu sudah mentok dengan apa yang kamu kerjakan. Kalau kamu keseringan bertanya tentang apa yang sedang kamu kerjakan, selain orang lain akan merasa jenuh dan risih, kamu pun malah jadi terbiasa nggak percaya diri atas apa yang kamu kerjakan, lho. Wah-wah, jangan sampai, ya, gaes!

3. Merasa takut dan cemas berlebih

terlalu cemas dan khawatir

"Haduh, aku takut, deh, nilai aku jelek", "haduh, aku takut deh, nggak keterima SBMPTN", "kalau aku nggak keterima SBMPTN, terus aku kuliah dimana nanti?", "haduh, besok presentasi, takut nggak bisa presentasi dengan baik".

Hmm... Biasanya, nih, gaes, kalau kamu adalah seorang overthinker, kamu terbiasa mencemaskan sesuatu dengan berlebihan. Pada akhirnya, kamu pun menjadi merasa takut ini dan takut itu. Padahal, nih, gaes, apa yang kamu cemaskan dan takutkan itu belum tentu terjadi, lho. Nah, percuma, kan, kamu overthinking hal yang padahal belum benar-benar terjadi?

Daripada kamu mencemaskan sesuatu atau merasa takut, ada baiknya kamu menyiapkan suatu hal sebaik mungkin sehingga nggak timbul rasa takut salah dan sebagainya. Kalau kamu sudah melakukan suatu hal tapi kamu mencemaskan sesutu, kamu perlu banget untuk menanam pikiran bahwa hal tersebut sudah berlalu dan nggak akan berubah dengan cara kamu memikirkannya secara berlebihan. Serius, deh, gaes, overthinking nggak akan menyelesaikan atau mengubahan suatu hal, lho.

4. Selalu mengecek pekerjaanmu berkali-kali

Mengecek pekerjaanmu sebelum dikumpulkan memang bagus banget, gaes. Tetapi, istilah memeriksa itu adanya "double check" bukan triple check, kuartet check dan seterusnya. Maka dari itu, untuk memastikan bahwa kamu nggak melakukan kesalahan, kamu harus mengecek pekerjaanmu dengan teliti. Kalau kamu mengecek pekerjaanmu tiga hingga empat kali, masih oke, lah. Tetapi, kalau kamu sudah mengeceknya berkali-kali, yang ada, waktumu habis hanya untuk memeriksa pekerjaanmu saja, lagi.

5. Terlalu memikirkan pendapat orang lain

Nah, yang paling sering dilakukan oleh para overthinker adalah selalu memikirkan pendapat orang lain. Memang, biasanya para overthinker ini selalu menghargai perasaan orang lain, suka membuat orang lain senang dan sebagainya. Maka dari itu, untuk memenuhi semuanya, para overthinker ini selalu mendengarkan pendapat dari orang lain.

Bayangkan, gaes, kamu mau melakukan sesuatu, tetapi kamu selalu meminta pendapat dari orang lain. Yang ada, kamu malah pusing, lho, mendengarkan pendapat orang lain yang berbeda-beda dan bahkan ada beberapa pendapat yang sangat berbeda dengan pendapatmu sendiri. Ayuk, jangan batasi dirimu untuk melakukan suatu hal atau mengerjakan suatu hal karena kebingungan dengan pendapat dari orang lain yang berbeda-beda.

***

Hmm... Memikirkan masa depan dan overthinking itu beda banget, kan, gaes? Kalau kamu overthinking, yang ada kamu akan merasa selalu salah, merasa selalu takut dan cemas, nggak percaya diri, stress bahkan hingga depresi. Nggak mau banget, kan, kayak gitu?

Maka dari itu, kalau kamu merasa ciri-ciri di atas cocok banget sama kamu, mulai dari sekarang, yuk, deh, kurang-kurangi berpikir secara berlebihan, ya!

Baca juga:

(Sumber gambar: marketingland.com, inc.com, hackspirit.com)

LATEST COMMENT
Fransiska Oktaviani | 3 hari yang lalu

open pp/endorse ig/tiktok bisa bayar seikhlasnya email ke [email protected] terimakasih

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Nindi Dwi Oktova | 3 hari yang lalu

Permisi aku mau nanya kalau murid pindahan jurusan ipa dari sekolah asal ke sekolah baru tapi berbeda pada mata pelajaran minat apakah bisa mengikuti SNMPTN? Ex:matpel minat sekolah asal ekonomi dan b.Inggris minat tapi di sekolah pindahan tidak ada matpel ekonomi dan pindah nya pada saat semester 2…

Tanya-Jawab Seputar SNMPTN 2021: Kriteria Penilaian dan Lainnya
Nanda Kyala | 5 hari yang lalu

Kak, jadi anak ipa bisa pilih utbk soshum atau campuran?

Lintas Jurusan di SBMPTN 2021 dan Peluangnya
Lemon meringue | 5 hari yang lalu

Berapa jam kita belajar di kelas hukum ka? Penasaran

5 Hal yang Harus Kamu Tahu Sebelum Siap Menjadi Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1