Mau Kuliah di Jerman? Ini 9 Hal yang Harus Kamu Ketahui

Yap, bener banget! Orang yang bisa kuliah di luar negeri memang terlihat memiliki prestige yang lebih dibandingkan dengan orang yang kuliahnya di dalam negeri. Apalagi kalau orang tersebut bisa kuliah di negara-negara Eropa yang maju seperti Belanda, Perancis, Jerman, dan lain sebagainya.

Eyang Habibie, misalnya. Dia adalah salah satu anak bangsa yang sangat sukses menuntut ilmu di negaranya Angela Merkel a.k.a Negara Jerman. Bahkan, sampai hari ini saja, beliau masih menjadi kiblat anak-anak bangsa yang ingin mengikuti jejak kesuksesannya.

Tapi, kenyataannya, kuliah di Jerman itu nggak seindah kesuksesan eyang Habibie yang sudah banyak diketahui oleh banyak orang. Di belakangnya ada banyak sekali fakta yang jarang diketahui calon mahasiswa yang ingin kuliah di Jerman.

Nah, buat kamu yang tertarik kuliah di Jerman. Yuk, simak 9 fakta kuliah di Jerman yang harus kamu ketahui (sebagai persiapanmu kuliah di Jerman) di bawah berikut ini.

1. Kuliahnya nggak gratis

Kalau kamu ada niatan buat kuliah di luar negeri. Kamu pasti sering banget, deh, mendengar rumor kalau kuliah di Jerman itu gratis. Faktanya itu nggak benar, gaes. Nggak semua negara bagian di Jerman menggratiskan uang kuliah—khususnya untuk mahasiswa asing dari negara-negara Asia.

Contohnya  saja, di negara bagian Baden-Württemberg. Terhitung sejak tahun 2019 kemarin, pemerintah di sana sudah mulai memberlakukan pembayaran uang semester sebesar minimal 1000 euro untuk mahasiswa asing. Hal ini disebabkan semakin banyaknya mahasiswa asing yang berdatangan menuntut ilmu ke Jerman.

Sementara bagi masyarakat Jerman sendiri nggak mudah juga buat sampai ke jenjang universitas, bahkan nggak semua masyarakatnya bisa mengenyam pendidikan di universitas. Sebab, cuma orang-orang yang memiliki nilai yang bagus saja yang diperbolehkan ke universitas.

2. Mahasiswa cuma bayar setengah harga

Poin selanjutnya ini mungkin sangat membahagiakan buat kamu yang sukanya diskonan. Yap! Siapa saja yang kuliah di Jerman—entah itu warga lokal ataupun dari luar Jerman, pasti akan mendapatkan banyak kemudahan dengan kartu mahasiswanya. Mahasiswa selalu diberikan setengah harga atau lebih murah dari harga normal.

Contohnya untuk biaya hidup, makan, akomodasi, masuk ke tempat-tempat wisata berbayar, dan biaya tempat tinggal. Nggak cuma itu, mereka bisa gratis menggunakan fasilitas transportasi publik yang begitu bagus selama studinya serta mendapatkan biaya asuransi kesehatan yang fasilitasnya amat sangat bagus. Wah, enak banget, ya!

3. Tugas harian nggak akan mempengaruhi nilai akhir

Kalau dosen-dosen di Indonesia pada umumnya menjadikan tugas harian sebagai penolong perbaikan nilai di penghujung semester bagi mahasiswanya. Nggak demikian dengan perkuliahan di Jerman, gaes.

Nilai akhir semester (kalau di Indonesia dikenal dengan nama IPK) ditentukan sama hasil ujian semestermu saja dan nggak ada hubungannya dengan tugas harian. Dalam perkuliahan di Jerman, tugas harian sendiri cuma untuk memantapkan ilmu yang diserap pada hari itu.

Eitss! Tapi, bukan berarti kamu juga bisa seenaknya melewatkan tugas harian, ya. Soalnya, mengerjakan tugas harian itu bisa sangat membantu kamu untuk memproses ilmu yang kamu dapatkan dan sebagai persiapan diri sebelum ujian akhir semester datang.

Ingat! Kalau kamu bersikap seenaknya, kamu sendiri yang akan rugi karena kuliah di Jerman itu benar-benar nggak gampang.

4. Kehadiran nggak dipentingkan

Dalam dunia perkuliahan di Indonesia, tingkat kehadiran mahasiswa sangatlah penting dan bisa mempengaruhi nilai. Nggak perduli mau sepintar apa pun kamu, kalau kamu nggak pernah hadir dalam perkuliahan, maka nilaimu pasti ada minusnya. Dosen-dosen pun akan men-judge jelek terhadapmu. Bener nggak? Hihihi.

Nah, dalam perkuliahan di Jerman, kehadiranmu nggak terlalu diperhitungkan untuk menentukan nilai. Yang penting adalah kamu mampu menjawab soal  saat ujian berlangsung. Dosen juga nggak akan menilaimu buruk hanya karena kamu nggak pernah hadir di mata kuliahnya.

5. Cuma ada satu kali ujian

Sejak di bangu sekolah, kita pasti sudah terbiasa dengan istilah remedial. Hal itu juga terus berlanjut sampai kita berada di universitas.

Tapi, jangan berharap ada remedial kalau kamu tertarik buat kuliah di Jerman. Nggak lulus ujian artinya kamu harus mengulangi lagi pelajaran tersebut selama satu semester. Dosen-dosen disana nggak mengenal nilai kasihan apalagi nilai remedial.

6. Kamu punya 2 kali kesempatan mengulang

Di poin sebelumnya, saya sudah menyebutkan, ‘kan, bahwa nggak ada yang namanya remedial dalam perkuliahan di negara Jerman. Nah, itu artinya kamu harus mengulang pelajaran tersebut, bukan mengulang ujiannya, gaes.

Untuk mengulangi mata kuliah yang nggak lulus itu, kamu cuma punya 2 kali kesempatan mengulang. Kalau kamu nggak lulus juga, artinya perkuliahanmu GAGAL SELAMANYA (wow serem amat, ya!).

Tapi, tenang! Kamu masih bisa lanjut kuliah, kok. Caranya dengan mengambil jurusan kuliah yang berebeda dari yang kamu ambil atau mengulang jurusan tersebut dari awal lagi.

7. Nggak ada SP alias semester pendek

Kamu pasti tahu, ‘kan, semester pendek umum dilakukan di beberapa universitas di Indonesia. Tujan dari semester pendek ini adalah untuk memperbaiki nilai ataupun mempercepat masa kuliah agar si mahasiswa bisa cepat lulus.

Tapi, di Jerman, nggak ada istilah semester pendek. Semuanya harus berjalan pada rotasinya. Saatnya perkuliahan libur, dosen-dosen juga memilih berlibur. Mereka nggak mau memperpendek masa kuliah dari yang semestinya ataupun memberikan kesempatan mengulang bagi mahasiswa yang nggak lulus di semester sebelumnya.

As you know saja, nih, gaes. Kalau biasanya di Indonesia, beberapa orang masih kerja di saat weekend atau tanggal merah. Berbanding terbalik dengan di Jerman. Orang-orang di sana akan memanfaatkan hari libur mereka untuk liburan ke luar kota karena mereka sadar bahwa kerja dan liburan harus seimbang. Maka dari itu, saat perkuliahan libur, dosen-dosen juga lebih memilih libur ketimbang mengadakan semester pendek dan bertemu mahasiswanya

8. Nggak ada istilah "kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah"

Mahasiswa-mahasiswa di Indonesia tentunya sudah hafal dengan istilah "kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah". Terkhusus saat mereka ingin menemui dosen untuk bimbingan skripsi atau meminta tanda tangan di lembar penyusunan skripsi—bisa dari pagi ke pagi lagi, untuk sekedar minta tanda tangan satu dosen saja.

Well, kabar baiknya, hal tersebut nggak berlaku di Jerman. Para dosen di sana sangat bersikap kooperatif dan nggak arogan. Mahasiswa bisa membuat janji sesuai dengan waktu yang telah disepakati dan dosen pun akan datang di waktu tersebut tanpa polah yang aneh-aneh, seperti ada rapat mendadak, ada jadwal ngajar lain, dan lain sebagainya.

Tapi, yang harus kamu ingat baik-baik adalah jangan sampai kamu telat datang atau dosenmu yang datang duluan, ya, karena orang Jerman itu sangat tepat waktu dan nggak suka menyia-nyiakan waktunya yang berharga.

9. Nggak ada acara wisuda

Di Indonesia, banyak mahasiswa jungkir balik sampai kurus kering dan depresi saat menyelesaikan skripsi. Maka, sangatlah wajar, saat merekan lulus dari universitas dirayakan dengan besar-besaran seperti yang sering kamu lihat.

Tapi, nggak demikian dengan universitas-universitas yang ada di Jerman. Entah karena faktor nggak mau repot atau faktor lainnya, di Jerman nggak ada yang namanya wisuda dengaan menggunakan toga. Apalagi sampai bawa rombongan satu kampung untuk menghadiri acara wisuda. Hehehe.

Dengan kata lain, mahasiswa yang sudah lulus sidang cuma akan mendapatkan ijazahnya beberapa minggu berikutnya, tanpa ada euforia melempar topi toga atau diarak keliling kampus sama kakak tingkat/adek kelas.

***

Well, kuliah di kuliah negeri (entah itu negara Jerman atau yang lainnya) memang nggak mudah, gaes.  Selain karena jauh dari rumah dan keluarga, kamu juga harus adaptasi dengan bahasanya, makanannya, musimnya, gaya hidupnya, dan lain sebagainya.

Jadi, jangan sekali-kali, kamu menyamakannya  kuliah di luar negeri dengan kuliah di Indonesia yang bisa lulus tiga tahunan untuk tingkat sarjana, ya. Tapi percaya, deh! Kalau kamu bisa sampai kuliah di luar negeri dan lulus dengan predikat baik, ilmumu pasti nggak akan diragukan lagi.

Oyaa, for your information, saat ini, nggak sedikit, lho, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Jerman. Kalau mereka saja bisa sampai ke Jerman, kamu juga pasti bisa. Yuk, semangat mengejar ilmu setinggi-tngginya!

 

Baca juga:

 

(Sumber gambar: usnews.com, tripsavvy.com, college-homework-help.org, trueviralnews.com, independent.co.uk)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Deca Caa | 20 hari yang lalu

open pp/endorse @aaalysaaaa 11,6 followers dm ya bayar seiklasnyaa

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Deca Caa | 20 hari yang lalu

open pp/endorse @aaalysaaaa 1,6 followers dm ya, bayar seiklasnyaa

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
AtomyFirst Chanel | 20 hari yang lalu

Open PP @houseofshirly foll 427k @Idea_forhome foll 377k @myhomeidea_ foll 270k. Harga Paket lebih murah. DM kami yaa..

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
arif gunawan | 29 hari yang lalu

Kalkulator dan kamus elekteonik termasuk AI, karena kalkulator dilrogram dengan algoritma penghitunganangka.. banyak belajar menganalisa san kumpulkan sata bro.. jgn cm ikut2an, trs copas lalu dituang kedlm sebuah artilel..

Artificial Intelligence dan 8 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang AI
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2024 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1