Niko “Okin” Al-Hakim Memberikan Tips dan Masukan Untuk Berbisnis di Usia Muda

Minggu lalu, Youthmanual ngobrol panjang lebar bareng Niko Al-Hakim, cowok kelahiran 27 Maret 1994 pemilik bisnis Sate Taichan “Goreng”, basis band Night Flight, sekaligus—ehem—selebgram. Sudah baca artikelnya belum?

Terlepas dari usia mudanya, Niko kelihatan cukup berbakat dalam berbisnis. Buktinya Sate Taichan “Goreng” sukses, populer, dan sudah punya cabang di Bandung, Bekasi, Purwokerto, dan Palembang.

Padahal berbisnis, tuh, nggak gampang, lho! Apalagi kalau dijalani di usia muda, sambil kuliah pula.

Saat Youthmanual berkesempatan ketemu dengan Niko di kediaman sekaligus kantor sekaligus studio band-nya di kawasan Bendungan Hilir, kami sekaligus minta tips dan masukan darinya untuk berbisnis di usia muda, nih.

Simak wisdom words dari Niko berikut ini!

1. Nggak perlu modal besar untuk memulai sebuah bisnis. Yang penting adalah ide dan kreativitas kamu!

Kata Niko, “Untuk bisa sukses membuat bisnis, nggak perlu modal awal yang besar, kok. Menurutku, yang utama kita harus kreatif dalam mencari ide. Kita harus cari tahu, hal-hal seru apa sih yang bisa kita jual? Bisnis apa, sih, yang berbeda dari bisnis-bisnis lain dan bisa bikin orang-orang tertarik?

Ide-ide menarik sebenarnya sudah ada banyak di sekitar kita, kok. Sebelum aku buka Sate Taichan “Goreng” pun sebenarnya ‘kan sudah ada banyak orang lain yang jualan taichan. Cuma aku membuatnya lebih “menarik”. Misalnya, dengan membuat inovasi menu taichan yang nggak ada di tempat lain, dan menjualnya di kedai atau restoran—bukan gerobakan—sehingga pelangan lebih nyaman.

Sekarang juga ada banyak kedai makanan atau restoran yang jualan mie instan. Padahal pada dasarnya, sih, yang dijual adalah mie instan biasa, tetapi mie-nya diolah dengan berbagai cara, dan diberi topping ini-itu. Jadi, kalau mie instan dijual di warteg dengan harga 5,000 rupiah per porsi, mereka bisa jual dengan harga 20,000 rupiah per porsi, dan tetap ada yang beli. Kenapa? Karena ada inovasi dan kreativitas di menu mie instan tersebut.”

2. Untuk membangun bisnis yang sukses, suasana kekeluargaan dan sikap saling hormat antar anggota tim sangat penting

Sebagai seorang pengelola bisnis kuliner, tentunya Niko harus mempunyai tim yang terdiri dari sekian orang pegawai. Mengatur tim pegawai, tuh, nggak gampang, lho! Berikut tips dari Niko,

“Kita harus bisa menimbulkan rasa kekeluargaan dengan karyawan dan tim. Kalau kita bisa menciptakan suasana kekeluargaan, pasti kita akan dihargai. Sementara kalau kita bersikap arogan, kita pasti jadi ditakutin.

Nah, kalau kita dihormati, tim akan nggak enak kalau mau berbuat jahat atau curang. Tetapi kalau kita ditakuti, mereka akan bodo amat kalau mau berbuat curang ke kita. Itu bedanya dihormati dan ditakuti oleh pegawai.”

3. Jangan sepelekan kekuatan media sosial

“Kalau boleh cerita sedikit, waktu aku pertama kali buka Sate Taichan “Goreng” di Bandung, modal promosinya cuma beberapa post di Instagram aku, Instagram Rachel, dan Instagram Sate Taichan “Goreng” sendiri yang waktu itu followers-nya juga belum seberapa. Alhamdulillah, meski hanya bermodalkan promosi di tiga akun Instagram tersebut, orang yang datang cukup di luar ekspektasi.

Di sisi lain, aku pernah ngobrol dengan beberapa senior yang juga buka usaha kuliner sendiri sejak muda, dan sekarang sudah sukses. Karena teknologi zaman dulu tentunya nggak secanggih sekarang, mereka cerita, saat awal-awal buka restoran, perjuangannya mereka memang lebih berat. Mereka harus nempel flyer dimana-mana, pasang iklan di koran, dan setelah itu pun tanggapan orang-orang masih, “Apaan, sih, ini?”

Intinya, zaman dulu, mendapatkan kepercayaan calon pelanggan untuk sekedar datang aja susah.

Sementara sekarang ini, membuat orang tertarik untuk datang sudah lebih gampang. Hanya dengan nge-post di medsos dan internet, kita sudah bisa mengundang banyak orang. Setelahnya, kita tinggal membuktikan kualitas makanan kita, untuk mendapatkan kepercayaan untuk jangka panjang.

Kalau makanan kita terbukti enak, pelanggan akan datang lagi, dan mereka akan promo dari mulut ke mulut dengan sendirinya,” cerita Niko.

4. Harus berani jadi pengusaha muda!

Kata Niko, “Kenapa ada sebutan pengusaha muda, tapi nggak ada sebutan pengusaha tua?

Karena kebanyakan orang biasanya baru memulai usahanya saat sudah tua. Kenapa nggak berbisnis dari dulu? Karena saat muda, mereka belum berani berbisnis sendiri, mungkin karena takut gagal atau takut persaingan.

Nah, seseorang disebut sebagai pengusaha muda kalau dia adalah anak muda yang berhasil mengatasi ketakutannya atas hal-hal tersebut.

Anak muda memang pasti punya banyak ketakutan saat akan memulai berbisnis. Wajar lah itu, karena memang ada sangat banyak hal yang harus dipikirin, mulai dari ide, packaging, branding, persaingan, dan sebagainya.

Tapi jangan takut! Persaingan itu biasa. Gagal atau itu biasa. Kita nggak akan tahu bisa sukses apa nggak, kalau nggak pernah nyoba.”

 

LATEST COMMENT
Dasri Dsr | 9 jam yang lalu

Nah klo tipe pelajar bunglon bagaimana biar efektif belajarnya sedangkan mood itu susah bgt diaturnya

Tipe Pelajar Macam Apakah Kamu? Cari Tahu Di Sini, Supaya Cara Belajar Kamu Nggak Sia-Sia!
Zainu Satria | 2 hari yang lalu

Mohon di cek kan kak. Saya kuliah di Universitas Asahan Prodi Bahasa Indonesia Nama:Winda Mentari NPM:14053010

Cuti Kuliah: Ketentuan dan Serba-Serbinya
Zainu Satria | 2 hari yang lalu

Assalamu'alaikum. Kak saya mau tanyak, saya kan pernah kulia dari tahun 2014.udh selesai semua, saya juga udh susun proposal.pas saya mau sempro kendala di uang kulia. Karena pada saat saya kulia ada ambil dispen. Disitu saya sama sekali tdk ad uang. Tu terus saya mau kerja. Dan ingin ambil cuti.…

Cuti Kuliah: Ketentuan dan Serba-Serbinya
maulaaa ya | 3 hari yang lalu

Emangnya gabisa yaa kalau anak ipa masuk ke psikologi soshum ?

5 PTN dengan Prodi Psikologi Saintek, Anak IPA Wajib Cek!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1