Menu

Tyovan Ari, CEO Muda yang Sudah Jadi Entrepreneur Sejak SMA!

Senang banget, deh, ketika Youthmanual berkesempatan ngobrol sama Tyovan Ari Widagdo, founder sekaligus CEO dari www.bahaso.com, sebuah platform untuk belajar bahasa Inggris secara online. Sttt… Tyovan ini belum genap 25 tahun, lho, tapi ia sudah terjun ke dunia entrepreneur IT sejak SMA. Saat ini pun ia masih berstatus sebagai jomblo mahasiswa jurusan Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara.

Belum lulus kuliah tapi sudah punya perusahaan sendiri? Impian banget nggak, sih, gaes?

Tyovan Ari 1 - Youthmanual

Kapan dan gimana Tyovan sadar bahwa passion Tyovan adalah di bidang IT?

Dari SMP saya suka banget main game, sampai-sampai saya penasaran, gimana cara bikin software game itu sendiri. Akhirnya pas SMP, saya belajar IT secara otodidak. Sejak itulah saya tahu bahwa passion saya di sana.

Ada cerita lucu, nih. Pas SMA, saya pernah nge-hack website SMA 78 Jakarta. Kepala sekolah SMA 78 Jakarta sampai telepon SMA saya, SMA 1 Wonosobo, gara-gara website mereka saya ubah tampilannya dan saya ganti namanya jadi SMA 1 Wonosobo. Hahaha!

Gokil! Hahaha. First job Tyovan dulu apa, sih? Kenapa memilih pekerjaan itu? Gimana kesan-kesannya?

Saya orang Wonosobo asli. Lahir dan besar di sana, juga bersekolah di sana sampai SMA. Dulu saya suka chatting di Yahoo Messenger, dan saya pernah masuk ke chat group negara lain lalu chatting sama bule. Lalu teman bule saya itu bilang bahwa dia mau main ke Indonesia. Saya tawari aja untuk main ke Wonosobo, main ke Dieng dan objek-objek wisata Wonosobo lainnya.

Tapi ketika teman bule saya meng-Google “Wonosobo”, nggak keluar informasi apa-apa sama sekali, kecuali penjelasan singkat dari Wikipedia. Di situ saya melihat ada masalah, lalu saya coba buat solusinya, yaitu dengan menciptakan portal ewonosobo.com, portal berita khusus Wonosobo.

Nggak disangka, ewonosobo.com jadi nge-hits banget, sampai saya masuk koran Jawa Pos. Setelah itu, banyak sekali yang mau pasang iklan di ewonosobo.com, padahal awalnya saya nggak niat jualan spot iklan di situ.

Akhirnya saya pun dikenal sebagai ahli IT di daerah saya. Beberapa orang datang ke saya, minta dibikinin website atau software, dan menawarkan pekerjaan. Jadi bisa dibilang, saya bisa bikin website dari SMA dan bahkan pertama kali mendapat pendapatan dari situ.

Wah, kalau gitu nggak diragukan, sih, bahwa IT memang bakat kamu. Ngomong-ngomong apa, sih, skill yang Tyovan pelajari di luar bangku sekolah, tapi bermanfaat untuk profesi sekarang?

Pertama, kemampuan bersosialisasi kali, ya. Kemampuan bersosialisasi, tuh, penting banget, lho. Sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia masih terfokus kepada nilai akademik aja, padahal kita harus menyeimbangkan kemampuan akademik dengan kemampuan bersosialisasi.

Hal ini tergantung cara didik orang tua juga, sih. Kalau orang tua cuma mementingkan nilai, otomatis yang dikejar sama sang anak ya cuma nilai tinggi.

Kedua, kemampuan menyelesaikan masalah. Anak-anak muda sekarang sudah jago menganalisa masalah, tetapi ketika harus menyelesaikan masalah, masih banyak yang bingung dan nggak berani ambil keputusan.

Hal-hal apa yang dulu Tyovan lakukan yang NGGAK dilakukan oleh teman-teman lain / anak-anak muda seumuran Tyovan, sehingga sekarang Tyovan sukses?

Pertama, saya menemukan passion saya saat masih kuliah. Dulu saya menjalankan perusahaan saya sendirian, lho, Saya merangkap jadi sales, jurnalis, programmer, bahkan petugas administrasi. Kenapa? Karena saya sangat passionate dan menyukai IT, jadi saya rela-rela aja mencurahkan semua waktu saya di bidang itu.

Sementara waktu itu teman-teman saya kayaknya belum menemukan passion mereka yang sebenarnya, jadinya mereka cuma kuliah dan main aja. Itulah kenapa menurut saya, menemukan passion secepat mungkin itu penting banget. Kita jadi tahu apa yang mau kita lakukan dari awal, sehingga kita nggak buang-buang waktu.

Selain itu, saya juga giat mencari solusi. Ketika dulu membangun ewonosobo.com, saya ‘kan juga harus ngurusin konten, padahal saya nggak tahu apa-apa soal menulis artikel. Alhasil, saya belajar cara mencari dan menulis berita dari seorang wartawan secara langsung. Selama tiga bulan, saya ikut dia kemana-mana, sampai saya dapat banyak pelajaran dan koneksi.

Dulu saya juga memulai ewonosobo.com tanpa komputer. Saya memakai komputer sekolah dan warnet.

Intinya, setiap menemukan kendala, saya langsung cari solusinya. Kalau ada hambatan, bukan berarti kita kalah.

Apa, sih, tantangan terbesar menjadi CEO perusahaan sendiri?

Tantangan terbesarnya tentu saja mengatur orang. Sifat orang ‘kan beda-beda, dan menyatukan banyak kepala untuk punya satu visi yang sama itu nggak mudah.

Saya juga harus bertindak sebagai panutan. Kalau sayanya nggak semangat dan kerja asal-asalan, gimana nasib anak-anak [karyawan Tyovan –red] di sini?

Selain itu, ketika menjalin kerjasama dengan pihak luar, saya sering banget dianggap anak kemarin sore karena usia saya yang muda. Tapi pelan-pelan saya bangun kepercayaan mereka dan membuktikan bahwa saya bisa perform sesuai harapan. 

Tyovan Ari 2 - Youthmanual

Describe your typical working day!

Bangun pagi, saya masak air, sarapan, trus saya nulis to-do list hari itu. Saya juga rutin bikin goals jangka pendek dan jangka panjang. Setelah itu, saya buka media sosial untuk balas-balas komen dan nge-cek aktifitas teman-teman. Trus saya mandi dan berangkat ke kantor, deh. Saya udah nggak ada kelas di kampus, sih. Tinggal skripsi aja.

Oya, setiap bulan, saya selalu berusaha untuk ketemu orang baru. Bisa yang sebaya atau yang lebih senior supaya saya bisa belajar dari mereka.

Malamnya, kalau nggak terlalu sibuk, saya usahakan baca buku atau lihat-lihat video untuk menambah pengetahuan.

Apa tips untuk anak muda di luar sana yang mau jadi CEO muda dan punya startup sendiri seperti Tyovan?

Seorang CEO harus punya bayangan, lima atau sepuluh tahun lagi perusahaan mereka akan jadi seperti apa. Begitu kita berinvestasi untuk membangun sebuah usaha, resikonya tinggi sekali, lho. Tapi kalau kita berpikir panjang, kita jadi tahu resiko-resiko yang akan kita hadapi sehingga kita bisa membuat strategi yang baik. Ibaratnya, persiapan travelling ke Paris dengan ke Afrika ‘kan beda. Meskipun sama-sama travelling, hal-hal yang harus kita bawa dan ketahui berbeda.

Makanya, orang yang mendirikan usaha hanya karena ikut-ikutan tren bakal kesulitan, karena biasanya dia akan malas memikirkan arah perusahaannya lima atau sepuluh tahun ke depan. Yang penting gaya aja dulu berangkat “travelling”, tanpa tahu mau “jalan” ke mana. Akibatnya, “bawaan di tas”nya pun akan seadanya.

Trus, saya sering banget ketemu pengusaha muda yang orientasinya semata-mata profit. Kalau tujuan kita hanya profit, kita nggak akan ada puasnya. Tapi kalau dibalik usaha kita ada niat untuk membantu sesama dan membuat ladang amal, kita akan menjalani usaha dengan lebih senang.

***

Salut banget! Menyangkut pertanyaan yang terakhir, Tyovan sendiri membangun startup di bidang pendidikan bahasa Inggris karena sekarang ini, banyak orang mencari pengetahuan lewat internet, sementara mayoritas bahasa pengantar di Internet adalah bahasa Inggris.

Maka dengan bahasa Inggris yang baik, orang jadi bisa mendapat pengetahuan lebih banyak. Apalagi Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah resmi dibuka. Bahasa Inggris jadi sebuah kemampuan yang mutlak kita kuasai!

Youthmanual juga makin kagum pas tahu cara Tyovan memilih tim untuk di perusahannya. Tyovan memastikan, orang-orang yang direkrut Bahaso nggak cuma bekerja untuk profit dirinya sendiri, tetapi juga untuk membawa manfaat bagi orang lain. “Saya tekankan ke tim, kalau tujuannya cuma sekedar uang, bukan di sini tempatnya. Hehehe…”

Salut, ah!

LATEST COMMENT
Khusnul Khotimah Hamzah | 2 hari yang lalu

Temen²ku juga kayak gitu. Malahan mereka udah janjian dari awal, nanti pas presentasi gak usah ada yang berpendapat macam². Padahal kan kita mau diskusi itu berjalan supaya semuanya paham :(

6 Sifat yang Harus Kamu Hindari Agar Kamu Dapat Meraih Kesuksesan
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©