Hari Anak Nasional 2019: Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga

Gaes, tahukah kamu? Setiap tanggal 23 Juli adalah hari penting untuk anak Indonesia. Soalnya hari ini diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN).

Asal mula HAN

Menurut Soeharto selaku Presiden RI ke-2, Anak-anak dianggap sebagai aset penting dan harus dilindungi untuk kemudian menjadi penerus bangsa. Sehingga 35 tahun yang lalu, pak Soeharto menetapkan Hari Anak Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1984.

Kondisi anak Indonesia saat ini

Tapi 34 tahun setelah Keppres ditetapkan, upaya untuk menjamin kesejahteraan dan perlindungan anak seolah menemukan rintangan yang besar. Gimana nggak, alih-alih mendapatkan perlindungan, saat ini anak Indonesia masih belum bisa terlepas dari kondisi kekerasan. Bahkan bisa dikatakan jumlah kekerasan terhadap anak terus meningkat.

Hal tersebut terlihat dari data Komnas Perlindungan Anak. Menurut pengaduan yang diterima 52-58% kasus didominasi kasus kekerasan seksual.  Dari data tersebut pula ditemukan bahwa rumah dan lingkungan sekolah nggak lagi memberikan rasa nyaman dan jaminan atas perlindungan bagi anak, melainkan menjadi tempat yang menakutkan bagi anak. Soalnya, predator atau monster kejahatan terhadap anak justru sembunyi di dua tempat ini seperti ayah kandung atau tiri, guru, keluarga terdekat (paman, pakde, mas), tetangga, teman sebaya, serta pengasuh anak justru orang-orang inilah yang menjadi pelakunya.

Selain jumlahnya terus meningkat dan pelakunya adalah orang terdekat, sebarannya kekerasan ini juga terjadi di segala tempat.  Banyak ditemukan pelaku kejahatan seksual berusia diantara 50-72 tahun terhadap anak di berbagai tempat—khususnya di tingkat desa

Sementara, 48% adalah kasus-kasus kekerasan dalam bentuk lain seperti penelantaran anak, perampasan hak hidup anak, penganiayaan, penculikan dan perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual komersial, perebutan anak, serta berbagai bentuk eksploitasi anak.

Nggak cuma permasalahan kekerasan aja, gaes. Situasi lain menunjukkan banyak anak menjadi korban peredaran dan penjualan narkoba atau zat adiktif lainnya. Ditemukan juga ratusan anak-anak terkena HIV/AIDs dari salah satu atau kedua orang tuanya yang menderita HIV/AIDs.

Di lingkungan sosial, sejumlah anak juga banyak mendapatkan penanaman paham atau ajaran-ajaran mengenai radikalisme, ujaran kebencian, hoaks, bahkan dilibatkan dalam aksi kekerasan dan kegiatan politik yang nggak ada hubungannya dengan kepentingan diri dan yang terbaik untuk si anak.

Apalagi di jaman revolusi industri 4.0 ini, banyak orang tua yang memberikan anak-anaknya gadget sejak kecil. Of course, persoalan ini juga menjadi ancaman bagi anak Indonesia karena akan berdampak sangat fatal, seperti terganggunya kesehatan mental dan rusaknya mata akibat terkena radiasi cahaya yang ada pada gadget.

Penyebab kesejahteraan anak yang belum terjamin

Sangat disayangkan memang dengan berbagai masalah yang masih kerap menimpa anak Indonesia seperti di atas. Karena menurut saya, keluarga itu sangat penting peranannya. Keluarga adalah benteng dan garda terdepan untuk memberikan perlindungan agar anak Indonesia bisa mendapatkan hak-haknya dan melakukan kewajibannya.

Tapi kenyataannya, banyak anak yang merasa keluarganya bukanlah tempat yang nyaman, bahkan nggak lagi menjadi benteng dan atau garda terdepan untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan. Kenapa demikian?

Banyak hal sebenarnya yang menyebabkan itu terjadi. Di antaranya adalah kondisi keluarga yang nggak harmonis, orang tua yang divorce, orang tua yang sibuk kerja, hingga pola asuh yang otoriter. Hah? Pola asuh yang otoriter itu seperti apa?

Misalnya aja, orang tua yang selalu memaksakan kehendak dan “mendikte” kehidupan. Mulai dari memutuskan anak harus sekolah di SMA/SMK, masuk ke IPA/IPS, kuliah di kampus A/B /C, milih jurusan kuliah, kalau sudah lulus mau kerja apa dan dimana hingga menentukan pasangan hidup, gaes.  

Langkah yang harus diambil

Menurut saya, setiap orang tua harus mampu memposisikan diri sebagai sahabat dalam hidup anak mereka. Setiap orang tua perlu menghadirkan ruang dialog yang melibatkan partisipasi anak.

Selain itu, para orang tua harus memperlakukan anaknya sebagai “orang yang merdeka”. Artinya, anak-anak ini perlu didengar pendapat mengenai keinginan dan mimpi-mimpinya. Disinilah peran orang tua memberikan gambaran umum tentang keinginan dan mimpi-mimpi itu berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Sentuhan kasih sayang dan kepedulian dari orang tua juga sangat diperlukan di tengah derasnya arus teknologi informasi yang semakin cepat.

Intinya, tujuan semua hal di atas perlu dilakukan adalah agar si anak nggak merasa “hidup sendiri” di dunia ini dan merasa dilindungi oleh keluarga mereka sendiri.

Sikap kita sebagai anak

Nah, kalau kamu punya orang tua yang sudah mau berdiskusi dengan segala keputusan besar yang ada pada hidupmu. Kamu sebagai anak harusnya bersyukur dan memperlakukan orang tuamu lebih baik lagi karena nggak semua anak di luar sana bisa mendapatkan perhatian yang kamu dapatkan.

Kalau orang tuamu masih otoriter, nggak mau tau kehidupanmu alias cuek, terlalu posesif, dan lain sebagainya, cobalah pelan-pelan untuk mengajak mereka mengobrol. Ajak orang tuamu bertukar pandang mengenai segala keinginan dan keluh kesahmu. Sekali, dua kali belum berhasil, cobalah terus dan bersabar.

Seperti peribahasa: “sekeras-kerasnya batu bila tertimpa hujan akan retak juga”. Well, maksud saya, sekeras apa pun pendirian orang tuamu, kalau kamu terus-menerus mengajak mereka bicara baik-baik, orang tuamu juga pasti akan luluh dan mau mendengarkanmu, kok. Jadi, jangan putus asa dulu, ya!

 

Baca juga:

 

(Sumber gambar: youtube.com, inc.com)

LATEST COMMENT
Mira Puspita | 3 hari yang lalu

Mas Andreas Gandhi, jujur saat ini saya adalah seorang ibu yang sedang mendoakan putranya karena takut kalo putra saya tinggal kelas dia akan di DO dari JB.

Cerita Seorang “Veteran”: Dari Nggak Naik Kelas Sampai Sukses Tembus PTN Impian
Fransiska Oktaviani | 7 hari yang lalu

open pp/endorse ig/tiktok bisa bayar seikhlasnya email ke [email protected] terimakasih

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Nindi Dwi Oktova | 7 hari yang lalu

Permisi aku mau nanya kalau murid pindahan jurusan ipa dari sekolah asal ke sekolah baru tapi berbeda pada mata pelajaran minat apakah bisa mengikuti SNMPTN? Ex:matpel minat sekolah asal ekonomi dan b.Inggris minat tapi di sekolah pindahan tidak ada matpel ekonomi dan pindah nya pada saat semester 2…

Tanya-Jawab Seputar SNMPTN 2021: Kriteria Penilaian dan Lainnya
Nanda Kyala | 9 hari yang lalu

Kak, jadi anak ipa bisa pilih utbk soshum atau campuran?

Lintas Jurusan di SBMPTN 2021 dan Peluangnya
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1