Kenapa Saya Mempertimbangkan Berhenti Menggunakan Media Sosial

Sekarang ini, saya adalah pengguna beberapa media sosial seperti Path, Instagram, Facebook, dan Twitter. Kegiatan saya sebagai pengguna medsos standar aja, sih. Setiap hari saya ngecek Path dan Instagram untuk nulis komen, ngasih likes atau emoticon, posting foto dan status, liat-liat update selebgram dan online shop, dan sebagainya. Kadang-kadang, saya buka Facebook dan Twitter. Saya pernah punya akun Pinterest, tapi sekarang udah nggak aktif. Sempat juga berniat bikin akun Snapchat supaya lebih update.

Tetapi belakangan saya makin merasakan pengaruh-pengaruh negatif dari medsos, sampai saya berpikir, apa saya tutup aja, ya, akun-akun ini?

Salah satu hal yang bikin saya mempertimbangkan ini adalah seorang teman. Dia bekerja di sebuah franchise toko buku yang beken di kalangan anak muda. Pengetahuan teman saya ini luas dan update banget, padahal dia nggak punya medsos sama sekali!

Saya sempat nanya, gimana, sih, cara dia mendapatkan info-info ter-update? Apalagi pekerjaannya memerlukan banyak pengetahuan soal tren-tren terkini. Ternyata, teman saya ini rajin baca-baca website seperti Brain Pickings, New York Times, The Rumpus, Goop, dan Youthmanual juga, deh, kayaknya (hahaha, pede!). And she reads a LOT of books.

Selain teman saya tadi, ada berbagai faktor lain yang membuat saya mempertimbangkan menutup medsos, yaitu:

Waktu banyak terbuang. Seperti kebanyakan orang, saya nggak mengalokasikan waktu khusus untuk ber-medsos. Tapi akibatnya, saya jadi sering banget buka medsos, karena timing-nya nggak terkontrol. Sebelum tidur, bangun tidur, sebelum mandi, setelah mandi, pas mandi #eh! Lagi galau, sedih, gembira, terharu, pokoknya medsos lah yang pertama kutuju.

youthmanual - media sosial

Durasi buka medsosnya nggak lama, sih. Tapi kalau tiap buka medsos saya menghabiskan sekitar 5-10 menit trus dikali 30 kali, berarti dalam sehari, saya menghabiskan sekitar 3-6 jam untuk buka medsos! Belum lagi kalau lagi asyik stalking di Instagram sampai ke foto di 153 weeks ago, atau ngikutin 2,416 komen di akun seleb yang isinya perang dan konflik. Beuh!

Distraksi. Medsos juga merupakan godaan terbesar saya saat bekerja. Tiap baru ngetik 1-2 kalimat, bawaannya mau utak-atik medsos. Duh, kapan selesai ngetiknya dong?! Trus, saat lagi bersiap-siap melakukan sesuatu atau mau pergi ke suatu tempat, biasanya saya terpancing untuk buka medsos dulu. Niatnya sebentar aja, kok, nggak sampai 5 menit. Eh, kenyataannya sering bablas sampai 15 menit. Akhirnya jadi terlambat, deh!

Lebih care? Belum tentu. Lebih kepo, iya! Bagi kebanyakan orang, salah satu tujuan mulia bermedsos adalah untuk menjalin hubungan dengan teman dan keluarga yang jauh di mata tapi dekat di hati. Lewat medsos, kita jadi bisa berbagi dan mengetahui keadaan mereka.

Tapi pada kenyatannya, medsos bukannya menjadikan saya lebih care dan akrab, malah bikin makin kepo! Jadi bikin pengen tauuu aja urusan orang. Waduh!

Misalnya, saat buka-buka medsos teman, pasti ada aja pikiran seperti, “Kok dia sekarang jarang posting tentang pacarnya? Putus, ya?” atau “Kok do’i jalan-jalan mulu? Nggak kuliah?” atau “Si anu lagi deket sama siapa, sih? Cek Instagramnya, ah!” #naluriinfotainment

Nyinyir. Kalau ada orang curhat abis-abisan di medsos, saya jadi ilfil. Kalau ada orang posting foto barang-barang cantik dan selfie kece melulu, saya jadi menganggap dia orangnya fake. Kalau ada orang marah-marah di medsos, saya jadi bete. Kalau ada orang hobi posting nasehat dan kata-kata bijak, saya jadi males… Pokoknya serba salah!

youthmanial-social media

Pada faktanya, nggak jarang posting-an di medsos bikin kita nyinyir dan nafsu kepengen ngomongin orang lain. Minimal membatin dalam hati, “Plisss, deh, mbaq, maz!”

Malas Baca. Saya akui, ada banyak info yang bisa saya dapatkan lewat medsos. Info-info pendek dan sekilasan aja, sih, tepatnya. Mulai dari breaking news, tempat nongkrong baru, sampai jokes terkini.

Tapi gara-gara terbiasa membaca info-info pendek lewat posting-an medsos, saya jadi malas membaca teks yang panjang, seperti koran atau buku.

Boro-boro buku. Baca artikel website dengan rutin dan konsen pun rasanya susah. Istilahnya, saya jadi punya short-span attention. Hal ini bikin saya “kering”, lho! Kering pengetahuan serta kering kreativitas.   

Jauh sama orang-orang dekat. Seperti kebanyakan orang zaman sekarang, keluarga dan teman-teman terdekat saya juga hobi ngutak-ngatik smartphone dan aktif di medsos. Maka saat ngumpul bareng, kami sibuk dengan smartphone masing-masing, deh. Obrolan pun jadi “delayed” sekitar dua menit, gara-gara mulutnya ngobrol, tapi mata, tangan dan perhatiannya tertuju ke gadget.

Problem klasik, ya?

youthmanual-medsos

Suatu saat, saya pernah nge-date sama pasangan. Trus, kami janjian untuk nggak megang handphone, kecuali kalau ada telepon penting. Tau nggak, ternyata kami malah MATI GAYA dan kekurangan bahan obrolan! Padahal kalau komen-komenan di medsos, kayaknya kami, nih, pasangan seru. Dan dulu kami memang seru, kok!

Hufttt, segitu ketergantungannya kah saya dengan medsos? Segitu besarnya kah pengaruh medsos ke hidup saya?

***

Terlepas dari berbagai “efek samping” medsos yang tadi saya sebutkan, sebenarnya saya belum siap berpisah dengan medsos #jiaaah

Let it gooo… Let it gooo….! *nyanyik a la Frozen*

Apalagi tanpa medsos, saya pasti akan jadi sulit kontak-kontakan sama teman, susah saling ngundang kalau bikin acara (ulang tahun? Kawinan? Baby shower? Nyunatin anak mungkin?), jadi nggak punya foto-foto kenangan di medsos, serta kehilangan online shop. Hahaha!

Tapi mulai sekarang, saya bertekad untuk membenahi cara saya menggunakan medsos. Biarlah medsos hanya menjadi HIBURAN, bukan sebagai KEHIDUPAN saya.

Jangan sampai mood saya terpengaruh dengan posting-an medsos, apalagi tugas dan kerjaan jadi berantakan gara-gara asyik scrolling Instagram.

Wish me luck with (or without) social media!

(sumber gambar: alt.libguides.com, www.joycreator.com, themalcolmauldblog, thefieldposition.com)

LATEST COMMENT
Adinda Febriani Putri Irawan | 9 jam yang lalu

Kak, saya skrg baru masuk SMA. Dan memang dari awal saya kecepatan masuk sekolah. Sekarang umur saya 14 tahun. Apakah kira² saya bisa lulus kuliah dengan cepat? Karna biasanya ada jurusan kuliah yang tidak menganjurkan skripsi lebih cepat

Ingin Lulus Kuliah Lebih Cepat? Lakukan 12 Langkah Ini
Fatimah Ibtisam | 12 jam yang lalu

Hai Fachrana. dari cerita kamu memang ada dua kemungkinan. Pertama, kamu masih harus menyesuaikan diri, apalagi matkulnya benar-benar berbeda dengan latar belakang kamu di SMA. Ditambah lagi, kuliah baru berjalan dua bulan. Kedua, memang kamu salah jurusan. Namun untuk mengetahuinya, kamu perlu menjalani…

Kamu Salah Ambil Jurusan Kuliah? Cek 15 Tanda Mahasiswa Salah Jurusan!
Fachrana Fairuza | 1 hari yang lalu

hai kak, numpang cerita sedikit, jadi begini, saya sebenarnya ingin mendaftar jurusan farmasi. Namun, karena jurusan tsb saingannya ketat, ketika sbmptn saya linjur memilih jurusan pend. tata busana, saya memilih jurusan itu karena disarankan ortu saya dan ortu saya jelasin keuntungan-keuntungan kalo…

Kamu Salah Ambil Jurusan Kuliah? Cek 15 Tanda Mahasiswa Salah Jurusan!
Fatimah Ibtisam | 1 hari yang lalu

Kriteria detailnya ditentukan pihak sekolah ya Riani.

Bedah Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Asesmen Nasional 2021
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1