Menu

Kalau Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Diisi Dosen dan Rektor Asing, Kamu Setuju Nggak?

Puluhan Profesor Asing Akan Bantu Riset Universitas di Indonesia

Seperti yang udah berulang-ulang kali Youthmanual ulas, Indonesia lagi butuh-butuhnya, nih, meningkatkan mutu pendidik.

Di tingkat perguruan tinggi, pemerintah mulai gencar membuka peluang beasiswa S-2 dan S-3 khusus dosen. Nggak hanya sampai situ, pemerintah juga akan mengundang puluhan profesor kelas dunia ke Indonesia.

"Dari Rp250 miliar anggaran beasiswa Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) 2016, sebagian digunakan untuk mengundang 40 profesor kelas dunia ke Indonesia," kata Dirjen SDID Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti, kepada Okezone.com.

Waduh, maksudnya nanti mahasiswa Indonesia bakal diajar oleh dosen-dosen asing, gitu?

Belum pasti, sih. Pokoknya, kata Pak Ali Ghufron, tugas utama para profesor asing yang diundang ke Indonesia tersebut adalah:

1. Membuat analisis data yang dibuat para mahasiswa S-3 atau oleh pusat-pusat penelitian di Indonesia jadi lebih tajam.

2. Membimbing, mengajar, atau menulis dan menyusun proyek penelitian dengan mendatangkan sumber dana dari luar negeri.

Mereka juga harus membantu meng-upgrade jurnal nasional menjadi jurnal internasional, agar publikasi internasional tanah air jadi meluas.

"Nanti setiap kampus harus mengajukan nama profesor luar negeri yang ingin mereka datangkan. Nanti akan dicek, profesor tersebut bisa didatangkan atau tidak. Program ini nggak hanya bisa dilakukan per universitas, tetapi juga beberapa universitas yang bergabung," jelas Pak Ali Ghufron.

Beliau menargetkan, program BUDI ini akan terlaksana tahun ini. Apakah para profesor tersebut akan bekerja di Indonesia selamanya? Nggak. Masa kerjanya cuma setahun, kok!

jurnal penelitian

Tugas utama para profesor asing yang diundang ke Indonesia adalah "menajamkan" analisis mahasiswa Indonesia

Rektor PTN Akan Diisi Orang Asing?

Selain mendatangkan dosen asing, pemerintah Indonesia juga punya wacana untuk merekrut orang asing menjadi rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Hal ini mengikuti negara-negara lain yang menerapkan kebijakan yang sama—seperti Cina, Singapura dan Arab Saudi—sehingga perguruan tinggi mereka jadi maju dan berkelas dunia.

“[Perguruan tinggi] di Saudi dulu tidak diperhitungkan [dunia]. Rangkingnya di luar 500 besar dunia. Tapi sekarang sudah masuk peringkat 200 dunia, seperti King Saud University," kata Menristek Dikti M. Nasir, kepada Okezone.com.

Nah, kalau rencana mendatangkan profesor asing ke Indonesia sudah hampir pakem, rencana mendatangkan rektor asing ini masih belum pasti, karena Menristek Dikti harus menyiapkan infrastruktur dan instrumennya dulu.

Sekarang kita bicara pro-kontranya, nih.

Pak Nasir mengakui, ada pihak-pihak yang merasa hal ini merusak nasionalisme. Masa’ PTN rektornya WNA? Memangnya tokoh dari Indonesia nggak ada yang oke jadi rektor? Lagian, undang-undang untuk mendatangkan rektor WNA untuk PTN ini juga belum jelas.

dosen Indonesia

Memangnya tokoh dari Indonesia nggak ada yang oke jadi rektor?

Tapi di sisi lain, sudah saatnya Indonesia meningkatkan kompetensi pendidikan tinggi. Apalagi sekarang Indonesia sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sehingga pressure untuk bisa bersaing secara global makin berat, sob. Maka wacana mendatangkan rektor asing untuk PTN Indonesia seharusnya diterima dengan baik aja, lah.

Kalau menurut kamu gimana?

(sumber foto: earnmydegree.com, sites.google.com, duniadosen.com)

Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©