Angka Pengangguran Terdidik Tinggi, Inilah Penyebab Sarjana dan Diploma Freshgrad Tidak Mendapat Pekerjaan!

Kenapa sih, lulusan perguruan tinggi bergelar sarjana atau diploma nggak dapat kerja? Jumlah pengangguran terdidik ini pun cukup tinggi dan kemungkinan terus meningkat. Dari pengamatan dan tanya-tanya dengan pihak HRD/user, kami mengumpulkan faktor penyebab seorang lulusan perguruan tinggi terutama freshgrad tidak diterima bekerja. Bisa jadi, hal berikut inilah yang mengakibatkan pengangguran terdidik.

* Salah mengirim lamaran kerja. “Misalnya mengirim ke GADIS, tapi surat lamaran ditujukan untuk perusahaan lain. Ini biasanya karena mereka (pelamar) mendaftar ke banyak perusahaan.” Ungkap Leoni Sihombing, Chief Community Officer GADIS.

* Tidak menuliskan isi dan subjek email, saat mengirim lamaran via email. Di zaman serba digital mengirimkan lamaran hard copy bukanlah keharusan. Pelamar bisa mengirim lamaran via email, dan itu tidak mengurangi kesempatannya untuk diterima. KECUALI jika kamu tidak menuliskan subjek pada email dan isinya kosong melompong.

Seharusnya, kamu menuliskan subjek email yang jelas. Trus, berikan pengantar pada body email kamu. Gimana kalau surat lamaran sudah disertakan pada attachment? Tetap saja bikin bingung dan tidak beretika jika mengirim email tanpa isi.

Hampir semua perwakilan perusahaan dan HRD mengaku tidak akan melihat lamaran tanpa subjek dan isi tersebut. Alias auto nggak keterima. Kalau si pelamar  terus mengirimkan lamaran yang demikian, nggak heran jika ia masih menganggur.

* IPK kurang. Well, nggak semua perusahaan menjadikan IPK sebagai syarat, sih. Namun umumnya perusahaan multinasional seperti Danone dan  mensyaratkan IPK 3.00. Malah ada perusahaan yang mensyaratkan 3.25.

“Memang sih, ada juga yang mengatakan bahwa ada hal penting lainnya, seperti pengalaman dan aktivitas selama di kampus. Tapi kita lebih memilih keduanya (lulusan dengan IPK tinggi dan aktif).” Ungkap Aldi Ramadhika, Human Resources Business Partner Manager Danone.              

*. Isi CV tidak lengkap, terutama untuk informasi basic “Ada yang tidak menyertakan foto diri, tidak ada tanggal lahir, dan lainnya,: ungkap Leoni Sihombing.

* Bisa juga karena CV kurang meyakinkan sehingga kalah dengan yang lain. Yang jadi penilaian antara lain, kampus asal, pengalaman, dan kemampuan.

“Faktor education background seperti universitas asal, jurusan, dan IPK biasanya adalah penentu pertama untuk memutuskan; panggil interview atau tidak,” Meinar R. Siagian, Corporate Learning Head Cigna Indonesia.

* Tampilan CV nggak menarik. Terutama jika melamar di bidang kreatif. CV yang dikonsepkan/ditampilkan secara menarik, namun tak berlebihan, yang akan dipilih. Ini menunjukkan bahwa kandidat memiliki sifat dinamis.

* Saat interview, kepribadian terlihat tidak menarik. Si Pelamar tidak bisa meyakinkan bahwa dia orang yang tepat untuk perusahaan. Biasanya, ini terjadi apabila pelamar irit bicara dan nggak pede saat wawancara.

* Minim informasi tentang perusahaan/produk milik perusahaan yang dilamar. Jadi si kandidat tidak atau kurang mencari tahu seputar tempat yang dilamar. "Pernah aku tanya pada si pelamar, ‘Follow GADIS di mendia sosial, nggak?’ Trus, dia jawab ‘Nggak’. (Jawaban) Itu salah banget. Seorang pelamar harus bisa mengambil hati user-nya (calon atasannya). Atau pas ditanya soal GADIS, dia nggak mengerti sama sekali. Jadi ngapain melamar ke sini?" Leoni Sihombing mencontohkan.

* Hasil job test tidak memuaskan. Beberapa perusahaan memiliki job test, yaitu praktik mengerjakan pekerjaan yang dilamar. Misalnya, jika melamar jadi garu maka diminta presentasi mengajar, atau melamar jadi copywriter akan diminta tes menulis.

Jika pekerjaan tidak sesuai brief yang diminta atau kualitasnya nggak bagus, banyak kesalahan, atau terlalu lama mengerjakan, artinya hasil tes tidak memuaskan.

Selain itu, mungkin pelamar memiliki skill namun taste atau “rasa” masih kurang/atau kurang mahir. Makanya, kamu perlu banget mengasah skill dengan berlatih serta fokus untuk menghadapi job test.

* Kalah saing dengan anak magang. Lowongan kerja tidak banyak dan sangat selektif. Beberapa perusahaan mengaku tidak banyak menerima pekerja dibandingkan dulu.

Beberapa perusahaan pun lebih mengambil anak magang yang telah terbukti bagus ketika bekerja. Anak magang yang kurang disiplin dan hasil pekerjaannya B aja sih, BYE, ya.

* Perhitungan dalam bekerja.  Jadi saat wawancara, si pelamar dinilai perhitungan, alias berorientasi materi, dan nggak fleksibel jika diberikan pekerjaan yang menurutnya di luar job desk. Sementara tuntutan untuk multitasking cukup tinggi di dunia kerja. Yang dicari pekerja dengan yang benar-benar ingin membangun perusahaan, bukan hanya sekadar mengerjakan tugasnya, kemudian angkat tangan.

Nah, sikap “perhitungan” ini akan dinilai dari jawaban si pelamar saat diberikan contoh kasus, atau saat ia ditanya pengalaman bekerja dalam organisasi/kelompok di kampus.

Suci Nuzleni Qadarsih, Brand Activation Manager Dompet Duafa pun angkat bicara, “Tekadang freshgrad suka perhitungan dalam bekerja. Tidak (sepenuhnya) salah memang, tapi ini jadi pertimbangan saya. Misalnya, mereka (bersikap) perhitungan di awal, (saya berpikir) bagaimana nantinya ia bekerja dengan anggota tim yang lain? Hal yang harus dimiliki freshgrad ketika bekerja adalah komitmen dan keikhlasan.”

* Attitude atau perilaku. Perilaku yang baik, terutama yang berhubungan dengan orang lain, sangat lah penting. Jika kelihatan sombong, hobi mengeluh, atau gejala attitude buruk lainnya, bisa langsung nggak diterima. Perilaku kamu akan dinilai saat interview dan dari hasil tes yang dilakukan HRD.  

“Kami punya alat interview, panduan pertanyaan yang jawabannya merefleksikan behavior pelamar. Pendekatannya adalah behavioral based competency interview. So far, membantu (seleksi pekerja) dan hasilnya 90 persen akurat dengan kenyataan ketika bekerja,” Meinar S. Siagian menjelaskan.

* Nggak punya skill yang dibutuhkan. Misalnya, kamu lulusan Sastra Prancis, tapi kemampuan menulis dan berbicara amburadul. Atau lulusan Teknologi Informasi tapi nggak menguasai soal coding. Jadi jangan hanya memiliki latar belakang pendidikan yang mentereng di atas kertas. Skill-mu juga harus menunjang.

Ini juga sih, yang jadi isu “link and match”. Lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

* Wawasan kurang. Biasanya saat wawancara pelamar akan ditanyakan pengetahuan yang masih nyambung dengan pekerjaan yang dilamar.  Bisa berupa wawasan umum, atau yang berkaitan dengan pendidikan dan skill kamu.

Dari situ, bisa ketahuan sih, pelamar yang nggak menguasai bidangnya atau pengetahuannya minim.

* Latar belakang pendidikan nggak sesuai. Ada beberapa posisi/pekerjaan yang membutuhkan pekerja dari jurusan tertentu. Jurusan lain nggak bakal diterima di situ. Makanya, penting banget membaca ketentuan dan penjelasan soal lowongan pekerjaan. Bisa jadi selama ini seseorang ditolak, karena ia selalu melamar orang yang salah, eh, pekerjaan yang salah, maksudnya.

* Kurang paham posisi yang dilamar.  Saat ditanya, apa yang dilakukan jika nanti sudah bekerja, si pelamar blank. Memang sih, freshgrad belum memiliki pengalaman kerja. Tapi setidaknya punya gambaran lah, mengenai job description posisi yang dilamar.

* Kurang niat mendapatkan pekerjaan. Contoh kasusnya adalah ketika ditanya alasan melamar, dia menjawab karena diajak teman. Waduw, mau melamar kerja ato pergi ke mol, kok diajak sama temen.

* Kemampuan kolaborasi kurang oke. Ini biasanya dinilai saat sesi interview, di mana pelamar dimintar menceritakan pengalamannya saat kuliah (mengerjakan tugas kelompok) atau ketika berorganisasi. Bisa juga ia diberikan contoh kasus dan diminta menjawab.

* Soft skills lainnya kurang, seperti kemamuan belajar, komunikasi, inisiatif, dan lainnya. Ini memang belum terlalu kelihatan saat melamar. Tapi bisa dinilai dari wawancara, seperti poin sebelumnya.

* Belum punya pengalaman. Beberapa perusahaan mencari pekerja berpengalaman dan nggak menerima freshgrad. Soalnya, mereka nggak memiliki waktu atau sumber daya untuk melatih pegawai dari nol. Makanya, kamu mesti tahu perusahaan yang dilamar dan kandidat yang bagaimana yang dicari. Meskipun sangat jarang, bagi freshgrad yang pengalaman magang biasanya masih memiliki kesempatan.

* Penampilan nggak oke, kurang rapi/sopan dan nggak representatif. terutama jika pekerjaan yang berhubungan dengan pihak lain/pelanggan. Sesuaikan penampilan dengan tipe perusahaan yang dilamar.

* Perilaku nggak sopan/ kurang etika selama proses melamar. Mulai dari judes ke resepsionis, terlambar datang tanpa memberitahukan, utak-atik hape ketika wawancara, dan lainnya.

* Hanya menjadikan perusaahaan sebagai batu loncatan. Saat wawancara atau mengisi formulir, biasanya ada pertanyan  “Apa rencana Anda 5 tahun ke depan?” Nah, dari jawaban kamu bisa ketahuan apakah kamu berencana bekerja lama di sana.

Jika kamu menjawab, ingin menyelesaikan S2 di luar negeri, membangun startup sendiri, atau jadi caleg misalnya, kemungkinan besar kamu nggak akan diterima. Hehehe  

* Lowongan pekerjaan jauh lebih sedikit dibandingkan pelamar. Yaiyalah ya. Apalagi kalau mendaftar di perusahaan multinasional atau top kayak Bank Indonesia, Unilever, Kementerian Luar Negeri, Danone, dan lainnya. Artinya, yang nggak stand out pasti akan di-cut.

"Rasio pelamar dan lowongan timpang banget. Misalnya, untuk sekitar 50 lowongan, pelamarnya mencapai ribuan orang," Aldi Ramadhika memberikan bocoran.

* Di kotanya kesempatan kerja terbatas, namun nggak bisa/nggak mau pindah ke tempat lain.Menurut Dinas Tenaga Kerja Malang, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi di Malang pada tahun 2019 mencapai 7 ribu orang. Salah satu faktor utamanya adalah, setelah lulus kuliah, kebanyakan memilih tetap tinggal di Malang.

***

Itulah berbagai faktor yang bisa membuat pelamar gagal diterima bekerja. Kriteria dan faktor tidak diterima di perusahaan satu, bisa berbeda dengan perusahaan lainnya. Semoga kamu bisa mengambil pelajaran dan menghindari faktor tersebut, ya.

(sumber gambar: pexels.com)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Agustin Lutfianty | 4 hari yang lalu

Kunjungi website kami di https://walisongo.ac.id

World Suicide Prevention Day: Seberapa Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa?
Tiara Windi | 1 bulan yang lalu

Karena merasa gk nyaman aja gitu tmn2 yg lain kok pada enak2 aja aku kok gk enak gitu Krn bidang kerjaan mereka cuma duduk aku berdiri teruss

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Tiara Windi | 1 bulan yang lalu

Kak saya ingin pindah magang

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1