Menu

7 Hal yang Dialami Mahasiswa Jurusan Sejarah

Oleh Asri Mirza

Kamu mahasiswa jurusan Sejarah? Atau baru mau masuk jurusan kuliah Sejarah? Kalau ya, siap-siap terbiasa mengalami tujuh hal di bawah ini, ya!

1. "Mahasiswa jurusan Sejarah harus terbiasa menulis panjang lebar."
Di universitas saya, yaitu Universitas Padjajaran, saat ujian beberapa mata kuliah, dosen cuma memberikan empat soal ujian, namun mahasiswanya diberikan EMPAT lembar kertas folio bergaris untuk menjawab soal-soal tersebut. Yap, empat. Sekali lagi, empat.

Pertanyaannya pun singkat-singkat banget, seperti, “Apakah menurut Anda, VOC itu firma dagang?”

Beuuuh… bayangin aja, pertanyaan sesingkat itu harus dijawab sepanjang satu lembar kertas folio, dengan tulisan tangan pula. Kram, kram, deh. Dan memang, setiap kali keluar dari ruangan ujian, saya langsung kepengen nempelin koyo ke seluruh tangan kanan saya.

2. "Mahasiswa jurusan Sejarah sering diledek nggak move on. "
Bahkan setelah saya meninggalkan bangku kuliah, ledekan ini masih sering datang. “Kuliah Sejarah? Nggak move on banget, sih? Yang dipelajari, kok, masa lalu?” Zzzz.

Tapi seenggaknya, meski nggak move on, kami adalah mahasiswa yang visioner. Coba, masa lalu aja dipelajari, apalagi menjalani masa depan sama kamu.

jurusan sejarah

3. "Mahasiswa jurusan Sejarah juga sering mendapat ledekan" yang satu ini…

“Pacarnya pasti lebih tua, ya?”

“Nggak.”

“Oh, kirain. Abis yang dipelajari hal-hal yang tua, sih!”

Ah, entahlah apa yang dipikirkan orang-orang yang meledek kami ini. Padahal seharusnya dia berhati-hati dengan anak Sejarah, yang bisa membongkar masa lalu dia dengan gampang. Eh, ini mahasiswa Sejarah, apa mahasiswa sekolah detektif, sih?

4. "Mahasiswa jurusan Sejarah nggak boleh minderan!"
Nggak bisa disangkal, jurusan Sejarah adalah salah satu jurusan kuliah underdog di Indonesia, bahkan di dunia. Bukan jurusan kuliah incaran banyak orang, lah.

Kalau ada yang nanya kuliah di universitas mana, mahasiswa Sejarah, sih, masih bisa menjawab dengan cepat dan lantang, “di Universitas blablabla!” Saat ditanya di fakultas apa, jawabannya agak memelan, “Fakultas Sastra…” (FYI, biasanya jurusan Sejarah memang berada di bawah Fakultas Sastra atau Ilmu Budaya). Nah, ketika ditanya, “Sastra apa?” biasanya anak Sejarah akan menjawab dengan volume suara tikus, “Mmmm… jurusannya, sih, Sejarah…”. Berharapnya, sih, yang nanya nggak dengar. Kalaupun dengar, yaaa, kurang jelas gitu, deh.

Tapi sikap ini nggak boleh dipelihara, ah! Ilmu Sejarah ‘kan ilmu yang keren banget. Skill yang didapat dari kuliah Sejarah pun bisa berguna dalam banyak aspek kehidupan dan pekerjaan. Jadi jangan minderan, ya!

5. "Mahasiswa jurusan Sejarah harus tahan mental dengan tugas makalahnya."
Setiap minggu, mahasiswa Sejarah di kampus saya harus membuat makalah minimal sepuluh lembar. Sekarang, sih, rata-rata mahasiswa punya laptop sendiri-sendiri. Tapi duluuuuu, ketika mahasiswa masih jarang punya laptop pribadi, kami akan memenuhi warnet di malam hari, H-1 sebelum makalah harus dikumpulkan, sambil berharap agar jari-jari bisa mengetik tanpa butuh kemampuan berpikir.

Saya pernah kepepet banget dan nggak sempat lagi ngetik. Akhirnya saya hanya menandai beberapa paragraf di beberapa buku kuliah, kemudian menyerahkannya ke si akang penjaga warnet.

“A’, yang saya tandai pakai stabile ini tolong diketik, ya.”

“Semua yang distabilo?”

“Iya A’. Semoga dosennya nggak ngeh.”

Tapi saya melakukan taktik ini cuma sekali, kok! Beneran, deh!

6. "Mahasiswa jurusan Sejarah wajib baca banyak buku."
Bukunya tebal-tebal pula. Oke, mungkin semua mahasiswa memang harus banyak baca buku tebal. Namun buku-buku bacaan mahasiswa Sejarah selain tebal, biasanya berdebu, kadang kutuan, dan langka!

Jadi jangan heran kalau mahasiswa Sejarah harus sering berburu buku ke pasar buku bekas atau sudut-sudut perpustakaan gelap yang mungkin udah jadi sarang makhluk jadi-jadian.

Maka bayangkan betapa hampanya hati saya, ketika udah heboh membolak-balik halaman buku langka yang udah rapuh kayak hati para jomblo, tapi ternyata bahan yang dicari nggak ada. Duh!

buku sejarah

Mau belajar ilmu Sejarah apa ilmu primbon?!

7. "Mahasiswa jurusan Sejarah harus belajar bahasa Belanda."
Buku-buku pengantar kuliah Sejarah kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Belanda, sehingga mahasiswa Sejarah juga bakal belajar bahasa Belanda saat kuliah. Tapi di kampus saya, bahasa Belanda hanya dipelajari dasar-dasarnya aja, selama empat semester, jadi kemampuan bahasa Belanda saya juga dasar banget. Setelah mata kuliahnya selesai pun, dasar-dasar bahasa Belanda itu hilang tak berbekas di kepala. Nggak kayak kenangan mantan kamu. Ah.

(sumber gambar: penakisemar.files.wordpress.com, www.whatculture.com, pyonpyon.deviantart.com)

LATEST COMMENT
Rusni | 2 hari yang lalu

Pengen masuk universitas tanjung pura

Informasi Lengkap SNMPTN 2020. Cek Jadwal dan Ketentuannya!
Aisyah Galuh | 2 hari yang lalu

Saya juga suka jasa titip. Tapi biasanya jastip saya dari toko online kemudian saya jual ke teman teman dengan menaikkan harga. Lumayan sih untungnya

10 Ide Bisnis Buat Mahasiswa dan Pelajar yang Nggak Menyita Waktu (Bagian 2)
Obbi Handira | 2 hari yang lalu

Program Pascasarjana S2 Terbaik di Sumatera Utara adalah Perguruan Tinggi Swasta Universitas Medan Area yang sudah Terakreditas A oleh BAN-PT, informasi lengkap kungjungi www.uma.ac.id dan pasca.uma.ac.id

Perguruan Tinggi dengan Jurusan Agribisnis Terbaik
Obbi Handira | 4 hari yang lalu

Program Studi Ilmu Komunikasi terbaik ada di Perguruan Tinggi Swasta Universitas Medan Area dan sudah terakreditasi A oleh BAN-PT Tahun 2019, informasi lengkap kunjungi www.uma.ac.id dan fisip.uma.ac.id

Jurusan Ilmu Komunikasi Terbaik di Indonesia Beserta Pilihan Kampus dan Prospek Kerjanya
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©