Menu

5 Kegalauan Mahasiswa Menjelang Wisuda

Mata kuliah udah lulus, skripsi udah “lolos”, berarti tinggal wisudanya aja, sob! Tapi kok, masih galau aja? Ternyata, inilah penyebab serangan gundah gulana pada mahasiswa menjelang wisuda.

1. PW mana PW???! (Baca: Pendamping wisuda)

“Saat diwisuda tapi nggak ada pendamping, di situlah saya merasa syedih!” Mungkin begitulah jeritan batin anak manusia yang mau wisuda. Halah!

Sebenarnya sih, cukup orang tua dan keluarga yang mendampingi wisuda. Itu juga udah bikin happy. Tapi bagi sebagian wisudawan (terutama yang jomlo), ada pressure untuk memiliki PW. Biar ada yang ngasih karangan bunga. Eaaaak!

Yang lebih ngerinya lagi, setelah kamu wisuda, bakal banyak muncul komentar  kayak begini, “Mana calon pasangannya?”, “Kapan nyusul nikah, kan udah lulus?” Sabar aja ya, sob! Orang sabar jodohnya cakep.

2.  Terancam nganggur

Bukan bermaksud pesimis, tapi wajar bila ada kekhawatiran. Satu angkatan di kampus yang barengan di wisuda aja, jumlahnya ribuan, apalagi jika bersaing dengan seluruh angkatan kerja baru. FYI, di Indonesia ada lebih dari 600 ribu pengangguran yang lulusan perguran tinggi, hampir 500 ribu di antaranya bergelar S1.

Kalau menurut Lilis Halim, Consultant Director Willis Tower Watson Indonesia, fresh graduate dinilai kurang memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan. Makanya, jadi susah untuk dipekerjakan. Jadi jangan cuma belajar materi di kelas dan mengejar gelar plus nilai aja, sob!

pekerjaan

Youthmanual sempat membahas 20 skill yang dibutuhkan  perusahaan, di antaranya kemampuan berkomunikasi, kreativitas, kemampuan menganalisa, kepemimpinan,  dan lainnya. Semua itu bisa diasah lewat kegiatan kemahasiswaan,  proyek kelompok, magang, dan pengalaman lainnya.

Lifelong learning, dong sob, alias belajar terus dari apa yang kamu lakukan dan alami dalam hidup. Belajar dari apapun dan siapapun yang kamu temui. Nggak hanya text book, kamu bisa belajar dari pengalaman dosen, dari senior, dari pedagang di kantin, sampai belajar dari mantan. Belajar supaya nggak ketipu lagi. Hehehe!

3. Susah move on dari kampus

Seandainya kuliah itu adalah pekerjaan dan menghasilkan, maka saya akan kuliah selamanya. Yup, saya sempat berpikiran seperti itu. Soalnya, kuliah dan kampus sudah jadi comfort zone saya.

Serunya diskusi di kelas, asyiknya berbagai kegiatan kampus, sampai rutinitas kongkow-kongkow di kantin (sambil main gaple) yang bikin betah. Rasanya sulit banget pisah dari itu semua dan mengarungi kerasnya dunia kerja. Kerja di kantor 9 to 5 (atau lebih), teman-teman yang serius, punya beban kerja. Hhhhhhffttt!

Ada sih, alumni yang memutuskan untuk nggak move on dan lebih memilih nongkrong di kampus setelah lulus. Tapi sob, reality is caling. Walau masa-masa jadi anak kuliah menyenangkan, tapi kita mesti melanjutkan hidup, keluar dari zona nyaman, dan sambut tantangan di dunia kerja. Kalau nggak gitu, nggak bakalan bisa maju, sob!

4. “Trus, gue ngapain?”

Ada mahasiswa yang sudah punya planning jelas dalam hidupnya. Habis lulus mau bekerja di perusahaan A, B, C, di posisi X, dan lainnya. Tapi nggak sedikit juga yang masih clueless.  

Bagi yang masih bingung, jangan langsung panik. Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang pilihan yang ada, dan pikirkan baik-baik. Kamu bisa lanjut kuliah, langsung bekerja, buka usaha, freelance atau lainnya. Kalau masih bingung, lihat deh pembahasan Youthmanual mengenai opsi setelah lulus kuliah.

5. Balik ke rumah.

Kalau kamu sempat ngekos atau merantau semasa kuliah, kamu perlu penyesuaian diri kembali saat balik ke rumah.

Setelah lima tahun jadi anak kos yang terbiasa mandiri dan mempunyai ruang sendiri, saya agak galau waktu balik ke rumah. Sempat merasa terkekang dan kurang privacy sih, lantaran kembali tinggal bersama keluarga, dan wajib mengikuti peraturan rumah. Walau kangen sama suasana ngekos, akhirnya saya bisa beradaptasi.

Bagi saya, tetap bisa kok, mandiri dan punya privacy saat di rumah. Meskipun akan beda dengan kehidupan di kos, ya.

(sumber gambar: www.anu.edu.au, frumforum.com)

LATEST COMMENT
noer yahya | 20 jam yang lalu

Kalo statistik di psikologi itu langsung terapan ya kak. Biasanya langsung yang buat nguji alat tes dan hasil penelitian. Kalo ditanya gampang jawabannya ya SUSAH. Tapi nanti ada alat bantunya kok

Q & A Bedah Jurusan Kuliah Psikologi
Fatimah Ibtisam | 1 hari yang lalu

Ada isu yang beredar. Tapi sejauh ini tidak ada pemberitahuan bahwa tidak boleh lintas jurusan di SBMPTN. Sedangkan pada SNMPTN, tiap kampus memiliki aturan tersendiri mengenai boleh atau tidaknya lintas jurusan. Namun pihak penyelenggara tidak menyarankan hal tersebut (lintas jurusan di SNMPTN).

10 Perubahan Penting SNMPTN dan SBMPTN 2019
fauzyiahputri | 2 hari yang lalu

Kak mau tanya. Apakah benar tahun 2020 tidak boleh pindah jurusan?

10 Perubahan Penting SNMPTN dan SBMPTN 2019
Tisam Ali | 3 hari yang lalu

Setahu kami, mata pelajaran yang umum.

Serba-Serbi SNMPTN 2019 yang Penting Kamu Ketahui
Tisam Ali | 3 hari yang lalu

Pendaftaran SNMPTN gratis. Namun setelah masuk kamu perlu membayar biaya kuliah sesuai kebijakan kampus. Untuk keringanan/beasiswa, bisa mengikuti program Bidikmisi.

Serba-Serbi SNMPTN 2019 yang Penting Kamu Ketahui
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2019 Rencanamu ©