Siapa Bilang Perempuan Nggak Cocok Jadi Ketua? Lakukan 4 Hal Ini, Supaya Kemampuan Kepimpinanmu Makin Oke!

Percaya, deh, semua orang bisa jadi pemimpin. Tapi orang-orang cenderung memilih laki-laki sebagai ketua daripada perempuan. Kenapa? Karena perempuan dinilai lebih sering pakai perasaan dibandingkan logika. Kalau mereka jadi ketua, mereka dianggap akan cenderung melibatkan perasaan dalam pengambilan keputusan.

Perempuan juga dianggap sensitif—mudah berprasangka dan dikit-dikit baper. Perempuan juga dianggap kurang tahan banting sehingga kalau ada masalah di organisasi atau kepanitiaan, mereka jadi gampang stres.

Asumsi-asumsi itu masih cukup sering beredar di sekolah ataupun kampus. Mungkin kamu juga merasakan, ya. Akibatnya, perempuan cenderung nggak ambisius untuk jadi ketua. Kalaupun mereka aktif berkegiatan, mereka nggak mau ditunjuk atau mencoba jadi ketua. Cukup jadi anggota yang loyal.

Tapi, girls, menjadi ketua kepanitiaan atau organisasi adalah pencapaian dan pengalaman yang luar biasa, lho! Juga bisa jadi poin plus juga ketika kamu mendaftar beasiswa dan melamar kerja.

Namun tentunya, menjadi ketua perlu leadership skill yang cukup. Berikut saya kasih empat tips untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan kamu!

1. Manfaatkan sifat-sifat asli perempuan yang ada dalam dirimu

Sebagai perempuan, kita punya banyak bakat dan kemampuan yang unik, lho. Misalnya, perempuan punya intuisi kuat dan rasa empati yang besar, sehingga perempuan lebih jago mengenali masalah dan memahami situasi yang terjadi. Tapi banyak perempuan yang menekan kelebihan ini, dan cenderung menggunakan sifat-sifat laki-laki.

Contohnya, nih, banyak perempuan yang suka terlihat mendominasi percakapan, atau sok-sokan galak dan jutek. Bukannya terlihat cerdas dan berani, mereka justru jadi dipandang nyebelin bahkan kasar.

Daripada mencoba terlihat seperti laki-laki, manfaatkan aja kelebihan yang kamu punya, girls. Bicaralah ketika kamu memang harus bicara, dan dengarkan ketika memang waktunya harus mendengarkan.

2. Pahami, lakukan, dan ungkapkan

Perempuan biasanya suka ingin menyenangkan semua orang, tetapi hal ini nggak mungkin kamu lakukan kalau kamu jadi ketua. Kamu harus sadar bahwa kewajiban kamu bukanlah membahagiakan orang lain, tetapi melakukan apa yang memang perlu kamu lakukan untuk kepentingan bersama.

Pahami organisasimu, lakukan pekerjaanmu dengan baik, dan ungkapkan opinimu dengan percaya diri. That’s it!

3. Biarkan tindakan nyatamu yang berbicara

Tahu ‘kan istilah “talk less, do more?” Artinya, kamu mesti menunjukkan kontribusi yang nyata untuk organisasi. Jangan hanya modal cuap-cuap kanan-kiri. Carilah cara supaya kamu memberikan dampak yang signifikan dan membuat keberadaanmu diperhitungkan.

Kalau kamu membuat kontribusi yang nyata, orang akan jadi lebih percaya dengan pencapaian dan kesungguhanmu. Tapi jangan terlalu aktif sampai kesehatanmu terabaikan, ya.

4. Carilah “mentor” yang suportif

Mentor yang saya maksud di sini maksudnya “senior”, ya. Mungkin kakak kelasmu yang sebelumnya menjabat sebagai ketua juga, atau yang dipandang punya pengaruh besar untuk organisasi. Mentor juga bisa saja ketua organisasi atau ketua divisi yang saat ini masih menjabat.

Oiya, jangan selalu mengartikan mentor sebagai orang yang mau nge-mentor kamu secara harfiah, ya. Pasti kalian bakal sama-sama awkward kalau kamu nanya ke kakak kelas, “Kak, mau nggak jadi mentor aku?”. Nanti kamu malah diketawain, hihihi. Artinya mentor di sini adalah orang yang kamu anggap sebagai mentor.

Memang apa, sih, manfaatnya punya mentor? Yang pasti, kamu jadi bisa banyak mengevaluasi diri dari mereka. Kamu bisa nanya tips-tips mereka dalam memimpin banyak orang, cara mengatur waktu, mengatasi perbedaan pendapat, dan sebagainya. Kamu juga bisa diberikan kesempatan untuk memimpin suatu proyek, dan kalau proyeknya berhasil, reputasimu di organisasi akan semakin oke!

(sumber gambar : news.asiaone.com, biography.com, babatpost.com, aktualpost.com, kompasiana.com)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Agustin Lutfianty | 2 bulan yang lalu

Kunjungi website kami di https://walisongo.ac.id

World Suicide Prevention Day: Seberapa Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa?
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Karena merasa gk nyaman aja gitu tmn2 yg lain kok pada enak2 aja aku kok gk enak gitu Krn bidang kerjaan mereka cuma duduk aku berdiri teruss

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Kak saya ingin pindah magang

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1