Rosmala Sari Dewi dan Passionnya Sebagai Koreografer Tari Tradisional

Sejak bersekolah di SMK Negeri 3 Bogor, Rosmala Sari Dewi—yang akrab dipanggil Mala—selalu jadi cewek favorit saya dan teman-teman lain. Selain cantik, Mala selalu menonjol dengan sikap “ngotot”nya dalam mengejar mimpi. Nggak heran, begitu lulus sekolah, Mala langsung mewujudkan mimpinya menjadi seorang penari profesional dan koreografer tari tradisional. Kangen sama tuturnya katanya yang ceplas-ceplos dan penasaran sama kegiatan tarinya, saya ngajak Mala ketemuan dan nodong ngobrol soal kiprahnya di dunia tari tradisional.

Kegiatan Mala sekarang apa aja?

Kegiatan aku sekarang ngajar tari tradisional di Institut Daya Indonesia dan aktif di International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts cabang Indonesia sebagai koreografer freelance. Selain itu, aku juga kadang mengajar di kedua sanggar pribadiku, Gandrung (di Bandung) dan Nyi Ronggeng (di Depok).

Cerita, dong, soal Gandrung dan Nyi Ronggeng!

Gandrung itu sebetulnya nama tim tari tradisional aku. Kebetulan, aku punya studio tari untuk tempat latihan tim Gandrung di Bandung. Kami sering rutin latihan untuk ikut berbagai festival tari tradisional. Lama kelamaan, banyak orang di luar tim Gandrung yang ingin ikut latihan menari di studio kami. Akhirnya, aku sekalian aja buka sanggar tari dan meng-hire beberapa guru, termasuk untuk kelas balet dan yoga. Jadinya sekarang Gandrung Studio dibuka untuk umum, deh!

Rosmala 2 - Youthmanual

Sementara Sanggar Nyi Ronggeng yang di Depok khusus membuka kelas tari tradisional untuk anak-anak kecil. Untuk Nyi Ronggeng, aku meng-hire tiga guru dari Universitas Negeri Jakarta, yang dulunya adalah mahasiswa aku.

Kenapa dan gimana awalnya Mala terjun ke dunia tari?

Setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruanwaktu itu aku siswa jurusan Kecantikan Kulit—aku coba “nyemplung” di dunia entertainment. Jadi aku ikut kompetisi make up, ikut kontes model, ikut syuting, dan lain sebagainya. Tapi aku nggak merasa hal-hal itu ngasih aku kepuasan batin. Akhirnya, karena sejak kecil aku gila nari, aku memutuskan untuk meneruskan kuliah tari ke Bandung. Waktu itu aku ngambil S1 Seni Tari jurusan Penciptaan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, trus lanjut S2 di Institut Kesenian Jakarta jurusan Seni Urban dan Industri Budaya.

Selain kemampuan menari, apa, sih, sikap atau etos kerja yang harus dimiliki seorang performer?

Rajin latihan, rajin latihan, rajin latihan! Ih, bosen ya? Hahaha! Abis menurut aku, yang paling penting, seorang penari itu nggak berhenti belajar dan terus latihan. Kita harus bisa menguasai segala jenis tarian, nggak hanya satu jenis, meskipun hanya dasar-dasarnya aja. Soalnya, unsur-unsur tari dari berbagai jenis tari bakal ngasih kita banyak inspirasi untuk dituangkan dalam tarian yang kita sukai.

Bagaimana, sih, prospek penari tradisional sekarang ini?

Ini klise sih, tetapi sebenarnya prospek kerja apapun tergantung diri kita sendiri. Apalagi untuk pekerja seni. Kalau kita selalu meningkatkan kualitas dan aktif ikut berbagai festival, dunia seni akan notice kemampuan kita, kok. Sehingga pada akhirnya, kesempatan menari akan selalu ada.

Kalau kita nggak menari dengan serius atau hanya menjadikan tari sebagai ajang senang-senang aja, ya kesempatannya juga hanya akan disitu-situ aja. Aku nggak bilang kita akan kaya raya dengan menjadi penari, ya. Tetapi yang pasti, seni tari nggak terbatas pada kegiatan menari aja. Kita bisa bikin koreografi, mengajar, melatih, terjun di bidang musik dan kostum, ikut komunitas, dan banyak lainnya. Selama ini, banyak orang jadi penari aja, tetapi yang berkecimpung di industri tari secara profesional malah sedikit.

Apa, sih, tantangan menjadi seorang penari tradisional di zaman sekarang ini?

Banyak orang bilang, kecintaan masyarakat Indonesia terhadap tari tradisional mulai pudar. Tetapi menurutku, bukan itu tantangan terbesar bagi dunia tari tradisional sekarang ini.

Menurutku, yang paling bikin capek adalah konsisten berkarya dan mendapat perhatian dari pemerintah untuk melestarikan tari tradisional. Sulit banget, lho, mencoba berpartisipasi mewakili Indonesia ke ajang tari internasional. Persaingan antar sanggar untuk dipilih sama pemerintah itu berat banget. Untuk bisa mewakili Indonesia tampil di luar negeri, kita harus menunjukan profesionalisme yang nggak tanggung-tanggung.

Rosmala 4 - Youthmanual

Aku, sih, berharap pemerintah mau memberikan kesempatan yang adil bagi setiap sanggar tari tradisional di berbagai daerah untuk dibawa tampil ke luar negeri. Jadi pembawa misi budaya bukan sanggar tari yang itu-itu melulu.

Waktu kuliah, bagaimana, sih, profil dan aktivitas kamu secara garis besar?  (berprestasi secara akademis? Suka berorganisasi? Suka nongkrong di kantin?)

Aku tipe yang pemberontak banget, sih, hahaha!

Aku melihat pendidikan di Indonesia itu text book banget. Di kampus, kita belajar dari buku-buku yang sama selama bertahun-tahun. Bukunya jadul semua lagi! Jadi aku merasa wawasan yang diberikan kurang, padahal aku haus banget soal ilmu tari tradisional. Makanya waktu kuliah, aku banyak nekat ketemu dengan para ahli di bidang yang mau aku perdalam. Misalnya, ketika lagi penasaran sama Jaipong, aku ngotot harus ketemu langsung sama tokoh atau dosen ahli Jaipong. Rada tengil, ya? Tapi percaya, deh, ilmu yang aku dapat dari nekat itu jauh lebih banyak dibanding ilmu dari buku.

Apa hal-hal yang kamu kangenin dari masa kuliah?

Hal yang aku kangenin dari kuliah S1 adalah praktek macam-macam tarian. Ada Tari Topeng Cirebon, Tari Wayang, dan lain sebagainya. Kalau yang dikangenin dari kuliah S2 justru orang-orangnya, karena teman-temanku saat S2 dulu datang dari berbagai latar yang berbeda. Ada yang berlatar belakang Hubungan Masyarakat, teater, dan sebagainya.

Rosmala Sari Dewi - Youthmanual

Apa skill yang kamu pelajari di luar bangku sekolah, tapi bermanfaat untuk profesi kamu sekarang?

Manajemen, bok! Gila, ya. Ngatur penari itu ternyata nggak gampang. Apalagi konsentrasi aku ‘kan penciptaan. Jadi sebenarnya aku lebih banyak belajar mencipta daripada menari. Pokoknya, mengatur segala sesuatu di industri budaya itu nggak mudah. Apalagi nggak semua pekerja seni lahir dengan disiplin yang baik. Aku sendiri pun masih belajar untuk mau diatur dan mengatur dengan baik, sih.

Sejauh ini, pengalaman paling berkesan waktu nari di mana?

Buatku, pengalaman paling berkesan adalah ketika aku bikin tesis S2 tentang penciptaan tari. Aku memutuskan untuk bikin pertunjukan bertajuk Tarung Batin. Untuk itu, aku mengadakan penelitian di bawah kolong jembatan Jatinegara. Kenapa ke sana? Karena di sana adalah pusat seni urban Jaipong. Aku meneliti, gimana, sih, kehidupan seorang penari pinggir jalan yang tinggal di sanggar kolong jembatan? Gimana cara mereka hidup dari menari? Apa yang menggerakkan mereka untuk menari?

Selama penelitian, aku mendatangi sanggar di kolong jembatan Jatinegara. Aku kenalan sama semua penari di sana, yang rata-rata asli dari Kerawang. Aku mencoba mengikuti kehidupan mereka. Aku tidur di sanggar, nari di kolong jembatan, ikut nari di pinggir jalan, disawer cuma dua ribu, pokoknya aku harus punya pengetahuan untuk tahu gimana pertarungan batin seorang penari Jatinegara. Aku benar-benar ingin merasakan apa yang mereka rasakan. Setelah penelitian, aku bikin pertunjukan Tarung Batin. Alhamdulillah, semuanya sukses.

Eh, setelah pulang dari short course tari di New York, Amerika Serikat, aku dapat kabar bahwa Tarung Batin terpilih menjadi salah satu karya alumni pascasarjana IKJ yang mau ditampilkan kembali dengan biaya dari pemerintah. Asli, aku senangnya bukan main. Aku bisa mementaskan Tarung Batin di Jakarta tanpa mengeluarkan biaya! Padahal bikin pementasan ‘kan mahal banget, ya. Apalagi di Jakarta. Jadi ketika Tarung Batin bisa disaksikan lebih banyak orang lagi, aku bangga banget.

Siapa penari atau guru tari idola Mala? Kenapa?

Sardono W. Kusumo. Beliau adalah seorang koreografer kontemporer yang pengetahuan tarinya luas banget. Beliau juga guru besar IKJ.

Satu lagi, F.X. Widaryanto, seorang kritikus dan peneliti tari. Beliau percaya bahwa tari haruslah punya energi yang bisa bertutur dan bikin semua indra kita terpasung sama tarian itu.

Boleh share lima tips untuk adik-adik yang ingin menjadi performer profesional yang sukses, khususnya sebagai penari. Utamanya karena performer bukan sebuah profesi yang mainstream di Indonesia.

Pertama, choose your specialty, but don’t stop there. Kamu boleh mendalami satu jenis tarian tertentu, tapi kamu nggak boleh berhenti belajar jenis-jenis tarian lainnya. Teknik tari berbagai tarian itu bakal bermanfaat banget buat basic skill nari kamu.

Kedua, sebagai performer, jangan mikirin bayaran mulu, ah! Hahaha.

Ketiga, jangan malas cari referensi gerakan baru.

Keempat, buka networking seluas-luasnya. Kalau nggak, nanti kamu cuma nari depan kaca doang!

Terakhir, disiplin jaga badan, jaga makan, dan jaga kesehatan, karena menari butuh stamina kuat.

(sumber foto: dokumentasi pribadi, Dian Ismarani)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Agustin Lutfianty | 2 bulan yang lalu

Kunjungi website kami di https://walisongo.ac.id

World Suicide Prevention Day: Seberapa Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa?
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Karena merasa gk nyaman aja gitu tmn2 yg lain kok pada enak2 aja aku kok gk enak gitu Krn bidang kerjaan mereka cuma duduk aku berdiri teruss

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Kak saya ingin pindah magang

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1