Sisi Plus dan Minus Gap Year—Memang Bermanfaat, atau Cuma Buang-Buang Waktu dan Uang?

Kalau suka ngikutin berita, pasti kamu udah tahu, dong, berita tentang Malia Obama yang memutuskan untuk menjalani gap year dulu sebelum mulai kuliah di Harvard tahun depan?

Tapi, kamu tahu nggak, sih, apa itu  sebenarnya gap year?

Menurut Wikipedia, gap year adalah “cuti”—entah itu beberapa bulan, setahun, atau bahkan lebih—yang dilakukan setelah seorang pelajar lulus dari sekolah menengah atas, sebelum dia melanjutkan studi ke tinggi (atau ke dunia kerja). Ibarat kata, “cuti sekolah” dulu.

Tren gap year dimulai dari negara-negara Eropa—Pangeran William, Benedict Cumberbatch, dan J.K. Rowling adalah contoh orang yang dulu juga ngambil gap year, lho!—sebelum akhirnya ikutan ngetren di Amerika.

jk rowlingJ.K. Rowling, penulis beken yang pernah mengambil gap year semasa mudanya

Gap year sangat umum dilakukan oleh anak-anak muda di negara Barat, dan gap year biasanya diisi dengan berbagai cara, misalnya, mengambil kursus keterampilan, bekerja part time atau full time, magang, volunteer, travelling, dan sebagainya.

Konsep gap year sendiri memang nggak femes di kalangan anak muda Indonesia. Nggak heran, sih, soalnya kebanyakan lulusan SMA di Indonesia ngebet banget pengen kuliah secepatnya, meskipun kadang mereka belum tahu mau kuliah dimana dan di jurusan apa (nah, lho). Pokoknya, yang penting judulnya “gue kuliah”! Padahal nyatanya gaswat pisan, ‘kan, kalau kamu sampai salah jurusan?

Sisi Plus Gap Year

Gap year umumnya dianggap sebagai masa pendewasaan diri, karena pada masa tersebut, anak-anak muda mulai meninggalkan rumah mereka dan belajar hidup mandiri. Selama gap year, mereka nggak sekedar melakukan apapun yang mereka sukai, tetapi juga membekali diri dengan kemampuan dan keterampilan yang nggak mereka dapatkan di bangku sekolah.

Dengan kata lain, gap year nggak hanya sekedar “cuti sekolah”, karena  gap year bisa membuat kamu mengenal diri kamu sendiri dengan lebih dalam, dengan cara mendalami hal-hal yang kamu minati, atau justru melakukan hal-hal baru di luar comfort zone kamu.

sisi plus gap year

Kalau kamu termasuk calon mahasiswa yang masih galau tentang jurusan kuliah dan tujuan hidup kamu, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk mengambil “cuti kuliah” ala gap year ini, lalu ikut program magang atau kursus tertentu untuk mengkeksplor minat dan bakat kamu. Pertanyaan sesimpel “gue mau kuliah jurusan apa” pun bisa terjawab dengan tepat, lho, dengan gap year ini.

Travelling selama gap year juga oke banget untuk membuka mata dan menambah wawasan kamu tentang dunia. Ingat artikel Youthmanual tentang alasan kenapa kamu harus sering jalan-jalan, dan pentingnya pengalaman multikultural? Nah, dua hal berharga tersebut bisa kamu dapatkan dengan jalan-jalan keliling dunia di masa muda.

Trus, gap year juga bisa melatih kamu hidup mandiri dan nggak tergantung dengan orang lain. Adulting is hard, gaes! Kamu bakal harus bertanggung jawab atas banyak hal, nyari duit untuk memenuhi kebutuhan, dan merawat diri kamu sendiri. Sebagai gambaran, kamu bisa hura-hura sampai subuh. Nggak ada yang peduli. Tapi ketika kamu sakit, nggak ada yang peduli juga. Being an adult takes a lot, both physically and mentally.

Nah, setelah kamu sempat ngejalanin gap year, dijamin kamu bakal menahan diri minta uang ke orang tua, karena kamu jadi sadar, bahwa cari duit itu susah!

Sisi Minus Gap Year

Di sisi lain, memilih untuk menjalani gap year juga ada sisi nggak enaknya. Pertama, setelah kamu selesai gap year dan akhirnya masuk kampus, bisa aja kamu jadi nggak siap untuk kembali belajar secara formal, karena terbiasa mencari ilmu dan pengalaman di luar kampus. Setelah “mencari jati diri” selama sekian bulan, mungkin otak kamu udah lupa sama aljabar atau ilmu biologi yang diperlukan untuk ujian saringan masuk universitas. Mau nggak mau harus kebut bimbel lagi, deh.

sisi minus gap year

Lalu, bayangkan berapa biaya yang akan kamu keluarkan selama gap year! Meskipun bersifat membangun, tapi beberapa aktivitas yang kamu lakukan selama gap year tentunya butuh biaya, seperti biaya kursus, dan pelatihan. Trus, kalau kamu magang pun, belum tentu kamu digaji. Jadi, walaupun kamu bekerja, kondisi dompet, sih, tetap kondisi dompet pengangguran. Sedih!

Belum lagi kalau kamu ambil opsi travelling. Dompet kamu mesti kuat, sob! Kalau kamu beruntung, kamu bisa mendapat sponsor atau ikut program pertukaran pelajar. Kalau nggak? Ya, alamat melarat. Pantas aja, sih, kalau cuma anak-anak “golongan tertentu” aja yang bisa melakukan gap year *ehemMaliaObamaehem*. Everything comes with a price, right?

Last but not least, gap year bisa dipandang negatif di Indonesia, karena stigma pendidikan yang, ehem, agak salah di negara ini. Maklumlah, Indonesia ‘kan lebih menghargai prestasi akademis daripada ilmu yang didapat di dunia luar. Sehingga, orang tua bisa menuduh kamu malas, dan gelisah karena kamu nggak buru-buru kuliah. Malah memilih jadi “pengangguran” dulu selama kuliah!

So, di luar trade off biaya, waktu  dan pengalaman, masalahnya bukan apakah gap year applicable atau nggak di Indonesia, ya, gaes. Tapi balik lagi ke diri kamu sendiri—apakah kamu bersedia dan sanggup untuk mengembangkan diri kamu lewat gap year ini, yang jarang dilakukan oleh anak-anak muda Indonesia lainnya?

(sumber gambar: weneedtolivemore.com, andpop.com, teenlife.com, knowlondon.co.uk)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Agustin Lutfianty | 2 bulan yang lalu

Kunjungi website kami di https://walisongo.ac.id

World Suicide Prevention Day: Seberapa Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa?
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Karena merasa gk nyaman aja gitu tmn2 yg lain kok pada enak2 aja aku kok gk enak gitu Krn bidang kerjaan mereka cuma duduk aku berdiri teruss

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Kak saya ingin pindah magang

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1