Jangan Jadi Anak Magang Atau Fresh Grad yang Lembek, Lah, Sob! Berikut Pengamatan Pribadi Saya

Salah satu teman saya baru curhat. Dia bilang, dalam satu bulan ini, ada banyak anak magang yang berhenti bekerja dari kantornya, baik karena keinginan mereka sendiri, maupun karena diberhentikan perusahaan.

Padahal menurut teman saya, anak-anak fresh graduate—atau mahasiswa semester akhir—zaman sekarang umumnya pintar, supel, dan berpotensi tinggi. Tetapi mereka gampang sekali berhenti, bahkan setelah baru bekerja selama… satu bulan saja.

Setelah saya ngobrol dengan beberapa teman lain yang mengelola perusahaan startup, ternyata kesimpulannya sama: anak-anak muda zaman sekarang gampang banget nyerah!

Bentuk “menyerah”nya macam-macam. Bisa menyerah dengan berhenti kerja, bisa juga “menyerah” dari segi sikap. Maksudnya, mereka jadi malas-malasan dan ogah mendorong diri sendiri. Maunya nongkrong di comfort zone aja.

Merasa bahwa kamu—atau lingkungan kamu—begini juga nggak?

Padahal sebagai Generasi Milenial, kamu tuh luar biasa, lho. Wawasan kamu luas banget, dan kamu cepat menangkap informasi baru. Generasi Milenial juga kreatif dan inovatif.

Namun kenapa banyak kakak-kakak, om-om, atau tante-tante yang mengeluh tentang Generasi Milenial, terutama di lingkungan kerja? Keluhannya antara lain adalah, kalian cenderung “lembek”, cepat menyerah, narsis, dan merasa entitled.

Dulu, kalau ada Generasi X yang punya bos galak, dia bisa kuat-kuatin diri kerja di bawah si bos galak selama setahun dulu. At least, sampai dia bisa menyerap banyak ilmu dari si bos. Habis itu, baru berani resign. Pernah nonton film The Devil Wears Prada?

Sementara Generasi Milenial biasanya bakal resign setelah hanya 2-3 bulan bekerja.

Menurut New York Post, sebuah survey mengatakan bahwa 71 persen orang dewasa di Amerika menganggap Generasi Milenial itu “egois”, sementara 65 persen menganggap mereka “entitled”. Kalau kata Jill Rigby Garner, pengarang buku Raising Respectful Children in a Disrespectful World, salah satu penyebabnya adalah karena Generasi Milenial terbiasa mendapatkan kepuasan dengan cepat. Apalagi kepuasan informasi, di era Internet yang serba instan ini.

Memang, sih, Generasi Milenial punya prioritas yang berbeda dengan generasi di atasnya. Misalnya, daripada gaji besar, Generasi Milenial lebih mementingkan perasaan dihargai dan fleksibilitas jam kerja.

Perusahaan zaman sekarang paham hal itu, kok. Apalagi kalau atasan kamu juga Generasi Milenial alias masih muda (biasanya perusahaan startup, nih!). Dia pasti paham banget tentang keinginan kamu tersebut.

Nah, kalau keinginan kamu sudah dipenuhi perusahaan, tetapi kamunya masih nggak bekerja dengan baik, wajarlah kalau kamu—dan generasi kamu—jadi dicap jelek.

Gimana, dong, supaya kamu bisa jadi Milenial yang sukses dalam bekerja, dan disayang atasan kamu?

Youthmanual sudah pernah membahas ini sebelumnya, namun berikut pengamatan pribadi saya:

1. Jangan merasa dunia berkiblat ke kamu

Beberapa kali saya menerima surat lamaran kerja yang panjaaaang dan sangat mentereng. Isinya adalah segudang prestasi dan pencapaian sang pelamar.

Okelah, lewat CV kamu itu, saya jadi tahu hal-hal hebat yang sudah kamu lakukan untuk diri kamu sendiri.

Pertanyaannya, apa hal-hal hebat yang bisa kamu lakukan untuk perusahaan kami?

Kepintaran kamu nggak bakal bikin atasan kamu kagum, kalau kamu nggak bisa berkontribusi kepada perusahaan.

Jangan lupa, sebagai bagian dari sebuah tim perusahaan, yang terpenting adalah kemajuan dan kesuksesan BERSAMA dalam perusahaan, bukan kesuksesan KAMU secara individual.

2. Perhatikan kesopanan

Tips sederhana dalam hal etika, nih.

Di kantor, asumsikan semua orang lebih tua daripada kamu. Saat kamu baru masuk di kantor baru, sebut semua orang dengan sebutan “Mbak”, “Mas”, “Kak”, “Pak”, “Bu”, walaupun kamu nggak tahu umur mereka sebenarnya berapa, dan walaupun budaya kantor kamu santai.

Sebagai anak bawang, lebih baik main aman dan sopan.

90% anak muda yang mengirimkan CV-nya ke saya langsung memanggil saya dengan sebutan nama, padahal usia mereka belasan tahun lebih muda daripada saya. Saya, sih, nggak masalah. Namun nggak semua atasan sreg dengan hal ini.

Kalau senior atau atasan kamu bilang, “Ah, udahlah! Panggil gue pake nama aja!” baru kamu bisa hilangkan sebutan Mbak”, “Mas”, “Kak” tersebut.

Trus, kalau kamu diberikan arahan lewat chat atau email, usahakan selalu balas dengan kalimat-kalimat seperti, “Sip, Mbak”, “Oke, Mas”, atau “Noted, Kak”.

Pokoknya, tunjukkan bahwa kamu sudah menerima dan memahami arahan dari atasan kamu. Jangan diam saja.

Kalau atasan kamu menginstrusikan kamu lewat chat, trus pesannya hanya di-read tanpa direspon sama sekali, atasan kamu akan bingung, lho. Kamu sebenarnya nggak paham, ngambek, apa gimana?

Kesannya sepele, ya. Namun ingat kata pepatah, “God is in the details.”

3. Inisiatif, inisiatif, inisiatif

Salah satu keluhan teman saya tentang anak-anak magang di kantornya adalah… mereka nggak bisa dilepas sendiri!

Kalau teman saya nggak memberikan instruksi spesifik, para anak magang bakal bengong aja. Kalau teman saya meleng dikit, para anak magang bakal malas-malasan. Kalau bosnya pergi rapat keluar kantor, para anak magang bakal colongan kabur dari kantor juga.

Akibatnya, mereka harus diawasi terus.

Jangan begitu ya, sob. Kamu sudah besar. Walaupun nggak ada yang mengawasi, kamu harus punya inisiatif tinggi dalam bekerja. Kalau nggak mendapat instruksi, coba ajukan ide-ide ke atasan kamu.

Kak Dinda (34), seorang staf legal di sebuah perusahaan bahan baku bangunan multinasional cerita, “Gue pernah punya anak magang, yang sering gue ajak ikut meeting dan training, supaya dia bisa belajar. Taunya dia main laptop dan hape terus, bukann inisiatif bikin note atau minutes of meeting. Padahal meeting dan training-nya relevan sama kuliah dia, lho.

Setelah masa magang dia habis, bos gue nawarin memperpanjang masa magangnya jadi dua minggu lagi, tapi ditolak. Katanya dia mau jadi panitia Ospek aja.”

Hmmm, padahal mana pengalaman yang lebih berharga? Jadi panitia Ospek, atau magang di perusahaan multinasional?

4. …. tapi jangan TERLALU insiatif

Walaupun inisiatif adalah hal yang sangat bagus, jangan sampai kamu bablas dan menjadi sok tahu, apalagi sok nge-bos.

Silahkan kerjakan berbagai tugas tanpa disuruh atasan kamu, tetapi ketika kamu harus mengambil keputusan, jangan langsung memutuskan sesuatu tanpa persetujuan atasan kamu terlebih dahulu.

Saya perhatikan, tindakan ini sering dilakukan oleh anak-anak magang yang dulunya terbiasa menjadi dominan di kampusnya. Mungkin dulu dia mahasiswa berprestasi, ketua berbagai organisasi, atau sangat aktif di kampus, sehingga dia merasa pede keputusan-keputusannya pasti benar.

Sayangnya, dunia kerja sangat berbeda dengan dunia kampus. Walaupun kamu dulu “pentolan” kampus, belum tentu kamu bakal jadi “pentolan” kantor. Apalagi kalau kamu belum punya pengalaman kerja. Ada segudang hal yang nggak kamu ketahui, lho.

Jadi hindari memutuskan atau melakukan sesuatu berdasarkan feeling atau selera pribadi. Diskusikan segalanya dengan tim, dan laporkan dulu kepada atasan kamu.

5. Kewajiban dulu, baru hak

Selalu bekerja dengan keras dan selesaikanlah kewajiban kamu dengan sebaik mungkin, baru minta hak kamu, apalagi kalau kamu kerja di startup. Kenapa?

Karena keuangan startup itu nggak selalu lancar, lho. Money is often tight.

Kalau hasil kerja kamu nggak maksimal, kamu pasti tetap digaji, sih. Tetapi atasan kamu mungkin akan memberikannya dengan kurang ikhlas.

Jangan lupa, kebanyakan owner startup baru nggak digaji atau nggak mengambil keuntungan, lho. Terutama kalau perusahaannya baru berdiri di bawah 3 tahun.

Kebayang nggak perasaan bos kamu kalau dia sendiri nggak mengambil gaji—demi mempertahankan perusahaannya—tetapi dia harus membayar kamu yang kerjanya asal-asalan? Gondok!

6. Jangan “lembek” kalau dikritik

Secara umum, Generasi Milenial dibesarkan dengan gaya pengasuhan yang cenderung “halus”. Dibandingkan orangtua Generasi X atau Generasi Y, orangtua anak-anak Generasi Millenials umumnya baik banget. Perasaan dan kepercayaan diri anak-anaknya dijaga bak porselen rapuh.

Akibatnya, Generasi Milenial menjadi generasi yang kurang tangguh kalau dikritik keras. Sehingga begitu masuk dunia kerja, mereka gampang sakit hati kalau dikritik atasan. Dua-tiga kali dikritik, langsung ngambek, bahkan minta resign!

Padahal seharusnya kamu malah BAHAGIA kalau dikritik. Kenapa?

a. Karena berarti atasan kamu memperhatikan kamu. Kamu malah harus khawatir kalau kamu dicuekin. Nggak dipuji, tapi juga nggak dikritik. Itu tandanya bos kamu nggak peduli sama kamu sama sekali. Tinggal tunggu waktu aja sampai kamu benar-benar dianggap nggak berguna, lalu “ditendang”. Hiiii!

b. Kalau kamu dikritik, kamu jadi bisa memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Resapi kritik atasan kamu. Jangan sakit hati! Kalau kamu bisa introspeksi dari kritik-kritik tersebut, saya jamin, nggak lama kemudian, kritik atasan kamu pasti akan berubah jadi pujian.

Jangan lupa, atasan (yang baik) nggak pernah mengkritik bawahannya karena alasan pribadi. Jadi, jangan GR lah, sob. Your boss doesn’t hate you. Dia cuma ingin kamu jadi lebih baik, sehingga kalian bisa sama-sama maju.

Oke?

(sumber gambar: npr.org, nypost.com, hercampus.com, gemmacorrell.com, jameselston.blogspot.com, americansaves.org, phillymag.com, designtaxi.com)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
syakila putri | 13 hari yang lalu

terimakasih atas informasinya. kunjungi website kami untuk informasi lebih lanjut https://unair.ac.id/

Bedah Peluang, Daya Tampung, serta Biaya Kuliah Jurusan Kedokteran dan Kedokteran Gigi Terbaik di Perguruan Tinggi Negeri
Muhamad Rifki Taufik | 24 hari yang lalu

4 Langkah menulis naskah film yang sangat bagus untuk mengembangkan skill penulisan saya. Terima kasih untuk ilmu yang bermanfaat.

4 Langkah Menulis Naskah Film yang Baik Bagi Pemula
Al havis Fadilla rizal | 2 bulan yang lalu

Open pp/endorse @alfadrii.malik followers 6k minat dm aja bayar seikhlasnya geratis juga gpp

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Deca Caa | 3 bulan yang lalu

open pp/endorse @aaalysaaaa 11,6 followers dm ya bayar seiklasnyaa

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Deca Caa | 3 bulan yang lalu

open pp/endorse @aaalysaaaa 1,6 followers dm ya, bayar seiklasnyaa

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2024 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1