Hal-Hal yang Mungkin Nggak Kamu Ketahui Soal WWF Indonesia

Gara-gara baru tau bahwa salah satu pemicu perang sipil Suriah ternyata adalah isu lingkungan, saya jadi penasaran soal isu lingkungan lain yang dekat di hati saya—konservasi satwa.

Maka, bertepatan dengan Hari Badak Dunia tanggal 22 September lalu, saya bertamu ke kantor WWF Indonesia. Dan setelah ngobrol dengan teman-teman di WWF, mata saya jadi terbuka banget. Hal-hal yang dulu saya kira begini, ternyata begitu. Yang dulu saya kira setia, ternyata selingkuh. Lah! Apa sih?! :D

Misalnya…

Did you know… apa misi utama WWF?

WWF adalah lembaga konservasi atau perlindungan alam. Jadi misi utama mereka adalah menghentikan degradasi alam di planet Bumi. WWF percaya, kunci utama dari tercapainya misi ini adalah keterlibatan dari seluruh masyarakat, dimana manusia dan alam dapat berjalan secara harmonis.

WWF nggak bisa melindungi alam sendirian, dan nggak bisa cuma lewat satu jalur. Konservasi harus sejalan dengan kepentingan ekonomi, sosial dan keseimbangan ekologi. Pokoknya tiga hal itu harus bersinergi. Kalau jalan sendiri-sendiri, pasti ada pihak yang dirugikan, dan ujung-ujungnya kegiatan konservasi nggak bisa dilaksanakan.

Selain melindungi, WWF Indonesia juga bertugas mengedukasi masyarakat untuk menggunakan sumber daya alam secara bijak. Gimanapun juga, bumi ini milik bersama dan harus dijaga bersama.

Did you know… WWF Indonesia melindungi satwa liar dengan cara melindungi habitat aslinya?

Awalnya, saya kira WWF Indonesia melindungi satwa liar secara langsung, lho. Misalnya, turun ke lapangan demi ngobatin badak yang luka kena perangkap pemburu. Macem di film-film dokumenter National Geographic gitu, deh.

Ternyata, WWF Indonesia lebih menjaga satwa dengan cara menjaga habitat asli mereka.

Bahkan kalau ada satwa liar yang direhabilitasi untuk tujuan pendidikan—pendidikan lho, ya, bukan hiburan!—kondisi kandangnya harus menyerupai habitat asli.

Ya, gimana nggak musti dijaga? Soalnya…

Did you know… satwa liar makin langka bukan lagi karena perburuan, tapi karena kekurangan lahan tinggal?

Mungkin kamu masih mengira bahwa ancaman utama satwa liar di Indonesia adalah perburuan. Ngebayanginnya mereka dibunuh sama poachers kayak di film-film gitu, ya? Well, poaching do still exists, tapi ancaman utama satwa liar bukan itu lagi sekarang. Hal yang paling cepat dan paling banyak membunuh satwa liar adalah habitat mereka yang semakin sempit.

Kamu pasti udah sering dengar, ya, makin banyak orangutan mati karena hutan mereka dibabat demi buka lahan untuk perkebunan kelapa sawit?

Kamu juga harus tau, bahwa salah satu faktor kelangkaan badak Jawa di Ujung Kulon adalah karena mereka susah cari makan, berhubung tumbuhan yang biasa mereka makan nggak dapat asupan matahari lalu mati, akibat tertutup oleh pohon palem yang tumbuh di sana. 

(duh, palem lagi, palem lagi…)

Dan sebagai informasi, deforestasi alias penggundulan hutan di Indonesia adalah salah satu yang paling parah dan paling cepat di dunia, barengan sama Brazil. Melihat berita kebakaran hutan dan darurat asap setiap tahun, pasti nggak heran, ya :(

Seekor orangutan yang diselamatkan dari perkebunan kelapa sawit di Ketapang, 2013

Seekor orangutan yang diselamatkan di hutan Kalimantan yang dihancurkan

Salah siapa?

Salah mindset.

Pembukaan lahan hutan dilakukan oleh berbagai pihak demi sumber daya bisnis mereka. Ada banyak perusahaan yang “keras” dalam mementingkan profit mereka, walaupun ada juga perusahaan yang sadar akan pentingnya ekosistem.

WWF terus berusaha merangkul perusahaan (dan masyarakat) secara persuasif, meskipun ini adalah perjuangan yang lamaaa sekali. Mengubah mind set ‘kan nggak bisa instan. 

Beruang kutub yang ditemukan mati kelaparan pada tahun 2013. Beruang kutub perlu lempengan-lempengan es di laut untuk berburu makanannya, seperti anjing laut. Namun karena lempengan es banyak yang mencair, mereka jadi nggak bisa berburu.


Miris banget nggak, sih?! Ini adalah salah satu kondisi beruang kutub kelaparan paling menyedihkan. Makin kesini, makin banyak beruang kutub yang nggak bisa berburu karena jumlah lempengan es yang semakin sedikit.

Did you know… WWF nggak menangani kasus penyiksaan satwa?

Karena fokus WWF adalah habitat satwa liar, mereka nggak mengurusi kasus penyiksaan hewan secara langsung. Penyiksaan hewan (seharusnya) ditangani oleh penegak hukum dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara, sesuai KUHP pasal 302, 406, 335, 170, dan 540 tentang Penyiksaan terhadap Binatang.

(tapi beneran ditangani nggak, tuh?)

Speaking of which, did you know… bedanya WWF dengan PETA, WALHI, dan Greenpeace?

Nah, sementara itu, organisasi internasional yang khusus mengurus hak kesejahteraan satwa adalah PETA (People of the Ethical Treatment of Animal). Fokus PETA terbagi menjadi 4 sektor; kesejahteraan satwa yang dipelihara, kesejahteraan satwa yang diperdagangkan, kesejahteraan satwa di laboratorium dan kesejahteraan satwa di industri hiburan.

Salah satu aksi pemboikotan PETA yang terkenal adalah aksi mereka nyiram cat merah ke mantel bulu, semahal apapun itu. Selebriti dan model runway aja sering kena siram cat oleh aktivis PETA, kalau mantel bulu mereka memang asli dari hewan.

Organisasi PETA belum sampai ke Indonesia, paling banter masuk dalam wilayah Asia-Pasifik saja.

Sementara WALHI (Indonesia) dan Greenpeace (internasional) sama-sama punya misi menjaga lingkungan dengan baik agar bumi menjadi tempat yang lestari sampai waktu mendatang.

Did you know… badak Jawa adalah salah satu simbol prestasi WWF Indonesia?

Badak adalah makhluk penyendiri yang reproduksinya lambat, jadi susaaaah sekali beranak. Nah, udah susah bereproduksi, sekarang habitat badak Jawa semakin sempit, pula. Kebayang langkanya, ya.

Sedikit banget orang yang pernah melihat badak Jawa—yang sekarang cuma ada di Taman Nasional Ujung Kulon—secara langsung, karena mereka langka dan pemalu sekali. Dari WWF Indonesia sendiri, cuma dua orang yang pernah melihat badak Jawa langsung. Ngeliatnya pun dari jarak 20 meter, dan setelah mereka sabar nginep di hutan selama dua minggu!

Tetapi konservasi badak Jawa termasuk salah satu prestasi WWF Indonesia, lho. Populasi badak Jawa sudah bertambah dari sekitar 50 ekor menjadi kurang lebih 60 ekor dalam kurun waktu 53 tahun. Very little, I know. Tapi segitu pun sudah bisa dibilang prestasi.

Did you know… kita bisa bantu satwa dan lingkungan lewat ‘Beli yang Baik’?

Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap penggunaan sumber daya alam? Jawabannya KITA, sebagai KONSUMEN.

Semua produk yang kita gunakan berpengaruh terhadap lingkungan. Jadi kita harus memastikan bahwa apa yang kita beli berasal dari sumber yang nggak merusak lingkungan.

Maka, saat berbelanja, pilih deh produk-produk yang memiliki sertifikasi ramah lingkungan (eco-label), atau produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang kita tahu punya tanggung jawab terhadap lingkungan ekologis dan sosial.

Intinya, if you really hate an evil company—misalnya, perusahaan kelapa sawit yang membabi buta atau pertambangan pasir yang kejam inimake them broke. Don’t buy from them.

Seekor harimau Sumatra yang mati akibat terperangkap dalam perangkap binatang selama enam hari di area hutan yang dikelola oleh perusahaan Asia Pulp and Paper (APP), tahun 2011. Para petugas hutan berusaha menyelamatkan harimau ini, tapi terlambat.

APP adalah perusahaan yang memproduksi kertas dan karton, salah satunya untuk kemasan mainan Disney, Mattel, dan Hasbro. Kebayang nggak, harimau harus terus-terusan mati karena hutan mereka ditebangi, hanya demi kemasan sekali buang?

***

Manusia adalah makhluk terkuat di planet bumi ini. We are on top of the food chain, we can destroy anything below us, and this can be a very dangerous thing.

Hewan nggak bisa membela diri mereka sendiri, jadi cuma kita yang bisa membela mereka. Bagaimanapun juga, hewan adalah bagian dari ekosistem lingkungan hidup. Tanpa ekosistem, manusia juga akan mati. Minimal, nggak bisa punya kualitas hidup yang baik. Ya, nggak?

(sumber gambar: WWF Indonesia, Roots Traveler, Greenpeace, EIA-International, i.guim, Dailystarfish, Ommercialpressureonland)

LATEST COMMENT
tiara rara | 2 jam yang lalu

Kaka kalau S2 psikologi lulusan luar negeri, apakah gelarnya bisa digunakan di Indonesia/bisa nggak kerja di Indonesia

Q & A Bedah Jurusan Kuliah Psikologi
Isabellass | 11 jam yang lalu

Open pp endorse Ig : ibell.s Sekalian follow

Serba-Serbi dan Cara Seputar Meng-Endorse dan di-Endorse di Media Sosial
Isabellass | 11 jam yang lalu

Open pp endorse murah bgtt!!! @ibel.s

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Fatimah Ibtisam | 13 jam yang lalu

Passing grade: Nilai paling rendah diterima di prodi pada tahun tersebut. Nilai Rata-Rata: Nilai rata-rata/mean dari peserta diterima di prodi pada tahun tersebut (2019). Semoga cukup jelas, ya Riku dan Rania.

Berapa Skor UTBK Untuk Masuk Universitas Indonesia pada SBMPTN?
Alfan Maulana Akbar | 13 jam yang lalu

Kak, kalau pendidikan profesi di Indonesia itu setingkat degree apa ya di perkuliahan luar negeri? Makasih

Apa Itu Gelar Profesi, dan Bagaimana Cara Memperolehnya di Pendidikan Tinggi?
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 Rencanamu ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1