3 Alasan Utama Kenapa Generasi Milenial Sering Gagal di Dunia Kerja dan Cara Mengatasinya

Saya sering banget mendengar bahwa generasi milenial sangatlah sulit bahagia dengan pekerjaan mereka. Di tempat kerja, mereka jarang merasa puas. Bahkan anak muda yang bekerja di tempat bergengsi dan dinamis sekalipun, tetap merasa ada hal yang kurang. Ujung-ujungnya, kinerja mereka nggak maksimal.

Saya sendiri pernah membahas pandangan tentang generasi milenial di dunia kerja lewat video Simon Sinek. Menurut Simon, generasi milenial adalah sekumpulan anak muda yang susah banget untuk diatur, sangat menuntut hak, narsis, “gue sentris”, dan kurang fokus. Mereka juga sering banget didukung untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan, dan melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan.

Menurut situs Business Insider, penyebabnya bisa berbeda-beda. Tapi ada alasan utama yang menyebabkan generasi milenial sering gagal di dunia kerja.

1. Mereka nggak tahu gimana cara memisahkan urusan kerjaan dengan personal life.

Generasi sebelumnya cenderung memisahkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Misalnya, mereka bekerja fokus di kantor supaya nggak membawa pulang pekerjaan ke rumah. Kata “lembur” adalah momok yang menakutkan bagi mereka. Sementara generasi milenial, susah banget bekerja tanpa terdistraksi (oleh media sosial misalnya). Mereka juga menjawab email terkait pekerjaan kapanpun dan di manapun. Alhasil, saat lagi quality time sama keluarga atau mengerjakan sesuatu yang kita suka, tetap mikirin kerjaan juga deh.

Seorang CEO Tinybop Inc., Raul Guiterrez bilang, memisahkan urusan pekerjaan dengan personal life sangatlah penting supaya masalah satu dan lainnya nggak mempengaruhi mood dan hidup kamu. Sehingga, kalau lagi ada masalah di salah satu bagian, bagian lain tetap bisa berjalan dengan baik.

2. Mereka nggak siap dengan komunikasi yang nggak sesuai sama keinginan mereka.

Banyak anak muda generasi milenial yang memilih langsung cabut dari kerjaannya saat mereka merasa nggak cocok sama rekan kerja atau bos-nya. Sebetulnya, ini nggak salah, sih. Masalahnya, mereka menyerah sebelum mencoba memperbaikinya.

Misalnya, atasan di tempat mereka bekerja terbiasa dengan komunikasi yang langsung perintah tanpa diskusi. Sementara generasi milenial, lebih suka ditanya pendapat, dilibatkan dalam sebuah keputusan, dan seringkali punya keinginan untuk menjalankan semuanya dengan cara modern.

Gap dan perbedaan inilah yang bikin generasi milenial menyerah dan memutuskan berhenti. Padahal, untuk bisa mengubah sebuah sistem, kamu harus bisa mengenal dan memahami sistem tersebut terlebih dahulu. Butuh proses, waktu, dan kompromi, sob!

3. Mereka sangat butuh pengakuan.

Banyak orang yang lebih tua mengerjakan pekerjaan berdasarkan apa yang sudah diperintahkan. Nggak banyak tanya, yang penting beres. Sebetulnya, hal ini juga nggak bagus-bagus amat sih, gaes. Tapi sisi positifnya, mereka jadi nggak gila pengakuan. Buat sebagian dari mereka, bekerja dengan baik adalah rutinitas yang nggak perlu dibesar-besarkan.

Sementara generasi milenial sangat butuh pengakuan dan senang berdiskusi. Mereka nggak keberatan sama tugas baru, networking yang luas, serta berusaha mendapat promosi dengan cepat. Masalahnya, ini bikin mereka jadi nggak sabaran dan gampang sedih kalau dicuekin.

***

Terus gimana, dong, supaya kita sebagai anak muda nggak terjerumus dalam 3 masalah di atas?

Seorang LinkedIn Influencer, Dr. Travis Bradberry, bilang kalau sebetulnya semua masalah generasi milenial di dunia kerja bisa terselesaikan dengan baik kalau mereka lebih mementingkan attitude daripada kepintaran mereka.

Wih, maksudnya gimana nih, kak?

Harus diakui, anak muda generasi milenial punya potensi yang sangat besar untuk lebih unggul. Mereka jauh lebih pintar karena informasi bisa didapat dengan sangat mudah. Tapi lagi-lagi, kepuasan dalam membangun karier bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam satu malam. Makanya punya sikap kerja yang baik jauh lebih penting dari kepintaran itu sendiri.

Carol Dweck seorang psikolog asal Amerika yang mempelajari sikap generasi milenial, meneliti bahwa anak muda yang punya mindset terbuka lebih mudah bertahan dan berhasil di dunia kerja.

Salah satu bentuk kesuksesan adalah sikapmu ketika menghadapi hal-hal yang nggak sesuai dengan yang kamu mau. Contohnya, nggak asal kabur kalau ketemu masalah dan terus menjaga inisiatif.

Menjaga semangat dalam bekerja memang nggak gampang ya, sob. Kelak di dunia kerja nanti, tantangan yang kamu hadapi jauh lebih kompleks daripada gebetan beda kelas atau ngejar-ngejar dosen untuk bimbingan skripsi. Kamu bakal diomelin beneran, dikasih kerjaan bejibun, atau malah dicuekin. Intinya, percuma pintar kalau kamu  gampang tersinggung dan gampang nyerah.

(Sumber gambar: Insperity.com)

LATEST COMMENT
Dasri Dsr | 9 jam yang lalu

Nah klo tipe pelajar bunglon bagaimana biar efektif belajarnya sedangkan mood itu susah bgt diaturnya

Tipe Pelajar Macam Apakah Kamu? Cari Tahu Di Sini, Supaya Cara Belajar Kamu Nggak Sia-Sia!
Zainu Satria | 2 hari yang lalu

Mohon di cek kan kak. Saya kuliah di Universitas Asahan Prodi Bahasa Indonesia Nama:Winda Mentari NPM:14053010

Cuti Kuliah: Ketentuan dan Serba-Serbinya
Zainu Satria | 2 hari yang lalu

Assalamu'alaikum. Kak saya mau tanyak, saya kan pernah kulia dari tahun 2014.udh selesai semua, saya juga udh susun proposal.pas saya mau sempro kendala di uang kulia. Karena pada saat saya kulia ada ambil dispen. Disitu saya sama sekali tdk ad uang. Tu terus saya mau kerja. Dan ingin ambil cuti.…

Cuti Kuliah: Ketentuan dan Serba-Serbinya
maulaaa ya | 3 hari yang lalu

Emangnya gabisa yaa kalau anak ipa masuk ke psikologi soshum ?

5 PTN dengan Prodi Psikologi Saintek, Anak IPA Wajib Cek!
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2021 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1