Profesiku: Psikolog dan Konselor Employee Assistance Program, Tiara Puspita

Oleh Shanti Andin

Dalam seri "Profesiku", kamu bisa kenalan dengan berbagai profesi, lewat cerita para senior yang menekuninya. Kali ini, yuk, kenalan dengan profesi psikolog sekaligus konselor Employee Assistance Program, bersama Tiara Puspita!

Tiara Puspita (29 tahun) alias Kak Tita adalah seorang Psikolog Klinis  sekaligus konselor Employee Assistance Program di perusahaan Workplace Options Indonesia, Tiga Generasi, dan International Wellbeing Center. Wah, banyak, ya! Tiara adalah lulusan S1 Psikologi dan S2 Psikologi Klinis Dewasa, keduanya dari Universitas Indonesia.

Youthmanual tahu, ada banyak dari kamu yang tertarik dengan profesi di bidang psikologi. Nah, simak dulu, deh, serba-serbinya bersama Kak Tita!

Profesiku:

“Pekerjaan seorang psikolog klinis adalah memberikan konseling dan terapi kepada klien, baik klien individual, klien pasangan, klien keluarga, maupun klien kelompok. Seorang psikolog juga bisa bekerja sama dengan profesional di bidang lain, terkait isu-isu yang bersinggungan dengan kasusnya. Misalnya, memberikan keterangan kepada pengacara atau dalam proses persidangan, memberikan keterangan kepada dokter terkait kesehatan psikologis pasiennya, dan sebagainya.

Sementara seorang konselor EAP (Employee Assistance Program) adalah konselor yang bertugas untuk menangani kasus-kasus yang dialami oleh karyawan perusahaan tertentu, terkait permasalahan yang dihadapinya. Permasalahannya bukan hanya kasus dalam ranah pekerjaan, tetapi juga kasus-kasus psikologis yang dia alami sehari-hari di luar pekerjaan.”

Tugasku sehari-hari:

“Sebagai psikolog, setiap weekend biasanya aku melakukan konseling tatap muka dengan para klien. Di salah satu tempat praktek aku, kebanyakan klien yang datang adalah ekspatriat atau orang Indonesia yang memilih berbicara dalam bahasa Inggris, sehingga aku juga harus memberikan konseling dalam bahasa Inggris.

Selain tatap muka, aku juga bisa melakukan konseling lewat Skype.

Sebagai psikolog, terkadang aku harus menjadi narasumber untuk memberikan psikoedukasi dalam bentuk talkshow atau workshop. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, aku sempat keliling ke SMA-SMA di Jakarta, untuk mendukung program Polda Metro Jaya terkait penggunaan internet yang tepat serta mengatasi cyber crime.

Sebagai konselor EAP, tugas rutinku adalah menerima telpon dari berbagai klien dengan berbagai kebutuhan, memberikan in-the-moment support, serta membantu mereka mencari solusi dari permasalahan yang mereka alami saat itu. Kalau ada klien yang butuh konseling lanjutan, aku akan menugaskan tim khusus untuk mencari psikolog di sekitar klien. Misalnya, setelah asesmen dengan aku, ternyata seorang klien aku butuh konseling pasangan di kota London, Inggris. Nah, aku akan menugaskan tim untuk mencari konselor pasangan yang ada di daerah tersebut. Setelah itu, aku input data dan dokumentasi klien tersebut ke dalam sistem komputer.”

Modal yang dibutuhkan untuk bekerja di profesi ini:

"Secara gelar, untuk menjadi psikolog harus punya gelar S2 Profesi Psikologi. Namun kalau untuk melakoni profesi aku sekarang ini (psikolog dewasa dan konselor EAP), harus ambil S1 Psikologi dan S2 Psikologi Klinis Dewasa.

Beberapa soft skills yang dibutuhkan adalah kemampuan berempati, sabar, dan sopan, khususnya untuk menghadapi berbagai jenis klien. Tantangannya adalah ketika aku menerima telpon dari klien EAP yang menganggap aku sebagai customer service, sehingga mereka merasa bebas marah-marah. Ada juga klien yang aksen bicaranya nggak jelas, sehingga jadi sangat sulit dimengerti.

Lalu karena aku banyak menghadapi klien dari berbagai latar belakang budaya, aku harus fleksibel, open minded, mampu memahami perbedaan nilai dan budaya, serta tidak judgmental dalam menyikapi klien dengan latar belakang yang berbeda-beda. Contohnya, klien di India umumnya menikah lewat perjodohan, klien di Amerika atau Inggris banyak yang menikah dengan sesama jenis, klien di kota Glasgow, Inggris banyak yang punya masalah ketergantungan alkohol, dan sebagainya.

Sementara, hard skills yang diperlukan adalah kemampuan mengikuti prosedur, cepat memahami sistem komputer yang digunakan, kecepatan mengetik, serta ketelitian tinggi, karena sebagai konselor EAP, aku bekerja dalam tim yang lokasinya tersebar di beberapa negara di dunia, sehingga kesalahan kecil saja dapat mempengaruhi kerja orang lain di negara yang berbeda." 

Apa, sih, hal yang unik dari pekerjaan ini?

“Keunikan dari profesi psikolog klinis adalah harus bertemu dengan banyak klien dari berbagai latar belakang dengan kasus yang berbeda-beda, membantu klien menemukan cara untuk menyelesaikan masalahnya, hingga memberikan penyuluhan, workshop, atau edukasi kepada masyarakat terkait isu-isu yang sedang diperbincangkan.

Sementara untuk profesi konselor EAP, sebetulnya sudah cukup banyak program EAP di Indonesia di bawah biro-biro psikologi. Hanya saja, rata-rata konselor EAP datang ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan jasa konselor EAP, untuk bertatap muka dengan klien. Aku sendiri nggak melakukan tatap muka ini.

Sebagai konselor EAP, aku menerima telpon dari para klien di berbagai belahan dunia. Dengan bahasa Inggris, kami membahas berbagai isu yang dihadapi oleh sang klien, mulai dari stress pekerjaan yang dia hadapi, hingga kasus-kasus yang lebih berat lagi.

Aku pernah menerima telpon dari seseorang di Inggris yang mengalami halusinasi dan sedang menunggu ambulans datang ke rumahnya. Sebagai konselor, aku berusaha memastikan bahwa klienku aman (tidak menyakiti dirinya sendiri) sampai ambulans dan tim paramedik datang.”

Setelah lulus S1, Tita sempat kerja di bidang non-psikologi. Gimana ceritanya sampai akhirnya balik lagi ke bidang psikologi dan jadi psikolog?

“Iya, dulu aku pernah bekerja di sebuah majalah fashion, sebagai beauty editor. Bekerja di media yang sangat dinamis dan fun memang menyenangkan sekali. Meskipun begitu, aku merasa dimanapun aku bekerja, aku tetap selalu bersinggungan dengan fenomena psikologis, misalnya isu-isu LGBT, gangguan mood, masalah keluarga, dan sebagainya. Hal inilah yang membuat aku kembali tertarik untuk menekuni psikologi.

Pada suatu hari, aku berpikir ingin kembali menekuni ilmu psikologi dan berkarir sebagai psikolog. Saat itu, aku merasa timing-nya memang pas untuk melanjutkan kuliah profesi (ketika itu, aku sudah empat tahun lulus S1 jurusan Psikologi).

Akhirnya aku memutuskan untuk kuliah S2 Psikologi jurusan klinis dewasa, dan sama sekali nggak bekerja selama dua tahun berkuliah itu. Awalnya memang cukup berat untuk beradaptasi ke lingkup perkuliahan psikologi lagi, setelah sekian lama bekerja di luar bidang psikologi. Tapi ternyata aku cuma butuh beradaptasi selama satu atau dua bulan, kok, untuk bisa tune-in lagi dengan ilmu-ilmu yang dulu sudah pernah aku pelajari.”  

Apa tantangan terbesar dalam menjalani profesi ini? Bagaimana mengatasinya?

“Karena aku bekerja Senin sampai Sabtu, aku harus pintar-pintar mengelola waktu, emosi, dan tingkat stresku sendiri. Sebelum jadi psikolog, aku pikir jadi psikolog itu enak, ya, karena kerjaannya mendengarkan orang saja, hahaha. Padahal ternyata kerjaannya sangat melelahkan, karena kita harus betul-betul fokus dengan klien yang kita hadapi selama sesi berlangsung.  Bayangkan kalau kita menghadapi 5-6 klien dalam sehari!

Oleh karena itu, self-care atau memperhatikan diri sendiri adalah hal yang sangat penting, supaya aku nggak terlalu stres. Kalau aku stres, dampaknya bukan hanya untuk diriku sendiri, lho, tetapi juga untuk klien. Setiap orang punya cara sendiri untuk bersantai, jadi tergantung diri masing-masing. Kalau aku biasanya yoga, relaksasi, nge-date dengan suami, ke salon atau spa."

Miskonsepsi (salah kaprah) umum dari profesi ini?

“Psikolog itu susah cari kerja dan nggak punya uang, hahaha.”

Apakah ada tahapan atau jenjang karir dalam profesi ini? Jika ada, seperti apa?

“Untuk profesi EAP, setelah menjadi konselor, kita akan menjadi team lead (manager) dan director. Sementara untuk profesi psikolog, tahap pertamanya adalah menjadi psikolog muda, lalu psikolog madya. Masa tempuh jenjang-jenjang tersebut tergantung pengalaman dan masa kerja masing-masing individu sebagai psikolog.”

Apa pengalaman yang paling berkesan selama menjadi psikolog dan EAP counselor?

“Sebagai psikolog, aku sering diundang ke berbagai acara untuk menjadi narasumber, sehingga aku harus tampil di TV, majalah, lembaga pemerintah, dan sebagainya. Padahal sebenarnya aku nggak suka public speaking dan tampil di atas panggung! Jadi aku harus bisa berbicara di depan umum, bahkan pernah sampai ikut kelas public speaking, hahaha.

Selain itu, bekerja sebagai psikolog/konselor EAP untuk klien global membuat aku terlatih berbicara dan memberikan konseling dalam bahasa Inggris. Prosesnya dua kali lebih susah daripada memberikan konseling dalam bahasa Indonesia, lho. Aku juga jadi berkesempatan menangani klien-klien yang punya masalah yang sangat berbeda dibandingkan permasalahan yang umum dialami klien Indonesia.”

Menurut kamu, bagaimana prospek kerja profesi ini di masa depan?

“Menurutku prospeknya akan semakin luas, karena masyarakat Indonesia sendiri semakin hari semakin sadar akan peran seorang psikolog. Aku rasa stigma salah bahwa “ke psikolog = orang ‘gila’” juga semakin menurun, khususnya karena banyak anak muda yang sekarang sudah lebih aware akan kebutuhan psikologis mereka dan memutuskan untuk konseling.”  

Berapakah kisaran gaji di profesi ini?

Fee seorang psikolog biasanya dihitungnya per sesi, ya. Dan kalau psikolognya praktek di klinik tertentu, biasanya ada hitungan persentase antara psikolog dan klinik. Range biaya konseling pun sangat bervariasi, mulai dari 170 ribu hingga 1,5 juta rupiah per sesi, tergantung dari klinik dan tingkat pengalaman psikolognya. Dari biaya tersebut, akan diambil fee untuk psikolog dan klinik, sesuai persentase yang disetujui.

Fee sebagai konselor EAP juga cukup bervariasi, tergantung jenis dan perusahaannya. Ada yang dihitung perhari, per sesi, atau per bulan. Jadi bisa berbeda-beda.”

Bagaimana tingkat stres level dari profesi ini?

“Cenderung tinggi. Seperti yang aku katakan sebelumnya, semakin banyak kita menerima klien, semakin banyak juga beban emosional yang ditumpahkan klien ke diri kita. Meskipun seorang psikolog kelihatannya “hanya” mendengarkan dan berdiskusi dengan klien, sebenarnya kita harus berpikir ekstra sambil menghadapi klien yang terkadang luapan emosinya cukup intens (misalnya, menangis, marah-marah, atau gelisah sepanjang sesi), karena kita harus berempati dan membantu klien untuk melihat opsi atau alternatif jalan keluar.

Oleh karena itu, kita harus tahu kapasitas diri kita dan tahu berapa jumlah klien yang dapat kita tangani dalam sehari, agar kita tidak terlalu terbebani dan tetap dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada klien.”

Apakah pekerjaan ini memberikan banyak kesempatan untuk berkembang?

“Pasti, dong. Cakupan ilmu psikologi sangat luas, sehingga sangat mungkin bagi kita untuk berkembang seluas-luasnya. Apalagi kalau kita mau menggali dan memperluas pengetahuan kita tentang ilmu yang kita pelajari.

Kita bisa meneliti dan mempelajari fenomena sehari-hari secara lebih mendalam lewat kelas-kelas workshop, seminar, serta konferensi psikologi. Nggak hanya itu, kita juga berkesempatan untuk bertemu orang dari berbagai latar belakang, serta berkesempatan untuk membantu banyak orang.”

Tips untuk anak muda yang ingin menggeluti profesi ini:

“Harus sabar, rajin baca buku—lebih baik buku dalam bahasa Inggris, ya—dan jangan hanya fokus kepada cari uang. Psikolog klinis adalah profesi yang cukup tricky, karena kita harus betul-betul menyukai pekerjaannya. Kalau nggak, banyak psikolog yang akhirnya loncat bidang ke ranah PIO yang dianggap bisa lebih cepat menghasilkan uang.

Seorang psikolog klinis juga harus rajin memperluas ilmu dan interaksi lintas bidang, agar bisa mendapat lebih banyak pengalaman dan lebih banyak koneksi ke berbagai tawaran pekerjaan.”

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)

LATEST COMMENT
Siska Nurfadilah Sri Kusumah | 2 hari yang lalu

Ngga bisa ngasih saran kak:( kita satu server

Kamu Salah Ambil Jurusan Kuliah? Cek 15 Tanda Mahasiswa Salah Jurusan!
Siska Nurfadilah Sri Kusumah | 2 hari yang lalu

Hai kak, aku salah satu mahasiswi jurusan S1 pendidikan matematika. Aku baru 2 bulan kuliah, sebelumnya aku gap year dan taun ini aku milih buat masuk ke salah satu PTS di kotaku. Aku sebenernya ga pernah punya pikiran buat kuliah di pendidikan, aku lebih exited sama management (ya basically aku…

Kamu Salah Ambil Jurusan Kuliah? Cek 15 Tanda Mahasiswa Salah Jurusan!
Babay Kholifah | 2 hari yang lalu

Terimakasih info nya kaka,, sangattt bermanfaat

Persiapan UTBK dan SBMPTN 2021 untuk Kelas 12
Nisa Nuraisyah | 2 hari yang lalu

Ada di univ mana? Saya cari itu adanya soshum

6 Pilihan Jurusan Kuliah Terbaik yang Bisa Kamu Ambil di Bidang Pendidikan
Yulika Aprianiii | 3 hari yang lalu

Saya jurusan IPS dari 5 hal di atas kemungkinan saya bisa masuk hi tapi masih takut gk bisa caranya agar lebih muda di terima di universitas gimna caranya

5 Tanda Bahwa Jurusan Hubungan Internasional Cocok Buat Kamu
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2020 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1