Sahil Mulachela, Penyiar Gokil yang Menjadi Sukses Berkat Radio Kampus

“Gue jadi penyiar karena kepengen dikenal dan supaya bisa menghibur banyak orang,” begitu kata Sahil Mulachela blak-blakan. Gara-gara gabung di radio kampus BVoice Radio, cowok berusia 27 tahun ini menemukan passion-nya hingga sukses berkarir sebagai penyiar.

Ia kemudian melebarkan sayapnya (emangnya burung garuda, melebarkan sayap?) dengan menjadi host program televisi, MC, serta stand up comedian. Hebatnya lagi, Sahil nggak sungkan untuk membagi ilmunya secara gratis di Kelas Penyiar Indonesia, sebuah program untuk anak muda yang tertarik menjadi penyiar.

“Hidup jangan mengejar uang, tapi kejarlah passion. Kalau kamu mendalami passion kamu, nanti uang yang akan menghampiri,” begitu prinsip cowok berwajah Indo-Arab ini. Tsaaah, gaya banget, ya?

Saat diajak ngobrol sama Youthmanual, alumni Universitas Bina Nusantara dan SMAN 3 Surakarta ini antusias bercerita tentang berbagai hal seputar profesi penyiar—yang seru buat kamu simak—sekaligus tentang kehidupan pribadinya. Kalau yang ini sebenernya agak kurang penting sih, tapi ya udah lah, ya! Hihihi.

Here’s the recap!

Bagi kamu, menjadi seorang penyiar itu berarti apa, sih?

Menjadi seorang penyiar radio itu berarti menjadi sahabat pendengar. Selain memberikan info, penyiar radio juga harus bisa membuat pendengar merasa terhibur lewat suara dan kata-katanya.

Nah, musuh terbesar seorang penyiar adalah tombol switch channel. Soalnya ketika pendengar merasa nggak terhibur, mereka akan langsung ganti frekuensi radio.

Gue sendiri sekarang rutin siaran di program #IndikaMalam tiap Senin-Jumat, yang merupakan wadah sharing para profesional muda. Di situ, gue hadir sebagai teman cerita, pemberi solusi, atau teman untuk meledek mereka, hehehe.

Menjadi host di televisi prinsipnya juga sama, yaitu harus informatif sekaligus menghibur pemirsanya. Trus, wajib banget paham sama script. Improvisasi host juga sangat dibutuhkan supaya acaranya jadi lebih menarik. Sekarang gue juga adalah presenter program Hobi di Kompas TV, yang mengulas seputar hobi, dengan kemasan yang ringan dan fun.

Apa, sih, modal yang dibutuhkan untuk jadi penyiar? Apakah harus pintar ngomong?

Sebenarnya yang dibutuhkan bukanlah bakat “bawel”, tetapi bakat menceritakan sesuatu dengan penyampaian yang bagus, sehingga orang yang mendengarkan nggak bosan.

Nah, untuk bertahan dengan profesi ini, seorang penyiar harus punya wawasan yang luas serta mau terus-terusan mengembangkan skill. Salah satu caranya adalah dengan memperluas pergaulan, sehingga kita bisa mendapat pengetahuan dari mana-mana. Soalnya, tiap hari saingan bertambah. Begitupun umur. Hiks!

Untuk menjadi presenter televisi, perlu modal tampang cakep nggak, sih?

Duh, pertanyaannya “dalem”, nih. Mentang-mentang tampang ane kurang mendukung! Hahaha.

Hmm, sebenarnya punya muka lumayan bisa membantu karier sebagai presenter, sih. Tapi yang lebih penting adalah mempunyai karakter yang bisa ditonjolkan. Itu yang dicari.

Menurut Sahil karakter kuat adalah faktor yang lebih penting dimiliki presenter daripada sekadar muka ganteng.

Seperti apa, sih, kesibukan kamu sehari-hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi?

Bangun pagi, gue solat Subuh dulu, dong! Semoga ini dibaca nyokap, ya, supaya dia bangga anaknya rajin sholat. Abis itu, gue balik tidur. Bangun lagi jam 10, trus syuting atau mengurus sekolah penyiar sampai sekitar jam tiga sore.

Setelah itu, gue sempet-sempetin untuk nge-gym. Yah, biar bisa update di Path aja sih, supaya kelihatan keren. Pas Maghrib, gue solat dan ngaji. Agak riya’, nih, ibadah pake diomongin. Tapi nggak apa-apa, lah! Setelah itu, gue lanjut ke kantor dan siaran mulai dari jam 8 sampai 12 malam. Terus pulang, deh, menghibur istri! Hehehe.

Sebelum siaran, ada persiapan khusus yang kamu lakukan?

Pada dasarnya, ketika mau syuting, pasti ada skrip. Nah, gue hanya perlu memahami skrip-nya. Bukan menghafal lho, ya. Lalu ketika on camera, semua akan mengalir begitu saja, sesuai skrip yang sudah gue pahami. Sementara jokes dan gimmick, sih, muncul secara spontan aja.

Kalau siaran radio, sih, gue nggak pakai skrip sama sekali. Ngalir aja, kayak iler, hahaha! 

Pernah nggak melakukan kesalahan pas lagi siaran atau membawakan acara? Apa yang kamu lakukan supaya nggak mati gaya?

Pasti pernah, lah! Tapi kalau bikin salah, pesan gue, jangan menyesal atau jadi takut makin salah. Kesalahan saat siaran atau membawakan acara itu justru bisa dijadikan gimmick atau jokes baru. Menurut gue, manipulasi lah kesalahan tersebut, sehingga bisa jadi kelebihan kamu.

Kok kamu bisa, sih, terjun ke profesi penyiar? ‘Kan jauh banget sama latar belakang pendidikan kamu di jurusan Komputerisasi Akuntansi? Lebih jauh dibandingkan jarak Gandul-Bekasi, sob!

Semua karena radio kampus! Waktu SMA, gue malah menganggap penyiar radio adalah orang gila karena kerjaannya ngomong dan ketawa sendiri. Tapi ketika masuk kuliah, gue kurang tertarik sama segala kegiatan mahasiswa yang ada… kecuali radio kampus. Soalnya anak-anak radio kampus gue terlihat seru dan out of the box. Akhirnya gue coba ikutan, dan WOW, ternyata gue menemukan passion di situ!

Alhamdulillah, setelah baru setahun kuliah, gue diterima kerja di Global Radio Jakarta, kemudian lanjut terus kerja di dunia radio sampai sekarang. Ternyata hal yang dulunya gue takutin dan nggak sukai malah jadi sesuatu yang menghidupi gue dan keluarga.

Sekarang, ilmu kuliah gue nggak kepake. Kalau ditanya tentang kuliah Komputerisasi Akuntansi, yang gue inget cuma muka dosen killer-nya aja!

Hahaha, oke deh! Tapi kita flashback ke masa-masa kejayaan pas kuliah dulu, deh. Kamu termasuk mahasiswa yang seperti apa, sih? Aktif, anak tongkrongan, anak pinter, atau gimana?

Dulu gue cuma ikut UKM radio kampus dan amat sangat aktif di sana, sampai jarang masuk kelas. Dekan aja kalau nggak bisa menemukan gue di kelas, pasti langsung datang ke studio radio kampus, hehehe.

Pas awal-awal kuliah, nilai gue berantakan karena terlalu aktif di radio. Tetapi di semester empat gue niat mengejar ketinggalan, karena gue kepengen jadi ketua UKM radio kampus, padahal ada standar IPK yang harus dipenuhi. Akhirnya gue berhasil mencapai standar IPK dan sukses menjadi ketua radio kampus. Sejak itu, IP gue nggak pernah turun. In the end, gue bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu 3,5 tahun.

Trus, gimana cara kamu mempelajari skill sebagai penyiar?

Gue ikutan berbagai kelas [kursus] public speaking dan presenter. Sementara dari radio kampus, gue jadi mengerti seluk beluk industri radio, how to manage a radio station, serta mendapatkan banyak ilmu leadership.

Hal-hal apa yang dulu kamu lakukan, namun NGGAK dilakukan oleh kebanyakan anak muda seumuranmu, sehingga sekarang kamu bisa seperti ini?

Zaman kuliah, gue nggak pernah ngalamin yang namanya liburan semester tiga bulan, karena gue sibuk memperbaiki nilai kuliah demi mencapai tujuan gue di bidang radio. Gue juga jarang bisa liburan bareng teman-teman, karena sibuk kerja di radio dan sebagai MC. Semua demi bisa membiayai kuliah, kosan, dan hura-hura!

Ada nggak sih, sisi nggak enak menjadi seorang penyiar?

Suka dipandang sebelah mata sama orang lain! Jadi kalau elo kerja sebagai penyiar radio dan elo mau ngelamar anak orang, biasanya tanggapan bokap pasangan lo, tuh, seperti ini:

X: “Kamu kerjanya apa?”

Y: “Penyiar, Om!”

X: “Penyiar? Nggak ada kerjaan tetap yang lebih ‘wow’, gitu?'

Padahal gaji seorang penyiar yang sudah punya jam terbang tinggi bisa di atas gaji manajer, lho. Bayangin aja, kerjaan lo cuma ngomong empat jam sehari tapi gajinya bisa lebih besar dibandingkan gaji manajer yang kerjanya sembilan jam sehari.

Jadi penyiar biasanya berarti jadi dikenal banyak orang. Alhasil, bisa punya fans dan juga haters. Gimana cara lo menghadapinya?

Punya haters itu menyenangkan, kok! Komen mereka beneran bisa bikin kita drop dan introspeksi diri. Dan menurut gue, semakin banyak haters kita, berarti kita juga semakin “naik”.

Trus, soal penggemar… yaaa, ada juga sih, walaupun nggak banyak. Mereka suka ngasih kritik dan saran yang membangun demi kemajuan karier gue. Tapi yang pasti, fans setia gue adalah keluarga sendiri.

Pernah mengalami kegagalan atau down? Apa yang bikin kamu kembali bersemangat?

Pernah. Bukan kegagalan, sih, tapi perasaan jenuh setelah lima tahun kerja di radio. Soalnya waktu itu gue merasa gitu-gitu aja dan nggak berkembang. Alhasil, gue nyoba terjun ke bidang lain, yaitu bisnis properti. Tetapi ternyata, gue merasa ada yang kurang dalam hidup gue ketika nggak bisa menghibur orang lain. Dari situ, gue jadi yakin [untuk berkarier di dunia radio] dan kembali semangat.

Menurut kamu, di tengah maraknya perkembangan new media yang serba digital begini, masa depan karier di radio, tuh, gimana?

Di zaman yang serba digital seperti sekarang ini, sebenarnya fungsi radio [sebagai media musik] dapat tergantikan oleh music player dan semacamnya. Tetapi kenapa industri radio masih bertahan sampai detik ini? Karena yang dibutuhkan oleh kaum urban adalah “sahabat” yang bisa menemani mereka, dan hal ini ada pada radio, berhubung radio punya sifat personal.

youthmanual - sahil mulachela

Rezeki anak soleh, ngemsi bareng bintang AADC 2, Dian Sastrowardoyo.

Gimana ceritanya kamu jadi terlibat di kelas penyiar yang memberikan pelatihan secara gratis?

Dari dulu, banyak banget orang nanya ke gue, “Gimana, sih, cara menjadi penyiar?” atau “Cara siaran itu gimana?”.  Akhirnya gue kepikiran untuk mengajar aja secara gratis, karena gue pun dulu mendapat beasiswa kelas Public Speaking serta kelas MC/presenter TV.

Karena gue mendapat ilmu secara cuma-cuma lewat beasiswa, maka gue juga harus sharing ilmu gue secara gratis. Akhirnya gue, bersama teman-teman penyiar lain, mendirikan Kelas Penyiar Indonesia ini.

Apa goal karier kamu?

Gue pengen fokus di bidang penyiaran, ingin membesarkan sekolah penyiar [Kelas Penyiar Indonesia] gue, dan menjadi pengajar profesional di bidang ini.

Kamu ‘kan punya banyak pengalaman seru, salah satunya nge-MC bareng Dian Sastrowardoyo. Apa rasanya bisa nge-MC bareng do’i?

Tanya Dian Sastro-nya, dong, gimana rasanya  nge-MC bareng gue? Hahaha! Yah, awalnya, sih, deg-degan, tapi lama-kelamaan kita berdua saling nyaman, saling mengerti dan akhirnya kita... Udah, ah, jangan dilanjutin. Entar lo pada ngiri!

***

Bener banget, obrolannya nggak usah dilanjutin, deh, daripada tambah ngaco! Hihihi.

Anyway, thank you banget buat Sahil yang sudah meluangkan waktunya buat sharing bareng Youthmanual.

Ternyata sekadar ikut UKM di kampus bisa mengubah kehidupan seseorang, ya, seperti yang dialami oleh Sahil. Gimana dengan cerita pengalaman UKM kalian?

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Agustin Lutfianty | 2 bulan yang lalu

Kunjungi website kami di https://walisongo.ac.id

World Suicide Prevention Day: Seberapa Pentingnya Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa?
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Karena merasa gk nyaman aja gitu tmn2 yg lain kok pada enak2 aja aku kok gk enak gitu Krn bidang kerjaan mereka cuma duduk aku berdiri teruss

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Tiara Windi | 3 bulan yang lalu

Kak saya ingin pindah magang

11 Etika Saat Berhenti dari Tempat Kerja/Magang
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1