Tim Doner, Remaja yang Sukses Mempelajari 23 Bahasa Dalam Empat Tahun!

Mau tanya, dong, kamu bisa bicara dalam berapa bahasa? Dua? Mungkin tiga, plus bahasa daerah? Empat, plus bahasa preman? Hihihi.

Kalau kamu merasa bangga karena bisa menguasai lebih dari dua bahasa, ehm, nggak usah sombong dulu, ya. Soalnya kamu belum kenal sama Tim Doner, mahasiswa Harvard University yang lancar berkomunikasi dalam… 23 bahasa!

Nggak termasuk bahasa kalbu dan bahasa tubuh, lho!

Kenalan Dengan Tim Doner

Sekilas, Timothy Doner kelihatan kayak anak muda biasa. Umur 19 tahun, lahir dan besar di New York City, berkacamata, kece, dan nggak kelihatan jenius atau nerdy.

Tim mulai tertarik dengan bahasa asing saat dia berumur 13 tahun. Awalnya Tim cuma mempelajari bahasa Prancis dan Latin ((cuma!)) di sekolah, trus dia mulai mengulik bahasa Arab, Ibrani, dan Farsi.

Keder? Nggak, dong. Tim malah lanjut mempelajari bahasa-bahasa yang nggak populer di dunia seperti Pashto, Ojibwe, Swahili, dan… Indonesia. Dalam waktu empat tahun, Tim sudah mengajari dirinya sendiri 20 bahasa!

Lihat Tim bicara dalam 20 bahasa sewaktu dia masih 16 tahun! Mau dengar Tim bicara bahasa Indonesia? Ada di menit 11.10. Mau dengar Tim bicara dalam bahasa Indonesia lebih panjang? Cekidot di sini!

Hebatnya, sebagian besar bahasa-bahasa tersebut Tim pelajari sendiri—dalam waktu yang cepat banget!—lewat buku, Internet, film, dan musik. Tanpa tutor, tanpa kursus.

Alhasil, sekarang Tim resmi jadi polyglot, istilah bagi seseorang yang bisa menguasai banyak bahasa asing sekaligus. Wait, no. Tim adalah seorang HYPER-polyglot, karena per hari ini, jumlah bahasa yang dikuasainya nyaris memecahkan rekor. 23 bahasa, men!

Dan nggak cuma itu, Tim adalah seorang hyperpolyglot termuda di dunia. Wow!

Rendah Hati

tim doner youthmanual

Selain kejeniusannya dalam bahasa, ada dua hal yang bikin saya kagum banget sama Tim.

Pertama, sikapnya yang rendah hati. Menurut Tim, dia hanya fluent alias sangat lancar berkomunikasi dalam lima bahasa, yaitu bahasa Perancis, Farsi, Arab, Ibrani, and Jerman. Sementara penguasaan 15 bahasa lainnya “biasa-biasa aja”. Tim nggak mau ngaku dia “menguasai” 20 bahasa, karena menguasai bahasa itu berat banget, lho!

Contohnya, kamu pasti merasa menguasai bahasa Indonesia, dong. Tapi kalau kamu membaca teks sastra lama, misalnya Max Havelaar-nya Multatuli, kamu pasti agak bingung. Malah mungkin nggak ngerti sama sekali.

Jangan jauh-jauh, deh. Anak SMP aja mungkin nggak paham kalau disuruh baca koran! Kenapa? Bahasa koran sangat formal dan memuat ribuan kosa kata spesifik dalam bidang ekonomi, hukum dan lainnya.

Sehari-hari, seorang anak SMP memang berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, tetapi bahasa Indonesianya versi non-formal dengan slang remaja masa kini, yang ternyata BEDA BANGET dengan bahasa koran.

Artinya, nggak ada orang yang BENAR-BENAR menguasai bahasa ibunya sendiri. Apalagi bahasa asing!

“Makanya, menurut saya, beban banget untuk menyatakan bahwa ‘Saya menguasai sekian bahasa, lho!’” kata Tim.

Humble, ya?

NGGAK Kutu Buku!

Kedua, saya juga kagum dengan motivasi dan metode Tim mempelajari sebuah bahasa asing.

Motivasi awal Tim mempelajari berbagai bahasa asing bukan karena dia pengen sok-sokan, mengejar nilai di sekolah, atau mau ngedeketin cewek asing (eaaaa), tapi murni karena dia tertarik dengan kebudayaan di negara asing terkait.

Ketika Tim mulai mempelajari bahasa asing, kenapa dia memilih bahasa Ibrani, Farsi, dan Arab duluan? Biasanya ‘kan anak-anak muda tertarik sama bahasa-bahasa yang populer, kayak Perancis atau Spanyol.

Soalnya karena waktu itu, Tim tertarik banget dengan budaya dan konflik yang terjadi di Timur Tengah. Dia kepengen mengerti apa yang terjadi di Timur Tengah lewat pola pikir masyarakatnya, nggak cuma lewat berita yang ada di koran.

Karena motivasi Tim adalah kultural, maka metode belajar Tim juga sangat kultural.

Mungkin kamu ngebayangin, seorang polyglot, tuh, kutu buku banget, ya? Sehari-harinya cuma berkutat dengan buku grammar dan bolak-balik tempat les.

Tim nggak, tuh!

Di umur 13 tahun, Tim mulai tertarik dengan budaya dan konflik di Timur Tengah. Saat ngulik tentang Israel, Tim tau-tau kecantol dengan sebuah grup musik funk asal Israel, Hadag Nachash, sehingga dia rajin ngedengerin satu album mereka setiap pagi.

Setelah sebulan, Tim sudah hafal mati 20 lagu dalam album tersebut, walaupun dia sama sekali nggak ngerti satupun arti liriknya. Tetapi begitu Tim mencari terjemahannya, dia jadi bisa cepat sekali menangkap kosa kata yang ada dalam lagu-lagu tersebut. Rasanya kayak nge-download kamus ke kepala! Alhasil, Tim jadi tahu sekian ratus kata dan frase dalam bahasa Ibrani, padahal waktu itu, dia belum pernah buka textbook bahasa Ibrani sekalipun.

Tim pun bereksperimen. Dia jalan-jalan sendirian selama berjam-jam keliling New York City, mendatangi kafe-kafe Israel untuk nguping pembicaraan orang-orang. Kadang Tim nekat kenalan dan ngajak mereka ngobrol dalam bahasa Ibrani, hanya dengan modal lirik lagu-lagu Israel yang dia hafal tersebut. Dengan kosa kata dari lirik tersebut, Tim mencoba menyusun kalimat-kalimat untuk ngobrol. Hasilnya kadang benar, kadang salah.

Lihat cara Tim belajar bahasa-bahasa asing dengan cara terjun langsung ke jalanan!

Setelah bahasa Ibran-nya lancar, Tim lanjut ke bahasa Arab yang dia pelajari dengan cara membaca koran Arab setiap pagi (pakai bantuan kamus) dan dengan ngobrol sama berbagai penjual makanan Arab. Lalu Tim lanjut ke bahasa Farsi, Rusia, Mandarin… sampai 15 bahasa lainnya.

Setiap hari, Tim ngobrol lewat Skype dengan teman-temannya di Prancis dan Turki, mendengarkan lagu-lagu pop Hindi selama satu jam, trus makan malam sambil baca buku bahasa Yunani atau Latin. Tim jadi terobsesi dengan bahasa, dan dia selalu mengejar ilmunya dimana-mana, mulai dari sekolah, tempat kursus, sampai forum-forum internet.

Mempelajari Sebuah Bahasa = Mempertahankan Kebudayaannya

tim doner youthmanual

Lama-lama Tim jadi terkenal, dan diliput oleh banyak media. Awalnya Tim senang, karena dia jadi berkesempatan untuk menyebarkan semangat belajar bahasa asing.

Tapi lama-lama Tim jadi nggak nyaman, karena media cuma memperlakukan Tim seperti hewan sirkus. “Ayo dong, Tim, ngomong bahasa Mandarin!” atau “Coba, deh, ngomong blablabla dalam bahasa Jerman!” atau “Ngomong jorok dalam bahasa Arab, dong!”

Bagi Tim, penguasaan bahasa asing bukanlah “medali” yang harus kita kumpulkan sebanyak-banyaknya. It’s more than that. Dengan mempelajari bahasa asing, kita jadi paham sejarah, budaya, dan pola pikir suatu bangsa. Bahasa bahkan bisa mempengaruhi cara pikir seseorang.

Contohnya, kalau kamu nanya harga barang ke seorang penjaga toko Persia, jawaban pertamanya pasti (dalam bahasa Farsi), “It’s worthless!” alias “Gratis! Ambil aja buat kamu! Ini barang murahan, kok!” Kenapa? Karena orang Persia punya budaya merendahkan diri yang luar biasa, sehingga mereka selalu berlomba-lomba menjadi humble, dan ini tercermin dari bahasa mereka. Mirip budaya Jawa, ya?

FYI, setiap dua minggu, di bumi ini, ada bahasa yang mati, karena bangsa penggunanya juga punah. Bisa karena perang, kelaparan, atau asimilasi alias penggabungan dua kebudayaan. Tapi kamu sadar nggak? Kalau sebuah bahasa punah, berarti budaya bangsanya juga punah.

Sebagai contoh, banyak suku pedalaman Amazon yang kini tergusur ke kota, karena hutan tempat tinggal mereka ditebangi. Dan kalau sudah masuk kota, ngapain mereka mempertahankan bahasa asli mereka? Mending berbahasa Portugis, dong, karena mereka sudah di perkotaan Brazil. Dan lama kelamaan, budaya mereka pun punah.

Bapak saya orang Bugis asli dan beliau selalu ingin saya mempelajari bahasanya. Dulu saya pikir, ah ngapain, sih? Tapi sekarang sadar, mungkin Bapak nggak cuma ingin saya mempelajari bahasa beliau, tapi juga memahami pola pikirnya sekaligus menjaga kebudayaan bangsa Bugis yang makin menipis.

Jujur, saya kagum BANGET sama Tim. Kagum dengan ketekunannya dan kedewasaannya dalam mempelajari bahasa. He sees waaaaay, way beyond vocabularies and grammars.

But what’s more, saya jadi tergugah. Jujur, selain bahasa Bugis, saya jadi kepengen sekali mempelajari bahasa Jawa. Bukan karena saya keturunan Jawa, tetapi karena saya lahir dan besar di Pulau Jawa. Saya juga cari makan, cari ilmu, dan cari penghasilan di tanah Jawa. Rasanya, salah satu bentuk penghargaan saya terhadap tanah Jawa bisa dengan mempelajari bahasanya.

Ternyata efek dari belajar bahasa asing, tuh, amazing, ya?

Kalau kamu punya waktu 17 menit, nonton sesi Tim Doner di TEDxTeen ini, deh. Keren!

(sumber gambar: laughingsquid.com, polyglotconference.com, tecnoeducativas2.files.wordpress.com)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
mustika | 6 jam yang lalu

Open pp/endorse : Klik Link Ig : https://www.instagram.com/naaan_n_n_/ cek ig : naaan_n_n_

Serba-Serbi dan Cara Seputar Meng-Endorse dan di-Endorse di Media Sosial
Gina Ajeng | 16 jam yang lalu

Kalo aku maba dr kampus sdh otimatis

SKS dan KRS Itu Apa, Sih?
Crypton | 18 hari yang lalu

Setelah 2018 ingin masuk oseanografi di postingan ini dan sekarang sudah semester 9, sangat bersyukur bisa ada di oseanografi.. Next S2 Ocean Instrumentation!!

Serba-Serbi Jurusan Oseanografi—Untuk Kamu yang Ingin “Kenalan” Lebih Jauh dengan Laut dan Seisinya
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1