Hikmah yang Bisa Kita Ambil dari Sulitnya Soal Matematika UNBK dan Perubahan Sistem Penilaian SBMPTN 2018

Di musim ujian tahun ini, ada dua hal yang tengah menjadi hot topic di kalangan siswa peserta ujian, khususnya yang berada di tingkat akhir sekolah menengah atas. Yes, apalagi kalau bukan UNBK dan SBMPTN. Dua ujian ini dari dulu sebenarnya sudah kerap menjadi bahan gonjang-ganjing  jelang pelaksanaannya, namun tahun ini, keduanya seolah sepakat untuk membuat siswa-siswa tersebut merasa stress di waktu yang bersamaan.

Pada 7 April lalu, pihak SBMPTN 2018 resmi mengumumkan bahwa tahun ini, sistem penilaian SBMPTN mengalami perubahan—tidak lagi menggunakan bobot plus 4 poin untuk soal yang benar dan minus 1 untuk soal yang salah, melainkan menentukan bobot dari tingkat kesulitan tiap soal. Media sosial pun seketika ramai, dan banyak pihak mengungkapkan kekecewaannya akan perubahan yang sangat mendadak ini.

Bayangin, pengumuman tersebut datang kurang lebih di H-sebulan ujian SBMPTN. Nyaris semua calon pesertanya sudah memiliki strategi belajar dan mengerjakan soal yang disesuaikan dengan bobot nilai dari sistem lama ketika berita mengenai perubahan sistem penilaian itu datang. Kalau kamu calon peserta SBMPTN, kamu pasti akan kecewa juga ‘kan?

Belum reda pula kekecewaan terkait sistem SBMPTN yang baru, para siswa tersebut sudah harus dihadapkan pada satu cobaan lagi. Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang dilaksanakan tepat 2 hari setelah berita SBMPTN keluar kembali mematahkan hati mereka. Khususnya pada pelajaran Matematika, para siswa harus menghadapi soal ujian yang sama sekali berbeda dengan apa yang mereka pelajari di kisi-kisi dan simulasi. Tingkat kesulitannya? Oh, tentu jangan ditanya lagi. Sangat jauh dari ekspektasi.

Berbondong-bondong siswa pun mencurahkan aspirasinya di akun media sosial oknum yang bertanggung jawab atas semua ini, siapa lagi kalau bukan Kemendikbud beserta Sang Menteri. Dari curhatan yang benar-benar serius dan menggugah hati, sampai yang kental berbalut humor dan sarkasme membanjiri kolom komentar lembaga yang bertanggung jawab atas sistem pendidikan di negeri ini.

Hingga akhirnya, pada Jumat (13/4) Pak Menteri Pendidikan pun maju menanggapi. Beliau secara resmi meminta maaf kepada segenap siswa dan siswi atas blunder yang terjadi. Meski begitu, beliau punya alibi; katanya, hal ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan pendidikan kita yang kualitasnya masih cenderung lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga. Ia bahkan menyatakan bahwa soal Ujian Nasional haruslah semakin sulit dari waktu ke waktu, meski hal ini juga ditambahkan dengan janji bahwa sistemnya pun akan turut dibenahi.

Permintaan Maaf Pak Menteri dan Kebutuhan yang Mendesak

Salah satu yang menjadi alasan sulitnya soal UNBK tahun ini adalah hadirnya soal-soal yang membutuhkan kemampuan penalaran tinggi atau Higher Order Thinking Skills dalam pengerjaannya. Pada UNBK 2018 sendiri, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kemdikbud, Muhamad Abduh, menyatakan bahwa 10% soal yang ada merupakan soal-soal yang membutuhkan HOTS.

Tapi, sebenarnya, Higher Order Thinking Skills itu apa sih? Mengapa pemerintah memutuskan untuk memasukkan soal HOTS ke dalam UNBK tahun ini?

Secara harfiah, Higher Order Thinking Skills (HOTS) dapat diartikan sebagai kemampuan penalaran tingkat tinggi. Menurut King, Goodson, dan Rohani (1998) HOTS sendiri merupakan sebuah pendekatan dalam pembelajaran di mana siswa diajarkan untuk mampu berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan juga kreatif. Jadi, siswa nggak hanya bisa mengingat dan mengerti aja tentang sebuah materi, tapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi dengan bekal ilmu yang dipelajarinya.

Salah satu contoh soal HOTS bisa kamu lihat di bawah ini:

OSIS suatu sekolah mengadakan pentas seni untuk amal yang terbuka untuk masyarakat umum. Hasil penjualan tiket acara tersebut akan disumbangkan untuk korban bencana alam. Panitia memilih tempat berupa gedung pertunjukan yang tempat duduk penontonnya berbentuk sektor lingkaran terdiri dari enam baris.

Banyaknya kursi penonton pada masing-masing baris membentuk pola barisan tertentu.

1) Jika pada baris pertama terdapat 25 kursi, baris kedua 35 kursi, baris ketiga 50 kursi,  baris keempat 70 kursi, dan seterusnya. Tentukanlah banyaknya seluruh tempat duduk pada gedung pertunjukan itu.

Tuliskanlah langkah penyelesaiannya.

2) Apabila harga tiket baris pertama adalah paling mahal dan selisih harga tiket antara dua baris yang berdekatan adalah Rp10.000,00, dengan asumsi seluruh kursi penonton terisi penuh,tentukanlah harga tiket yang paling murah agar panitia memperoleh pemasukan sebesar Rp22.500.000,00

Tuliskanlah langkah penyelesaiannya.

Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy, menyatakan bahwa salah satu alasan mengapa pada UNBK 2018 diterapkan soal-soal HOTS adalah karena pemerintah memiliki keinginan untuk mengejar ketertinggalan pendidikan Indonesia. Lebih lagi, berdasarkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA), skor Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita.

soal matematika unbk 2018

“Karena sesuai hasil PISA, kita sangat rendah. Ketika PISA rendah, kami (Kemendikbud) disalahkan; tapi ketika kami menaikkan standar membuat siswa sulit, kami juga salah. Tapi saya rasa kita terus mendorong anak-anak kita semakin berkualitas dengan meningkatkan standar ujian nasional kita” ujar Muhadjir dilansir dari Antara.

PISA sendiri merupakan sebuah sistem ujian dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia.

Dalam permintaan maafnya, Muhadjir Effendy juga menjelaskan bahwa ujian nasional akan terus bertambah tingkat kesulitannya untuk membenahi masalah di atas.

"Saya meminta maaf kalau ada beberapa kalangan yang merasa mengalami kesulitan yang tidak bisa ditoleransi. Dengan ini, saya janji bahwa akan kami benahi. Tetapi mohon maklum bahwa ujian nasional kita dari waktu ke waktu harus semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan kita," begitu ujarnya.

Tapi, apakah mengejar ketertinggalan pendidikan kita hanya cukup dilakukan dengan cara meningkatkan level kesulitan soal Ujian Nasional?

Dilansir dari Republika, Forum Serikat Guru Indonesia menyampaikan ketidaksetujuan mereka terhadap pernyataan Mendikbud.

"Faktanya, kondisi saat ini para siswa kita masih berpikir di level tingkat rendah (Lower Order Thinking Skill (LOTS), sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai assessment internasional, seperti PISA dan TIMSS," ujar Satriawan Salim, Wakil Sekertaris Jendral FSGI.

Satriawan menyatakan bahwa soal-soal HOTS tidak adil karena guru-guru di tiap sekolah tidak dipersiapkan untuk mengimplementasikan metode berpikir tingkat tinggi tersebut sepanjang proses belajar mengajar. 

Anggota FSGI lainnya, yaitu Slamet Maryanto, juga menyatakan bahwa sejauh ini fakta di lapangan memperlihatkan ketika menjelang ujian nasional (UN) para guru dan siswa hanya fokus men-drill (mempelajari) soal-soal UN tahun-tahun sebelumnya. Dalam try out beberapa kali yang diselenggarkan sekolah dan Dinas Pendidikan setempat, siswa hanya dilatih untuk mampu menjawab soal-soal secara cepat-tepat.

Nah, pendidikan yang terlalu berorientasi pada hasil inilah yang menjadi masalah. Keterampilan berpikir tinggi atau HOTS mestinya bukan dititikberatkan pada pada akhir pembelajaran siswa ketika mereka harus menghadapi Ujian Nasional, melainkan diintegrasikan pada proses pembelajaran di sekolah selama tiga tahun ke belakang.

Kamu pasti sudah familiar ‘kan dengan yang namanya KURTILAS alias Kurikulum 2013? Sebenarnya penerapan HOTS bisa banget dilakukan melalui kurikulum tersebut. Proses belajar yang berpusat pada siswa, pembelajaran berbasis proyek, dan pendekatan problem-solving adalah beberapa contoh aplikasi dari Higher Order Thinking Skills. Tapi, dalam melaksanakan ini, nggak hanya siswa yang dituntut untuk bisa menguasai HOTS, lho. Guru juga harus mampu menyampaikan materi pelajaran dengan efektif dan menyusun indikator penilaian yang sesuai.

Kalau nggak ada integrasi antara pihak-pihak tersebut, sistem pendidikan kita masih hanya akan berfokus pada hasil, dan siswa hanya tahu bagaimana caranya ‘mengakali’ soal, bukan memahami materinya secara menyeluruh. Alih-alih mengejar ketertinggalan, ini malah hanya akan menambah pelik masalah yang sudah ada.

Kalau udah begini, baik siswa, sekolah, maupun pemerintah sama-sama dirugikan, bukan?

Perubahan Sistem Penilaian SBMPTN 2018: Bentuk Transformasi Cara Pikir

Ngomongin cara pikir, Youthmanual jadi inget sebuah berita yang juga lagi ramai banget dibicarain di kalangan anak-anak kelas 12 belakangan ini. Yes, bener. Perubahan sistem penilaian SBMPTN 2018.

Tahu kan kalau sekarang SBMPTN nggak lagi menggunakan sistem plus 4 untuk soal yang benar dan minus 1 untuk soal yang salah, melainkan menentukan bobot soal berdasarkan tingkat kesulitannya? Pengumuman yang keluar secara resmi pada 7 April lalu ini seketika menuai banyak reaksi dari netizen, khususnya mereka yang akan menjadi peserta SBMPTN tahun ini.

Pihak SBMPTN dalam press release yang dikeluarkannya, menyatakan bahwa sistem penilaian ini digunakan karena skor yang diperoleh akan lebih fair dan dapat membedakan kemampuan siswa dengan lebih baik karena menyertakan karakteristik tiap soal dalam penilaiannya. Dan kalau kamu rajin browsing, kamu juga bisa menemui sistem serupa kok di di ujian-ujian masuk universitas luar negeri seperti SAT (Scholastic Aptitude Test).

Jika kita lihat lebih dalam, sesungguhnya apa yang dikatakan oleh panitia SBMPTN itu ada benarnya lho. Begini, sistem penilaian SBMPTN yang baru ‘kan terdiri dari 3 tahap: pembobotan soal yang benar dan salah/tidak diisi dengan poin 1 dan 0, penentuan tingkat kesulitan soal berdasarkan keseluruhan hasil peserta tes, dan terakhir penilaian berdasarkan bobot soal yang sudah ditentukan. Dengan begini, pengukuran kemampuan seorang siswa dalam mengerjakan soal akan lebih terpetakan dengan baik karena penentuan tingkat kesulitan soal didasarkan pada sebaran jawaban dari seluruh peserta ujian. Selain itu, sistem penilaian ini juga akan memaksa siswa untuk mempelajari sebuah materi secara menyeluruh dan bukan membiasakan diri menyelesaikan permasalahan dengan cara cepat atau bahkan ‘mengakali’ sistem.

Kembali lagi pada argumen di atas terkait High Order Thinking Skills, yang dibutuhkan sekarang adalah pola pikir bernalar tinggi untuk menganalisis dan memecahkan masalah secara kritis. Tahukah kamu kalau berdasarkan hasil survey Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC), angka rata-rata skor literasi orang dewasa di Indonesia khususnya Jakarta yang berpendidikan di tingkat universitas, lebih rendah daripada rata-rata skor penduduk negara OECD yang hanya lulus Sekolah Dasar.

Ngomong-ngomong, kalau PISA yang tadi disebutkan oleh Pak Menteri Pendidikan adalah asesmen untuk mengukur tingkat kompetensi anak usia sekolah, maka PIAAC ini adalah versi yang digunakan untuk mengukur kompetensi orang dewasanya.

Bayangin, kemampuan literasi lulusan sarjana kita aja masih lebih rendah dari lulusan SD di negara-negara OECD. Mengkhawatirkan banget nggak, sih?

Inilah kenapa, Youthmanual sebetulnya paham mengapa pemerintah merubah sistem penilaian SBMPTN 2018 menjadi mirip dengan sistem penilaian SAT yang lebih ‘fair’. Anggap saja ini sebagai bentuk uji coba sebelum wacana akan didirikannya Assessment Center sebagai pengganti SBMPTN benar-benar terlaksana di masa depan.

Hanya satu yang disayangkan, yaitu pemberitahuannya yang bisa dibilang cukup mendadak. Mungkin kedepannya, untuk pengumuman yang sifatnya nasional begini, pemerintah harus lebih considerate akan waktu pengumuman serta arus informasinya. Dengan begitu, kelompok yang menjadi sasaran perubahan memiliki waktu yang lebih banyak untuk mencerna, plus bisa mendapatkan informasi yang kredibel dan nggak simpang-siur.

Anyway, tetap semangat ya untuk kalian yang akan menghadapi ujian! Seperti kata pepatah, habis badai pasti akan terbit pelangi, kok.

Sumber:

King, F. J., Goodson, L., & Rohani, F. (1998). Higher order thinking skills: Definition, teaching strategies, assessment. Publication of the Educational Services Program, now known as the Center for Advancement of Learning and Assessment. Obtido de: www. cala. fsu. edu.

Yamamoto, K., Khorramdel, L., & Von Davier, M. (2013). Scaling PIAAC cognitive data. Technical report of the survey of adult skills (PIAAC). Paris, France: OECD.

Baca juga:

(sumber gambar: infonawacita.com, sekolahindonesia.edu.my)

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Deca Caa | 17 hari yang lalu

open pp/endorse @aaalysaaaa 11,6 followers dm ya bayar seiklasnyaa

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Deca Caa | 17 hari yang lalu

open pp/endorse @aaalysaaaa 1,6 followers dm ya, bayar seiklasnyaa

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
AtomyFirst Chanel | 18 hari yang lalu

Open PP @houseofshirly foll 427k @Idea_forhome foll 377k @myhomeidea_ foll 270k. Harga Paket lebih murah. DM kami yaa..

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
arif gunawan | 26 hari yang lalu

Kalkulator dan kamus elekteonik termasuk AI, karena kalkulator dilrogram dengan algoritma penghitunganangka.. banyak belajar menganalisa san kumpulkan sata bro.. jgn cm ikut2an, trs copas lalu dituang kedlm sebuah artilel..

Artificial Intelligence dan 8 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang AI
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2024 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1