5 Hal yang Dirasakan Mahasiswa Program studi Televisi dan Film. Kira Kira Bener Nggak, Ya?

Gaes, kamu tahu nggak, sih? Setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Peringatan ini dimulai karena tanggal tersebut adalah hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi—yang disutradarai oleh H. Usmar Ismail, seorang pelopor perfilman di Indonesia.

Ngomong-ngomong tentang film, nih. Saat ini, dunia perfilman Indonesia kian berkembang dengan beragam jenis genre film yang ada, lho. Nggak cuma itu, dunia pembuatan video pun kian meroket tajam seiring berkembanganya dunia teknologi.

Tentu saja, hal ini menuntut adanya generasi muda untuk mempelajari lebih dalam mengenai dunia film. Tak ayal, banyak anak muda yang tertarik dan memilih program studi Televisi dan Film di dunia perkuliahan. Well, beragam suka duka pun dialami oleh mahasiswa yang berkuliah di program studi ini. Kira-kira hal apa saja, ya, yang mereka alami dan rasakan? Simak penjelasannya berikut ini

1. Durasi tidur yang kurang

Kamu tahu, ‘kan? Pembuatan suatu film itu selalu dibuat oleh tim atau kelompok. Nah, biasanya mahasiswa program studi Televisi dan Film ini akan sering banget menghabiskan waktunya untuk melakukan brainstorming dan membedah semua detail hal-hal yang berkaitan dengan film, beberapa hari sebelum berlangsungnya shooting.

That’s why, mereka membutuhkan waktu lebih untuk berkoordinasi bersama mengenai banyak detail yang harus dipersiapkan. Selain itu, mahasiswa program studi Televisi dan Film dituntut untuk menonton referensi film dari dosen sebagai contoh dan mempelajari unsur film di dalamnya. Alhasil, mereka selalu tidur subuh dan bangun pagi.

2. Gemar berpikir kritis

Dalam dunia perkuliahan, mahasiswa program studi Televisi dan Film akan dibekali banyak teori film yang berguna untuk terjun di dunia kerja nantinya. Teori tersebut antara lain adalah mengenai sejarah, teknik, dan analisis film. Dasar-dasar teori itulah yang membuat mahasiswa program studi Televisi dan Film ditantang untuk berpikir kritis tentang mengapa dan bagaimana pesan dari sebuah film bisa sampai kepada penontonnya.

3. Belajar arti kesabaran

Yap! Sudah bukan rahasia umum lagi kalau mahasiswa program studi Televisi dan Film harus mengulang setiap scene, shot, bahkan take yang salah dalam setiap rangkaian pembuatan filmnya.

Biasanya, setiap scene, shot atau take yang salah disebabkan oleh beberapa unsur yang kurang tepat. Sehingga, unsur lainnya harus bersabar untuk mengulang shot yang sama. Hmm, Maka dari itu, di program studi ini kamu akan belajar banyak kesabaran.

4. Sering pergi ke tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya

Beranjak dari naskah film yang dibuat oleh sang Director dan Penulis Naskah, Produser dan kru yang lain juga punya tugas yang menantang, lho. Salah satunya, mereka ditugaskan untuk mencari lokasi tempat shooting di setiap scene-nya (wow!).

Dari lokasi tersebut biasanya kamu yang berperan sebagai produser akan menemui tempat baru yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya. Tentu saja hal ini akan menambah pengetahuan dan pengalaman barumu.

5. Terbiasa berimajinasi

Bukan cuma mahasiswa yang  berkutat di program studi Desain saja, mahasiswa program studi Televisi dan Film juga memiliki keahlian tersembunyi yaitu berimajinasi dah menggambar. Hah? Imajinasi dan gambar? Kok bisa

Ya! As you know, mahasiswa program studi Televisi dan Film harus mempunyai skill imajinasi dan menggambar dan untuk membuat storyboard. Storyboard sendiri digunakan sebagai patokan artis dalam melakukan acting. Lokasi dan desain tempat shooting akan terpampang jelas di storyboard, sehingga saat shooting berlangsung, si artis nggak akan bingung. Menarik, ya, gaes!

6.  Peka dan mendalami karakter seseorang

Mahasiswa program studi Televisi dan Film harus selalu bisa mendalami karakter orang dengan baik dalam setiap pembuatan film. Soalnya, setiap tindakan yang dilakukan oleh sang pemain harus mencerminkan karakter dan pesan dari isi film itu sendiri. Kalau pemain film nggak sesuai dengan karakter dalam film, maka sang Director akan terus-terusan meminta pengulangan acting—yang akan membuat semua tim yang terlibat kelelahan.

Oleh karena itu, mahasiswa program studi Televisi dan Film dituntut untuk peka, harus bisa mengarahkan agar sang artis akting sesuai dengan kondisi yang ada, serta harus pintar dalam memberi efek yang cocok dan pas di sebuah adegan film.

***

Nah, dari penjelasan di atas kelihatan kalau kuliah dan berkarir di dunia televisi dan perfilman sangat menyenangkan. Selain memperoleh banyak ilmu pengetahuan baru, kamu juga akan bertemu banyak orang baru. Gimana, sudah tertarik untuk terjun ke bidang ini?

 

Baca juga:

 

(Sumber gambar: dafilmschool.wordpress.com, youtube.com, kingdomecon.wordpress.com)

 

POPULAR ARTICLE
LATEST COMMENT
Robiatul Awaliyah | 17 jam yang lalu

Open pp/endorse mulai dari 10rb Bisa dm ke @robiatulawlyh

Tarif Endorse di Media Sosial Berapa, Sih?
Faris Nadhir | 7 hari yang lalu

Semoga cita²ku menjadi pilot terkabula yaa Allah amin

Bagaimana Cara Menjadi Seorang Pilot? Begini Tahapan Lengkapnya!
Zidna Ilmalana | 20 hari yang lalu

Emng knp llsn psntrn?

Serba-Serbi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB
Fatimah Ibtisam | 27 hari yang lalu

Hai Ilham, lmu Matematika juga dipakai dalam prodi Psikologi, khususnya yang berkaitan dengan statistika. Prodi Psikologi banyak melakukan riset, yang di antaranya menggunakan perhitungan statistik.

7 Mata Kuliah Paling Menantang di Program Studi Psikologi
Fatimah Ibtisam | 27 hari yang lalu

Hai Ronny, kamu bisa mendaftar FSRD ITB apabila kamu mengambil program IPA atau IPS.

Serba-Serbi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB
Dibuat dan dikembangkan di Jakarta, Indonesia Hak Cipta Dilindungi 2015 - 2022 PT Manual Muda Indonesia ©
Rencanamu App

Platform Persiapan Kuliah & Karir No 1